
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Kaza menahan dorongan untuk mengintip anak perempuan kecil itu dengan sekuat tenaga. Sayangnya, kekuatan pikirannya sepertinya harus bergulat dengan tubuhnnya yang seolah berubah menjadi tidak bisa diatur.
Kakinya memberontak, ingin melangkah ke dalam kamar itu, bahkan jantungnya berdebar tak terkendali, sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, membuat Kaza harus menyentuhkan tangan di dada karena sesuatu yang asing mulai merayapi jiwanya.
“Dia tertidur pulas, tapi jika kau memutuskan untuk masuk ke sana, kau harus mengenakan lensa mata manusia untuk berjaga-jaga supaya dia tidak ketakutan tidak terbangun.”
Suara Yesil terdengar tiba-tiba di belakang Kaza, membuat Kaza terkesiap karena tadi begitu larut di dalam pikirannya. Kaza kemudian menolehkan kepala ketika sudah berhasil menguasai diri.
Yesil berdiri di sana, menyandarkan sisi tubuhnya di dinding dan menatap Kaza dengan tatapan mata penuh arti.
Mata kelam Kaza nan tajam langsung membalas tatapan Yesil dengan tajam, dan dia menemukan bahwa sebelah tangan Yesil memegang kotak berisi lensa mata manusia untuknya.
Saudaranya itu terbiasa memikirkan segalanya selangkah lebih jauh ke depan.Kaza tidak bisa menahan diri untuk menggertakkan gigi dengan penuh ironi.
“Kenapa aku harus repot-repot menggunakan lensa mata manusia itu?” Kaza menggeram, menunjukkan penolakan karena dirinya tidak mau merendahkan diri hanya demi membuat anak kecil itu nyaman.
Posisi Yesil yang semula bersandar santai langsung menegak begitu mendengar jawaban Kaza, pun dengan matanya yang menatap dingin tak terbantahkan. Yesil selalu bersikap santai sepanjang waktu, tetapi saudara-saudaranya tahu, ketika Yesil sedang bersikap serius, lebih baik mereka tidak main-main dengannya kalau tidak mau diri mereka diracun dengan cairan-cairan menyeramkan yang mungkin tidak bisa membunuh tetapi bisa memberikan siksaan tak terlupakan selama beberapa waktu yang mengerikan.
“Kalau kau tidak mengenakan lensa mata palsu manusia ini, maka kau tidak boleh menemui Sasha,” suara Yesil terdengar tenang, setengah mendesis. “Aku dan Kara, kami berdua telah membangun kepercayaan sedikit demi sedikit dengan Sasha, demi mendapatkan informasi yang menyeluruh tentang segala sesuatu yang masih menjadi misteri belakangan ini. Kau memiliki wajah yang sangat mirip dengan Kara, sosok yang saat ini sudah dianggap oleh Sasha sebagai sahabatnya, tidak akan kubiarkan kau merusak hubungan yang terjalin di antara mereka dengan menemui Sasha tetapi tetap dengan tampilan mata hitammu.”
Kaza memandang Yesil dengan marah.“Kau berkata seolah-olah hubungan yang kalian jalin adalah sesuatu yang sangat berharga,” Kaza tidak bisa menyembunyikan kejijikkannya. “Apakah kalian lupa bahwa kita ini adalah pemimpin Bangsa Zodijak yang dihormati? Kita yang terkuat dan yang paling ditakuti diantara Bangsa Zodijak, dan sekarang seolah-olah kau lupa dengan kehormatanmu serta menganggap hubungan dengan manusia rendahan sebagai sesuatu yang berharga. Apa kau dan Kara sadar bahwa kalian telah merendahkan diri kalian sendiri?” ejeknya sinis.
Mata Yesil menyipit penuh peringatan.
“Pakai mata palsu ini atau pergi. Aku tidak mau mendengar omong kosongmu, Kaza. Kau berada di areaku, itu berarti kau harus menghormati peraturanku.”
Ucapan Yesil membuat Kaza tertegun, seolah bingung harus menjawab apa.
“Bercinta?” bahkan pipi Mischa memerah ketika mengucapkan istilah itu. “Kau membawaku kemari… jauh-jauh kemari hanya untuk bercinta?”
Aslan melepaskan pengikat di kursinya, lalu membungkukkan tubuh condong ke arah Mischa. Mischa sendiri berusaha menghindar, tetapi posisi di kursi depan pesawat yang sempit itu membuatnya tidak bisa banyak bergerak, hingga terpaksa membiarkan Aslan semakin mendekatinya.
Tangan Aslan mendekati tubuh Mischa, seolah sengaja berlama-lama membuka sabuk pengaman di kursi yang diduduki oleh Mischa, sementara lelaki itu memaksakan kedekatan tubuh di antara mereka.
Mischa menahan napas, mencoba memalingkan muka dan memprogram otaknya untuk menyangkal kedekatan tubuh mereka, matanya menatap ke sisi jendela, ke pemandangan luar padang gurun yang terbentang seolah tiada batas di depan matanya, sayangnya hal itu malah dipergunakan Aslan untuk mendekatkan kepala ke sisi leher Mischa, menghembuskan napasnya yang hangat dan panas dengan sengaja di telinga Mischa.
“Aku sudah bilang tadi, bukan? Aku bosan,” Aslan menempelkan bibirnya dengan menggoda di telinga Mischa, lidahnya menggoda dan mencecap kulit perempuan itu, membuat Mischa terkesiap dan berusaha menjauh dalam sebuah usaha yang sia-sia.
