Inevitable War

Inevitable War
Episode 84 : Tidak Yakin



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



 


Kaza berjalan memasuki kamar tempat Kara dirawat dan langsung mengangkat alis ketika melihat Kara bisa duduk di atas kursinya dan bukannya berbaring lemah seperti yang dia duga akan dia temukan. Kara rupanya sedang bercakap-cakap serius dengan dengan Yesil karena ekspresi keduanya tampak gelap dan pekat.


Matanya Kaza melebar, seolah tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.


“Kau sudah bisa bangun dan berjalan?” sebuah pertanyaan bodoh diajukan oleh Kaza saking terperangahnya, padahal jawabannya sendiri sudah ada di depan mata.


Kara hanya mengangguk, tersenyum lebar sambil mengangkat alis,“Kau sendiri sudah selesai?” tanyanya santai, menatap Kaza yang masih memakai pakaian berperang lengkap dan wajahnya yang tampak lelah.


Kaza mengangguk. “Sudah selesai. Sekarang kita tidak perlu memikirkan tentang Negara Timur Jauh dan bisa mulai fokus pada musuh kita yang misterius,” kepala Kaza menoleh ke arah Yesil, tadinya menahan diri untuk menyebut tentang Vladimir karena Yesil bersikeras merahasiakan hal-hal yang merujuk pada Natasha untuk menjaga kondisi kara. Tapi Kaza sudah sejak lama tidak setuju dengan pendapat Yesil dan berpendapat bahwa Kara sebaiknya tahu mengenai itu semua.


Memutuskan untuk mengabaikan Yesil, Kaza kemudian bertanya tanpa peduli. “Bagaimana dengan manusia penelitianmu? Apakah dia bisa memberikan petunjuk?”


Yesil menatap Kaza seolah tidak menyangka Kaza akan menanyakan hal itu, tetapi kemudian mengangkat bahu.


“Dia masih belum sadar. Kau tentu tahu sendiri bahwa dia menerima hajaran Aslan meskipun tidak separah yang Aslan lakukan kepada Kara, hal itu membuat kesadarannya masih tenggelam dan belum terbangunkan. Meskipun menurutku, hebat juga tubuh manusianya bisa menahan serangan Aslan dan tidak sampai mati.”


Kaza mengangukkan kepala sedikit, mengangkat alis ketika Yesil tidak menahan diri dan memberikan jawaban dengan gamblang di depan Kara.


Apakah jangan-jangan Yesil telah berubah sikap dan memutuskan untuk memberitahu semua kepada Kara?


Pertanyaan itu membuat Kaza mengalihkan pandangannya ke arah Kara dan mendapati bahwa ekspresi Kara ternyata langsung menggelap mendengar percakapan di antara Kaza dan Yesil. Perlahan Kara menolehkan kepala ke arah Yesil dan bertanya.


“Bolehkah aku melihat sampel manusiamu itu?” pertanyaan yang diajukan Kara itu menjawab keingintahuan Kaza sebelumnya, membuat Kaza yakin bahwa Kara sudah tahu semuanya.


Yesil menoleh cepat dan menatap tajam ke arah Kara. “Untuk apa kau melihatnya?”


“Kalian berdua menuduh Natasha berada di balik semua ini sedangkan aku memiliki pikiran yang berlawanan. Sebagai pihak yang menentang kalian, aku berhak untuk mencari pembuktian dengan caraku sendiri, bukan?” jawab Kara dengan suara dingin.


Sejenak Yesil dan Kaza saling melempar pandang, lalu akhirnya Yesil menganggukkan kepala dengan tenang.


“Aku akan membawamu ke sana untuk melihat sendiri sampel manusia itu dan mencari pembuktian apapun yang kau mau,” Yesil beranjak dari kursinya. “Ayo, apakah kau bisa berjalan sendiri, ataukah kau membutuhkan bantuan?” Yesil mengulurkan tangan untuk membantu, tapi langsung ditolak oleh Kara yang sepertinya masih belum bisa menerima tuduhan buruk yang dikemukakan oleh Yesil mengenai Natasha.


“Aku bisa berjalan sendiri, terima kasih,” Kara mencoba bangun dan berdiri dengan menggunakan bantuan kruk penopang di kedua sisi tubuhnya, lalu melangkah perlahan untuk mengikuti Yesil yang memilih mendiamkan penolakan Kara, membalikkan badan hendak menuju ruang pendingin tempat Vladimir diletakkan.


Ketika Kara sudah sampai di ambang pintu, lelaki itu menolehkan kepala ke arah Kaza, mengangkat sebelah alisnya sebelum mengajukan pertanyaan.


“Apa yang mendorongmu datang mengunjungi area Yesil malam-malam begini, Kaza?” Kara menelusuri seluruh penampilan Kaza. “Kau bahkan belum membersihkan diri dari sisa-sisa medan perang sebelumnya, aku menduga bahwa kau langsung kemari begitu meloncat dari pesawat tempurmu?”


Kaza mengalihkan pandangan dari tatapan tajam Kara, lalu mengangkat bahu.


“Aku ingin melihat keadaanmu,” ujarnya berkilah seolah tak tahu harus menjawab apa.


“Aku datang untuk melihatmu, bukan melihat monster kecil itu. Tidak pernah sedikitpun terlintas keinginanku untuk melihat makhluk mengerikan itu!” sahutnya cepat, sedikit terengah.


