Inevitable War

Inevitable War
Episode 17 : Persiapan Upacara



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


***



 


“Aslan bisa membunuh Mischa kalau dia menidurinya tanpa persiapan!”


Begitu memasuki ruang laboratorium Yesil, Kara langsung meneriakkan ketidaksetujuan, membuat Yesil mendongakkan kepala dari apapun yang sedang ditelitinya.


Yesil mengangkat alis melihat kegusaran jelas yang terpatri di wajah Kara, senyum tersungging di bibirnya, senyum mengejek seperti yang diberikan oleh seorang kakak kepada adiknya.


“Mischa bukan manusia biasa, kau juga sudah melihat sendiri buktinya bukan? Dia akan bisa melayani Lelaki Zodijak dengan baik.”


“Kau bahkan tidak tahu itu semua dengan pasti,” desis Kara dengan marah. “Dan Aslan sama sekali tidak berpengalaman menangani manusia, dia akan sangat kasar!”


“Jika Aslan ingin mengikat manusia perempuan maka sudah kewajibannya untuk segera memanen perempuan itu. Kalau dia tidak memanennya, maka dia tidak akan bisa mengikat perempuan itu. Ikatan antara pasangan di dalam Bangsa Zodijak harus dilakukan secara fisik. Kau pasti sudah tahu itu, Kara.”


Yesil menjelaskan dengan sabar, tahu bahwa saudaranya ini berkepala panas dan kadang suka melakukan sesuatu tanpa perhitungan terlebih dahulu.


“Lagipula, mengikat manusia Zodijak inilah yang paling penting bagi kita sekarang. Bangsa kita diawali oleh Sang Singa dan Dewi Air, dan kita percaya bahwa Aslan dan Mischa adalah perwujudan dari mereka. Kita harus menyatukan Aslan dan Mischa karena kita semua percaya bahwa entah bagaimana caranya, mereka akan mewujudkan kejayaan Bangsa Zodijak seperti dahulu kala.”


“Aku percaya itu semua, tetapi bukan berarti kita harus buru-buru menyatukan mereka semua bukan?” Kara mengacak rambutnya dengan frustasi. “Ini terlalu terburu-buru. Hanya berdasarkan satu atau dua temuan kalian semua langsung memaksa tanpa jeda supaya Aslan mengikat perempuan itu. Bagaimana kalau kalian salah? Bagaimana kalau dugaan yang kalian simpulkan itu salah?”


Yesil menatap Kara dengan tatapan tajam dan menilai, lalu berucap tanpa perasaan. “Maka Mischa akan mati malam ini setelah dipanen oleh Aslan.”


“Kalian semua gila!” Kara merangsek maju, hendak meraih kerah baju Yesil dalam kemarahan. Tetapi sekejap kemudian Yesil memasang kedua telapak tangannya sebagai tameng, membuat langkah Kara terhenti.


“Tidak ada yang bisa kau lakukan, Kara. Semua sudah menyetujui penyatuan ini. Yang bisa kau lakukan hanyalah menunggu dan melihat apakah yang akan terjadi nanti. Jika Mischa bertahan, sudah pasti dia bukan manusia biasa, jika dia mati maka nasibnya memang sedang sial.”


Kara menggertakkan giginya dengan marah, akhirnya dia hanya bisa mengepalkan tangan lalu membalikkan badan untuk melangkah pergi, karena percuma saja sepertinya dia meminta dukungan Yesil.


Yesil sama saja seperti saudara-saudaranya yang lain, tidak mempedulikan Mischa dan hanya lebih peduli pada kejayaan Bangsa Zodijak itu sendiri.


 


﴿﴿◌﴾﴾



 


Mischa sedang berdiri di depan pintu, berusaha mengira-ngira apa yang bisa dilakukannya supaya bisa keluar dari tempat ini. Sayangnya tidak ada jalan lain. Satu-satunya jalan keluar dari kamar ini adalah pintu itu. Entah kenapa kamar ini didesain tanpa jendela, tanpa jalan keluar dan tanpa kesempatan untuk melarikan diri.


Dan pintu yang merupakan harapan satu-satunya bagi Mischa ternyata terkunci.


