
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Aslan tertegun.
Memikirkan dirinya tidak bisa menyentuh Mischa terasa sangat menyakitkan, hampir-hampir membuat sekujur tubuhnya nyeri, tetapi memikirkan Mischa mati membuat perasaannya…
Aslan mengernyitkan dahi, menggeram perlahan sebelum kembali memusatkan kemarahannya ke arah Yesil.
“Lakukan sesuatu. Aku yakin kau bisa melakukannya,” kali ini suara Aslan lebih tenang, tetapi tetap saja penuh ancaman dan lelaki itu membuka mulutnya hendak melanjutkan ketika suara tawa terdengar dari lorong ruang perawatan yang terhubung langsung dengan ruangan penelitian tempat Yesil berada saat ini.
Kening Aslan langsung mengerut dalam sementara ekspresinya yang sudah gelap bertambah semakin suram.
“Kau bilang kau membutuhkan anak kecil itu hanya untuk pemeriksaan dan mengambil darahnya. Kenapa kau belum mengembalikan dia ke areaku dan malahan membiarkan anak itu tertawa-tawa di dalam sana bersama Kara?” desisnya perlahan.
Yesil langsung berubah waspada, memikirkan jawaban yang tepat khususnya untuk melindungi Kara.
“Dia berguna untuk kesembuhan Kara.” ucapnya perlahan.
“Ah… Kara, yang selalu terobsesi pada manusia. Apakah sekarang dia beralih halauan dari mengincar Mischa menjadi mengincar anak kecil? Sebegitu putus asakah dia ingin memiliki manusia menjadi pasangannya sehingga menyambar manusia manapun yang ada di depannya tanpa pikir panjang?” ejeknya dingin.
Yesil menggelengkan kepala perlahan. “Kara tidak memandang Sasha dengan cara seperti itu. Mereka bersahabat. Lagipula ini berguna untuk mengorek keterangan lebih dalam dari Sasha… karena kau belum mengizinkanku membawa Mischa kemari untuk mendapatkan informasi darinya.”
Suara tawa cekikikan anak kecil itu terdengar lagi, membuat Aslan menggertakkan gigi dengan marah.
“Aku tidak akan mengizinkan Mischa datang kemari selama masih ada Kara di sana, Mischa tidak boleh bertemu Kara,” putusnya geram, membuat Yesil mengerutkan kening.
“Kara tentu tahu bahwa dia sudah tidak bisa berbuat nekat atau macam-macam denganmu lagi. Kecemburuanmu menyangkut Mischa sungguh konyol, Aslan.”
“Aku tidak cemburu,” Aslan meraung cepat. “Kara bukanlah tandinganku untuk bisa membuatku merasa cemburu! Keadaan Kara yang seperti itu, luka parah akibat hukumanku… selalu membuat Mischa memandangku dengan pandangan mencela dan aku tidak suka hal itu. Mischa sebenarnya tidak berhak mencelaku karena aku menghukum saudaraku yang berbuat salah.”
“Bukankah kau sebelumnya pernah bilang bahwa pendapat Mischa tak penting bagimu? Kenapa kau sekarang bersikap seolah kau peduli?” Yesil menyambar, mengutarakan pemikirannya.
Dan hal itu membuat Aslan tertegun, matanya kembali menyipit, lelaki itu seolah ingin berkata-kata tetapi tidak tahu apa yang akan dikatakannya.
“Aku tak peduli, siapa bilang aku peduli?” ketika bisa berkata-kata kemudian, suara Aslan terdengar sangat dingin, dan es itu mengalir ke bola matanya yang gelap. “Kembalikan anak kecil itu ke areaku, kalau tidak aku sendiri yang akan mengambilnya dan tentu saja dengan cara yang tidak baik,” Aslan berucap memberi ultimatum sebelum kemudian membalikkan badan.
“Aslan,” Yesil memanggil ketika Aslan sudah diambang pintu, membuat langkah Aslan terhenti dengan punggung menegang kaku. Yesil tidak menunggu sampai Aslan menoleh kepadanya sebelum melanjutkan. “Apakah kau akan berhenti menyentuh manusia perempuan itu supaya kau tidak terpengaruh efek perasaan manusia?” tanyanya kemudian dengan penuh ingin tahu.
Aslan menoleh, menatap tajam ke arah Yesil, lalu menyeringai penuh ironi seolah-olah merasa tak suka akan kelemahan dirinya sendiri.
“Kau tahu aku tak bisa berhenti,” erangnya kasar lalu melangkah pergi.
Aslan berhenti di depan pintu kamarnya ketika melihat dua orang budak datang membawa nampan. Dirinya memang tidak sempat mengurusi makanan Mischa yang memang cukup merepotkan.
Budak-budak yang digigit oleh Bangsa Zodijak, meskipun bertubuh manusia tetapi seluruh struktur tubuhnya telah terkontaminasi racun, membuatnya jadi tak berjiwa dan tidak membutuhkan makanan, hanya air, sama seperti Bangsa Zodijak pada umumnya.
