
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Aslan menciumi Mischa tanpa ampun, sementara seolah tak ingin Mischa menghindar, lelaki itu bertumpu pada siku di kedua sisi Mischa dan menggunkan tangannya untuk menangkup kedua pipi Mischa, membuat Mischa tidak bisa memalingkan kepala.
Lelaki itu mencium seolah-olah dia kelaparan dan Mischa adalah hidangan lezat yang bisa memuaskan dahaganya.
Bibir Aslan terasa begitu panas, membakar pikiran Mischa hingga berasap sementara tubuh lelaki itu yang tak kalah panasnya, mendesak dan merapat ke tubuh Mischa seolah-olah kulit mereka yang menempel saat ini masih kurang cukup dekat.
Aslan mengerang seolah tidak rela ketika melepas ciumannya, napasnya panas, berembus keras di bibir Mischa yang terasa memar karena dicium dengan begitu kuatnya, berpadu dengan napas Mischa yang tak kalah kerasnya.
Aslan menunduk, menatap ke arah Mischa dan menyadari ada kerjap ketakutan di sana. Sekuat apapun penampilan pemberontak yang ditunjukkan Mischa di depannya, perempuan ini takut kepadanya… takut kepada matanya.
Dan naluri Aslan sebagai seorang predator membuatnya menyimpan pengetahuan itu, kelemahan seorang mangsa adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan oleh predator untuk membuatnya kehilangan daya hingga akhirnya bisa dikuasai. Tak terkecuali bagi Mischa saat ini karena Aslan memandangnya sebagai mangsa, dalam arti yang berbeda tentu saja karena dia mengincar Mischa bukan untuk disantap.
“Apakah kau sudah puas memamerkan kearogananmu?” Mischa pada akhirnya berhasil mengeluarkan suara meskipun ada gemetar terselip di sana, “Bisakah kau melepaskanku dan membiarkanku sendirian?”
Suara kemarahan berbalut ketidakberdayaan dari Mischa sama sekali tidak mengusik belas kasihan Aslan, yah, pada dasarnya dirinya memang hampir-hampir tidak mempunyai rasa belas kasihan.
Aslan mendongakkan dagu Mischa, menatap bibir ranum menggoda yang sangat lezat untuk dilumat itu dengan lapar.
“Apakah kau ingin hidup?”Pertanyaan itu membuat Mischa mengerjapkan mata, bingung kenapa Aslan menanyakannya. Lalu benak Mischa menelaah dan ingat bahwa Aslan telah mengetahui penyakitnya. Memang anehnya sejak ditangkap dan disekap oleh Aslan, rasa sakit yang biasanya menyerang dirinya setiap malam seolah-olah musnah tak berbekas, seolah-olah hilang tanpa jejak, membuat Mischa sedikit bisa menipu diri dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja. Tetapi kemarin, ketika Aslan dan kekasarannya membawanya ke batas kekuatannya, penyakit itu menyerangnya kembali dengan mendadak, membuatnya pingsan.
Biasanya tubuhnya selalu terasa sakit, nyeri di seluruh sendi akibat sistem imun tubuhnya tidak bisa berkoordinasi, sistem imun tubuhnya bukannya menyerang penyakit-penyakit dari luar, malahan sibuk menyerang tubuhnya sendiri, menyerang sendinya, darahnya, ginjalnya, organ dalam tubuhnya, bahkan kemana-mana seolah-olah Mischa dibuat bunuh diri pelan-pelan dari dalam.
Anehnya sekarang tubuh Mischa terasa ringan, di sini, dibawah tubuh Aslan setelah bibirnya dicium habis-habisan oleh musuh yang kejam, pembunuh buas dan penghancur bangsa mereka yang keji, Mischa malahan merasa sedikit melayang, seolah-olah dirinya diberi minuman penghilang rasa sakit.
