
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
“Struktur molekul air di bumi berubah?”Aslan mengerutkan kening, membungkuk setengah tidak percaya untuk menatap hasil penelitian data digital Yesil yang dihamparkan di atas meja, di sebuah layar transparan yang menampilkan pola rumit tak terbaca.
Aslan membaca serta menelaah perlahan, setelah paham, lelaki itu menegakkan tubuh kembali dan menatap Yesil sementara ekspresinya dipenuhi ketidakpercayaan.
“Sekarang sedang dalam tahap perubahan, tetapi semakin lama bergerak semakin mirip dengan struktur molekul air suci Zodijak,” ujarnya menyimpulkan dan membuat Yesil mengangguk cepat, senang karena Aslan paham.
“Proses perubahan ini dimulai sejak kau memanen Mischa, semakin kau intens menghabiskan waktumu dengannya, semakin agresif pola perubahan molekul air ini,” tambah Yesil perlahan.
Aslan menatap Yesil dalam dengan matanya yang hitam legam.“Menurutmu dua hal tersebut memang berkorelasi?” Aslan masih terdengar tidak yakin.
“Waktunya sangat tepat, Aslan. Kau pasti juga menyadarinya,” Yesil menatap Aslan dengan hati-hati. “Satu lagi, ketika Mischa melarikan diri darimu setelah proses panen, perubahan molekul air itu juga terhenti, tapi begitu kau mendapatkan Mischa lagi, perubahan itu bergerak kembali. Aku berpikir bahwa kau harus bersama Mischa dan melakukan proses panen guna mendorong perubahan struktur molekul air hingga bisa serupa dengan air suci Planet Zodijak yang sangat langka.”
“Jika kita memiliki air suci Bangsa Zodijak dalam jumlah banyak, maka kita akan menjadi bangsa yang makmur tak terkalahkan seperti pada masa-masa kejayaan bangsa kita dulu,” Aslan tampak sependapat.
“Benar, karena meskipun kita bisa bertahan dengan air bumi, tetap saja ada beberapa kandungan dari air suci Zodijak yang asli, yang tidak dimiliki oleh air bumi, dan hal itu mempengaruhi diri kita, membatasi kekuatan kita meskipun secara fisik kita tetap lebih kuat dari Bangsa Manusia,” Yesil tampak bersemangat. “Jika air bumi berubah sepenuhnya menjadi air Zodijak, maka kita bisa berhenti menjelajah dan berperang, kita bisa menjadikan bumi pemberhentian kita lalu mengalihkan pusat kegiatan Bangsa kita yang semula hanya untuk berperang demi mendapatkan air murni terbaik, menjadi pergerakan untuk meningkatkan peradaban, teknologi dan mengembangkan kualitas masyarakat kita sendiri sehingga bisa menjadi bangsa modern yang maju.”
“Sampai kapan?” Aslan tiba-tiba menyela, membuat Yesil menghentikan penjelasannya yang menggebu-gebu.
“Apanya?” sahut Yesil bingung.
Aslan melirik ke arah pintu tempat mereka meninggalkan Mischa di sana.
“Sampai kapan aku harus bersama dengan perempuan manusia itu? Bercinta dengannya terus menerus hingga bisa mengubah struktur molekul air itu menjadi seratus persen sama persis dengan struktur air suci Bangsa Zodijak yang langka?” ujar Aslan dengan nada dingin.
Yesil melirik ke arah tampilan hasil penelitiannya, mencoba menjawab dengan sistematis.
“Saat ini proses perubahan sudah mencapai empat puluh persen. Sementara itu, aku menemukan bahwa ukuran kecepatan perubahannya berkorelasi dengan interaksi kalian berdua. Jika kau menghabiskan waktu bersamanya dengan intens, otomatis proses perubahannya akan semakin cepat.”
“Dan menurutmu apa yang akan terjadi kalau seluruh molekul air di bumi ini sudah berubah seratus persen sama persis dengan molekul air Planet Zodijak?” tanya Aslan kembali.
Pertanyaan sulit. Bahkan Yesil pun tidak tahu jawabannya.
Yesil masih berpikir mencari jawaban yang tepat untuk memuaskan sisi ingin tahu Aslan yang cukup kritis ketika tiba-tiba suara teriakan kencang mengejutkan mereka berdua, menembus kisi-kisi pembatas dan mengirimkan sinyal ketakutan luar biasa.
“Aslan!”
Itu jelas suara teriakan Mischa, dan dalam sekejap, bahkan sebelum Yesil sempat mengedipkan mata, tubuh Aslan telah melesat pergi dengan sigap, meninggalkan jejak hembusan angin yang membuat Yesil tertegun.
Tidak pernah setitik pun dia ingin memanggil nama Aslan, tapi untuk saat ini, pikiran logisnya meneriakkan nama Aslan karena tahu bahwa laki-laki itu adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan nyawanya.
Cengkeraman Kaza di lehernya masih terasa begitu kencang dan menyiksa, seolah mengikat paru-paru Mischa hingga membuatnya sesak napas, tapi sedetik kemudian, seolah-olah kedudukannya terhadap Kaza dijungkirbalikkan, tiba-tiba cengkeraman itu lepas begitu saja dari leher Mischa.
Tubuh Kaza kemudian terlempar ke udara lalu terbanting dengan begitu kerasnya ke lantai hingga menghancurkan marmer putih yang dijatuhinya.
Mischa sendiri langsung menyentuh lehernya dengan terkejut, tidak menyangka atas kejadian yang berlangsung di depannya. Refleks tangan Mischa memeriksa leher dan paru-parunya yang seolah bersorak karena dibebaskan hingga langsung memompa udara sekuat dia bisa dan menyebabkannya terbatuk-batuk.
