
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
***
Dengan kasar Aslan membanting tubuh Mischa di ranjang, lalu mendudukkan perempuan itu dengan menyangga bantal di punggungnya, sementara dirinya langsung membalikkan badan dan melangkah ke sisi lemari, mengeluarkan botol minuman berwarna putih bening dan menuangkannya ke sebuah gelas kristal mungil yang tersedia di meja.
Aslan melangkah kembali ke tepi ranjang, tempat Mischa masih duduk tak bisa bergerak. Lelaki itu kemudian mendekatkan gelas berisi cairan bening itu ke bibir Mischa yang melemparkan pandangan ketakutan, lalu mengangkat ujung gelas supaya airnya mengalir ke bibir Mischa yang tertutup rapat,
“Buka mulutmu dan telan cairan ini,” Aslan menyipitkan mata melihat Mischa dengan keras kepala melawan, mengatupkan bibirnya rapat untuk menolak minum. “Buka mulutmu, Mischa, atau kau ingin aku membantumu minum seperti yang kulakukan di upacara tadi? Kau akan minum dari mulutku kalau kau memaksa.”
Mischa langsung tergeragap dan ancaman itu mengena, membuatnya ketakutan. Dengan segera, tidak mau mengalami kejadian yang sama, Mischa membuka mulutnya meskipun takut, membiarkan air bening yang entah apa itu dimasukkan ke mulutnya dan membuatnya terpaksa menelan cairan dingin tanpa rasa tersebut.
Aslan tampak puas, meletakkan gelas yang telah tandas itu di meja samping ranjang dan membalikkan tubuhnya kembali menatap Mischa.
“Itu adalah penawar dari minuman itaatkâr yang tadi diminumkan dengan paksa kepadamu,” Aslan menjelaskan perlahan sementara mata hitamnya terpaku pada Mischa, mengamati manusia perempuan itu dengan penuh minat. “Penawar itu akan bereaksi dalam waktu cepat, dan kau akan bisa menggerakkan badanmu lagi, Mischa,”
Tiba-tiba saja Aslan menyeringai, “Aku tidak pernah suka perempuanku tergolek pasrah seperti boneka ketika sedang kupanen, aku lebih suka perempuan yang memberontak dan melawan sekuat tenaga, karena penaklukannya akan terasa lebih memuaskan kemudian. Karena itulah aku memberimu penawar itu…”
Ucapan Aslan membuat Mischa begidik ketakutan, dan beruntung, seperti yang dikatakan oleh Aslan, penawar itu bekerja dengan cepat. Pada mulanya Mischa bisa menggerakkan jemari perlahan sebelum kemudian seluruh engsel tubuhnya yang tadi dikunci paksa dilepaskan satu persatu dengan cepat.
Begitu yakin bisa menggerakkan tubuhnya, Mischa berusaha bangun dan berdiri dari ranjang, tetapi dengan cepat Aslan yang berdiri di tepi ranjang langsung mencengkeram puncak Mischa dan mendorong tubuh Mischa kembali terbanting ke ranjang.
“Tetap di situ, perempuan. Aku akan memanenmu, jadi tempatmu adalah di ranjang ini.”
Mischa langsung beringsut, berusaha menjauh ke tepi ranjang paling ujung dan terjauh dari posisi Aslan berdiri.
“Kau… kau tak boleh melakukan itu…” seru Mischa dengan suara serak sementara matanya menatap nyalang ke sekeliling, bingung mencari cara untuk melarikan diri.
Aslan malahan terkekeh sinis. “Memohonlah, manusia… tidak akan ada gunanya.” desisnya kasar sebelum kemudian mendekat ke arah Mischa, membuat Mischa menjerit ketakutan.
Di luar kamar, di lorong besar tempat kamar peraduan Aslan berada, Kara berdiri sambil bersedekap, menyandarkan tubuhnya ke dinding dan memejamkan mata ketika jeritan Mischa mulai terdengar memilukan di dalam sana.
Manusia biasa memang tidak akan bisa mendengar jeritan itu menembus ruangan. Tetapi Kara, sebagai seorang lelaki Zodijak yang dianugerahi indra pendengaran yang luar biasa tajam, tentu saja bisa mendengar itu semua dengan begitu jelas.
Ekspresi Kara dipenuhi kesedihan mendalam, karena dia sama sekali tidak berdaya untuk menyelamatkan Mischa dari kekejaman Aslan yang tiada ampun
﴿﴿◌﴾﴾
Aslan duduk di tepi ranjang sementara matanya menelusuri pundak rapuh Mischa yang tidak tertutup selimut. Matanya menyipit, kemudian terpaku ke lebam yang mulai tercipta di permukaan kulit Mischa nan pucat.