Aslan tiba-tiba menggeram, lalu tidak bisa menahan diri untuk menunduk dan mencium Mischa lagi. Mischa meringis, berusaha meronta dan mendorong, tangannya bergerak ke belakang punggung Aslan, berusaha memukul dan mencakar tanpa daya, menggunakan segala cara agar lelaki itu menjauhinya.Ketika Aslan mengangkat kepala, Mischa mengambil kesempatan itu untuk menggerakkan tangannya dan mencoba mencakar wajah Aslan, sayangnya kali ini Aslan lebih sigap, lelaki itu mencekal pergelangan tangan Mischa yang kurus dengan jemarinya yang kuat, sedikit menekannya hingga Mischa meringis kesakitan.
Sekali lagi, Aslan menggunakan bola mata hitamnya untuk mengintimidasi Mischa, mengusik ketakutan Mischa hingga membuatnya lemah karena harus berjuang melawan ketakutannya sendiri.
“Kelinci kecil yang liar… yang selalu mencoba mencakar tuannya ketika berusaha didisiplinkan…” Aslan mendesis pelan, ada ancaman lembut yang terselip di dalam nada suaranya. “Apakah kau lupa apa yang kukatakan kemarin? Apapun yang kau lakukan padaku, aku akan membuat adik angkatmu, Sasha mendapatkan hal yang sama. Jika tanganmu itu tadi berhasil menyakitiku dan menggoreskan cakaran di kulitku…” Aslan menunduk dan mengecup tangan Mischa, sedikit membuka mulutnya hingga lidahnya bisa mencecap kelembutan kulit Mischa. “Aku akan membuat Sasha menderita luka yang sama di wajahnya… apakah kau rela adikmu itu menjadi perempuan cacat dengan luka yang tak bisa hilang di wajahnya?”
Pengetahuan tentang kemampuan menyembuhkan diri itu tentu saja Mischa peroleh dari percakapannya dengan ayahnya dahulu, dan hal itu mengingatkan Mischa kepada Kara, Kara sampai tidak berdaya seperti itu… padahal dia sebagai Bangsa Zodijak tentu memiliki kemampuan menyembuhkan diri yang sama kuatnya, itu berarti luka yang ditimbulkan oleh Aslan luar biasa parahnya.
Mischa tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa takut… dari semua pemimpin Bangsa Zodijak, kenapa dia harus terikat dengan yang paling kejam, yang paling kuat dan yang paling berkepala panas?
Tetapi tentu saja ketakutan itu tidak membuat Mischa membiarkan dirinya untuk ditindas, setelah mengumpulkan keberanian, Mischa mengangkat tatapannya untuk menantang mata hitam itu.
“Kau bukan tuanku,” ucapnya perlahan, menekankan setiap perkataannya dengan serius supaya Aslan mengerti apa yang ingin dikatakannya.
Ucapan Mischa membuat ekspresi Aslan berubah, menjadi lebih gelap dan menyeramkan, seolah lelaki itu tidak menyangka bahwa Mischa akan menantangnya.
“Apa?” Aslan menyipitkan mata, suaranya mendesis hampir menggeram, sementara aura peringatan menguar dari seluruh tubuhnya, seolah-olah laki-laki itu menahan diri untuk tidak membunuh Mischa saat itu juga.Mischa menguatkan diri, tahu bahwa dengan melawan Aslan dirinya membahayakan keselamatannya sendiri dan juga Sasha, tetapi tidak ada cara lain. Aslan harus tahu bahwa meskipun dia bisa menguasai tubuh Mischa dengan mudah karena kekuatannya, bukan berarti dia bisa menguasai hati dan tekad Mischa untuk berjuang.
“Kau bukan tuanku dan aku bukan budakmu,” tanpa sadar Mischa mengangkat dagunya dengan angkuh. “Gigitanmu tidak lantas menghilangkan kemampuanku untuk berkehendak. Jadi jika kau tanya apakah aku ingin hidup, maka jawabanku adalah lebih baik aku mati daripada hidup dalam paksaan di bawah kuasamu. Aku berjuang hidup untuk kebebasanku tetapi jika kebebasan itu direnggut dariku, maka aku lebih baik mati.”
Jawaban Mischa sepertinya tidak diduga oleh Aslan. Aslan selalu berpikir bahwa Mischa menginginkan kehidupan, yah apalagi yang bisa dia pikirkan kalau melihat perjuangan Mischa sebagai kaum penyelinap seperti yang dikatakan oleh Sasha?
