
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Kaza terpana ketika perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata memenuhi jiwanya, seolah-olah meledak di dalam dirinya.
Dia masih terpaku di ambang pintu sementara Sasha menatap Kaza dengan penuh rasa ingin tahu.
Perempuan itu tidak tampak takut dan ekspresinya juga bersahabat, seolah-olah senang bisa melihat Kaza.
Jelas-jelas Sasha mengira Kaza sebagai Kara karena memang wajah mereka sama persis hingga hampir tidak bisa dibedakan.
“Kau sudah sehat? Bagaimana bisa?” Sasha bertanya bingung, menatap ke arah Kaza yang bisa berdiri tegak, padahal terakhir kali Sasha melihat Kara, lelaki itu masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Perban di tubuh Kara memang telah mulai dibuka sebagian, tetapi kaki dan lengannya masih menggunakan gips untuk menyembuhkan tulangnya yang patah. Tentu tidak diduga oleh Sasha bahwa Kara bisa sembuh secepat itu.
Kaza menggertakkan gigi. “Kau sedang bermimpi. Saat ini apapun yang sedang kau lihat, kau dengar dan rasakan, semuanya cuma mimpi,” geramnya tenang, berusaha menahan diri supaya tidak mendekat ke arah Sasha.Sasha memiringkan kepala lagi, menatap Kaza dengan bingung.
“Mimpi?” dengan polos Sasha mencubit tangannya sendiri, terasa sakit hingga dia mengaduh. “Tapi ini sakit. Katanya kalau dicubit sakit, itu kenyataan, kalau tidak sakit, baru itu mimpi” ujarnya kemudian, mendongak lugu ke arah Kaza dengan tatapan bertanya-tanya.
Kaza menipiskan bibir, mau tak mau menahan senyum melihat tingkah Sasha.
“Anak bodoh,” desisnya pelan, seolah mengumpat tapi ada nada sayang di dalam suaranya.
Hanya sedetik hal itu berlangsung sebelum Kaza menyadari bahwa dia membiarkan dirinya terlarut dalam perasaannya terhadap Sasha. Kaza memijit tengkuknya dengan frustasi, meringis sambil menatap Sasha jengkel dan penuh peringatan.
“Pokoknya semua yang kau lihat saat ini hanyalah mimpi, mengerti?” serunya penuh peringatan, menatap Sasha dengan tajam dan menunggu anak kecil itu menganggukkan kepala.
Sasha masih menatap bingung ke arah orang yang dikiranya Kara yang tampak berbeda dari Kara yang biasa. Tapi akhirnya Sasha mulai percaya bahwa mungkin saja dia bermimpi.
Kara masih sakit dan tidak mungkin berdiri di depannya dengan sehat seperti saat ini, apalagi sikap sosok ini sekarang tampak galak, tidak seperti Kara yang biasa.Akhirnya Sasha menganggukkan kepala, mengatakan bahwa dia mengerti dan tahu bahwa sosok Kara di depannya sedang menunggu persetujuan dari dirinya.
“Bagus,” Kaza mendesis dan melemparkan tatapan mata tajam ke arah Sasha. “Sekarang tidur, anak kecil. Tidur,” Kaza mengulang kata terakhirnya penuh penekanan, memaksa Sasha menurut.
Dan seperti dugaannya, Sasha langsung menurut, membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang dan menyelimuti dirinya serta memejamkan mata rapat-rapat.
Keheningan lalu menyelimuti kamar itu dan Sasha yang memejamkan mata mulai merasa ingin tahu. Dia mengintip perlahan dengan takut-takut, lalu setelah tidak menemukan apapun, barulah dia berani membuka matanya lebar-lebar.
Sosok yang tadi ada di ambang pintu sudah tidak ada dan tidak ada jejak apapun di sana seolah-olah memang tidak ada siapapun di sana sebelumnya tadi.Sasha mengucek matanya, menatap nanar dengan bingung.Apakah tadi dia memang benar-benar bermimpi?
Ketika manusia-manusia itu mengeluarkan pistol, di detik yang sama Aslan mengeluarkan pistolnya yang lebih canggih dan menghancurkan.
