
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undan
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
“Jangan pernah menamparku lagi! Apalagi di depan saudara-saudaraku!”
Aslan mendorong tubuh Mischa sehingga punggung Mischa menabrak dinding dengan keras. Mischa sendiri langsung melenting maju untuk melarikan diri, tapi tubuhnya menabrak dada Aslan dan langsung didorong kembali hingga membentur dinding.
Tangan Aslan langsung mencengkeram kedua tangan Mischa dan menahannya di atas kepala sementara tangannya yang kemudian bebas digunakan untuk meraih dagu Mischa dan menghadapkan wajah perempuan itu ke arahnya.
Mata Aslan yang gelap tampak membara, seperti batu hitam panas yang membakar, sementara Mischa memberanikan diri untuk membalas tatapan garang Aslan dengan mata menantang.
Tubuh Mischa sendiri tidak bisa bergerak, terhimpit oleh tubuh Aslan yang sekeras batu, dan dirinya saat ini bisa dikatakan hanya bergantung pada belas kasihan Aslan yang tidak bisa diharapkan.
“Kau juga mempermalukanku di depan saudara-saudaramu!”
Mischa membalas dengan suara berani, tahu kalau dirinya mempertaruhkan nyawanya untuk ini, tetapi sepertinya hal ini sepadan untuk dilakukan hingga Mischa tak mau mundur.
“Kau juga menghina Sasha, anak kecil yang tidak tahu apa-apa!”
Aslan menggeram untuk menahankan kesabaran, lalu tanpa diduga, didorong oleh keinginan impulsif untuk melampiaskan kemarahannya, lelaki itu menundukkan kepala dan mencium bibir Mischa yang masih terbuka karena marah, tanpa izin.
Ciumannya itu semula keras dan kasar, dengan tujuan untuk memberikan hukuman, tetapi tidak butuh waktu lama bagi Aslan untuk terbawa perasaan kemudian, pun dengan Mischa. Ikatan misterius yang mengikat tubuh mereka terlalu kuat untuk ditolak oleh keduanya.
Ciuman itu lama kelamaan berubah lembut, sebagai luapan emosi keduanya, tangan Aslan yang tadinya mencengkeram tangan Mischa bergerak turun, meremas bahu Mischa dengan lembut sebelum kemudian mencengkeram kedua sisi leher Mischa dan mendekatkan tubuh perempuan itu semakin rapat ke tubuhnya yang berhasrat.
Mischa sendiri menggerakkan kedua tangannya, berpegangan erat di bahu Aslan yang tinggi, bergantung di sana.
Pada akhirnya Aslan menggeram, merasa kurang dekat sehingga dirinya setengah mengangkat pinggang Mischa dan memeluknya erat sementara kedua tangan Mischa melingkar di lehernya.
Ciuman itu berlangsung lama, penuh gairah dan luapan kemarahan masing-masing, hingga akhirnya Aslan berhasil menguasai diri dan mengangkat kepala.
Napas keduanya terengah ketika Aslan perlahan menurunkan Mischa ke lantai sementara Mischa bergegas melepaskan kedua lengannya dari leher Aslan, memalingkan kepala karena merasa malu setelah melihat bahwa bukan bibirnya saja yang terasa panas dan memar, tetapi bibir Aslan juga tampak memar karena Mischa ******* bibir lelaki itu sekuat tenaga tanpa malu-malu.
Mischa tidak tahu dari mana dia mendapatkan keberanian untuk melakukan itu, tetapi di dalam dirinya memang ada dorongan untuk menunjukkan kepada Aslan bahwa mereka sederajat dan dia tidak mau diperlakukan lebih rendah dengan semena-mena.
Kalau Aslan menggunakan tubuhnya untuk menghukum Mischa, tentu saja Mischa bisa melakukan hal yang sama kepada Aslan, bukan?
Kelakuan nekatnya rupanya membuahkan hasil mengingat bahkan Aslan sendiri tampak begitu takjub dengan ledakan hasrat di antara mereka berdua yang tidak disangka-sangka, hingga lelaki itu kehilangan kata-kata.
