Inevitable War

Inevitable War
Episode 143 : Pasangan Sepadan



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M ER


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )



Kalimat penghinaan yang dilontarkan oleh Aslan kali ini benar-benar tidak bisa ditoleransi, melemparkan Mischa sampai batas kesabarannya.


Dia langsung meloncat, dengan bantuan tubuh mungilnya yang ringan dan lincah lalu menerjang ke arah Aslan, seketika itu juga Mischa menggunakan tangannya untuk memukul, menampar dan mencakar Aslan sekuat tenaga, berusaha menyakiti lelaki itu sedalam luka yang telah ditanamkan Aslan untuk menyakitinya dengan kata-kata penghinaan nan kejam.


Semula Aslan membiarkan Mischa, tidak memberontak ketika wajahnya ditampar dengan begitu keras dan dirinya dicakar oleh tangan Mischa, satu-satunya makhluk yang bisa melukai kulitnya dengan mudah.


Setelah merasa cukup memberikan kesempatan pada Mischa untuk melampiaskan kemarahannya, Aslan mencengkeram pergelangan tangan Mischa, lalu meringkusnya sehingga Mischa tidak bisa bergerak.


Napas Mischa terengah sampai habis, dia berusaha meronta dari cengkeraman Aslan yang kuat meskipun itu sia-sia adanya, malahan membuat tenaganya semakin menipis. Aslan tampak menunggu sampai Mischa benar-benar kelelahan sebelum kemudian menggunakan sebelah lengannya untuk menarik tubuh Mischa rapat ke dadanya, mengangkat sedikit tubuh Mischa agar perempuan itu mendongak dan dekat dengan wajahnya.


“Aku rela mati untukmu. Aku tidak akan segan-segan melakukannya, jika itu untukmu. Kau adalah satu-satunya makhluk dimana aku rela melakukan kebodohan dengan mengorbankan nyawaku dan aku yakin tidak akan menyesalinya,” Aslan mengucapkan kata-kata tak terduga, begitu kontras dengan kalimat penghinaan yang dia keluarkan sebelumnya tadi. “Tapi kau harus menyadari posisimu. Meskipun aku rela mati untukmu, bukan berarti kau bisa memerintah serta mengaturku seolah aku adalah budakmu. Bangsa Zodijak adalah bangsa pemimpin. Kami tidak akan pernah mau diperbudak apalagi oleh perempuan,” geram Aslan sambil melontarkan kalimat peringatan nan tegas. Mischa menyipitkan mata, menantang mata Aslan dengan tajam. Sejujurnya, kalimat Aslan yang mengatakan bahwa dia rela mati demi Mischa terdengar begitu tulus, sehingga mampu menggetarkan kelembutan yang berada jauh di dalam hati Mischa.


Meskipun begitu, Mischa segera menyingkirkan rasa lemah yang menelusup ke dalam hatinya itu kuat-kuat. Sekali lagi dia harus mengingatkan dirinya bahwa dia tidak boleh menunjukkan kelemahan sama sekali di depan Aslan karena Aslan adalah Alien dengan jiwa yang sangat keras dan Mischa tahu bahwa sudah menjadi dorongan alami Aslan untuk menggilas siapapun yang terlihat lemah di depannya. Mischa tidak mau berakhir sebagai budak yang tunduk di bawah kaki Aslan.


Jika pada akhirnya mereka harus bekerja sama, maka kedudukan mereka berdua haruslah setara dan Aslan harus belajar menghargai Mischa sebagai sebuah individu yang layak dihormati.


“Aku tidak pernah menginginkan kau mengorbankan nyawamu untukku. Aku bisa melindungi diriku sendiri, bahkan aku bisa melindungimu kalau aku mau, kau sudah melihat buktinya,” Mischa akhirnya berhasil berkata-kata, matanya menantang mata Aslan, memastikan lelaki itu memahami maksudnya, dan membuat Aslan terdiam tak mampu berkata karena kebenaran yang tercipta gamblang di kata-katanya. “Aku juga tidak ingin memperbudakmu. Bahkan jika aku diperbolehkan memilih, aku akan memilih untuk sama sekali tidak berhubungan denganmu. Tetapi saat ini, kita seperti diarahkan untuk terlibat lebih jauh. Dan aku bersedia berkompromi, tidak akan menyerangmu asalkan kau juga sepakat denganku untuk tidak bersikap merendahkanku seolah budakmu.”


Aslan membalikkan badan, membuka pintu kamar itu dan memberi isyarat supaya Mischa mengikutinya.


