Inevitable War

Inevitable War
Episode 89 : Keyakinan Kara



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



“Kau melihat sendiri, bukan? Bahwa kekuatannya lebih dari manusia biasa?”


Kara dan Yesil berdiri di depan tubuh Vladimir yang terbujur kaku, disesap kesadarannya dengan obat khusus sehingga tidak bisa bangun.


Ruangan itu begitu dingin hampir sedingin es, dimaksudkan untuk menjaga otak Vladirmir supaya tetap tidak sadarkan diri.


Wajah Kara tampak pucat pasi, bukan karena kelelahan berjalan ke ruang observasi pendingin ini dengan bantuan kruk ketika tubuhnya masih belum pulih benar, tetapi dia pucat karena aroma pertama yang dihidu oleh indra penciumannya ketika memasuki ruangan ini adalah aroma Natasha.


Ya… aroma Natasha menguar dari tubuh Vladimir…


Ketika Kara sudah berhenti di depan ranjang Vladimir dan begitu dekat dengannya, aroma itu bahkan menguar lebih kuat lagi, seolah-olah memastikan keraguan yang mengganggu mereka semua.


Darah Natasha sudah pasti mengalir di dalam tubuh Vladimir. Kara yang paling tahu aroma tubuh Natasha, dia menghabiskan bertahun-tahun waktunya untuk merindukan aroma ini, dan dirinya tidak mungkin salah.


Tetapi bagaimana bisa? Bagaimana mungkin ini semua terjadi?


Rasa frustasi langsung merayapi jiwa Kara ketika pikiran-pikiran buruk mulai muncul di hatinya. Perkataan dan tuduhan Yesil mengenai Natasha mau tak mau bergema lagi di dalam pikirannya, mengganggunya hingga membuat kepalanya sakit.


Benarkah Natasha mengkhianatinya? Benarkah seluruh percintaan mereka sebelumnya hanyalah rekayasa demi mendapatkan air suci Zodijak?


Tubuh Kara terhuyung karena pikirannya yang berat, beruntung Yesil yang berada di sebelahnya menahan tubuhnya, sebelum kemudian bertanya dengan cemas.


“Kau tidak apa-apa, Kara? Ini terlalu berat untuk kondisimu ya? Seharusnya kau tidak kemari,” Yesil berucap pelan, menatap Kara dengan pandangan prihatin, tahu pasti apa yang bergejolak di dalam benak Kara.


Kara menggelengkan kepala, berusaha mengatur keseimbangannya sendiri dengan berpegangan pada sisi ranjang tempat Vladimir berada. Kepalanya menunduk dan itu berarti indra penciumannya yang sangat peka semakin kuat mencium aroma Vladimir yang pekat akan Natasha.


Hal itu membuat kepala Kara pusing. Dia memijit kepalanya yang berdenyut, lalu berucap terbata sambil meringis menahan sakit.


“Keluarkan aku dari sini,” Kara mengerang pelan.


Beruntung Yesil mendengar erangannya itu dan tanpa kata, dengan sigap langsung meraih pundak Kara serta membantunya melangkah cepat untuk meninggalkan ruang observasi pendingin tersebut.


Ketika mereka telah berada di luar ruangan dan Yesil menutup pintu kaca tebal yang berembun di karena begitu dinginnya hawa ruangan di dalam, Kara langsung menghirup napas dalam-dalam seolah merasa terlalu sesak dengan aroma Natasha yang kental di dalam sana.


Yesil lalu membantu Kara duduk di sofa yang tersedia di ruangan luar, dia sendiri kemudian menarik kursi kayu dari seberang ruangan dan menyeretnya supaya berada di depan Kara.


Mata gelap Yesil menatap lurus ke arah Kara, bertanya-tanya.


“Jadi bagaiamana menurutmu?” tanya Yesil dengan nada berhati-hati, membiarkan Kara mengambil kesimpulan sendiri dan sengaja tidak menyebut nama Natasha di sana.


Kara membawa punggungnya bersandar di sofa besar itu, pun dengan kepalanya yang juga bersandar setengah mendongak. Tangan Kara mengusap wajahnya seolah menahankan rasa frustasi yang amat sangat.


Keheningan yang cukup lama membentang di antara mereka, dan Yesil tidak berusaha memecahkannya, dia memiliki cukup banyak kesabaran untuk bersedia menunggu.


Kemudian Kara menegakkan kepala, matanya terbuka dan menatap Yesil dengan tatapan tajam.


“Apakah kau pernah memeriksa Vladimir dalam keadaan terbangun?” tanya Kara kemudian.


Yesil langsung menggelengkan kepala. “Lukanya cukup parah dan Aslan kemungkinan besar telah memukul kepalanya beberapa kali hingga merusak otaknya. Aku bahkan tidak yakin bahwa Vladimir bisa bangun lagi.”


Kara menyipitkan mata. “Berdasarkan perhitungan ilmiahmu, apakah kemungkinan Vladimir terbangun adalah nol?”