Sejenak Aslan hanya menunduk untuk menatap Mischa yang menolak membalas tatapannya, kemarahan di dalam jiwanya menguap begitu saja, hanya karena sebuah ciuman, dan itu membuat Aslan merasa takjub.
Perlahan Aslan membungkuk, mencengkeram kedua bahu Mischa dan menjaga tubuh perempuan itu supaya tetap merapat di dinding sebelum kemudian dia mendaratkan bibir di sisi leher Mischa, mengecupnya di sana sebelum kemudian bibirnya merayap ke telinga Mischa dan berbisik perlahan, mengabaikan tubuh Mischa yang tersentak ngeri akibat gerakannya yang menggoda.
“Nanti kita lanjutkan. Setelah aku kembali,” bisik Aslan dengan suara serak penuh janji, sebelum kemudian melepaskan pegangannya dari tubuh Mischa dan melangkah menjauh, melewati lorong panjang di area Yesil sebelum menghilang di ujungnya.
Mischa masih berdiri di sana, dengan tubuh gemetar akibat bisikan terakhir Aslan yang memengaruhi dirinya. Perlahan kedua lengan Mischa bergerak untuk memeluk dirinya sendiri sementara matanya masih nanar, memandang ke arah kepergian Aslan.
Mischa menghela napas panjang karena lega, setengah memejamkan mata, tetapi dia menangkap gerakan perlahan di dekatnya sehingga langsung membuka mata kembali dengan waspada.
Mata Mischa membelalak ketika menyadari bahwa Akrep sedang berdiri di dekatnya, di ambang pintu, bersedekap dengan santai sementara mata gelapnya menatap tajam ke arah Mischa seolah mempelajari.
Hal itu membuat pipi Mischa bersemu merah, bertanya-tanya di dalam hati sudah berapa lamakah Akrep berada di sana? Apakah lelaki itu melihat ciumannya dengan Aslan tadi? Kenapa Akrep masih berdiri di sini dan menatapnya?
“Apakah kau tahu apa yang dikorbankan Aslan untuk memilihmu?” Akrep berucap perlahan, memecah keheningan dengan suara dinginnya yang misterius.
Mischa langsung mendongakkan dagu marah mendengar kata-kata menghakimi itu. Seolah-olah Aslan-lah yang menderita karena dirinya dan bukan sebaliknya.
Kenapa mereka semua bisa berpikiran seperti itu? Dirinya-lah yang diculik di sini, disekap, dinikahi dalam kontrak pernikahan paksa untuk kemudian diperkosa dengan keji dan dijadikan pelampiasan nafsu Aslan yang tiada habisnya? Jika memang ada yang berkorban di sini, tentu Mischa-lah orangnya, bukan Aslan!
Pemikiran Mischa terpancar di matanya, memberikan keberanian kepada dirinya untuk menantang tatapan mata Akrep yang tajam, mengalahkan ketakutannya kepada Lelaki Zodijak dengan aura gelap yang tidak begitu dikenalnya ini.
“Kalian tidak mengorbankan apa-apa ketika menghancurkan planet kami. Kamilah yang kehilangan segalanya karena invasi kalian ke bumi,” Mischa mendesis marah. “Begitupun dengan Aslan. Dia memperoleh apa yang dia mau dengan semena-mena dan tidak kehilangan apapun!”
Akrep tiba-tiba menegakkan punggung, lalu melangkah mendekat dengan gerakan mengintimidasi. Lelaki ini, meskipun selalu memasang ekspresi yang sangat tenang jika dibandingkan dengan Aslan, tetapi memiliki aura gelap yang bahkan lebih mengerikan, membuat Mischa tanpa sadar beringsut, berusaha menjauh.
Melihat Mischa menjauh, Akrep menghentikan langkah dalam jarak aman, lalu menggelengkan kepala sedikit dengan senyuman masam.
“Tenanglah. Kau aman. Aku tidak akan menyentuh ataupun meletakkan tanganku atasmu karena Aslan telah menandaimu dengan sangat jelas. Siapapun yang menyentuhmu akan mati di tangannya,” Akrep mengangkat alisnya ketika melihat ekspresi Mischa yang terkejut.