Mischa menghela napas berkali-kali sementara tubuhnya sempoyongan, memaksa dirinya bersandar ke dinding, sementara matanya melirik waspada ke arah Kaza yang mencoba bangun dari lantai dengan susah payah.
Lalu tiba-tiba pandangan Mischa terhalang oleh punggung lebar berbalut pakaian berwarna hitam yang berdiri di antara dirinya dan Kaza.Aslan memiringkan tubuh hingga dirinya bisa mengamati Mischa dan kondisinya, matanya yang kelam memindai Mischa dengan cepat, terpaku sejenak ketika memandang leher Mischa yang memerah dan lebam karena dicengkeram dengan begitu keras.
Tanpa kata Aslan bergerak, merangsek maju dengan gerakan secepat kilat ke arah Kaza. Tangan Aslan mencengkeram leher Kaza yang masih mencoba bangkit dari bantingan pertamanya untuk kemudian mengangkat Kaza ke atas dengan sebelah tangan, seolah tubuh Kaza seringan bulu.
“Sudah kubilang hanya aku yang boleh menyentuh manusia perempuanku!” raung Aslan dengan suara marah luar biasa. “Apakah kau ingin dihajar seperti saudara kembarmu?”
Aslan rupanya tidak menunggu jawaban dari Kaza, karena lelaki itu mengeraskan cengkeraman tangan ke leher Kaza, membuat Kaza meringis dan meronta karena jalur napasnya seolah diambil.
Ekspresi Aslan menggelap, tampak berbahaya dan lelaki itu tidak menahan-nahan dirinya, seolah-olah ingin meremukkan kerongkongan Kaza tanpa belas kasihan.
Mischa terkesiap ketika melihat Kaza benar-benar tak berdaya dalam cengkeraman Aslan, wajah lelaki itu bahkan sudah membiru. Kaza telah bertindak kasar kepadanya dan sangat menakutinya, tetapi tetap saja melihat makhluk lain sekarat tanpa daya di depan matanya membuat Mischa dilanda kengerian yang amat sangat.
“Aslan,”Suara Yesil terengah ketika lelaki itu berhasil mencapai pintu. Matanya memindai sekilas dengan cepat, menatap Mischa yang masih memegangi leher tampak syok bercampur kehabisan napas untuk kemudian menatap Aslan yang seluruh tubuhnya dipenuhi aura membunuh nan mengerikan. Aslan sudah jelas sedang dikuasai kemarahan luar biasa terhadap Kaza yang berada di dalam cengkeramannya.
Otak Yesil yang cerdas langsung bisa menyimpulkan apa yang terjadi, dirinya langsung berpikir keras untuk mencari cara menyelamatkan Kaza sekaligus meredakan kemarahan Aslan.
Ini tidak mudah, Aslan terkenal sebagai sosok yang berkepala panas dan saudaranya tersebut tidak mudah didinginkan. Yesil harus benar-benar cerdik untuk membujuk Aslan.
“Kau sudah melihat kondisi Kara dan betapa repotnya aku harus menanganinya, bukan? Apakah kau ingin menambah satu lagi kerepotanku?” Yesil berucap dengan suara penuh kehati-hatian, tahu pasti bahwa jika dia mencegah Aslan dengan kata-kata paksaan, malah akan membuat saudaranya itu semakin murka. Satu-satunya jalan adalah menggunakan pendekatan logis dan bersikap tak peduli.
Aslan melirik ke arah Yesil, dengan ekspresi muram mengerikan.
“Mungkin aku akan langsung membunuh kedua-duanya saja? Jadi kau tak akan kerepotan lagi,” desisnya, tanpa pikir panjang mengeratkan cengkeramannya hingga membuat suara tercekik yang penuh siksa lolos dari tenggorokan Kaza yang hampir hilang kesadarannya.
Yesil memijat pangkal hidungnya dengan putus asa.“Akrep akan marah besar, kalian akan bertarung satu sama lain dan kau pasti akan tahu apa yang akan terjadi kemudian,” suara Yesil rendah, terdengar bijaksana. “Ketika para pemimpin Bangsa Zodijak saling bertarung sendiri di dalam kelompok, kita akan tergerogoti, rusak dari dalam. Hal itu akan melemahkan kita dan membuat kita mudah dikalahkan.”
Kalimat terakhir Yesil sepertinya mengena di hati Aslan. Sedetik lelaki itu tampak berpikir, tetapi di detik berikutnya Aslan mendengus kasar, lalu menggerakkan lengannya untuk menurunkan Kaza kembali ke lantai.
Ketika Aslan melepaskan cengkeraman dari leher Kaza, Kaza langsung terbatuk-batuk dengan suara kering menyiksa sementara tubuhnya sempoyongan, melangkah mundur hingga hanya bisa bertumpu lemah pada kaki ranjang tempat Kara masih berbaring tak sadarkan diri.
“Sentuh manusia perempuanku lagi, dan kau tidak akan mendapatkan kesempatan kedua,” Aslan menggeram kasar lalu membalikkan badan.
Mischa sendiri terkesiap tiba-tiba karena Aslan membalikkan badan langsung menghadapnya. Sampai dengan saat ini, dia masih merasa tidak nyaman ditatap dengan mata hitam legam nan mengerikan itu, membuat bulu kuduknya berdiri dan rasa gemetar merayapi jiwanya.
Aslan menunduk, menatap ke leher Mischa dan kerutan di dahinya semakin dalam ketika menemukan bahwa bekas cekalan Kaza disana telah meninggalkan jejak, berubah warna menjadi bakal memar berwarna kekuningan yang akan segera menggelap menjadi ungu kemudian.
Dengan kasar, sebelum Mischa sempat menghindar, Aslan mencengkeram lengan Mischa, lalu menyeretnya keluar ruangan.