
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Kaza menghentikan kalimatnya ketika melihat Kara sama sekali tidak bereaksi, lelaki itu menghela napas panjang sebelum menyambung kalimatnya kembali. “Dan apa yang dilakukan Yesil, itu pasti dilakukan dengan perhitungan yang sangat matang. Yesil tahu bahwa jika kau terkena racun darah Natasha yang merupakan pasangan air sucimu, maka sudah pasti kau tidak akan terselamatkan. Berbeda dengan dirinya yang masih memiliki harapan.”
“Bukankah saat ini Yesil bisa dibilang tidak memiliki harapan?” Kara menyela dengan getir. “Pasangan air suci Yesil… kita bahkan tidak tahu dia berada di mana, ini seperti mencari jarum di atas tumpukan jerami, kita bahkan tidak yakin bisa menemukan tepat pada waktunya. Bisa-bisa Yesil sudah…”
Kaza meletakkan tangannya di pundak Kara, menepuknya sedikit keras untuk mengalihkan Kara dari pikiran buruknya. Kara menghentikan kalimatnya dan mendongakkan kepala untuk menatap mata Kaza yang menyala penuh tekad.
“Kita akan menemukan tepat pada waktunya. Aku akan berangkat sekarang bersama saudara-saudara kita. Kau tentu tahu bahwa saat ini kami semua akan berjuang sekuat tenaga, Kara,” ucap Kaza dengan suara serius.
Kara mengerjapkan mata, menyadari betapa seriusnya kata-kata Kaza. Dia lalu menghela napas pandang dan menganggukkan kepala, memutuskan untuk meletakkan kepercayaannya di pundak saudara-saudaranya.
“Aku memercayai kalian semua. Pulanglah, bawa Mischa dan juga pasangan air suci Yesil. Kalahkan Imhotep sampai tidak bersisa,” ucap Kara kemudian dengan nada tegas.
Kaza menyeringai dan menganggukkan kepala, tangannya kembali menepuk pundak Kara sebelum kemudian memeluk saudaranya itu sambil menepuk punggung Kara memberi semangat.
Setelah itu Kaza melangkah kembali ke pintu, hendak pergi.
“Kau tidak berpamitan kepada Sasha?”
Kara tiba-tiba berucap, menyadari bahwa Sasha saat ini dibaringkan di atas ranjang yang berada di sebelah Yesil, sama-sama tidak sadarkan diri.
Kening Kara berkerut ketika menyadari bahwa sejak tadi ketika memasuki ruangan ini, Kaza sama sekali tidak melirik ke arah Sasha.
Padahal dari pengalaman Kara ketika menghadapi pasangan air sucinya, ketika dia menghadapi Natasha, dirinya bagaikan terikat oleh magnet misterius dengan kekuatan dahsyat yang membuatnya tidak bisa melepaskan diri.
Punggung Kaza tampak menegang ketika tubuhnya tertegun di ambang pintu. Seolah-olah Kaza sedang berjuang sekuat tenaga supaya tidak membalikkan badan dan mengalihkan perhatiannya untuk menatap lurus ke arah Sasha.
“Aku tidak suka perpisahan, aku juga tidak suka mengucapkan salam perpisahan. Terlebih kepadanya,” Kaza sama sekali tidak menoleh ketika berucap, lelaki itu tetap memunggungi Kara sehingga Kara tidak bisa membaca ekspresinya. Tetapi Kara tahu betapa tersiksanya Kaza ketika menahan diri seperti itu.
“Aku akan menjaganya,” ucap Kara perlahan, tahu bahwa kalimat itulah yang akan menenangkan saudara kembarnya.
“Aku tahu,” Kaza berucap pelan, lalu menghela napas dalam-dalam. “Jaga perempuanku baik-baik. Aku akan kembali,” sambungnya kemudian dengan singkat dan datar sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan ambang pintu dan tidak menoleh lagi.
Aslan mendorong tubuh Vladimir yang terikat dengan tali khusus yang memasung seluruh tubuhnya ke atas kursi yang disediakan di bangku pesawat miliknya.
Mereka menaiki pesawat penyamar, sebuah pesawat khusus yang didesain tembus pandang dan tanpa suara dan bahkan tidak bisa dilacak dengan radar.Pesawat itu didesain dengan teknologi khusus Bangsa Zodijak yang canggih dan menjadi salah satu senjata penentu serta pengumpul informasi yang membuat Bangsa Zodijak selalu selangkah lebih maju ketika dulu bertempur dengan manusia dalam formasi penuh.
Dengan pesawat pengintai ini, mereka bisa membuat peta empat dimensi bumi yang sangat terperinci dan akurat, lengkap dengan ukuran kekuatan basis militer serta kantong-kantong kekuatan militer yang harus mereka waspadai.
