
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17**PART BONUS** yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Kara bergerak mencoba berdiri meskipun susah payah, sementara Yesil bersedekap, menyandarkan tubuhnya di depan meja penelitian dan menggelengkan kepalanya sedikit, memberi isyarat kepada Yesil.
“Duduklah, Kara. Jika kau meminta penjelasan, maka akan kujelaskan. Tetapi kau harus tenang,” suara Yesil terdengar datar, tidak meninggikan intonasinya karena tahu bahwa Kara butuh diperlakukan secara hati-hati dalam pembahasan sensitif mereka ini.
“Natasha hamil?” Kara masih terperangah dengan mata membelalak tak percaya, ditatapnya Yesil seolah berusaha menebak bahwa saudaranya itu sedang bercanda, tetapi wajah Yesil begitu serius, membuatnya yakin bahwa saudaranya itu tidak sedang bercanda.
Dengan frustasi Kara meremas rambutnya, mengusap wajahnya sebelum akhirnya menatap Yesil dengan pandangan terluka.
“Kenapa? Kenapa kau merahasiakannya dariku?”
“Aku tak mau menyakitimu. Kau bahkan sudah hampir gila karena Natasha meninggalkanmu. Bagaimana bisa aku berkata bahwa perempuan itu juga berusaha mengkhianatimu?” Yesil menjawab cepat, masih menjaga supaya ekspresinya tetap datar.
“Natasha mengkhianatiku? Kau bahkan masih belum tahu kenapa Natasha tidak kembali kepadaku, bisa saja dia…” Kara menyambar dengan marah, tapi tatapan mata Yesil yang penuh peringatan membuat suaranya tertahan.
“Bukan tentang itu. Ini tentang pengkhianatan yang lain,” Yesil menatap Kara dengan pandangan menyelidik. “Kau yakin ingin tahu? Karena ini akan menyakitimu,” sambungnya kemudian dengan nada tidak yakin.
Kara menipiskan bibir, menghela napas dengan sedih.
“Kau pikir aku bisa lebih sakit dari ini? Kurasa tidak. Saat ini hatiku begitu sakit hingga aku merasa hampa. Sedikit sayatan lagi tidak akan menyakiti,” ujarnya kemudian dengan nada rapuh.
Yesil ikut menghela napas panjang, pada akhirnya memutuskan membuka semua.
“Pada hari ketika kau sedang pergi keluar untuk berpatroli, Natasha keluar dari kediamanmu, dia menyamar dan entah bagaimana caranya, berhasil lolos hingga menembus ke tempat penyimpanan air suci Zodijak, kurasa para penjaga membiarkannya karena dia penuh dengan aromamu, menjadi milikmu dan dianggap sudah tunduk kepadamu. Salah seorang penjaga mengatakan bahwa Natasha memanipulasi pikiran mereka, dengan mengatakan bahwa dia diutus olehmu.” mata Yesil yang tajam masih memperhatikan ekspresi Kara yang menggelap. “Kami berhasil melumpuhkannya tentu saja, sebenarnya… lebih tepat dikatakan kalau dia yang melumpuhkan dirinya sendiri. Natasha pingsan, dan para penjaga membawanya diam-diam ke labku. Aku merawatnya dan pada saat itu aku tahu bahwa dia keguguran. Aku menduga bahwa Natasha tidak menduga bahwa dirinya sedang mengandung, bayi yang dikandungnya masih berusia sangat muda…”
“Ada berapa?” Kara menyela cepat, wajahnya tampak kaku mendengar penjelasan Yesil. Kara jelas-jelas tersakiti di dalam tetapi memutuskan untuk tidak menunjukkannya di luar.
“Maksudmu bayinya?” Yesil mengerutkan kening. “Kandungannya masih sangat muda, Kara. sulit untuk memastikan. Kau tahu bahwa perempuan Zodijak memiliki banyak kantong rahim, dimana anak-anak yang dikandung perempuan Zodijak pada mulanya berbentuk satu kesatuan embrio yang akan bergerak memecah kira-kira ketika usianya dua bulan dan mengisi masing-masing kantong rahim yang tersedia, satu pecahan mengisi satu kantong rahim. Kadang tercipta anak kembar seperti kau dan Kaza yang bersama-sama mengisi satu kantong rahim. Ketika Natasha keguguran, kantong rahimnya belum terbentuk dan embrionya belum terpecah, karena itu aku hanya menyebutnya sebagai satu anak.”
“Astaga…” sekali lagi Kara meremas rambutnya. Pembicaraan ini ternyata menyakitinya lebih daripada yang dia duga.
Pengetahuan mengenai Natasha yang berusaha mengambil air Zodijak di belakang punggungnya dan juga pengetahuan mengenai anak yang bahkan tidak disadarinya sampai saat ini… semuanya begitu menyakiti dirinya hingga membuatnya mati rasa.
Kenapa Natasha melakukan itu? Jika dia meminta… jika dia menjelaskan, Kara akan memberikan air suci Zodijak itu untuk Natasha. Bahkan dia telah melakukannya, bukan? Dia telah memberikan air suci Zodijak itu untuk Natasha, membantu Natasha melarikan diri dan mengkhianati saudara-saudaranya sendiri, dia bahkan rela menanggung hukuman yang meninggalkan bekas luka di tubuhnya secara permanen.
