Inevitable War

Inevitable War
Episode 83 : Menuduh Natasha



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



 


“Apakah kau pikir merupakan hal yang bijaksana mengajarkan itu semua kepada Mischa?” Yesil bertanya perlahan ketika memasuki ruang tempat Kara dirawat.


Sekarang setelah Kara bisa berjalan-jalan, lelaki itu menolak menghabiskan waktunya lama untuk berbaring di atas ranjang, dan memilih duduk di kursi atau mondar-mandir untuk melatih tulang punggung dan kakinya.


Kara yang sedang duduk di atas kursi mendongakkan kepala, menatap ke arah Yesil sebelum kemudian matanya melirik ke dinding samping tempat Sasha dan Mischa tadi berada.


“Aku mendengar Aslan sudah menjemput Mischa,” ucap Kara perlahan.


Yesil menganggukkan kepala. “Ya, dan Aslan kelihatan sangat tidak sabar,” Yesil lalu menyipitkan mata dan menatap Kara penuh rasa ingin tahu. “Kenapa kau mengajarkan Mischa cara menaklukkan Aslan dengan sentuhan? Apa tujuanmu, Kara?”


Kara sendiri mengangkat bahu. “Cara itu belum tentu berhasil terhadap Aslan, aku hanya memberitahukan secara garis besar pengetahuanku mengenai Natasha, bagaimana pada akhirnya Natasha berhasil merebut hatiku dengan sentuhannya. Sentuhan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya dan bahkan tidak pernah terlintas dibenakku akan kunikmati,” suara Kara bergetar di akhir kalimat, selalu begitu setiap dia menyebut nama Natasha dan mengenang perempuan itu.


“Dan sentuhan itu jugalah yang melemahkanmu,” Yesil terpaksa mengingatkan Kara supaya saudaranya itu tidak tenggelam dalam kenangan melankolisnya. “Apakah kau ingin Aslan sepertimu? Ditaklukkan oleh seorang perempuan manusia? Karena itulah kau mengajari Mischa? Tidak tahukah kau akan bahayanya jika Aslan sampai tergila-gila pada manusia perempuan itu dan bertindak di luar akal seperti dirimu? Melakukan semuanya demi perempuan yang dicintai?”


Yesil tidak menyembunyikan nada mencela di dalam suaranya, membuat Kara menundukkan kepala, lalu menghela napas panjang.


“Sebenarnya apa yang salah dengan memiliki perasaan? Bukankah itu bagus? Membuat kita lebih bisa memahami manusia? Bukankah ada istilah yang mengatakan bahwa kita harus mengenali dulu musuh-musuh kita sebelum menentukan strategi untuk melemahkan? Aku selalu berpikir bahwa kita seharusnya melakukan pendekatan lain untuk menangani manusia, bukan dengan membumihanguskan mereka,” ujarnya kemudian.


“Tidak perlu menjadi seperti manusia untuk memahami dan mengenal mereka. Aku bisa menggunakan penelitianku untuk memberikan data lengkap tentang manusia, dan percayalah bahwa metodeku lebih efektif daripada metodemu,” Yesil menyela dengan nada dingin. “Lagipula, cara mengenali musuh kita bukanlah dengan menjadi seperti mereka, bagaimana jika musuh kita lebih lemah? Apakah kita harus menjadi lebih lemah juga? Aku tidak setuju dengan metodemu, melemahkan diri dengan memiliki perasaan seperti manusia, hanya untuk mengenali mereka.” mata Yesil menyipit ketika tidak menemukan bantahan dari Kara. “Dan sudah terlambat untuk memikirkan pendekatan lain untuk menangani manusia, peradaban mereka sudah musnah dengan perang terakhir melawan Negara Timur Jauh yang kita kobarkan, lagipula membumi hanguskan musuh adalah satu-satunya cara yang kita tahu sebagai Bangsa Zodijak.”


Kara mendongakkan kepala, mengenali nada tajam di suara Yesil untuk kemudian instingnya yang tajam membuatnya mengerutkan kening.


“Apa yang mengganggumu, Yesil? Kenapa kau tiba-tiba membahas semua ini denganku? Dengan nada yang sangat tajam, pula?”


“Mengenai apa?” Kara langsung bertanya waspada, merasakan firasat tidak enak dari isyarat yang dilemparkan oleh Yesil kepadanya.


“Aslan membawa pulang sampel manusia, dan ini bukan manusia biasa. Kelompok manusia ini menyerangnya ketika sedang berada di padang gurun, ada sepuluh manusia yang menyerang dan mereka semua dihabisi dengan mudah oleh Aslan, kecuali pemimpinnya. Pemimpin kelompok manusia itu dibawa pulang oleh Aslan untuk diteliti meskipun dalam kondisi babak belur,” mata Yesil mengawasi wajah Kara sebelum melanjutkan. “Tetapi bukan itu masalahnya, yang aneh di sini adalah bahwa manusia itu memiliki tubuh yang cukup kuat, dengan struktur tubuh yang berkembang pesat di luar evolusi manusia biasa dan membuat kekuatan mereka cukup bisa diperhitungkan meskipun masih belum bisa menandingi kekuatan Bangsa Zodijak.”


Mata Kara melebar mendengar kata-kata Yesil dan langsung bertanya. “Maksudmu… ada sebuah penelitian yang berhasil membuat kaum manusia menjadi lebih kuat untuk melawan kita?”