Kali ini Kara tidak menyembunyikan lagi rasa gelinya, dia tersenyum lebar, lalu mengangkat bahu, persis seperti yang dilakukan oleh Kaza sebelumnya.


“Benarkah? Kalau begitu baguslah. Karena kupikir, setelah Aslan mengambil Sasha esok pagi, kau tidak akan pernah bisa melihat Sasha lagi,” Kara bergumam sambil lalu, kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan kamar itu tanpa menunggu reaksi Kaza.


Sementara itu mata Kaza melebar, tubuhnya membeku dan membutuhkan waktu lama sebelum dia bisa mencerna kata-kata Kara.


Ketika Kaza memperoleh kesimpulannya, lelaki itu langsung melompat untuk mengejar Kara.


“Apa maksudmu, Kara?” Kaza berteriak keras sambil mendekati Kara, menuntut jawaban dari perkataan misterius Kara sebelumnya.



 


“Hei.”


Aslan menggulingkan tubuh, menggoyang sedikit pundak Mischa yang telanjang, tertidur dalam posisi tengkurap dengan selimut berantakan di pinggangnya.


Setelah beberapa kali percintaan mereka di kamar mandi dan di ranjang sebelumnya, perempuan itu sepertinya jatuh tertidur karena kelelahan, sementara Aslan masih berbaring dengan mata nyalang. Dia tidak tertidur seperti biasanya setelah memanen Mischa karena dia tahu pasti bahwa tubuhnya belum terpuaskan.


Mischa hanya mengerang sedikit ketika menerima goncangan Aslan di pundaknya, tetapi perempuan itu sepertinya terlalu lelah untuk membuka mata ataupun menanggapi Aslan dan malahan kembali terlelap tanpa peduli.


Aslan mengerutkan dahi, mata gelapnya memandang tubuh Mischa yang polos, dan semakin berkabut karenanya, dia tidak bisa menahan diri untuk menelusurkan ujung jarinya ke kelembutan kulit Mischa, dari pundak bergerak perlahan menelusuri kulit punggung nan halus itu hingga ke batas selimut yang melingkari pinggang mungilnya.


Mischa masih terlalu kurus untuknya, tetapi kondisinya sudah lebih baik dari pertama kali dia membawa perempuan itu, tubuh Mischa sudah lebih berisi, terasa hangat dan lembut melingkupi tubuhnya.


Entah kenapa Aslan merasakan dorongan untuk membuat Mischa sehat dengan berat badan mencukupi, mungkin karena dorongan primitif yang menjadi bawaan lelaki Zodijak bahwa mereka harus mencukupi seluruh kebutuhan pasangannya, dan itu termasuk kebutuhan nutrisi.


Aslan menggerakkan tubuh mendekat tanpa bisa menahan diri, sementara jemarinya menelusuri tubuh Mischa naik dan turun, menggoda kulitnya perlahan, bertekad terus melakukan itu hingga berhasil menarik Mischa dari tidur lelapnya.


Dia sudah cukup memberi waktu bagi Mischa untuk beristirahat dan kali ini giliran dirinyalah yang bersenang-senang sebagai hadiah atas kesabarannya menunggu.


Sentuhan Aslan yang makin intens dan menggoda tanpa henti membuat Mischa menggeliat tidak nyaman dari tidurnya, dahinya berkerut dan ekspresinya dengan mata masih terpejam berubah menggemaskan di mata Aslan, seolah-olah Mischa benar-benar kesal disadarkan dari lelapnya, membuat Aslan tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Mischa, mengecup telinga perempuan itu dengan lembut sambil berbisik perlahan.


“Bangun, kelinci kecil,” ujarnya menggoda, membuat Mischa terkesiap. Tubuhnya langsung berguling telentang, menggerakkan tangan untuk menghalau Aslan, tapi terbentur pada lengan Aslan yang kuat dan memerangkap.


Mata Mischa mengerjap perlahan, bulu matanya bergerak-gerak sebelum membuka untuk kemudian menatap Aslan dengan pandangan berkabut.


Aslan tidak bisa menahan seringainya karena berhasil membangunkan manusia perempuan yang selalu berhasil membuatnya berhasrat apapun kondisinya. Ditatapnya Mischa yang berusaha mengumpulkan kesadaran dan menahankan diri untuk bersabar sedikit lagi sampai Mischa benar-benar memperoleh kesadaran penuh atas situasi.


Dari pengalamannya tidur bersama dan membangunkan Mischa selama ini, perempuan ini selalu kehilangan orientasi ketika bangun dari tidurnya dan membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk memperoleh kesadaran murni.


Mata Aslan yang tajam mengamati Mischa, dan ketika rona merah itu muncul di pipi Mischa, dia tahu bahwa perempuan itu sudah sadar sepenuhnya.


Mischa sendiri mengerjap beberapa kali, lalu menatap ke arah Aslan dengan jengkel, pandangannya beredar ke sekeliling, lalu kembali lagi ke Aslan.


“Apakah ini sudah pagi?” tanyanya dengan suara gusar, hendak protes karena sekali lagi Aslan membangunkannya dari tidur.


Aslan berbaring miring, menopang kepala dengan siku bertumpu di ranjang dan menggeleng perlahan, sementara matanya menatap lekat ke arah Mischa, tidak berkedip sedikit pun ketika menjawab.


“Belum. Kau baru tidur sekitar dua jam,” jawab Aslan dengan suara datar, matanya menelusuri tubuh Mischa, menikmati pemandangan itu dengan senang. “Aku sengaja membangunkanmu,” ujarnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.