Aslan langsung teringat kata-kata Yesil, bahwa jika perempuan ini masih bertahan setelah Aslan memanennya, maka ada kemungkinan dugaan mereka semua tentang asal usul perempuan ini benar adanya.
Tapi lebam itu… Aslan sudah berusaha bersikap lembut, tapi rontaan dan pemberontakan yang dilakukan oleh Mischa, memaksanya bertindak lebih keras daripada yang seharusnya hingga menciptakan bekas-bekas perlawanan di tubuh Mischa.
“Aku akan membawakan obat untuk lebammu,” Aslan bangkit dari ranjang, memungut pakaiannya dan memakainya di depan Mischa.
Sejenak, setelah Aslan selesai memakai pakaiannya, dia berdiri di pinggir ranjang, menatap Mischa dalam seolah tidak tahu apa yang akan dilakukan kepada perempuan yang telah sah menjadi istrinya ini.
Dia sadar bahwa dirinya tidak boleh terburu-buru, masih ada waktu. Mischa sudah pasti kesakitan sekarang dan jika Aslan memaksakan dirinya sekali lagi, bukan berarti dia akan melukai Mischa lebih parah.
Aslan akan mencoba bersabar, lagipula waktunya masih panjang karena Mischa sudah menjadi istrinya.
“Aku akan mandi berendam,” Aslan bergumam dingin, melirik sekilas ke arah Mischa yang tak mau memandang ke arahnya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan begitu saja sambil menutup pintu di belakangnya.
Sepeninggal Aslan, air mata yang sedari tadi ditahan mati-matian oleh Mischa langsung mengalir begitu deras.
Mischa mengutuk, menyalahkan dirinya sendiri yang begitu lemah dan tidak bisa mempertahankan dirinya.
Dirinya sudah tidak sama lagi, Aslan sudah menyakitinya, mengambil apa yang seharusnya diberikan Mischa kepada laki-laki yang dia cintai.
Tubuh Mischa terasa nyeri, begitupun hatinya. Rasa nyeri yang bertubi-tubi ini menggayuti diri Mischa, membuat tubuh Mischa berguncang oleh air mata.
Perempuan itu menyerah, tubuhnya terbungkuk, telungkup di ranjang, menenggelamkan wajahnya di lapisan kain penutup ranjang, lalu menangis sekeras-kerasnya.
﴿﴿◌﴾﴾
“Mischa…”
Panggilan itu terdengar lembut, membuat Mischa yang tenggelam bersama kesedihan, kesakitan dan air matanya seakan kembali ditarik ke alam nyata.Mischa mengangkat kepala, mencari tahu siapa sumber suara yang memanggil namanya, dan Mischa langsung terkesiap ketika melihat bahwa Karalah yang hadir di kamar ini, berdiri kaku dengan ekspresi luar biasa sedih dengan mata hitam gelapnya terarah ke tubuh Mischa.
Seketika Mischa menyadari bahwa selimut yang membungkus dirinya melorot dan tubuhnya telanjang di balik selimut itu, membuatnya memekik dan bergegas menarik selimut panjang tersebut dengan panik untuk menutupi tubuhnya sampai ke leher sementara dirinya menatap Kara dengan tatapan waspada bercampur ketakutan.
Aslan sudah menyakiti, memaksakan kehendak kepadanya dengan kejam dan tak berperasaan…. Lelaki Zodijak sangat kejam, luar biasa kejam… dan sekarang setelah Aslan selesai memuaskan hasratnya, apakah lelaki yang satu ini akan melakukan hal yang sama kepadanya?
Kengerian Mischa rupanya terpancar di bola matanya, membuat Kara menyeringai dengan ekspresi sedih.
“Aku tidak akan menyakitimu,” mata Kara menelusuri lengan dan pundak Mischa yang tidak tertutupi selimut, menampilkan lebam-lebam kebiruan yang menunjukkan perjuangannya melawan kekejaman Aslan terhadapnya.
Mischa memang bukan manusia perempuan biasa, perempuan ini bertahan padahal Aslan begitu kasarnya memperlakukan dirinya.
Manusia perempuan biasa tidak akan bisa menahan kekuatan Aslan yang ditumpahkan tanpa ditahan-tahan itu dan pasti akan remuk redam, tapi Mischa hanya menderita beberapa lebam di kulitnya… meskipun melihat lebam itu tetap saja menyayat hati Kara sampai ke dasar.
Manusia perempuan seharusnya diperlakukan lembut, Aslan harusnya belajar lebih dulu sebelum terburu-buru memanen Mischa…
“Aku tidak akan menyakitimu,” Kara berucap perlahan. “Aku bisa membantumu lari. Apakah kau ingin lari?”
***
[ Episode ini adalah episode sensor dari aslinya. Untuk membaca versi uncut silahkan baca langsung di projectsairaakira part 6 : RUN AND SEEK]