“Bercinta di atas pasir dan beratapkan bintang-bintang sepertinya akan menyenangkan.” Aslan berbisik lagi, menenggelamkan bibirnya di lekukan antara leher dan pundak Mischa, lalu menghadiahkan kecupan di sana.
Seketika Mischa memekik, mendorong dengan kedua tangannya tetapi tertahan karena dirinya seperti mendorong batu keras yang sama sekali tak bergerak. Pada akhirnya Mischa terpaksa bertahan di sana, terdesak sambil menatap marah ke arah Aslan yang balas menatapnya penuh arti.
“Itu bukan bercinta,” Mischa pada akhirnya mendesiskan kalimat dengan dingin, menguarkan nada menghina sekuat dia bisa. “Bercinta adalah ketika dua makhluk melakukan sukarela atas nama cinta. Yang kau bilang sebagai bercinta itu sebenarnya adalah pemaksaan, ketika kau memaksakan kehendakmu dan aku sama sekali tidak menyukainya.”
“Tidak ada cinta bagi bangsa Zodijak, itu adalah kalimat asing yang tidak terdeskripsikan oleh Bangsa kami. Dan menurutku, cinta di antara kalian itu adalah sesuatu yang bersifat rendah dan merugikan bagi bangsa kalian sendiri. Aku pernah melihat seorang lelaki yang rela mati ke tengah medan perang, demi melindungi istri yang katanya dia cintai, aku pernah melihat seorang ibu yang menjadikan tubuhnya tameng demi anaknya yang katanya dia cintai. Kalian semua, kaum manusia, rela berbuat bodoh dan rela mati atas nama cinta. Cinta itu melemahkan dan membutakan, kau sendiri salah satunya, bukan? Bisa dilemahkan dengan mudah atas nama cintamu pada saudara angkatmu. Bodoh sekali.”
Tatapan Aslan langsung menajam dengan bibir menipis. “Dan kau bilang tidak suka ketika bercinta denganku?” tanpa kata Aslan menarik tangan Mischa berdiri dengan kasar, setengah menyeret perempuan itu supaya mengikutinya berjalan menuju pintu pesawat yang telah terbuka. “Mari kita buktikan perkataanmu itu,” ucapnya dalam geraman tak terbantahkan.
Tidak butuh waktu lama bagi Kaza untuk merenung, pada akhirnya, meskipun wajah Kaza menunjukkan penyangkalan yang masam, dia melangkah mendekat lalu mengambil lensa mata manusia itu dengan tangannya.
“Aku hanya penasaran,” Kaza berucap dingin, membalas tatapan Yesil dengan tak kalah tajamnya.Y
esil sendiri tidak mengindahkan dan menatap Kaza penuh peringatan.
“Kau boleh masuk ke sana tetapi jangan berkata sepatah katapun, atau berbuat sesuatu untuk melukai anak itu,” ujarnya cepat. “Kau harus berperan sebagai Kara.”
Kaza menyeringai. “Kita lihat saja nanti,” ujarnya sambil membalikkan badan, hendak memasuki ruangan tempat Sasha tidur.
“Aku mengawasimu di sini, Kaza. Jangan macam-macam,” ujar Yesil perlahan.
Kaza menghentikan langkah ketika mendengar kata-kata Yesil, lelaki itu membalikkan badan kembali dan menatap Yesil dengan tatapan mencela.
“Kau bertingkah seperti Kara, merasa dirinya adalah pangeran penyelamat dan penjaga bangsa manusia,” ada ironi yang dalam di suara kekehan Kaza yang menyusul kemudian. “Sejak kapan, Yesil? Setahuku dulu kau bahkan tidak mengedipkan mata ketika membunuh manusia-manusia tak berdosa demi menjadikan tubuh mereka bahan penelitian, apakah sekarang kau memandang manusia sebagai sesuatu yang berbeda? Lebih dari sekedar penelitian dan memiliki nilai lebih di matamu? Apakah kau nantinya akan menjadi penyembah mereka dan merendahkan darah Zodijak di dalam tubuhmu? Mungkin sebaiknya kau yang merasakan ikatan aneh dengan anak kecil itu dan bukannya aku, kalian sepertinya lebih cocok bersama mengingat bagaimana caramu melindunginya hingga rela mengancam saudaramu sendiri.”
Yesil mengamati Kaza dengan penuh penilaian, dan ketika berbicara, suaranya terdengar mengalun tetapi penuh peringatan.
“Aku tidak keberatan,” ucapnya kemudian, menyeringai ketika melihat keterkejutan di wajah Kaza atas jawabannya. “Menjalin ikatan dengan manusia sepertinya menarik untukku, kau tahu aku suka mencoba hal-hal baru, lagipula Sasha… sepertinya akan menjadi perempuan yang sangat cantik ketika dia besar nanti.”
Kaza langsung menggeram marah. “Kurang cantik apa perempuan Zodijak hingga kau mencari kecantikan itu di perempuan manusia?” serunya marah, menggema memenuhi lorong.
Yesil memiringkan kepala. “Mungkin kau harus menanyakannya pada dirimu sendiri, Kaza,” jawabnya mengejek, memberikan senyum terbaiknya yang menjengkelkan. “Masuklah ke dalam dan lawan ketakutanmu sendiri,” tantangnya telak.