Mischa menghela napas panjang, menatap ke sekeliling, mencoba memastikan tidak ada yang terlewat, tetapi tetap saja nihil. Ruangan ini tertutup rapat, kalaupun ada jalan keluar, itu ada di dinding dekat langit-langit kamar, sebuah lubang ventilasi udara berbentuk lingkaran-lingkaran yang disusun melingkar indah, dalam jarak mungkin mencapai ketinggian empat meter dari Mischa sekarang berdiri.


Lubang ventilasi udara itu tidak dapat dicapainya, bahkan jika Mischa mendapatkan keajaiban untuk bisa mencapai lubang udara itu dan keluar, dia harus bisa terbang, kalau tidak dia sama saja menyerahkan nyawanya untuk terjun bebas dari ketinggian empat meter.


Ketika Mischa sedang asyik merenung, dirinya dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka perlahan. Mischa langsung mundur dengan penuh antisipasi, khawatir bahwa yang memasuki ruangan itu adalah Aslan.


Lalu sosok itu masuk, diikuti dengan budak-budaknya di belakang.Mischa membelalakkan mata ketika tatapannya bersirobok dengan mata gelap nan kelam milik yang tertua di antara tujuh pemimpin Zodijak.


Lelaki inilah yang dipanggil dengan nama Akrep, yang telah mengusulkan supaya dirinya dibawa ke laboratorium penelitian sebelum kemudian Aslan mencegahnya.


Mereka adalah lelaki Zodijak, yang dilahirkan sebagai predator utama, pemangsa tangguh yang buas dan tidak segan-segan melindas siapapun yang lebih lemah dari mereka.


Apakah Akrep ingin membawanya ke laboratorium seperti yang diusurkannya tempo hari? Ataukah dia ingin melukai Mischa?


Pertanyaan-pertanyaan mengerikan itu bergelayut di benak Mischa tanpa bisa ditahan, membuatnya begidik dan rupanya hal itu tidak terlewatkan oleh mata Akrep yang tajam. Lelaki itu tersenyum miring seolah mengejek.


“Tenanglah, manusia,” ujar Akrep dengan suara dalam. “Aku tidak akan melukaimu. Kau adalah calon pengantin Aslan sekarang, pemimpin kami, jadi aku tidak akan menjatuhkan tanganku ke atasmu,” ujarnya tenang, lalu memberi isyarat kepada budak-budak wanitanya yang langsung bergerak mendekat di kiri dan kanan Mischa, kemudian mencengkeram lengan Mischa erat-erat.


Mischa langsung panik dan berusaha meronta untuk melepaskan diri, sayangnya usahanya sia-sia, budak-budak wanita itu, meskipun bertubuh manusia perempuan, tetapi entah kenapa memiliki kekuatan luar biasa di balik ekspresi mereka yang datar layaknya batu. Sepertinya karena mereka menjadi budak Akrep, mereka digerakkan oleh kekuatan Akrep.


“Tidak ada gunanya meronta,” Akrep berucap lagi sambil mengamati Mischa lambat-lambat. “Mereka terlalu kuat untukmu,” jelasnya dingin, lalu membalikkan badan, memberi isyarat supaya para budaknya mengikuti.Mischa kemudian diseret meninggalkan kamar peraduan tempatnya dikurung, dalam kungkungan pegangan kuat dari para budak yang tetap saja tak terlepaskan meskipun Mischa berusaha meronta sekuat tenaga.


 


﴿﴿◌﴾﴾



 


“Wow,”


Sevgil mengangkat alis sambil memandang ke sekeliling. “Kau menyiapkan semuanya dalam waktu singkat.” ujarnya.


Matanya tak lepas dari apa yang dilakukan oleh Akrep saat ini. Ruangan tempat mereka berkumpul, bersantai dan kadang berkoordinasi menyangkut perang telah diubah menjadi hamparan tempat luas beralaskan karpet hitam untuk mereka semua berdiri. Di bagian tengah karpet terdapat sebuah bejana yang disangga dengan kaki-kaki kokoh berukir dari bahan emas yang menjadi penopang sehingga bejana tersebut bisa setinggi dada manusia.


Air di dalam bejana itu berwarna biru jernih seolah memantulkan kilau yang tidak bisa diberikan oleh air biasa. Ya, air yang ada di dalam bejana ini adalah sebagian dari air Zodijak murni yang diambil dari lokasi penyimpanan rahasia Bangsa Zodijak.


