
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
“Makan.”
Aslan berucap dengan nada memerintah ketika Mischa hanya termenung menatap nampan penuh berisi makanan di depannya.
Mischa mendongakkan kepala, membalas tatapan mata kelam Aslan dengan sinar mencela.
“Kau memberiku makanan untuk dua orang. Kau pikir aku bisa menghabiskannya?”
Mata Aslan menelusuri seluruh tubuh Mischa, lalu memiringkan kepalanya sedikit dengan mengejek.
“Sudah kubilang, bukan? Kau terlalu kurus. Aku sendiri cenderung lebih suka perempuan yang berisi, yang hangatdan enak untuk dipeluk. Kau memang sudah cukup nyaman, tapi aku ingin sesuatu yang lebih… empuk,” mata Aslan berkilat sementara bibirnya menyeringai menggoda ketika melihat pipi Mischa yang merah padam akibat perkataannya.
“Kau bisa menghubungi wanita-wanita Zodijakmu kalau kau mau yang lebih empuk! Aku tidak mau dipaksa menjadi sesuatu yang memenuhi seleramu, sesuatu yang bukan diriku!” serunya ketus.
Tatapan Aslan menajam, sementara seringaian menggoda langsung lenyap dari bibirnya ketika mendengarkan seruan Mischa, ekspresinya menggelap ketika berkata.
“Sayangnya aku hanya mau kau, bukan yang lain,” desisnya dengan nada mengancam. “Jadi kau tidak punya pilihan selain memenuhi keinginanku,” sambungnya lagi dengan nada angkuh.
“Kenapa aku yang jadi korban memenuhi selera maniakmu?” Mischa akhirnya menjeritkan rasa frustasinya, tangannya mengepal, menatap Aslan dengan penuh kebencian.
“Karena kau istriku,” Aslan bergerak lambbat-lamat penuh ancaman, mendekati Mischa dan membungkuk tepat di depan Mischa dengan kedua tangan bertumpu pada meja, di sisi kiri dan kanan nampan makanan Mischa. “Dan sudah menjadi tugas seorang istri untuk menyenangkan suaminya.” Aslan berucap mengancam dengan wajah tepat di depan wajah Mischa.
Tangan lelaki itu lalu bergerak, menyorongkan nampan makanan itu lebih dekat ke arah Mischa.
“Lagipula kau tidak punya pilihan lain. Aku bisa saja meledakkan adik angkatmu jika kau tidak memenuhi kemauanku,” ujarnya kemudian.
Mata Mischa melebar tidak percaya akan sikap arogan Aslan yang hampir-hampir melampaui batas. Ingatannya lalu melayang pada percakapan mereka kemarin di ruangan Yesil ketika ada Akrep juga di sana. Dan Mischa langsung menatap Aslan menilai.
“Kalau kau melukai Sasha, mungkin kau akan berhadapan dengan Kaza,” ujar Mischa kemudian. Jika memang benar bahwa ikatan misterius yang terjalin di antara Kaza dan Sasha sama seperti yang dirasakan oleh Aslan kepadanya, berarti Kaza akan merasakan dorongan misterius untuk memiliki dan menjaga Sasha, bukan? Sama seperti yang dilakukan Aslan kepadanya meskipun lelaki itu melakukannya dengan cara yang kasar.
Sayangnya kalimat Mischa sama sekali tidak mengena bagi Aslan, lelaki itu hanya mengangkat alis seolah tidak peduli.
“Kau pikir Kaza akan melindungi Sasha? Aku meragukan hal itu terjadi, bahkan mungkin Kaza akan sangat berterima kasih padaku karena aku membunuh Sasha dan melenyapkan segala kesulitan yang saat ini ditanggung oleh Kaza,” mata gelap Aslan menelusuri ekspresi Mischa dan tampak senang menemukan keterkejutan di sana atas jawabannya. “Kaza tidak terikat sepenuhnya pada Sasha, tidak seperti aku dan kau. Kau tahu kenapa? Karena Sasha masih anak-anak, menyebabkan Kaza tidak bisa memanennya dan mengikat anak perempuan itu dengan utuh. Kami mungkin suka bercinta dengan wanita, tetapi kami tidak berhasrat pada anak-anak yang belum cukup umur, karena itulah Kaza tertahan untuk memiliki Sasha.”Aslan menyambung lambat-lambat sambil menikmati reaksi Mischa. “Hal itu yang menyebabkan ikatan Kaza dan Sasha sangat rapuh. Pada titik tertentu, berdasarkan kebencian Kaza kepada manusia yang sangat kuketahui, aku malah berpikir bahwa Kaza akan memutuskan membunuh Sasha dengan tangannya sendiri untuk memusnahkan ikatan yang menyiksanya.”
