
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ketika seluruh prajurit sudah meninggalkan ruangan, Aslan sekali lagi mencekal lengan Mischa dan hendak membawanya keluar. Langkahnya terhenti ketika mendapati saudara-saudaranya masih berdiri di bagian belakang aula.Mischa sendiri mengikuti arah tatapan mata Aslan dan tercekat ketika menyadari bahwa seluruh pemimpin bangsa Zodijak, kecuali Kara, sedang berkumpul di sana.
Mata Mischa bertemu dengan mata legam Kaza yang tengah mengawasinya dan kengerian langsung memenuhi dirinya, membawa kembali ingatan ketika lehernya dicengkeram dengan begitu kuat, dengan niat jahat untuk memutus jalur napasnya.
Tubuh Mischa yang begidik menarik perhatian Aslan. Lelaki itu langsung mengikuti arah pandangan Mischa dan berakhir menatap Kaza. Tatapannya langsung menajam, mengirimkan aura membunuh yang langsung dipahami oleh Kaza karena lelaki itu lagsung memalingkan wajah.
Yesillah yang mendekati mereka pertama kali, melemparkan senyum bersahabat ke arah Mischa, melirik ke arah lehernya.
“Sepertinya luka di lehermu sudah sembuh,” tanyanya lembut. “Aslan bilang kau sudah tidak demam lagi.”
“Sudah sembuh, terima kasih,” Mischa menganggukkan kepala dan menjawab singkat, entah kenapa Yesil menjadi satu-satunya Lelaki Zodijak yang bisa membuat Mischa nyaman, mungkin karena sikap lelaki itu yang santun dan lembut, mungkin juga karena kemarin Mischa merasakan sendiri betapa baiknya Yesil ketika mengobati dirinya.
Aslan langsung menarik Mischa mundur ke belakang tubuhnya, tidak suka dengan interaksi yang terjadi di depannya.“Aku sudah memastikan dia sembuh, jadi kau tidak perlu memeriksanya,” Aslan melemparkan tatapan mata penuh peringatan kepada Yesil, lalu mencengkeram lengan Mischa dengan kasar dan menariknya. “Ayo.” ujarnya, setengah menyeret tubuh Mischa supaya mengikuti langkahnya.
Seketika itu juga, diluar dugaan, Mischa menghentakkan tangan Aslan dengan keras, lalu mendorong tubuh Aslan sekuat tenaga. Tentu saja dorongannya sama sekali tidak berimbas apapun hanya membuat Aslan mundur satu langkah, itupun bukan karena kekuatan dorongannya melainkan lebih karena Aslan yang tidak menyangka bahwa Mischa akan memberontak dari pegangannya.
“Aku sudah bilang, jangan memaksakan keberuntunganmu, manusia,” Aslan menggeram penuh peringatan sementara matanya semakin pekat, menunjukkan kemarahan yang mulai menguasai.
“Namaku Mischa! Jangan panggil aku dengan sebutan manusia dengan nada merendahkan! Kami para manusia, bukanlah makhluk rendah seperti yang kau pikir!” Mischa berteriak, meloncat sekuat tenaga untuk kemudian mengarahkan tangan mungilnya dan berusaha mencakar pipi Aslan seperti yang dia lakukan ketika kemarahan menguasai dirinya.
Mischa tahu bahwa hal itu bukanlah tindakan bijaksana, tahu bahwa hal itu akan memancing kemurkaan Aslan dan lelaki itu sudah pasti akan membuat Mischa menerima akibatnya.Tetapi saat ini Mischa merasa perlu menunjukkan kepada Aslan dan juga kepada semua saudara-saudaranya yang kebetulan berada di sekitar mereka, bahwa sebagai manusia, Mischa bukanlah makhluk yang bisa direndahkan begitu saja, diseret-seret kesana kemari selayaknya barang dan diperlakukan tak senonoh sesuka hati Aslan.
Aslan harus tahu bahwa Mischa masih memiliki tekad untuk melawan dan tekadnya itu tidak akan pernah padam selama dirinya masih hidup.
Cakaran itu hanya mengenai sedikit kulit Aslan dan berhasil membuatnya berdarah meski hanya berasal dari tangan kurus yang seolah tak memiliki tenaga. Sekali lagi Mischa berhasil mencapai tujuannya untuk menunjukkan bahwa perempuan itu memiliki kekuatan untuk melukainya.Aslan sama sekali tidak peduli dengan luka cakaran di pipinya yang hampir tidak terasa, tapi saat ini Aslan tertegun karena tidak menyangka bahwa Mischa memiliki keberanian untuk melakukannya, menyerang dan memberontak kepadanya di sini, di depan semua saudara-saudaranya.
Aslan tahu bahwa semua saudara-saudaranya juga tertegun, mereka tampak terkejut dan was-was akan apa yang akan dilakukan Aslan terhadap Mischa.Tentu saja selama ini bahkan saudara-saudaranya sekalipun tidak ada yang berani mengkonfrontasi Aslan, selain Kara kemarin, karena mereka tahu betapa kejamnya Aslan kalau sedang murka, keadaan Kara yang hancur lebur telah menjadi salah satu buktinya.
Dengan perlahan, Aslan melangkah mendekat ke arah Mischa, sementara tatapannya memaku perempuan itu supaya tidak bisa mengalihkan pandangan.