Kalangan Bangsa Zodijak biasa mungkin mengikat perjanjian kontrak pernikahan dengan air apapun yang bisa mereka dapatkan, tetapi karena mereka adalah pemimpin Bangsa Zodijak yang masih kental darah kebangsawanannya, mereka semua menggunakan air zodijak yang suci. Air Zodijak suci yang murni dipercaya berasal langsung dari legenda Bangsa Zodijak, dihasilkan dari guci air milik Sang dewi air sendiri.


Akrep membalikkan badan, menatap Sevgil yang menatap semua dengan ekspresi tertarik, lalu mengangkat bahu seolah apa yang dilakukannya ini adalah hal biasa.


“Kalian semua tadi sedang pergi berperang, Yesil sibuk dengan penelitiannya hingga tenggelam dan melupakan semua hal, sementara Kara hanya bisa marah-marah tanpa solusi. Hanya aku yang tersedia, jadi aku membereskan semua,” mata Akrep menyipit ketika mengamati Sevgil yang masih memakai pakaian perangnya. “Dimana Aslan? Apakah dia sudah tiba?”


“Aslan menggila tadi, dia menghancurkan lebih banyak dari yang seharusnya. Mungkin itu luapan kemarahannya karena dihadapkan pada posisi ini,” Sevgil mengangkat bahu. “Tapi setidaknya setelah pergi berperang dia menjadi sedikit lebih tenang. Kurasa saat ini dia sedang membersihkan diri di kamarnya.”


“Di mana kau taruh manusia milikku?!”


Suara geraman yang terdengar tiba-tiba, diiringi hempasan pintu yang membuka kasar membuat Akrep dan Sevgil menolehkan kepala ke arah yang sama.


Di sana berdiri Aslan, dengan mata berkilat penuh kemarahan, rambut acak-acakan dan masih mengenakan pakaian perang berupa jubah hitam berlapis beberapa perisai pelindung di dada.


Aslan tampak lelah, sekaligus luar biasa murka. Mata Aslan memandang berganti-ganti ke arah Akrep dan Sevgil, lalu mendesiskan kembali pertanyaannya, kali ini dengan nada mengancam nan kental.


“Di mana manusiaku?” ulangnya lagi dengan nada tidak sabar.


Akrep sedikit menahan senyum. “Dia tidak dibawa kemana-mana, Aslan. Dia sedang disiapkan untuk upacara pengikatan kontrak di antara kalian berdua. Kau bilang kau hendak melakukannya malam ini ketika kau pulang berperang, bukan?”


Aslan menatap Akrep dengan tatapan curiga. “Apakah kau membawanya ke areamu?”


“Tentu saja,” Akrep seolah tidak takut dengan nada mengancam yang menguar dari suara Aslan. “Kau tidak punya budak perempuan untuk mengurusnya. Aku mengambilnya sementara guna menyiapkan dirinya untuk persiapan pernikahan. Calon istri dari pemimpin Bangsa Zodijak harus terlihat sempurna, bukan?”


Aslan menyipitkan mata, tampak tidak setuju dengan perkataan Akrep, tetapi juga tidak berniat membantah.


“Manusiaku akan tampak seperti manusia rendahan, meskipun kau mencoba membuatnya sesempurna mungkin.” ejeknya sinis. Mata Aslan lalu menatap ke seluruh ruangan, yang telah disiapkan oleh Akrep untuk upacara pengikatan kontrak pernikahan. Aslan mengangkat alis sedikit mencemooh ke arah Akrep. “Tidak membuang-buang waktu, eh?” ejeknya.


Akrep mengangkat bahu. “Kau sudah setuju, jadi buat apa menunda-nunda lagi?” Pada intinya, Akrep ingin mengatakan bahwa mereka semua harus melakukannya secepat mungkin sebelum Aslan berubah pikiran.


Bibir Aslan sedikit menipis, seolah-olah semua ini tidak menyenangkan hatinya, tetapi dia kemudian memutuskan mundur dan tidak memancing konfrontasi dengan Akrep.


Akrep memang selalu terlihat tenang, tetapi bukan berarti dia tidak berbahaya. Kekuatan Akrep memang masih di bawah Aslan, tetapi Akrep bisa membuat Aslan luka parah jika mau, meskipun jika Akrep berani melakukan itu, Aslan akan membunuhnya.


“Aku akan membersihkan diri dan bersiap.”


Aslan melemparkan lirikan sekilas ke arah Sevgil yang memilih menjadi pengamat di antara mereka, kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi.


 


﴿﴿◌﴾﴾