Yesil membalas tatapan mata Kara dengan tajam. “Bukan nol, Kara. Hanya saja kemungkinannya amat sangat kecil,”


“Tapi kau masih bisa mengusahakannya, bukan?” Kara mendesak dengan nada tidak sabar, membuat Yesil menghela napas panjang dan menatap Kara dengan pandangan prihatin.


“Kenapa kau tidak menerima kenyataan saja dan mengakui bahwa Natasha telah mengkhianatimu dan menggalang pasukan di belakangmu untuk melawan kita?” ujarnya kemudian, tidak mau menahan diri lagi untuk tidak menyebutkan nama Natasha kembali di depan Kara.


Mata Kara menyipit sementara wajahnya berkobar penuh tekad.


“Karena aku yakin… aku masih amat sangat yakin bahwa Natasha tidak bersalah. Aku butuh membangunkan Vladimir bukan untuk meyakinkan diriku, karena ketahuilah bahwa keyakinanku akan Natasha dan cinta kami berdua tidak akan pernah tergoyahkan. Aku ingin kau membangunkan Vladimir, untuk meyakinkan dirimu dan juga saudara-saudara kita. Hanya Vladimirlah yang bisa membuktikan bahwa Natasha tidak bersalah.”


 



 


Kaza mengerjapkan mata ketika lensa mata palsu di matanya terasa tidak nyaman. Dia memang tidak pernah menggunakan lensa mata palsu sebelumnya.


Lagipula untuk apa? Kaza yang memiliki keangkuhan seorang pemimpin Zodijak selalu berpikir bahwa dia tidak perlu repot-repot menyamar menjadi makhluk rendahan seperti manusia.


Berbeda dengan Aslan yang terbiasa menggunakan lensa mata palsu untuk menjebak mangsa ketika dirinya berburu, pengalaman pertama Kaza memakai lensa mata palsu itu adalah ketika Yesil memaksanya memakai lensa sialan ini ketika dia hendak menemui Sasha.


Tetapi kenapa sekarang dia memakai lensa mata itu lagi?


Kaza mengerutkan kening ketika pertanyaan itu bergaung di telinganya, seakan-akan hendak mengejek dirinya sendiri. Bibirnya merengut karena tidak suka, tetapi sayang hati dan pikirannya seolah saling bertarung dan mengejek tanpa dia bisa mengendalikannya.


Baru kali ini otaknya tidak bisa mengendalikan hatinya.


Sambil menghela napas panjang, Kaza membuka tirai kamar tempat Sasha berada. Kamar itu remang dengan cahaya lampu tidur di sudut ruangan yang tertanam di dinding dan mengeluarkan cahaya kekuningan nan lembut.


Yesil telah memodifikasi kamar ini untuk manusia, terbukti dengan lampu tidur yang dulunya tidak ada. Bangsa Zodijak sendiri hampir tidak butuh tidur, jadi sudah pasti Yesil mengubah seluruh penampilan kamar ini menjadi nyaman untuk tidur hanya bagi Sasha.


Itu berarti, jika Kaza akan membawa Sasha ke wilayahnya nanti, dia harus menyiapkan lampu tidur yang sama supaya anak ini bisa tidur dengan nyaman…


Lamunan Kaza terhenti dan lelaki itu tertegun dengan ekspresi kesal luar biasa.


Bagaimana mungkin dia berpikir untuk memberikan kenyamanan kepada monster kecil itu ketika nanti dia berhasil membujuk Aslan untuk mengalihkan Sasha dalam pengawasannya?


Ketika nanti Sasha dibawa ke wilayahnya, maka sudah pasti Kaza akan memperlakukannya sebagai tawanan! Sasha akan dimasukkan ke penjara dengan fasilitas minim supaya anak itu tahu bahwa posisinya di wilayah Kaza hanyalah sebagai manusia rendahan yang tidak berarti apa-apa selain membawa kutukan yang memiliki kekuatan untuk memaksa Kaza memerhatikannya.


Langkah Kaza terhenti dengan geram ketika sampai di ujung ranjang, matanya mau tak mau memperhatikan tubuh mungil Sasha yang meringkuk seolah kedinginan dengan kedua tangan memeluk dirinya sendiri.


Melihat betapa mungil dan rapuhnya anak perempuan ini, seketika seluruh kemarahan dan kebencian yang menumpuk di hati Kaza entah kenapa langsung surut begitu saja.


Anak ini begitu kecil dan rapuh… bagaimana mungkin dia berbahaya bagi Kaza? Apakah benar yang diakatakan oleh Kara, bahwa Kaza bereaksi terlalu berlebihan terhadap Sasha?


Dalam keheningan, perasaan Kaza meragu. dia lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang, dengan mata yang masih terpaku ke arah Sasha yang terlelap.