Dan juga sampai saat ini, Kara masih percaya bahwa Natasha akan memenuhi janjinya untuk kembali, dia masih percaya…
Kara tidak menjawab, pandangannya nanar sementara ekspresinya kosong. Tak berapa lama kemudian, Kara bangkit dari duduknya meskipun susah payah, menolak ketika Yesil hendak membantunya. Dia lalu melangkah dengan bantuan kedua kruknya dan hendak meninggalkan ruangan pendingin tempat Vladimir masih terbaring kaku dan belum berhasil disadarkan.
“Kau mau kemana?” Yesil akhirnya bertanya ketika Kara sudah berada di ambang pintu, membuat Kara tertegun sejenak, lalu menjawab,“Aku akan menemui Mischa,” ujarnya singkat.
“Aslan akan sangat marah, Kara. Kau bisa terbunuh,” Yesil berucap pelan memperingatkan.
Kara menyeringai sedih mendengar kata-kata Yesil, ekspresinya begitu getir hingga menusuk hati siapapun yang melihatnya.
“Tidak ada bedanya, bukan? Aku toh merasa sudah mati saat ini,” sambil berucap pahit Kara melangkah pergi tertatih-tatih, menjauh dari ruang pendingin tersebut menuju lorong dan meninggalkan Yesil sendirian.
Pandangan mata Yesil masih terpaku pada kepergian Kara, sebelum kemudian dia menghembuskan napas keras-keras dan menegakkan punggung.
Semoga saja keputusannya untuk memberitahukan semua ini kepada Kara bukanlah keputusan yang salah.
Yesil hanya ingin Kara membuka mata dan tidak keras kepala dengan keyakinannya yang konyol bahwa Natasha sama sekali tidak bersalah, bahwa Natasha bukanlah pengkhianat. Padahal seluruh bukti sudah jelas-jelas menunjukkan semua kejadian ini didalangi oleh Natasha yang membawa lari air suci Zodijak dan mengkhianati Kara dengan menggunakan air suci Zodijak itu sebagai senjata untuk melawan mereka.
Bahkan di saat seperti ini pun, Yesil masih bisa melihat bahwa Kara tetap tidak tergoyahkan. Saudaranya itu entah bagaimana masih mempercayai Natasha.
Mata Yesil lalu terpaku pada sosok Vladimir yang masih terbujur kaku, dia menghela napas panjang dan bergerak lagi untuk meramu cairan-cairan khusus guna membangunkan manusia yang masih tenggelam dalam koma ini.Vladimir harus bisa dibangunkan.
Dia adalah saksi kunci mereka yang mungkin bisa memberikan informasi dengan gamblang dan membantu Yesil membuka mata Kara.
Bayi ini membuatnya kelaparan setengah mati… atau mungkin Mischa harus menyebutnya dengan ‘bayi-bayi‘ ini?
Mischa menundukkan kepala, menatap perutnya yang masih rata, lalu tiba-tiba merasa ngeri ketika membayangkan ada banyak anak bertumbuh di dalam perutnya nanti.
Apakah memungkinkan dia menjalani kehamilan ini sampai selamat? Atau dia malahan akan mati di tengah jalan?
Bagaimanapun takutnya dirinya karena harus mengandung anak dari makhluk lain yang berbeda spesies dengannya, makhluk alien yang berasal dari planet antah berantah nan jauh, Mischa masih memiliki rasa manusiawi di dalam jiwanya, bahwa dia tidak mungkin membunuh atau menyakiti anak yang berada di dalam kandungannya.
Tapi Mischa tidak bisa membunuh ketakutan yang muncul di dalam jiwanya, ketakutan karena dia tidak tahu makhluk macam apa yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya.
Apakah anak itu akan terlahir sebagai Bangsa Zodijak, atau perpaduan antara Bangsa Zodijak dan manusia, atau jangan-jangan malah seperti dirinya? Seperti manusia murni? Dan apa yang akan dilakukan oleh Aslan jika ternyata anak yang dikandungnya ini adalah manusia?
Aslan bilang anak yang dikandung Mischa sedianya menjadi penerus Bangsa Zodijak, hal itu tidak akan terjadi jika ternyata anaknya lebih mirip manusia, bukan?
Jika skenario itu yang terjadi, akankah Aslan membunuh anaknya dengan hati dingin?
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi benak Mischa, membuat kepalanya terasa penuh dan pikirannya kalut.
Tangan Mischa akhirnya bergerak meski sedikit gemetaran untuk mengusap perutnya, dan ketika dia berhasil melakukannya, napasnya yang tadi sempat bergulung di dada dan terasa menyesakkan terembus perlahan, melonggarkan pernapasannya dalam usaha Mischa untuk menenangkan diri.
Jalani saja.
Bisikan itu terdengar di dalam jiwanya, membuat Mischa mengerjapkan mata dan menyadari kenyataan bahwa tidak ada yang bisa dilakukannya selain menjalani hal ini dan melihat apa yang terjadi nanti.