Aslan langsung mengendus aroma ketakutan di udara, bisa membaca dari kilatan di mata Mischa bahwa perempuan itu ketakutan, tetapi perempuan itu tidak berusaha lari, hanya berdiri di sana dan menunggu. Sepertinya perempuan itu sadar bahwa tidak ada gunanya dia lari.Ketika sudah berdiri di depan Mischa, Aslan mengangkat tanganya dan detik itu juga Mischa menundukkan wajah dengan mata terpejam, mengira bahwa Aslan akan menamparnya. Tetapi Aslan mengangkat tangannya untuk menyingkirkan rambut yang menjuntai keluar menutupi wajah Mischa akibat gerakan impulsifnya tadi, menyelipkannya ke belakang telinga Mischa dengan gerakan mengancam.
Mata Aslan memaku ke arah Mischa yang balas memandangnya, mengirimkan peringatan kuat ke sana.
“Pertunjukan kekuatan yang bagus, kelinci kecil,” Aslan mendesis perlahan, sengaja menyebutkan nama makhluk bumi yang menurutnya adalah mangsa paling lemah dan tak berguna untuk memanggil Mischa. “Tapi itu akan menjadi satu-satunya dan yang terakhir. Apakah kau mengerti?”
Aslan bertanya kepada Mischa.Mischa memalingkan wajah atas pertanyaan itu, tapi Aslan tidak membiarkannya. Tangannya mencengkeram dagu Mischa dan mengarahkan perempuan itu kepadanya.
“Sekali lagi kau melayangkan tanganmu ke wajahku, aku akan menghancurkanmu,” Aslan menggeram dengan tubuh membungkuk, setengah mengangkat tubuh Mischa supaya wajah Mischa makin dekat dengannya, hidungnya menempel ke hidung Mischa sementara napasnya yang panas meniupkan ancaman ke dalam jiwa Mischa. “Dan bukan hanya kau. Aku juga akan menghancurkan adik angkatmu. Mulai sekarang, setiap luka yang kau berikan ke tubuhku karena sikap memberontakmu, cakaran, tamparan, pukulan, gigitan, aku akan memastikan adik angkatmu menerima hal yang sama. Apakah kau mengerti?”
Ancaman itu membuat Mischa gemetar, membayangkan anak sekecil Sasha menanggung akibat atas perbuatannya ternyata berhasil meluruhkan keberanian dan pemberontakan Mischa sampai ke batas kekuatannya. Air mata menetes dari sudut matanya, menyadari bahwa lagi-lagi dirinya disudutkan di posisi tidak berdaya.
“Aslan,” suara Yesil terdengar di belakang mereka, nadanya hati-hati, tapi mampu mengalihkan Aslan dari kemurkaan yang menyelimuti dirinya.
“Jangan sampai kau melukai dia, lehernya…”
Semua saudara-saudaranya berdiri di sana, menatap interaksi Aslan dan Mischa dengan reaksi berbeda-beda, Akrep tampak cemas dan tidak menyembunyikannya, Sevgil tampak takjub, Khar tampak tidak setuju, sementara Kaza menundukkan kepala memilih menghindar menatap kejadian di depannya.
Hanya Yesil yang akhirnya bergerak, menyadari bahwa kemurkaan Aslan kepada Mischa sudah mencapai tahap membahayakan jika tidak segera dihentikan.
Aslan menunduk, menyadari bahwa dalam usahanya mengangkat Mischa, dirinya telah mencengkeram leher perempuan itu dan membuat Mischa meringis kesakitan. Wajah perempuan itu dipenuhi air mata, dan entah kenapa Aslan bisa merasakan bahwa tangisan Mischa bukan disebabkan oleh rasa sakit di lehernya, melainkan rasa frustasi karena tidak bisa melawan Aslan.
Perempuan ini memiliki harga diri yang dibalut kekeraskepalaan yang menjengkelkan, mengusik kesabaran Aslan hingga ke batasnya. Mischa sendiri tiba-tiba merasakan nyeri yang merayap di tubuhnya, dimulai dengan nyeri menggigit yang membawa hawa dingin di kakinya, merayap naik dan terus naik sampai ke rongga dada, memerangkap jantung dan paru-parunya, membuatnya sesak dan kedinginan.
Mischa mengernyit ketika rasa nyeri itu merayap ke kepala dan berusaha mengambil kesadarannya yang tersisa.Pada saat yang bersamaan, Aslan menurunkan Mischa, mengendorkan cengkeramannya. Seketika itu juga, tanpa diduga Mischa kehilangan kesadaran, tubuhnya lunglai tanpa daya dan pastinya akan jatuh ke lantai seandainya Aslan tidak dengan sigap menahannya.Aslan langsung mengangkat Mischa ke dalam gendongan, kepalanya menunduk dan menatap kepala Mischa yang lunglai tanpa daya sementara wajahnya terpejam rapat. Darah seolah berhenti mengalir ke kepala Mischa karena kulit wajahnya berubah menjadi begitu pucat.
Kenapa tiba-tiba perempuan ini menjadi begitu pucat?
Dengan bingung Aslan menatap ke arah Yesil.
“Aku tidak mencengkeram lehernya terlalu keras, setidaknya tidak akan membuatnya pingsan. Dia juga sudah tidak sakit lagi, aku bisa memastikannya, dan luka di lehernya juga sudah sembuh,” Aslan berucap cepat ke arah Yesil. “Kalau begitu kenapa manusia perempuan ini pingsan? Dan kenapa dia begitu pucat?”
Yesil menatap Mischa yang memang tampak benar-benar pucat seolah kehabisan darah, ekspresinya langsung dipenuhi kecemasan.
“Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, Aslan. Aku harus memeriksa Mischa untuk menemukan penyebabnya. Bawa dia ke areaku,” serunya cepat sebelum melesat kembali ke areanya sendiri, yakin bahwa Aslan mengikuti di belakangnya.