Inevitable War

Inevitable War
Episode 68 : Menandai



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakir


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



“Mau kemana?”


Aslan yang tadinya ingin kembali ke kamarnya langsung menghentikan langkah dan menatap Mischa dengan mata hitamnya yang kelam.


Mischa langsung memalingkan wajah, tidak ingin bertatapan Intens dengan Aslan.


“Kau bilang aku boleh keluar dari kamarmu asal tidak melanggar batas…”


“Aku hanya bertanya kau mau kemana, kelinci kecil,” Aslan menggeram cepat, menyela kalimat Mischa dengan tidak sabar.


Seketika jiwa pemberontak di dalam jiwa Mischa bangkit mendengar kalimat Aslan yang arogan. Perempuan itu mendongakkan dagu, menatap Aslan dengan menantang.


“Aku bisa kemana saja sesukaku asal tidak melanggar batas wilayah yang telah kau tetapkan. Bukan urusanmu aku akan kemana.”


Mata Aslan menyipit, menyiratkan pesan ancaman berbahaya yang memberi isyarat supaya Mischa mundur jika masih ingin selamat.


“Seberapa sulitnya mengatakan kemana tujuanmu? Atau kau lebih suka memancing kemarahanku lalu aku menghukummu?”


Mischa langsung menelan ludah. Pikirannya yang cerdas langsung tahu bahwa ketika Aslan mengatakan tentang hukuman, hal itu tidak jauh-jauh dari kegiatan yang dia paksakan di atas ranjang, dan Mischa sudah sejauh ini, bisa menjauh dari ranjang serta menjauh dari kamar itu, bebas dari jangkauan Aslan. Dia tentu tidak akan bertindak bodoh yang membuat kebebasan semunya ini dicabut dengan begitu cepat.


“Aku hendak menuju area penelitian Yesil. Kau bilang aku boleh membantu di sana,” Mischa menjawab cepat dengan bijaksana, memberikan kata-kata yang kemungkinan besar akan menentukan nasibnya.


Aslan masih berdiri tegak di sana dengan ekspresi sulit diartikan ketika mendengar jawaban Mischa. Tetapi lelaki itu sepertinya memilih untuk memberi kesempatan karena tidak ada yang mengancam dari sikap tubuhnya.


“Apakah kau tahu dimana letak area Yesil berada?” tanya Aslan kemudian.


“Aku pernah kesana… aku bisa mengingat jalannya.”


Ada ketidakyakinan di dalam suara Mischa ketika berkata, menunjukkan bahwa ingatannya belum tentu bisa dijadikan pegangan kokoh untuk menemukan jalan.


Tetapi, Mischa memang memilih nekad dan berusaha menemukan jalan dengan cepat serta efisien dengan kemampuannya sendiri. Dia tentu tidak bisa bertanya pada budak atau salah satu prajurit Zodijak, tetapi dia berusaha menemukan jalan untuk setidaknya berhasil keluar dari area Aslan yang gelap dan penuh jalan berliku layaknya labirin ini.


Tiba-tiba saja Aslan melangkah mendekat, membuat Mischa otomatis memundurkan langkah hingga punggungnya membentur dinding. Sikap Mischa membuat Aslan mengangkat alis, lalu tangannya terangkat dan menyetuh dagu Mischa, dengan gerakan efisien mengerakkan kepala Mischa supaya menoleh dan menatap dinding.


“Ada tanda panah di sini, berwarna hitam untuk pemula seperti kau. Tanda ini akan membawamu menuju jalan keluar dari area ini dan sampai di gerbang pintu keluar. Para penjaga akan memeriksamu di sana, tetapi mereka semua sudah mengenalimu, karena itu mereka akan membiarkanmu keluar,” ujar Aslan tenang.


Aslan mengarahkan dagu Mischa supaya lurus ke depan kembali, membuat Mischa langsung menatap tanda berwarna biru yang berada di dinding seberang mereka.


“Tanda yang ada di seberang yang berwarna biru adalah sebaliknya, itu menunjukkan jalan pulang. Ketika kau kembali dari area Yesil, kau tinggal mengikuti tanda ini dan akan berakhir di area privatku, di kamar pribadiku yang terletak paling ujung dari area ini. Setelah kau selesai dengan apapun yang kau lakukan di sana, kau harus kembali ke kamarku dan menyiapkan diri untukku.”


“Terima kasih,” ucap Mischa perlahan sambil menggerakkan badan untuk melangkah kembali dan mengikuti tanda panah kecil berwarna hitam di sepanjang dinding itu seperti yang dikatakan oleh Aslan, benaknya mulai berpikir seandainya saja dulu dia memahami keberadaan tanda panah ini, tentu dia tidak akan kesulitan berputar-putar hingga kelelahan dan jatuh pingsan.


Sebuah tangan terulur di depan wajah Mischa, telapak tangan Aslan mendarat di dinding dan lengannya menghalangi langkah Mischa, membuat mata Mischa melebar. Dia lalu menolehkan kepala untuk menunjukkan protes, tetapi malah berhadapan dengan ekspresi Aslan yang begitu serius.


“Siapa bilang kau boleh pergi?” Aslan mendesis perlahan, nadanya penuh ancaman hingga membuat Mischa kesal bukan kepalang.


Lelaki ini sendiri yang mengatakan bahwa Mischa boleh pergi kemanapun asal berada dalam batas wilayah yang disetujui olehnya, dan sekarang entah kenapa Aslan malahan seperti sengaja menghalang-halangi langkahnya dan membuat dirinya kesal.