Pesawat pengintai ini memiliki kekuatan untuk melihat menembus lapisan tanah dalam dan juga memiliki kamera khusus dengan alat pendengar yang bisa memilah dan mendengarkan percakapan siapapun yang berada dalam radius pengawasannya secara sepesifik.
Vladimir tampak lemas dan setengah sadar terkulai di kursinya, matanya tampak nanar tetapi kosong seolah kehilangan orientasi sehingga membuatnya tidak bisa melawan bahkan ketika sedang tidak diikat sekalipun, dan itu bukannya tanpa sebab.
Hampir seluruh Bangsa Zodijak memiliki kekuatan telepati hingga memudahkan mereka untuk berkomunikasi satu sama lainnya.Bahkan dengan budak-budaknya, para Tuan Zodijak bisa memberikan perintah melalui komunikasi telepati satu arah. Sementara itu, Aslan sebagai pemimpin Bangsa Zodijak memiliki kekuatan istimewa yang lebih daripada lainnya. Aslan bisa memasuki baik pikiran manusia maupun pikiran Bangsa Zodijak dengan paksa dan mencari tahu seluruh informasi dan fakta yang terpikirkan di dalam benak sosok malang yang ditembusnya itu tanpa kecuali.
Tetapi memang Aslan jarang menggunakan kekuatannya itu, karena makhluk malang manapun yang pernah merasakan kekuatannya tersebut, biasanya akan mengalami kerusakan otak, kehilangan separuh kewarasannya dan tidak akan pernah bisa kembali lagi seperti semula.
“Kenapa kau membawanya?” Sevgil yang berada di kursi pilot pesawat dan bersiap menerbangkan pesawat tersebut mengerutkan kening ketika melihat kondisi Vladimir yang terbelengu di kursi. “Bukankah kau sudah membaca seluruh pikirannya dan tidak membutuhkannya lagi?” sambung Sevgil penuh tanya.
Aslan menipiskan bibir mendengar pertanyaan Sevgil
.“Akrep yang menyuruhku membawanya. Dia bilang, reaksi air suci Zodijak yang dialirkan ke tubuh Vladimir kemungkinan besar belum muncul sepenuhnya. Apalagi setelah apa yang kulakukan kepadanya tadi, Vladimir bisa dikatakan setengah linglung dan setengah gila. Di dalam istana kita hanya tertinggal Kara yang sedang menjaga Yesil. Kita tidak ingin Kara menghadapi makhluk ini jika dia berubah berbahaya, bukan?”
Sevgil langsung menganggukkan kepala. “Tentu saja Vladimir akan lebih aman dalam pengawasan kita, aku setuju,” jawabnya cepat dan menganggukkan kepala. “Kita akan berangkat sekarang? Pesawat kita berada di posisi terdepan sebagai penunjuk jalan sementara saudara-saudara kita mengikuti di belakang,” ujarnya seolah meminta persetujuan.
Aslan menganggukkan kepala, dia menatap ke arah Vladimir dan memastikan sekali lagi bahwa lelaki itu terbelenggu sempurna sebelum kemudian mengambil posisi di kursi pilot di sebelah Sevgil.
“Kita berangkat sekarang,” ujarnya dengan geraham mengetat seolah menahan kemarahan, “Aku akan menghancurkan Imhotep dan menjemput istriku pulang.”
“Menghancurkan Bangsa Zodijak?” Mischa terperangah, sama sekali tidak menyangka bahwa kalimat itu yang akan diucapkan oleh Imhotep untuk menjawab pertanyaannya. “Bukankah kau juga Bangsa Zodijak? Bagaimana mungkin aku bisa percaya kau ingin menghancurkan kaummu sendiri?
”Imhotep terkekeh mendengar pertanyaan yang sudah diduganya itu. Tetapi, secepat Imhotep tertawa, secepat itu pula tawa itu lenyap dan ekspresinya berubah menjadi keras mengerikan, seolah-olah di dalam tubuh Imhotep bergolak kemarahan yang akan membuat tubuhnya meledak jika tidak dikendalikan.
“Kastaku lebih tinggi dari Bangsa Zodijak. Aku lebih kuat dan lebih kuno daripada mereka. Kekuatanku jauh lebih besar hingga mereka semua bahkan tidak bisa disejajarkan denganku,” mata Imhotep menatap ke arah Mischa dengan merendahkan. “Kau seharusnya bangga karena aku berbaik hati memberikan darahku sebagai pembentuk dirimu.”
“Aku tidak bangga disumbangkan darah oleh makhluk aneh sepertimu,” Mischa menyela cepat, tidak lupa memberikan nada mencemooh dalam kalimatnnya. “Tidak ada yang lebih memalukan daripada makhluk yang tidak mengakui kaumnya sendiri.”