“Kalau melihat sampel yang dibawa oleh Aslan, rasa-rasanya penelitian mereka belum cukup berhasil, tapi mereka sedang ke arah itu,” sekali lagi Yesil menatap wajah Kara dalam-dalam sebelum melemparkan pemikirannya. “Aku sudah meneliti tubuh sampel manusia itu, dan anehnya aku menemukan jejak air suci Zodijak di dalam darahnya. Tebakanku adalah bahwa mereka menggunakan air suci Zodijak untuk memperkuat diri.”


“Apa?” Kara berseru terkejut. “Apakah maksudmu… mereka mengambil air yang telah berubah molekulnya di sumber-sumber mata air bumi yang kita jaga? Apakah menurutmu ada kebocoran di luar?”


“Tidak,” Yesil menjawab dengan yakin. “Seluruh sumber mata air yang berubah molekul menjadi mirip air suci Bangsa Zodijak sejak Mischa dipanen oleh Aslan sudah dijaga ketat dan tidak ada laporan insiden kebocoran sejauh ini. Lagipula, perubahan molekul air di sumber-sumber mata air itu masih belum sempurna, masih jauh dari air suci Zodijak sehingga aku yakin tidak bisa digunakan sebagai sumber kekuatan,” Yesil menghela napas panjang. “Jejak air suci Zodijak yang kutemukan di sampel manusia itu adalah jejak air suci Zodijak murni, Kara,” ujarnya kemudian, lalu terdiam untuk menilai reaksi Kara.


“Kalau begitu dari mana…?” suara Kara terhenti, menggantung di udara, lalu terhenti ketika pikirannya menemukan jawaban dan membuat wajahnya pucat pasi. “Maksudmu…. Natasha?”


“Maafkan aku, tetapi tidak ada yang lain lagi yang bisa kutuduh,” Yesil berucap tajam, “Kau memberikan air suci Zodijak untuk Natasha, dan hanya itulah satu-satunya air suci Zodijak yang pernah keluar dari istana ini.”


“Tapi Natasha membutuhkan air suci Zodijak itu untuk menyembuhkan saudaranya!” Kara menjawab dengan keras, tidak suka akan tuduhan yang ditimpakan kepada Natasha.


“Tapi Natasha pada akhirnya mengingkari janji dan tidak datang ke tempat pertemuan kalian, bukan?” Yesil terpaksa mengingatkan hal yang menyakitkan bagi Kara untuk menyadarkan saudaranya itu akan kenyataan sesungguhnya. “Meskipun pahit, tetapi kau harus menerima kenyataan bahwa perempuan itu mengkhianatimu, Natasha tidak datang di pertemuan kalian dan dia menggunakan air suci Zodijak untuk melawan kita, bukan untuk menyembuhkan saudaranya seperti kisah melankolis yang diceritakan kepadamu.”


“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, Yesil? Bagaimana bisa kau menuduh Natasha seperti itu?” ekspresi Kara menggelap karena kemarahan, tidak terima ketika wanita yang dicintainya diperlakukan seperti itu.


“Aku seorang peneliti. Peneliti menyimpulkan sesuatu dengan bukti. Kau pasti tahu bagaimana uniknya struktur darah Mischa, darahnya bisa berubah menjadi air suci Zodijak begitu berinteraksi dengan air suci Zodijak meskipun hanya setetes…. aku menduga hal itu juga sama seperti yang terjadi pada darah Natasha, mengingat betapa samanya reaksi yang diberikan Natasha terhadapmu dengan reaksi yang diberikan Mischa terhadap Aslan,” Yesil melanjutkan dengan nada tajam. “Aku berpikir entah bagaimana, ada manusia di luar sana yang tahu bahwa darah Natasha akan berubah menjadi air suci Zodijak, mereka lalu sengaja menyusupkan Natasha ke dalam istana ini dan kebetulan kaulah yang jadi korbannya, begitu mendapatkan air suci Zodijak, Natasha meminumnya dan mengubah struktur darahnya, kemudian dia merelakan diri untuk mensuplai darah bagi pasukan yang dibangun oleh kelompok itu demi melawan kita.”


Mulut Kara menganga sementara ekspresi wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.


“Tidak… bagaimana mungkin Natasha merelakan darahnya diambil terus menerus untuk suplai sebuah pasukan? Kau sudah gila? Itu tidak mungkin terjadi….”


“Kara,” Yesil menyebut nama Kara dengan penuh peringatan supaya Kara mau menghentikan penyangkalannya dan mendengarkan. “Aku sudah memeriksa tubuh sampel manusia yang dibawa Aslan. Di tubuhnya ada banyak sekali bekas suntikan, dan aku menduga bahwa itu adalah suntikan air suci Zodijak. Mengingat bekas suntikan itu bervariasi, ada yang lama dan baru, bahkan ada di beberapa tempat sekaligus, air suci Zodijak itu diberikan secara rutin dan berkala, bukan hanya kepada satu orang saja. Yang menyerang Aslan ada sepuluh orang dan aku menduga itu adalah sebagian kecil dari prajurit mereka…. suplai air suci Zodijak sebanyak itu selama bertahun-tahun… dari mana lagi mereka mendapatkannya kalau bukan dari Natasha?”


Kara tertegun ketika kalimat Yesil langsung memukulnya mundur, membuatnya terpaku kehilangan suara sementara hatinya diremas oleh kepedihan yang amat sangat.


Lalu suara langkah kaki terdengar semakin lama semakin mendekat ke pintu kamar tempat mereka berada, dan Kaza muncul di sana.