Kalimat Aslan yang dipenuhi penjelasan mengerikan membuat Mischa terpana, menatap Aslan dengan tatapan ngeri bercampur tak percaya. Mischa membuka mulut untuk mengeluarkan bantahan, tetapi suaranya tenggelam di tenggorokan, tertahan oleh tatapan mengancam Aslan yang sepertinya sudah kehilangan ketertarikan untuk melanjutkan diskusi mereka.
“Makan makananmu. Setelah itu aku akan mengantarkanmu ke area Yesil.” perintahnya tegas.Itu berarti jika Mischa tidak menghabiskan makanannya, Aslan tidak akan mengizinkan dirinya menghabiskan waktu di area Yesil, sementara Mischa sendiri sudah sangat ingin kesana untuk mengunjungi Sasha.
Mischa menatap menu-menu sehat yang terpampang di depannya, sayuran segar berwarna-warni yang ditumis dengan mentega wangi hingga berbalur minyak keemasan yang mengeluarkan aroma harum, daging berprotein yang dipanggang hingga kecokelatan lalu disiram dengan saus krim yang begitu gurih bersalut kaldu, buah-buahan segar, kentang tumbuk, segelas susu dan juga sari minuman berwarna kuning cerah yang seperti warna lemon segar.
Menu ini tentu luar biasa mewah bagi Mischa, dan sekarang, Mischa berusaha melunakkan hatinya, untuk kemudian mulai mengambil makanan itu dan mengunyahnya.
Dia tidak akan menyia-nyiakan makanan yang dulu sangat sulit didapatnya itu, dan diabaikannya tatapan puas yang bersinar di mata Aslan ketika Mischa mulai melahap makanannya.
Mereka berjalan dalam diam melalui lorong demi lorong untuk menuju area Yesil. Setelah beberapa kali melalui jalan yang sama, didukung dengan pemberitahuan Aslan bahwa Mischa cukup mengikuti anak panah yang mengarahkan jalan keluarnya dari labirin area Aslan yang cukup membingungkan ini, Mischa merasa bahwa nanti dia akan bisa menuju area Yesil sendiri tanpa didampingi oleh Aslan.
Langkah mereka semakin dekat ke area Yesil dan Mischa tidak bisa menahan diri untuk mendongakkan kepala, menoleh ke arah Aslan yang berjalan di sebelahnya, sedang menatap lurus ke depan dengan ekspresi dingin tak terbaca.
“Kau… eh… akan kembali ke peperangan?” hati Mischa terasa miris ketika membayangkan bahwa lelaki di sampingnya ini akan berangkat untuk membantai satu-satunya peradaban bangsa manusia yang tersisa. Ada rasa tidak rela di hatinya, kesedihan karena dia tidak bisa membantu sesama manusia.
Tetapi dia bisa apa? Dia hanyalah manusia biasa yang terantai karena ancaman kejam yang akan membunuh adik angkat yang disayanginya jika dirinya berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan hati Aslan.
Aslan merendahkan tatapan matanya dan menoleh ke arah Mischa.
“Tanpa diriku pun mereka pada akhirnya akan menang,” sorot mata Aslan bersinar kejam, “Tetapi tentu aku tidak akan menyia-nyiakan untuk mengambil bagian dalam peperangan terakhir kami.” Ada kesenangan di dalam nada suaranya, membuat Mischa mencibirkan bibirnya dengan jijik.
“Kau seorang perampok, merebut sesuatu yang menjadi hak milik bangsa lain dan menang di atas kecurangan, dan kau bisa merasa senang?” ujarnya berani.
Tatapan Aslan menajam, lalu lelaki itu menghentikan langkah, tanpa peringatan menarik lengan Mischa dan mendorong tubuh perempuan itu hingga punggung Mischa menabrak dinding sementara tubuh Aslan memagari, dengan kedua tangan menahan di sisi kepala Mischa.
“Kami menang bukan atas kecurangan, tetapi karena kami memang kuat. Bangsamu telah merusak bumi ini dengan kebodohan mereka, tidak menghargai alam, tidak menghargai air dan sibuk melakukan kekonyolan-kekonyolan yang membuat mereka lupa bahwa mereka adalah manusia lemah yang tidak berharga,” mata Aslan dipenuhi oleh ejekan ketika melanjutkan kata-katanya. “Bahkan kalau kami tidak datang, kalian para manusia sudah pasti akan menghancurkan peradaban dan bumi kalian dengan kebodohan kalian sendiri.”
“Kami tidak seperti itu!” Mischa berseru, merasa benci ketika kaumnya dihina dengan kejam.
