Inevitable War

Inevitable War
Episode 36 : Sasha



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



“Yesil.”


Suara itu terdengar lemah, tetapi Yesil yang kebetulan berada di ruang perawatan Kara langsung mendengarnya. Dia bergegas menghampiri ke arah ranjang, menatap ke mata Kara yang mengerjap dan berkabut.


Kara tampak kebingungan, lelaki itu mencoba menggerakkan tangan tapi meringis karena rasa sakit menggigit yang langsung menyerangnya. Setelah beberapa lama dan kesadarannya terkumpul, Kara menunduk dan menatap ke bawah tubuhnya, menyadari bahwa seluruh tubuhnya dibalut perban dan penyangga yang sangat tebal, membuatnya meringis frustasi.


“Aku hancur lebur, ya?” Kara membanting kepalanya ke bantal dengan lemah, bahkan untuk menggerakkan kepala saja dia kesulitan karena lehernya juga dibalut dengan perban dan penyangga tebal untuk menahan struktur tulangnya yang patah dan hancur.


“Setidaknya kau masih hidup,” Yesil berujar perlahan, mengambil senter kecil khusus dan membuka mata Kara, menyorot mata itu dengan hati-hati. “Apakah kau ingat siapa namamu?” tanyanya sistematis.


“Kara. Namaku Kara,” Kara menjawab dalam erangan seolah-olah Yesil menanyakan pertanyaan yang konyol.


“Apakah kau tahu siapa aku?” Yesil memeriksa mata Kara yang satunya dan kembali bertanya.Kara mengerang frustasi.


“Kau Yesil, peneliti gila di keluarga kita,” ujarnya cepat.


Yesil tersenyum lebar. “Luka di kepalamu cukup parah, tapi kurasa kau baik-baik saja.” simpulnya cepat.


Kara mencoba membalas senyum Yesil, tapi lebam di bibirnya membuatnya nyeri sehingga dia hanya bisa meringis.


“Aku mengacau ya?” tanyanya kemudian dengan nada ironi.


Yesil menganggukkan kepala sedikit, menatap Kara menyesal.


“Kau mengacaukan dirimu sendiri, Kara. Kau pasti sudah tahu bahwa kau tidak akan menang melawan Aslan,” ujarnya menasehati. “Kenapa kau membawa Mischa melarikan diri padahal kau tahu bahwa seberapa kerasnya kau mencoba kalian pasti akan tertangkap?”


Kara memejamkan matanya seolah tersiksa.“Aku pikir aku membutuhkan kesempatan itu meskipun sedikit… dan cara Aslan memperlakukan Mischa sungguh tidak berperasaan, perempuan serapuh itu diperlakukan sekasar itu… aku bahkan terkejut kenapa Mischa tidak remuk redam.”


Yesil mengangkat bahu. “Setelah kalian tertangkap bahkan lebih buruk lagi,” nada ironi masih tersisa di suara Yesil. “Aslan mengurung Mischa lebih dari tiga hari di kamarnya, dia memanen Mischa terus menerus, dan ajaibnya, hal itu bahkan membuatku sangat terkejut, tetapi tubuh Mischa mampu menahannya,”


Yesil menemukan keterkejutan di wajah Kara dan menganggukkan kepala. “Ya, Kara. Tubuh Mischa mampu menahan hasrat Aslan. Dia seperti dugaan kita, Mischa bukanlah manusia perempuan biasa. Dia bisa menangani Aslan, jadi kau bisa berhenti mencemaskannya.”


Kara mengalihkan pandangannya ke dinding dengan sedih.“Kurasa karena Mischa begitu mirip dengan Natasha aku merasa berkewajiban melindunginya,” ujarnya parau. “Sesuatu yang dulu tidak mampu kulakukan kepada Natasha…”


“Kau melindungi Natasha sekuat tenaga,” Yesil menyela dengan nada tidak setuju. "Kau bahkan mengorbankan kehormatanmu sebagai salah satu dari pemimpin Zodijak demi Natasha.”