Ada gumaman yang lepas dari bibir Sasha, dan anak itu sepertinya menggigil. Suhu ruangan di wilayah Yesil memang sangat dingin, hal itu dikarenakan Bangsa Zodijak membutuhkan hawa dingin untuk merasa nyaman, dengan suhu dibawah suhu rata-rata yang biasanya bisa diterima oleh manusia.


Kaza menggerakkan tangan otomatis, menarik selimut tebal yang bergumpal di kaki Sasha, sepertinya tertendang ketika anak perempuan itu lelap dalam tidurnya.


Tangan Kaza hendak mengangkat selimut itu dan menyelimutkannya ke tubuh Sasha ketika kemudian matanya terpaku ke arah gelang peledak yang melingkar dan mengancam di pergelangan kaki Sasha yang begitu kurus, tampak kontras dan menyedihkan.


 



 


Aslan mengancingkan kemeja hitamnya, lalu menoleh ke arah Mischa yang sedang menunduk dan melahap makanannya.


Perempuan itu tidak sadar bahwa Aslan tengah mengawasi, dan seulas senyum tertahan muncul di sudut bibir Aslan ketika melihat bahwa Mischa sedang makan dengan lahap seolah kelaparan.


Mischa selalu bersikap menjengkelkan jika Aslan mengawasinya makan ataupun memerintahkannya makan. Dengan sengaja untuk mengesalkannya, perempuan itu bahkan bersedia menahan lapar dan menolak makan. Sesi makan Mischa, kapanpun itu terjadi, selalu menjadi ajang pertengkaran dan adu kekuatan mereka berdua.


Sekarang Aslan menggunakan cara lain, setelah Mischa mandi, membersihkan diri dan berpakaian, serta hidangan sarapannya telah tersedia lengkap, Aslan berpura-pura menyibukkan diri dengan mandi yang cukup lama, lalu sibuk berpakaian ketika keluar dari kamar mandi, sambil menunggu Mischa menyelesaikan makannya.


Dengan tidak hadirnya Aslan untuk mengawasi atau memerintah, malahan membuat Mischa bisa makan dengan tenang dan menghabiskan makanannya.


Menghabiskan makanannya?


Aslan mengerutkan kening ketika kali ini benar-benar membalikkan badan untuk mengawasi Mischa makan.


Perempuan itu bukan hanya menghabiskan makanannya, tetapi menandaskannya sampai hanya tersisa piring licin yang kosong dan tandas sempurna.


Tanpa bisa menahan rasa ingin tahu, Aslan melangkah mendekat, lalu berdiri di depan meja tempat Mischa makan.


“Apakah kau ingin tambah? Aku bisa meminta koki mengantarkan menu tambahan untukmu.”


Mischa meneguk air dari gelas yang tersedia, matanya menatap ke arah piring yang telah tandas, lalu menelaah dirinya sendiri.


Perutnya masih keroncongan, meminta diisi. Entah apa yang terjadi dengan dirinya pagi ini, tetapi dia amat sangat lapar. Benar-benar lapar.


Mungkin karena semalam Aslan benar-benar menguras tenaganya. Lelaki itu lepas kendali ketika Mischa menyentuh bibirnya, lupa akan kesepakatan awal mereka bahwa Aslan tidak akan menyentuh Mischa dan hanya Mischalah yang menyentuh Aslan.


Pada akhirnya, Aslan membawa mereka untuk bercinta kembali. Tetapi entah kenapa malam itu ada yang berbeda… Mischa mencoba.., menyentuh Aslan ketika mereka bercinta, semua hanya untuk melihat seberapa jauh dia bisa mempengaruhi Aslan dengan sentuhan, seperti yang diajarkan oleh Kara kepadanya.


Dan ternyata pengaruhnya luar biasa….


Entah kenapa Mischa menjadi bingung dengan peraturan Bangsa Zodijak yang mengatakan bahwa kaum wanitanya tidak boleh menyentuh kaum laki-lakinya ketika mereka bercinta.. padahal, dari pengalamannya kemarin, lelaki Zodijak sangat menikmati disentuh.


Tanpa sadar Mischa menunduk, menatap jemarinya yang telah menelusuri seluruh diri Aslan sementara wajahnya merah padam karena malu.


Astaga… apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya? Dia adalah kaum manusia dan Aslan adalah alien yang menginvasi serta memporak-porandakan manusia, bahkan membawa kaum manusia pada jurang kepunahan. Tidak seharusnya Mischa tertarik dengan penemuan baru bahwa Aslan menyukai sentuhannya.


“Kau ingin tambah makananmu?” suara Aslan terdengar kembali, mengulang pertanyaannya  dengan nada tidak sabar dan menggema memenuhi ruangan, membuat Mischa tersadar dari lamunan.


Ditatapnya mata gelap Aslan yang mengintimidasi, lalu dirasakannya perutnya yang masih keroncongan.


Astaga, seporsi besar kentang tumbuk, roti, steak, sup kental, puding, buah dan minuman manis telah dihabiskannya dan dia masih tetap lapar?