“Oh ya?” Aslan menyipitkan mata. “Apakah kau menutup matamu dari kenyataan bahwa manusia telah menghancurkan lingkungan, menghancurkan bumi, bahkan sebelum kami datang? Kalian semua merusak tanah, merusak air, merusak udara, bahkan menggerogoti alam hingga banyak tumbuhan dan hewan milik kalian yang punah karena tidak mampu berebut tempat dengan kalian, tidak mampu bernafas dalam kesesakan yang disebabkan oleh kalian. Ketika aku mempelajari bumi sebelum kami memutuskan mendarat, aku tahu pasti bahwa kalian, kaum manusia akan meruntuhkan bumi tanpa ampun jika tidak dihentikan.”
Aslan menyentuhkan tangannya ke dagu Mischa. “Kau mungkin belum dilahirkan ketika kami datang, tetapi kau pasti tahu bahwa bumi yang kami datangi dahulu adalah bumi yang begitu rapuh, hancur dan tinggal menunggu saatnya mati. Kalau saja bumi ini tidak menyimpan air yang kami cari, sudah tentu kami meninggalkan rongsokan ini dan melupakannya, membiarkan bumi itu hancur di tangan kalian.”
Aslan menatap mata Mischa untuk memastikan perempuan itu mencerna kata-katanya sebelum kemudian melanjutkan kembali kalimatnya,“Tetapi bumi menyimpan air dan kami tidak bisa melewatkannya. Terpaksa kami mengeluarkan tenaga untuk menyelamatkan bumi. Kehancuran bumi disebabkan oleh kalian, kaum manusia itu sendiri. Kalian adalah hama, dan karena kami ingin menyelamatkan bumi, maka kami memusnahkan hama itu terlebih dahulu demi keamanan. Setelah itu kami melakukan revitalisasi, tidakkah kau melihat bahwa di beberapa bagian bumi yang mulai kami bangun, sumber-sumber mata air mulai bermunculan, begitu jernih dan bersih dengan teknologi maju kami, tanpa sampah, racun, limbah ataupun polusi? Kau tentu juga melihat banyak kota-kota yang runtuh kami tumbuhkan pepohonan besar untuk menghijaukan kembali bumi, bukan? Bahkan teknologi kami mampu membekukan kembali salju yang telah mencair dan mengancam menenggelamkan sebagian besar bumi, menciptakan pengendalian alam yang sempurna. Kamilah yang menyelamatkan bumi dan kau tidak bisa menutup mata terhadapnya.”
Mischa menggigit bibir dengan marah, melemparkan tatapan mata mengancam ke arah Aslan. “Tetap saja tidak menutup kenyataan bahwa bumi ini bukan milikmu. Bumi diciptakan untuk manusia. Sementara kalian Bangsa Zodijak memiliki planet kalian sendiri. Kau membanggakan diri bisa menyelamatkan bumi, padahal kalian bahkan tidak bisa menyelamatkan planet milik kalian sendiri, apakah itu bukan sesuatu yang ironis? Jangan-jangan kalian Bangsa Zodijak juga menjadi hama di Planet Zodijak dan menghancurkan planet kalian sendiri?”
“Jaga bicaramu!” Aslan meraung hingga suaranya menggema memenuhi lorong-lorong itu, membuat Mischa terkesiap dan gemetar ketakutan.
Mata Aslan membara, dipenuhi ancaman mengerikan sementara cengkeramannya di leher Mischa mengerat.
“Tidak boleh ada yang bisa menghina kecintaan kami kepada Planet Zodijak. Kami menjaga Planet Zodijak dengan baik, membangunnya dengan penuh cinta. Sayangnya itu masih belum cukup, takdirlah yang menyebabkan air suci Zodijak meninggalkan kami dan memaksa kami berkelana untuk mencarinya kembali,” mata Aslan menantang Mischa dengan penuh perhitungan. “Aku selalu berpikir, sama seperti saudara-saudaraku, bahwa kau menyimpan kunci atas misteri air suci Zodijak itu. Cepat atau lambat kami akan menemukannya.”
Mischa meringis karena cengkeraman Aslan mengencang, membawa ketakutannya akan cekikan kejam yang pernah dilakukan Kaza kepadanya. Wajah Mischa pucat pasi dipenuhi ketakutan ketika trauma itu kembali kepadanya, dan napasnya megap-megap karena panik.
“Lepas…kan.. aku, Aslan!” Mischa memekik untuk melepaskan diri, membuat Aslan seolah tersadar dari kemarahannya dan tangannya yang tadinya mencengkeram Mischa langsung dilepaskan begitu saja.
Aslan langsung mundur selangkah, menatap Mischa dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Sejenak keheningan terbentang di antara mereka, antara Mischa yang terbatuk-batuk mencari udara dan Aslan yang terus mengamati Mischa.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Aslan kemudian, anehnya terdengar keraguan di sana.