Hal ini berbeda dengan Mischa yang masih sama seperti manusia yang belum tergigit dan teraliri racun Bangsa Zodijak, manusia perempuan itu memiliki kehendak sendiri dan membutuhkan asupan makanan untuk menjaga kondisinya.
Metode bercocok tanam dan mengembangkan bahan pangan hewani dari sel ini bukan bertujuan untuk mengumpulkan bahan makanan, karena sekali lagi, Bangsa Zodijak tidak butuh makan.
Metode bercocok tanam ini digunakan untuk senjata, sebagai langkah preventif yang membuat Bangsa Zodijak lebih berkuasa dari manusia karena mereka memiliki sumber makanan yang melimpah, sedangkan manusia tidak.
Beruntung metode ini membuat kebutuhan makan Mischa bisa terpenuhi. Ada seorang budak yang masih memiliki bakat memasak yang bisa dimanfaatkan untuk mengolahkan menu-menu sederhana guna menambah stamina Mischa.
Aslan sendiri telah menyempatkan diri mempelajari secara umum tentang tubuh manusia dan nutrisi-nutrisi yang dibutuhkannya hanya demi bisa memberi makanan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh tubuh Mischa.
Setidaknya dia membutuhkan tubuh Mischa cukup sehat untuk saat ini.
Dia memang menyembuhkan Mischa dengan menidurinya, tetapi untuk menjaga kondisi tubuh Mischa harus juga dengan bantuan asupan makanan. Setelah tubuh perempuan itu sehat, tidak menutup kemungkinan perempuan itu akan hamil dan Aslan berharap usaha reproduksi yang berhasil ini akan membunuh keinginan gilanya untuk menyentuh tubuh Mischa lagi dan lagi.
Aslan memberi isyarat dengan tangannya untuk meminta nampan makanan itu dari tangan budaknya. Lalu setelah budaknya menghilang di ujung lorong, Aslan membuka pintu dengan sebelah tangannya, memasuki ruangan dan menutup kembali pintu itu di belakangnya.
Matanya yang gelap langsung menemukan Mischa duduk di pinggir ranjang, perempuan itu tidak mengenakan alas kaki, kakinya menggantung di pinggir ranjang yang dibuat tinggi karena disesuaikan dengan tinggi badan Aslan, sementara Mischa telah mengenakan pakaian bersih yang telah disiapkan oleh budak-budak Aslan baginya.
Pandangan perempuan itu kosong, seolah-olah tidak memiliki api semangat lagi untuk mendorong kekuatannya, tetapi begitu Mischa menyadari bahwa Aslan-lah yang memasuki kamar, perempuan itu sedikit tersentak.Aslan tersenyum penuh ironi ketika menyadari refleks tubuh Mischa yang beringsut menjauh darinya, dia bersikap seolah tak mempedulikan itu dan meletakkan nampan makanan itu di kursi tinggi, lalu menyeret kursi tinggi itu ke hadapan Mischa.
“Makan,” perintahnya tenang, mengambil kursi lain untuk kemudian duduk di sana dan memastikan dirinya mengawasi kalau-kalau Mischa memutuskan untuk membangkang.
Mischa berusaha tidak menatap Aslan dan mengarahkan pandangannya ke arah nampan makanan itu. Ada roti yang tampak lembut dan hangat, bubur jagung manis yang masih beruap dan menguarkan aroma menggiurkan, serta sup sayuran kental dengan harum kaldu yang membuat air liur meleleh.
Perut Mischa langsung berbunyi, memenuhi ruangan yang hening itu dan membuat pipi Mischa memerah karena malu, dirinya hanya berharap bahwa Aslan tidak memahami metabolisme tubuh manusia hingga tidak menyadari apa arti dari perut yang berbunyi keroncongan.
Mischa mencuri pandang ke arah Aslan, dan langsung memalingkan pandangan ketika menyadari bahwa Aslan sedang menatap tajam ke arahnya. Hal itu membuat Mischa memutuskan untuk memusatkan perhatian pada makanannya saja.
Perutnya lapar dan dia ingin makan, tidak akan dipedulikannya alien aneh yang saat ini menatap tajam ke arahnya dan tak bisa terbaca apa maksudnya.
Mischa meraih bongkahan roti yang paling besar, melirik bingung karena tidak tersedia pisau atau sendok di sana untuk makan. Mungkin tadi para budak hanya diperintahkan untuk menyiapkan makanan dan mereka tidak diperintahkan untuk menyiapkan peralatan makannya, dan meskipun dulunya pada budak itu adalah manusia, saat ini mereka adalah cangkang kosong tak berjiwa yang hanya melakukan apa yang diperintahkan.
Kalau saat ini peralatan makannya tidak ada, itu adalah kesalahan dari Aslan, entah pria itu lupa, entah pria itu tidak sadar bahwa manusia memerlukan peralatan makan untuk menyantap makannya,… yah bagaimanapun juga sepengetahuannya, Bangsa Zodijak memang tidak perlu makan, hanya perlu minum.