“Manusia dengan mulut berbisa!” Imhotep kali ini tampak kehilangan kesabarannya menghadapi kata-kata pedas yang dilontarkan oleh Mischa kepadanya. “Kau benar-benar tidak tahu terima kasih, Mischa. Aku menciptakanmu sebagai makhluk istimewa yang luar biasa. Jika manusia lain tahu betapa istimewanya dirimu, mereka semua akan berlutut menyembah dan memohon-mohon di kakiku supaya bisa dijadikan sepertimu. Tapi kau, yang mendapatkan keistimewaan itu dari anugerahku, sama sekali tidak tahu terima kasih!”
Imhotep mengeratkan cengkeramannya di leher Mischa hingga membuat Mischa meringis kehabisan napas. “Aku menawarkan padamu kesempatan untuk membalaskan dendam bagi seluruh umat manusia di bumi, kesempatan kepadamu untuk menjadi pion utama penghancur Bangsa Zodijak yang telah menghancurkan peradaban manusia dan peradaban bumi tanpa ampun dan menjajah bumi untuk kepentingannya sendiri. Tapi kau malah menantangku dengan sikap keras kepalamu yang menjijikkan.” geramnya dengan nada mengancam, mencengkeram leher Mischa tanpa belas kasihan, tidak peduli bahwa Mischa hampir-hampir kehabisan napas karenanya.
Mischa mencoba memasukkan udara ke dalam paru-parunya dengan susah payah. Meskipun jalan napasnya dicekal paksa, Mischa tidak akan semudah itu menyerah.
“Aku tidak akan pernah mau menghancurkan Bangsa Zodijak jika itu hanya untuk menyerahkannya kepada Bangsa Zodijak lain yang lalim sepertimu…” suara Mischa tercekat di tenggorokan berganti dengan suara tercekik ketika Imhotep seolah-olah ingin meremukkan lehernya dengan kejam.
“Berani-beraninya kau… Manusia tidak tahu terima kasih! Tidak tahukah kau bahwa selama ini kau bisa bertahan hidup karena darahku? Tidak tahukah kau bahwa eksistensimu di dunia ini bisa terjadi karena kekuasaanku? Aku yang menciptakanmu, dan aku pulalah yang bisa melenyapkanmu. Jika kau tidak mau bekerja sama, aku akan melenyapkan kesadaranmu dan menjadikanmu boneka seperti Natasha yang hanya bisa memasok darah untukku!”
“Natasha… memasok darah?” Mischa membelalakkan mata, menatap Imhotep dengan keterkejutan luar biasa ketika mendapatkan pengetahuan itu. Mischa tentu saja tahu tentang Natasha, manusia yang dicintai Kara dengan sepenuh hati.
Kara mendedikasikan dirinya untuk mencari Natasha, bahkan demi itu semua, Kara pernah mengambil risiko mengkhianati Aslan dan membantu Mischa melarikan diri dengan mempertaruhkan nyawanya.
Jadi selama ini Natasha ada di sini?
Imhotep sendiri tertawa keras melihat keterkejutan Mischa, lalu lelaki itu bergerak cepat untuk menarik tirai yang baru disadari oleh Mischa keberadaannya.
Tirai itu tersingkap, memunculkan sosok yang sangat mirip dengan Mischa, sedang berbaring tak berdaya dengan tubuh seolah membeku kehilangan kesadaran. Mata Mischa melebar ketika memandang keseluruhan perempuan itu, menyadari bahwa sosok menyedihkan tak berdaya yang tidak sadarkan diri itu adalah Natasha.
“Ucapkan salam untuk saudarimu, Mischa. Ini adalah Natasha yang selama bertahun-tahun memasok darah untuk kujadikan senjata melawan Bangsa Zodijak. Karena kau paling istimewa di antara semua saudarimu, aku berbaik hati menawarkanmu kerjasama kepadamu. Tapi, kau malah bersikap keras kepala, jadi sekarang aku memutuskan memusnahkan kebaikan hati yang kutawarkan kepadamu. Karena dengan atau tanpa kerjasamamu, aku tetap akan berhasil mencapai tujuanku.”
Imhotep bergerak mengambil sesuatu seperti jarum suntik berisi cairan hitam yang mengerikan, dipasangnya jarum itu di depan wajah, memastikan bahwa Mischa memperhatikannya baik-baik.
“Cairan ini jika kusuntikkan kepada dirimu, akan membuatmu seperti mayat hidup, sama seperti Natasha. Kau hanya akan menjadi tubuh yang memasok darah bagiku. Dan aku sudah bilang tadi, bukan? Jika darah Natasha bisa melukai Bangsa Zodijak, darahmu akan menjadi senjata yang bisa memusnahkan mereka semua dalam sekali libas.”