“Seharusnya aku bisa melakukan lebih. Hari itu aku menyuruh Natasha lari ke padang luas yang ditinggalkan, menjanjikan akan menemuinya dalam tiga hari. Aku menyuruhnya lari… melepaskan  Natasha ke medan berat yang mengerikan, yang mungkin tidak akan bisa ditangani oleh perempuan serapuh dirinya dan memaksanya bertahan di sana selama tiga hari. Tiga hari sebelum aku bisa datang dan menyelamatkannya, dan dia… dia tidak datang ke tempat pertemuan yang sebelumnya telah kami sepakati meskipun aku terus menunggu dan terus menunggu sampai berpuluh-puluh malam kemudian. Begitu bodohnya aku hingga lupa memperhitungkan keterbatasan fisik Natasha sebagai manusia. Mungkin Natasha tidak mampu bertahan, mungkin Natasha bahkan sudah… sudah mati sebelum bisa menemuiku…”


“Atau mungkin Natasha mengkhianatimu. Kenapa sesulit itu kau menerimanya, Kara?” Yesil menyeringai menahan geram. “Perempuan itu membawa lari air suci zodijak, sebagian besar yang tersisa dari milik kita, dan itu dilakukan dengan bantuanmu yang buta oleh cinta. Kau bahkan rela mengkhianati kami saudara-saudaramu. Dan kau menanggung sebutan pengkhianat Bangsa Zodijak sepanjang masa, menanggung cemoohan sebagai lelaki bodoh yang dibutakan oleh cinta. Sudah sampai seperti itu dan kau masih tetap mengharapkan Natasha kembali kepadamu? Mungkin saat ini dia sudah kembali ke bangsa manusia-nya, sedang menciptakan senjata untuk melawan kita dengan air suci yang dicurinya dan menertawakanmu.”


Yesil memang terdengar kejam, menghujam Kara dengan kata-kata penuh kenyataan menyakitkan di saat kondisi Kara hancur lebur seperti ini. Tapi dia merasa harus menyadarkan Kara, kalau tidak saudaranya itu akan terus dan terus melakukan kebodohan atas nama cinta.


Kara sendiri memejamkan mata, bibirnya menipis menahan emosi sementara seberkas air mata menetes dari sudut matanya, mengalirkan bening yang jatuh ke atas bantal. Ya, sejak bersama Natasha, Kara jadi makin mirip manusia. Dia bahkan memiliki emosi kuat yang bisa membuatnya menangis.


Keheningan itu terasa lama, menyiksa dan menyesakkan dan Yesil memutusan untuk menjalaninya bersama Kara, berharap bisa membantu Kara memikul bebannya saat ini lalu melegakannya.


Kara membuka matanya kemudian setelah berhasil menguasai emosinya, matanya menatap Yesil dengan penuh rasa ingin tahu.


“Sasha… anak kecil yang kutitipkan pada Khar, apakah kau berhasil menyelamatkannya?” tanyanya perlahan.


Yesil memandang Kara dengan serba salah.“Aslan mengambilnya,”


Ekspresi Kara langsung berubah cemas. “Apakah Aslan membunuhnya?” serunya ngeri.


Yesil langsung menggelengkan kepala, berusaha meredakan kecemasan Kara.


“Apa maksudmu?” Kara menyela tidak sabar.


“Aslan memasang gelang kaki dengan bahan peledak yang dipicu oleh cincin pengikat yang dipasangkannya ke tangan Mischa. Kau pasti tahu bahwa ketika cincin pengikat dipasang di jari, itu tidak akan terlepas kecuali oleh yang memasangkannya. Hanya Aslan yang bisa melepas cincin itu dari jari Mischa. Cincin itu akan berubah warna menjadi merah jika Mischa melewati garis batas wilayah yang ditentukan oleh Aslan, warna merah berarti akan mengaktifkan pemicu ledakan di gelang kaki Sasha setelah beberapa saat. Dengan kata lain, jika Mischa berusaha melarikan diri lagi atau melanggar batas wilayah yang ditentukan oleh Aslan, Sasha akan mati dalam ledakan.”