Dia menggerakkan tangan secepat kilat, sambil menghindar dari tembakan peluru dan bergerak gesit, dengan tetap berusaha menjadi tameng bagi Mischa sambil membidik semua orang di belakang Vladimir.
Suara tembakan beradu menggema di padang gurun itu, beberapa menyentuh pasir dan menciptakan debu-debu yang kembali berterbangan.
Aslan terus membidik dengan cepat, menggunakan keahlian berburunya yang sangat terlatih dan menembak satu persatu dengan penuh perhitungan, hingga akhirnya anak buah terakhir Vladimir jatuh roboh ke pasir dengan peluru merusak yang mengenai kepalanya.
Pemandangan di padang pasir itu berubah mengerikan, dengan tubuh bergelimpangan dan darah di mana-mana, membasahi pasir keemasan dan menyebabkannya menggumpal serta berubah warna.
Aslan menoleh ke arah Mischa, memastikan bahwa perempuan itu tidak terluka sebelum kemudian dia melangkah mendekat ke arah Vladirmir, berdiri menjulang di atasnya sambil masih membidikkan pistolnya yang mengerikan.
“Aku tidak membunuhmu karena saudaraku mungkin menginginkanmu sebagai bahan penelitiannya. Kau akan mengalami penyiksaan mengerikan oleh saudaraku, sayatan demi sayatan, irisan demi irisan sebelum pada akhirnya kematian datang menjemputmu,” Aslan menyeringai. “Kematian yang cepat akan terlalu mudah untukmu. Kau berani-beraninya melemparkan pandanganmu kepada istriku dan mulutmu mengatakan bahwa kau menginginkan istriku,” Aslan menarik kerah baju Vladimir dengan sebelah tangan, lalu memukulkan gagang pistolnya dengan keras ke arah mata dan mulut lelaki itu.
Pukulan itu menimbulkan bunyi keras dan seketika mencabut kesadaran Vladimir hingga tubuhnya lunglai dan terhempas di pasir.
Mata kelam Aslan mengamati tubuh Vladimir yang tak bergerak. Manusia ini mungkin mengalami kerusakan parah dan pendarahan di seluruh organ dalam akibat hajaran Aslan, tetapi dia masih hidup.
Aslan sudah memastikan Vladimir masih bernapas meskipun dadanya tampak naik turun dengan lemah. Sekuat tenaga Aslan menahan diri untuk tidak mematahkan leher Vladimir karena dia tahu bahwa Yesil sudah pasti menginginkan manusia dengan kekuatan mencurigakan ini dalam kondisi hidup-hidup.
Perlahan Aslan mengeluarkan pistolnya yang lain, pistol bius kecil yang memang wajib dibawa oleh prajurit Zodijak untuk kemungkinan situasi ketika mereka menemukan tawanan yang harus dibawa hidup-hidup.
Perlahan Aslan menembakkan pistol bius itu ke leher Vladimir, membuat tubuh Vladimir tersentak sedikit sebelum kemudian lunglai kembali. Aslan lalu membalikkan badan, kali ini bisa memusatkan perhatiannnya ke arah Mischa yang berlutut dan menyembunyikan wajah dengan tubuh gemetaran.
“Kau sudah bisa membuka matamu, mereka semua sudah mati,” ujar Aslan dingin, kakinya berada dekat dengan tubuh Mischa yang berlutut sementara dia berdiri tepat di depan Mischa dengan mata menatap rendah ke arah perempuan itu.
Tidak ada gerakan dari Mischa, perempuan itu tetap menyembunyikan kepala dengan tubuh gemetaran, membuat Aslan menggeram kesal karena Mischa tidak menuruti perintahnya.
Lelaki itu menekuk kaki, bertumpu pada satu lutut dan menggunakan kedua lengannya untuk mengguncang pundak Mischa.
“Hei, angkat kepalamu! Kau tidak dengar tadi kalau aku menyuruhmu mengangkat kepalamu?” teriaknya kasar.