Mischa menatap Aslan dengan pandangan menilai, lalu akhirnya berucap. “Jika aku bersedia bekerjasama denganmu, itu sudah pasti demi kepentingan Bangsa Manusia, bukan demi bangsamu,” perlahan Mischa mengucapkan kalimatnya dengan berani, menantang kembali.


Aslan menghentikan gerakan tubuhnya, mata gelapnya tampak menatap Mischa dengan penuh perhatian, membaca setiap ekspresinya seolah-olah ingin tahu apa yang tersimpan di kedalaman jiwa Mischa.


Lalu ada sedikit senyum sinis di bibir Aslan. “Bangsamu atau bangsaku, sekarang tidak penting lagi. Ada pepatah yang mengatakan bahwa musuh dari musuhku adalah temanku. Jika kita sama-sama melawan Imhotep maka aku tidak peduli demi siapa kau bertarung, yang penting tujuan utama untuk melenyapkan Imhotep bisa tercapai.” ujarnya kemudian dengan nada dingin, lalu melangkah pergi tanpa menengok lagi seolah yakin bahwa Mischa akan mengikutinya.



 


“Tubuh Sasha melayang dan memancarkan sinar biru?”


Akrep yang telah kembali dari area kediaman Aslan langsung mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Kara mengenai fenomena aneh yang menimpa tubuh Sasha.


Tadi ketika Akrep pergi, Sevgil dan Khar menjelaskan apa yang terjadi di lokasi markas Imhotep, tak lupa menyebutkan bahwa Mischa mengeluarkan kekuatan luar biasa untuk menyelamatkan Aslan yang anehnya membuat tubuh Natasha ikut bereaksi, mengeluarkan sinar biru serta melayang di udara sepanjang Mischa dikuasai oleh kekuatannya seperti pada kondiri trance. Hal itu langsung membuat Kara teringat pada keanehan yang terjadi pada Sasha, keanehan yang sama persis terjadi pada Natasha dan Kara segera menjelaskan dengan detail pada saudara-saudaranya.


“Kalau begitu seperti dugaan Yesil, perempuan-perempuan ini yang saat ini kita sebut sebagai pasangan air suci, memang saling berhubungan satu sama lain. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan bagaimana bisa terjadi. Tetapi, selain sama-sama menjadi pasangan air suci kita, aku sangat yakin ada sesuatu yang mengikat mereka semua dengan kuat… dan itu berhubungan dengan Imhotep,” Akrep berucap setelah merenung beberapa lama. Kara menganggukkan kepala, lalu menghela napas panjang.


Saat ini dia sedang duduk di sofa sementara Natasha terbaring lunglai di pelukannya. Kara membawa Natasha ke dadanya, memeluk tubuh perempuan tercinta itu erat-erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.


Dia pernah kehilangan kesayangannya ini dan dia tidak ingin kehilangan kembali sosok berharga yang kini berada di dalam genggamannya.


“Aku setuju denganmu, Akrep. Bahkan menurutku, kemiripan mereka semua ini bukanlah kebetulan. Kau pasti ingat betapa terkejutnya aku ketika Aslan pertama kali membawa Mischa kemari. Dia begitu mirip dengan Natasha hingga membuatku nekat membawa Mischa melarikan diri karena entah kenapa, aku yakin bahwa Mischa berhubungan dengan Natasha,” Kara menghela napas panjang, menunduk untuk menatap Natasha dengan lembut, lalu mengalihkan mata ke saudara-saudaranya lagi. “Mereka memang berhubungan… dan menurutku, Mischa adalah pusat dari semua ini. Kemungkinan dia yang paling kuat dari semuanya mengingat bagaimana kalian menceritakan apa yang dilakukan oleh Mischa di sana.”


Akrep menganggukkan kepala. “Aku merasakan energi yang sangat kuat ketika Mischa seolah kerasukan di sana dan menyelamatkan Aslan. Bahkan ketika kekuatan yang dikeluarkan oleh Mischa begitu hebatnya… aku tahu bahwa itu masih sebagian kecil dari yang tersimpan di tubuh Mischa, kekuatan yang sebenarnya belumlah muncul.”


“Apakah kau yakin bahwa Mischa adalah yang terkuat? Mischa mengeluarkan kekuatan tersembunyinya itu karena menolong Aslan. Masih ada kemungkinan jika salah satu dari kita, pasangan air sucinya, membutuhkan pertolongan, maka wanita-wanita yang lainnya akan memunculkan kekuatan yang sama besarnya dengan Mischa?” Sevgil yang sejak tadi diam tampak menyela dengan ekspresi serius.