Melupakan kehadiran Aslan dan melupakan segala tata krama yang memang sudah lama sekali tidak pernah dijalankannya, Mischa mengambil bongkahan roti itu lalu menyobeknya, menggunakan roti itu untuk menyendok segumpal besar bubur jagung kental nan menggiurkan kemudian melahap makanan itu bulat-bulat, membuat mulutnya penuh.
Bertahun-tahun hidup dengan makan serangga dan lumut membuat indra pencecap Mischa langsung bersorak sorai ketika merasakan kenikmatan rasa yang dulu bahkan tidak akan dibayangkannya akan dirasakannya lagi. Mischa mengunyah cepat-cepat, menyobek roti lagi, mencelupkannya ke bubur jagung dan mengunyah kembali, kali ini potongannya lebih besar dari yang pertama.
Entah kenapa Mischa bisa menyadari bahwa Aslan mengerutkan kening, seolah-olah lelaki itu merasa tidak suka dengan cara makan Mischa yang barbar, tetapi Mischa tidak peduli. Semakin lelaki itu merasa tidak suka, semakin senang hati Mischa.Dia sengaja mencecap dengan suara keras dan berpuas diri ketika tahu bahwa ekspresi wajah Aslan berubah muak. Masih belum cukup puas, Mischa mengambil mangkuk sup segar itu, dan mengangkatnya ke mulut, dia langsung menenggak sup itu dari mangkuknya, sengaja menimbulkan suara menelan yang keras dan mengganggu.
Sayangnya usaha Mischa untuk membuat Aslan semakin jengkel tidak berhasil ketika aliran kaldu sup itu bukannya masuk ke kerongkongannya melainkan masuk ke tenggorokannya. Alhasil bulu-bulu pelindung di paru-parunya yang berjaga supaya tidak ada sesuatupun yang masuk selain udara, langsung bereaksi, melemparkan kembali cairan kaldu itu keluar dari tenggorokan dan langsung membuangnya melalui saluran hidung, membuat Mischa terbatuk-batuk dengan rasa panas menyiksa dari hidung dan tenggorokannya.
Aslan langsung berdiri, tangannya mengulurkan sapu tangan yang entah di dapatnya dari mana ke arah Mischa. Mischa tertegun menerima uluran saputangan itu, tapi kemudian mengambilnya dan menggunakan untuk memberisihkan cairan kaldu yang meleleh dari hidungnya.
Pandangan Aslan tampak merendahkan ketika menatap Mischa.
“Apakah kalian… kaum manusia, selalu makan dengan cara yang…” Aslan berhenti dan memikirkan kata-katanya. “Dengan cara yang tidak enak di pandang?” lanjutnya kemudian tidak menyembunyikan nada muak di dalam suaranya.
Mischa membanting sapu tangan itu ke nampan dengan jengkel. Selera makannya hilanglah sudah karena menerima penghinaan yang menurutnya tidak pantas diberikan oleh alien barbar yang bahkan tidak pernah makan.Tapi tidak apa-apa… pada akhirnya Mischa berhasil menenangkan diri karena bagaimanapun dia sudah cukup kenyang menghabiskan potongan roti, bubur jagung dan sup itu sampai tandas. Matanya melirik ke arah gelas air yang tersedia dan menenggaknya sampai habis sebelum kemudian menatap Aslan dengan menantang.
“Makan adalah salah satu cara bertahan hidup dan kami menghargainya,” ucap Mischa ketus. “Kau tidak pernah makan, jadi kau tidak akan mengerti, tidak usah bertanya jika kau sadar bahwa kau tidak akan bisa memahami jawabannya,” sambungnya dengan nada mengejek.
Aslan bersedekap di depan Mischa dengan mata menilai, seolah-olah lelaki itu sedang menghitung sampai seratus untuk menahankan kesabarannya supaya tidak meledak. Setelah itu, tanpa diduga Aslan membungkuk dan meraih baki makanan yang telah tandas dari kursi dan meletakkannya di meja di dekat pintu. Seolah ada kekuatan ajaib – dan Mischa tahu itu memang kekuatan ajaib karena seorang tuan Bangsa Zodijak bisa memerintah budak-budaknya melalui kekuatan pikiran – tiba-tiba saja pintu kamar diketuk, dan Aslan berjalan membukanya, membiarkan seorang budak dengan wajah kosong dan kepala menunduk melangkah masuk, lalu mengambil nampan makanan Mischa yang telah tandas untuk kemudian pergi kembali meninggalkan ruangan.
Aslan lalu menutup pintu kembali dan menatap Mischa dengan pandangan menilai.
“Apakah kau bosan?” tanyanya kemudian, melemparkan jenis pertanyaan yang tidak diduga-duga oleh Mischa sebelumnya dan membuat Mischa mengangkat kepala dengan bibir ternganga bingung.
Mata Aslan langsung menggelap melihat bibir Mischa yang ternganga dan Mischa yang menyadari itu langsung mengatupkan bibirnya, menipiskannya untuk menyembunyikan dari pandangan Aslan, mencoba membunuh segala hal yang mungkin bisa memancing gairah Aslan.
“Bukan urusanmu,” jawab Mischa ketus, menatap Aslan dengan menantang.