“Ya. Apakah kau tidak sadar bahwa dengan menandaimu, Aslan telah melindungimu? Aturan Bangsa Zodijak mengenai wanita yang ditandai berlaku untuk semuanya, bahkan untuk kami saudara-saudara Aslan sekalipun,” ujar Akrep dengan nada menegaskan.
“Dia tidak melindungiku!” Mischa membantah dengan suara ketus. “Apa yang Aslan lakukan hanyalah merupakan pelampiasan egonya dan sifat posesifnya yang berlebihan!”
Ada senyum di sudut bibir Akrep mendengar jawaban Mischa, seolah-olah lelaki itu setuju dengan kata-kata Mischa tetapi tidak mau mengungkapkannya, tetapi secepat munculnya, secepat itu juga senyum tersebut menghilang dari bibir Akrep, mata Akrep kembali berubah serius, menatap Mischa sedikit mencemooh.
“Sebagai pemimpin Bangsa Zodijak, yang terkuat di antara kami, Aslan seharusnya menikahi perempuan terbaik dari Bangsa kami yang telah disiapkan untuknya. Perempuan itu sempurna, dengan tubuh, paras dan jiwa rupawan yang sangat pantas untuk mendampingi Aslan, sudah disiapkan untuk menjadi pengantin Aslan sejak dia dilahirkan. Perempuan itu akan bisa memberikan keturunan terbaik bagi Aslan yang akan menjadi pemimpin selanjutnya bagi bangsa kami,” Akrep menjelaskan dengan suara dingin sementara matanya terpaku, menatap dingin ke arah Mischa. “Tetapi karena kau, karena kami meyakini bahwa kau memiliki kekuatan misterius yang berhubungan dengan air suci Zodijak yang kami cari, kami meyakinkan Aslan untuk memilihmu. Dan Aslan melakukannya, meninggalkan yang terbaik baginya hanya demi manusia sepertimu.”
Akrep melangkah melewati Mischa yang masih terpaku mendengar kata-kata lelaki itu, lalu sama seperti yang dilakukan oleh Aslan, lelaki itu melangkah meninggalkannya hingga menghilang di ujung lorong panjang tersebut.
“Sasha bilang bahwa Mischa adalah anak seorang ilmuwan.” Kaza tidak menyia-nyiakan waktu untuk menyampaikan informasi itu kepada Yesil. “Bukan ilmuwan biasa, tetapi seorang imuwan yang khusus mempelajari Bangsa Zodijak.”
Yesil mengangkat sebelah alis menatap Kaza. “Kau sudah selesai dengan Sasha? Kau tidak melakukan apa-apa kepadanya, bukan?” tanya Yesil penuh ingin tahu.
Kaza mengepalkan kedua tangan, menggertakkan gigi dengan marah. “Aku bahkan tidak menyentuh anak kecil itu! Tidakkah kau mendengarkanku? Jika Mischa adalah anak ilmuwan yang mempelajari bangsa kita, ada kemungkinan besar bahwa dia digunakan sebagai objek penelitian.”
“Penelitian apa maksudmu?”
“Penelitian yang menjadi kecurigaanku sejak awal, bahwa perempuan-perempuan manusia ini digunakan sebagai senjata untuk melemahkan kita!” sambung Kaza dengan nada menggebu.
Yesil menganggukkan kepala. “Hal itu tentu tak lepas dari pemikiranku juga, Kaza. Saat ini aku sedang mencari benang merah yang menghubungkan semua petunjuk menjadi satu. Dan terima kasih atas informasi darimu, aku jadi memiliki satu titik lagi untuk mengikat benang merahku,” ujar Yesil perlahan.
“Jika kau mau, kau bisa membantu Kara untuk mengorek informasi dari Sasha, sepertinya anak itu jauh lebih terbuka kepadamu dibanding terhadap kami.”
Kaza melemparkan tatapan tajam ke arah Yesil, dipenuhi kemarahan.“Jangan harap aku akan melakukan itu!” bentaknya gusar. “Aku tidak akan menemui monster kecil itu lagi kalau tidak terpaksa. Lagipula sepertinya anak itu lebih mengharapkan Kara, bukan diriku!”
Lalu tanpa mempedulikan ekspresi bertanya-tanya di wajah Yesil, Kaza melangkah pergi dengan cepat dari ruangan.