Kara langsung pucat pasi mendengarnya.


“Yesil, kalau kau melihat Sasha kau pasti tahu. Dia begitu mirip dengan Natasha dan juga Mischa. Aku berpikir ini ada hubungannya. Natasha mengikatku dengan kuat, pun dengan Mischa yang mengikat Aslan begitu kuat. Aku berpikir Sasha mungkin akan memiliki imbas yang sama dengan salah satu di antara kita, entah yang mana. Kupikir kau harus mengambil darah Sasha dan memeriksanya, juga membiarkannya bertemu dengan semua saudara kita yang lain untuk memeriksa reaksi mereka terhadap Sasha….”


“Yang pasti bukan diriku. Aku tidak merasa sesuatu yang lain ketika melihat Sasha, Khar juga sama dia membawa Sasha sepanjang perjalanan kemari dan sepertinya tidak memiliki ketertarikan sama sekali. Akrep juga tidak melirik dua kali pada anak kecil itu. Berarti tinggal Kaza dan Sevgil. Kalau saja aku bisa mendapatkan izin Aslan untuk mengobservasi Sasha, aku akan melakukannya,” Yesil meringis, tampak berpikir. “Aku akan membicarakan ini dengan Aslan untuk mengusahakannya, aku akan membicarakan hal ini dengan semuanya. Aku, Akrep dan Khar sudah melihat Sasha dan kami tidak merasakan apapun terhadap anak kecil itu.”


Kara mengerutkan kening, tampak menahan sakit, suaranya mulai terbata.


“Sevgil dan Kaza… periksa mereka…. pastikan…”


“Akan kulakukan,” Yesil mengambil jarum suntik dan menyiapkan penahan sakit untuk Kara, saudaranya itu sepertinya sedang kesakitan parah akibat luka-lukanya dan tak kuat menanggung rasa sakitnya. Penahan sakit cukup berguna di saat-saat ini, bisa membuat Kara beristirahat tanpa harus menahan nyeri.


“Kau beristirahatlah dulu, pikirkan pemulihanmu sendiri dan serahkan yang lain kepadaku.”Yesil berucap tenang sambil menyuntikkan obat tubuh Kara.


Dalam sekejap napas Kara yang terengah berubah tenang sementara matanya tampak berat seolah hampir menutup. Efek obat itu begitu cepat hingga Kara tidak bisa bereaksi lain, matanya terpejam dan kembali larut dalam tidur panjangnya.



Mata Aslan terbuka dan dia menatap ke sekeliling kamar, kehilangan orientasi. Lehernya terasa kaku dan punggungnya tidak nyaman.


Aslan mengerjap, tidak percaya bahwa dia jatuh tertidur tanpa sadar.


Tidak pernah begini sebelumnya.


Tubuh Aslan bagaikan mesin yang bisa diperintah sesuai keinginannya, biasanya Aslan hanya akan jatuh tertidur ketika dia berniat tidur, dan baru kali ini dia tertidur tanpa sadar.


Mungkin karena rasa nyaman dan damai yang entah sudah berapa lama tidak pernah dirasakannya.Kepala Aslan menunduk dan dirinya menyadari bahwa Mischa masih tidur sambil memeluknya erat. Aslan bisa merasakan dengan kulitnya tempat Mischa menempel kepada dirinya, tapi dia tetap menggerakkan tangan untuk memastikan.


Disentuhnya dahi Mischa dan merasakan kelegaan nan aneh karena demam perempuan itu sudah turun, masih hangat tapi tidak panas membakar seperti tadi.


Dengan perlahan Aslan bergerak, melepaskan pelukan Mischa dari tubuhnya, pun dengan paha Mischa yang melingkari kakinya serta membelit dirinya.