Dan ketika Mischa tidak melakukan apa yang dia mau, Aslan berdecak lalu dengan kasar menarik tubuh Mischa supaya punggungnya tegak dan mengangkat kepala.
Sejenak Aslan ingin menyembur marah, tetapi kemudian dia tertegun.Mischa tampak kacau, wajahnya pucat pasi, basah oleh air mata yang berucuran dan bibirnya seputih kapas, belum lagi dengan matanya yang menyiratkan teror ketakutan seolah berasal dari trauma masa lalu yang mengerikan.
Aslan melihat bahwa rambut serta tangan Mischa pun juga dengan beberapa sisi pakaiannya terkena cipratan darah, kemungkinan dari para manusia yang dihajar dan mati tertembak olehnya.Tangan Aslan mencengkeram pundak Mischa yang gemetaran tak terkendali, mencoba menenangkannya, tapi Mischa terkesiap, berusaha menyingkirkan tangan Aslan dengan ketakutan.
“Menjauh!” teriak Mischa dengan suara parau karena tangis. “Kalian membunuh ayahku! Menjauh dariku, pembunuh!” serunya keras.
“Kau ini kenapa?” Aslan berseru keras, meraih bahu Mischa dan mengguncangnya tak kalah keras seolah dengan gerakan itu dia bisa mengembalikan kesadaran Mischa.
Perempuan ini sepertinya terbawa kembali ke masa lalu, entah karena situasi pertarungan tadi yang familiar dengan masa lalunya, entah karena aroma darah nan kental di udara dan sebagian membasahi tubuh Mischa dengan mengerikan.
Mata Mischa tampak kosong, dan ketika bertemu dengan mata gelap Aslan, teror tampak memenuhi dirinya, bibirnya gemetaran, dipenuhi ketakutan yang amat sangat.
Mischa tidak pernah tampak setakut ini sebelumnya kepada dirinya… sekeras apapun Aslan terhadap Mischa, perempuan itu selalu berhasil melawan dengan angkuh.
Baru kali ini Mischa tampak begitu lemah… begitu ketakutan hingga hampir kehilangan kesadarannya.
“Hei,” Aslan menangkup kedua pipi Mischa dengan telapak tangannya yang besar. “Ini aku. Kau ada di sini bersamaku. Mereka semua sudah mati. Kau baik-baik saja, Mischa,” Aslan merendahkan nada suaranya, mencoba bersikap lembut meskipun itu sulit baginya, Aslan sadar bahwa dia tidak akan bisa memberikan kekerasan pada kondisi Mischa yang tampak labil saat ini.
Mischa menatap mata Aslan dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Sejenak Mischa seolah berusaha mengumpulkan kesadarannya, lalu sinar mulai muncul di mata Mischa yang tadinya kosong penuh teror, membuatnya mengerjap lagi sebelum kemudian memfokuskan diri pada mata hitam Aslan yang legam.
“Aslan?” Mischa berbisik perlahan dan akhirnya Mischa menemukan kesadarannya, dia menatap Aslan seolah kebingungan dan ketika Mischa mengedarkan pandangannya ke sekeliling, perempuan itu langsung terkesiap ketika menemukan mayat-mayat bergelimpangan di sisi mereka, banjir darah di mana-mana.
Seluruh tubuh Mischa langsung bergetar kembali dipenuhi ketakutan apalagi ketika aroma anyir darah kembali menyapa hidungnya. Mischa memejamkan matanya rapat-rapat untuk menjaga kesadarannya tetap ada pada saat ini.
Rasa mual langsung menyergap tubuh Mischa, membuatnya lunglai seolah kesakitan.
Dia tak mau mengingat saat-saat itu lagi... dia tak mau lagi!
Aslan mengerutkan kening melihat kondisi Mischa yang tidak biasa. Perempuan itu tidak pernah terlihat lemah sebelumnya.
Tetapi saat ini Mischa tanpak begitu luluh lantak dan tidak bisa menyembunyikannya di depan Aslan.
Ada sesuatu, tetapi tentu saja Aslan tidak akan bisa mengoreknya. Dia membutuhkan Yesil…