Seseorang yang putus asa dan ingin mati tidak akan berjuang begitu keras untuk melawan kematian serta kesakitan seperti yang Mischa lakukan sebelumnya. Dan hal itu membuat Aslan merasa di atas angin, tahu bahwa dirinya adalah satu-satunya harapan yang dimiliki oleh Mischa untuk meraih kehidupan yang diinginkannya.
Sekarang setelah Mischa menjawab seperti itu, dengan berani dan dipenuhi keangkuhan pula, Aslan hampir-hampir kehilangan kata-kata. Lelaki itu menyeringai dengan marah, menatap tajam ke perempuan lemah yang bahkan sekarang tidak bisa bergerak di bawah tindihan tubuhnya.
Tubuh kurus dan lemah seperti ini berani menantangnya….Aslan mencengkeram kedua pergelangan tangan Mischa di kiri dan kanannya, menatap perempuan itu dengan tatapan licik sebelum melemparkan kata-katanya.
“Sayangnya, jika kau menginginkan kematian, kau tidak akan mendapatkannya,” ujarnya penuh arti.
Mischa mengerjap, tampak kebingungan lalu menatap Aslan dengan curiga. “Apa maksudmu?”
Kebingungan yang membuat mata indah itu tampak berkabut mengusik hasrat Aslan, membuatnya harus menggertakkan gigi untuk menahan diri.
“Aku bisa menyembuhkanmu dengan mucisevi yang dibuat di dalam darahku . Ketika kau menjalin kontrak pernikahan denganku, maka otomatis tubuhku akan mengklaim dirimu sebagai milikku, dengan begitu tubuhku akan mulai menyempurnakan pasanganku.” Aslan menatap Mischa dengan penuh arti. “Mucisevi adalah anugerah yang diberikan oleh alam kepada bangsa kami, zat penyembuh yang sangat kuat. Zat itu dihasilkan oleh darah, tapi menyebar ke seluruh cairan tubuh kami. Bahkan di dalam racun kami terkandung zat tersebut, karena itulah budak-budak kami menjadi panjang umur dan cukup kuat…. dan karena itulah aku tidak mau sembarangan menggigit budak, aku tidak mau membagikan zat yang sangat berharga itu kepada manusia rendahan seperti kalian…. Lagipula Muscisevi tidak bisa diberikan secara sukarela, kami bisa menahannya bahkan jika kami sedang menggigit manusia,” mata Aslan menyipit, senang melihat sinar tersinggung yang berkilat di mata Mischa. “Kecuali terhadap pasangan mereka, Bangsa Zodijak otomatis akan memberikan muscisevinya dan tak ada yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Dan kau… setiap aku memberikan cairan tubuhku, racunku, ciumanku, gigitanku bahkan benihku… aku menyembuhkanmu dan akan terus menyembuhkanmu sampai kau benar-benar pulih… kau mungkin bahkan akan hidup selamanya denganku sampai kau bisa memenuhi kontrak pernikahanmu dengan menghasilkan keturunan bagiku, atau sampai aku memutuskan bosan dan membuangmu.”
Informasi yang tidak diduga itu membuat Mischa membelalakkan mata terkejut. Ya, dia tentu tahu tentang mucisevi, ayahnya bahkan meneliti zat itu secara khusus, berharap bisa menemukan cara untuk menjadikan zat itu senjata, untuk memperkuat manusia atau bahkan sekedar menyembuhkan… supaya mereka bisa melawan Bangsa Zodijak.
Yah… Mischa tahu harapan ayahnya tidak muluk-muluk, Mischa sudah menderita penyakit ini sejak kecil, melawan penderitaannya dari dulu, dari penyakit autoimun ini yang hanya menyerang kulit dan membuatnya terluka tanpa sebab, lalu menyerang sendi, sebelum kemudian semakin parah dan menyerang seluruh organ tubuhnya.
Dan ayahnya sudah pasti merasa bersalah, karena penyakit ini bukan bisa didapatkan begitu saja, melainkan diturunkan secara genetik.
Seorang laki-laki biasanya hanya menjadi pembawa gen penyakit ini, tetapi seorang perempuan sebagian besar menjadi penderita terkait dengan hormon-hormon kewanitaan yang memicunya.