“Kau yang bilang aku boleh pergi,” Mischa mengeluarkan suara tertahan sambil meremas kedua tangan untuk menahan emosi.Aslan sendiri tampak tak terpengaruh dengan sikap Mischa dan menggunakan tangannya yang satunya lagi untuk memagari Mischa. Sekarang Mischa berdiri dan tak bisa bergerak karena kedua lengan Aslan menghalangi di depan dan belakang tubuhnya.


“Aku belum selesai denganmu,” Aslan sedikit membungkukkan tubuh hingga kepalanya sejajar dengan Mischa. “Kau baru boleh pergi setelah aku selesai.”


Mischa langsung mengerutkan kening dengan marah.


“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Mischa kemudian, masih menahan diri dan tidak terpancing oleh sikap Aslan yang menyebalkan.


Aslan sendiri tidak menanggapi pertanyaan Mischa dan malahan  mendekatkan hidungnya ke sisi wajah Mischa, mengendus dan menghirup aroma tubuh Mischa yang harum serta segar karena habis mandi.


Mischa mencoba memundurkan kepala karena Aslan seolah terlena dan menenggelamkan kepala di lekukan antara leher dan pundaknya, tetapi dinding yang menghalangi punggungnya membuat Mischa tidak bisa bergerak dan hanya mampu berdiri kaku di sana ketika Aslan asyik menghirup aromanya.


Lama kemudian, ketika Aslan mengangkat kepala, masih menunduk sambil menatap Mischa tajam, wajahnya berubah gelap seolah marah.


“Kau mandi?” tanya Aslan tanpa menyembunyikan ketidaksetujuannya, dan hal itu membuat Mischa memandang Aslan dengan bingung.


Apa maksud Aslan sebenarnya? Setelah lelaki itu memuaskan dirinya atas tubuh Mischa baik di kamar mandi maupun di ranjang kamarnya, tentu saja Mischa harus mandi, bukan? Tidak mungkin dia berjalan-jalan kesana kemari dengan tubuh bekas jamahan Aslan tanpa membersihkan diri.


“Ya. Tentu saja aku mandi, kau tahu kenapa, bukan?” Mischa menjawab cepat tanpa mau menjelaskan dengan lebih terperinci karena percakapan ini sudah membuat pipinya memerah karena malu.


Aslan sendiri malah mengerutkan kening semakin dalam dan mendesiskan kalimat pertanyaan yang susah dimengerti.


“Kau tahu kenapa aku menyentuhmu sebelum mengizinkanmu pergi?” Aslan menggeramkan pertanyaan itu sambil menundukkan kepala semakin dekat dengan Mischa, “Itu semua karena aku harus menandaimu. Bangsa Zodijak lain yang berdekatan denganmu akan menyadari aromaku yang kental di sana dan mereka semua akan menjauh karena takut.” Aslan meraih dagu Mischa dan mendongakkannya hingga bibir mereka hampir menempel. “Dan sekarang kau mandi, membuat aromaku di tubuhmu menjadi samar.”


Mischa menipiskan bibir, berusaha menghindari tatapan gelap Aslan yang mengganggu.


“Aku tidak peduli dengan aromamu atau apapun itu, lagipula aku tidak butuh aromamu untuk melindungi diriku.”


Aslan menggeram, menggunakan kedua telapak tangannya untuk menangkup pipi Mischa, sementara bibirnya hampir menempel di bibir Mischa.


“Seorang istri lelaki Zodijak harus selalu membawa aroma suaminya sebagai tanda supaya tidak ada lelaki Zodijak lain yang berani menyentuhnya, siapapun yang mengabaikan peringatan itu maka layak dibunuh,” Aslan menempelkan bibirnya ke bibir Mischa, untuk menciumnya perlahan sementara gerakam pemberontakan Mischa yang berusaha menggelengkan kepala untuk menghindar sama sekali tidak berimbas apapun karena Aslan menangkup kedua sisi pipinya dengan kencang.


Setelah Aslan menyelesaikan ciumannya, pegangannya di pipi Mischa tidak mengendor sama sekali.


“Jika seorang lelaki Zodijak mengizinkan perempuannya berkeliaran tanpa membawa tanda, tanpa membawa aromanya, sama saja dia memberikan izin pada lelaki lain untuk menyentuh perempuannya,” Aslan menyipitkan mata sementara auranya melingkupi Mischa dengan penuh tekad. “Aku harus menandaimu lagi,” putusnya kemudian.


“Tidak!” Mischa menjeritkan penolakannya, menatap Aslan dengan tatapan ngeri karena bahkan sekarang, bibirnya masih terasa panas akibat ciuman Aslan sebelumnya.


“Tidak cukupkah kau memberikan tandamu di leherku? Mereka tidak akan mendekatiku karenanya!” bantahnya dengan suara keras.Aslan menggelengkan kepala sementara bibirnya menipis seolah menahankan kesabaran.


“Tentu saja tidak cukup. Aroma yang kuberikan padamu hanya bisa dilakukan dengan satu cara.” Aslan mendorong Mischa ke dinding dan membuatnya tak bisa bergerak. “Bercinta denganmu,” ujarnya kemudian.


“Kau tidak bisa melakukan itu di sini!” Mischa berusaha menghindar dengan menggunakan kedua tangan kurusnya untuk mendorong dada Aslan, tetapi percuma karena lelaki itu merapat, tidak mau ditolak, membuat Mischa menjerit putus asa. “Bagaimana jika ada orang? Aku tidak mau! Menyingkir dariku!” Mischa menaikkan nada suara, putus asa untuk menjauhkan Aslan dari dirinya.


“Tidak akan ada yang kemari, mereka tidak akan berani mengganggu area pribadiku tanpa diperintah,” Aslan semakin mendorong Mischa sampai ke dinding. “Kau milikku dan aku akan menandaimu,” geram Aslan tak terbantahkan.