Mischa menggeliat dan erangan keluar dari bibirnya seolah ingin memprotes. Gerakan Aslan terhenti dan dia menunduk untuk memastikan Mischa masih lelap. Setelah yakin, Aslan menggerakkan Mischa kembali dengan hati-hati, melepaskan diri dan bergerak turun dari ranjang untuk kemudian berdiri terpaku di tepinya.Tubuh Mischa langsung meringkuk karena kehilangan pegangan sementara Aslan bergegas meraih selimutnya yang melorot dan menyelimutkannya ke bahu Mischa.


Sejenak Aslan masih mengamati Mischa, lalu lelaki itu memijit tengkuknya dengan frustasi sebelum kemudian melangkah pergi, membuka pintu hendak meninggalkan kamar itu.


Tepat sebelum Aslan melangkah pergi, dia tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke arah Mischa sekali lagi.


Tidur lelap dengan damai membuat wajah Mischa tampak sangat cantik dan dada Aslan tiba-tiba terasa sesak, membuatnya mengerutkan kening sebelum kemudian bergegas melangkah pergi dengan kegusaran menyelimuti jiwa



Kaza berjalan dengan ragu ke area tempat budak-budak milik Aslan tinggal. Dia tahu bahwa anak yang digunakan sebagai jaminan supaya Mischa tidak bisa melarikan diri, sedang ditahan di sini.


Mungkin bukan keputusan bijaksana bergerak tanpa izin Aslan dan melihat anak itu tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan saudara-saudaranya yang lain. Tapi, Kaza memutuskan bahwa dia harus mencari informasi dari manapun yang bisa.Khar bilang anak kecil bernama Sasha ini mirip dengan Natasha dan juga Mischa.


Kara juga mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan anak kecil ini. Dari cerita Khar, Kara menitipkan anak itu kepada Khar dengan sungguh-sungguh dan memaksa Khar bersumpah untuk menjaganya.


Munculnya manusia-manusia perempuan yang mirip satu sama lain dan mempengaruhi saudara-saudaranya membuat Kaza curiga.


Ketika kejadian Natasha yang begitu mempengaruhi Kara dan membuatnya hampir melepaskan diri dari saudara-saudaranya dan memilih manusia perempuan itu, Kaza masih belum berpikiran sejauh ini. Tapi ketika Mischa datang dan membuat Aslan begitu terikat dengan manusia perempuan itu, Kaza terdorong untukberpendapat bahwa manusia-manusia perempuan ini kemungkinan besar adalah makhluk yang telah direkayasa genetika sehingga bisa menjadi senjata kelemahan mereka.


Saudara-saudaranya mungkin tidak setuju dengan pendapatnya. Mereka masih memegang kepercayaan tentang Mischa yang kemungkinan besar adalah Dewi Air Bangsa Zodijak yang bisa membawa kejayaan bagi bangsa mereka.


Kaza memang tidak bisa menjelaskan tentang perubahan struktur molekul air bumi akibat penyatuan Aslan dan Mischa, tapi setidaknya dia berhak tetap memegang teguh persepsinya yang berbeda, bukan?


Dia berhak berkeyakinan pada pendapatnya sendiri sampai ada bukti yang menyatakan bahwa pendapatnya salah.


Dan jika dugaannya benar, anak perempuan kecil yang diselamatkan oleh Kara bisa saja salah satu dari senjata itu. Kaza tahu bahwa dia harus menggunakan kesempatan ini untuk membuktikannya.


Kaza melangkah melalui ruang tawanan di area budak manusia dan memasang ekspresi dingin ketika berhadapan dengan penjaga yang bersiaga di depan pintu. Kaza tahu pasti bahwa di balik pintu itu ditawan anak kecil yang merupakan adik angkat Mischa.


“Aku ingin menemui tahanan,” ucap Kaza dengan suara dingin.