
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M ER
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
“Apakah kau tahu yang sedang kau lakukan?”
Aslan tidak memberi jeda sedetik pun ketika dia membuka pintu. Lelaki itu langsung melemparkan kalimat mencela setajam pisau dengan mata melotot marah ke arah Akrep. Menunjukkan bahwa saat ini dia benar-benar merasa terganggu dengan gedoran Akrep di pintunya.
Akrep tentu saja tahu apa yang dimaksud oleh Aslan. Tetapi situasi yang mereka hadapi sekarang lebih genting. Jika mereka berhasil menguasai situasi, Aslan nantinya akan bisa bercinta dengan Mischa kapan saja, selama mungkin dan semaunya. Sedangkan jika mereka kalah dalam situasi ini… yah berarti mungkin Aslan memang sedang sial.
“Kau tahu pasti bahwa waktumu terbatas untuk bercinta dengannya. Ada hal penting lain yang harus kita lakukan,” Akrep sengaja melongokkan kepala ke balik bahu Aslan, tapi tubuh Aslan langsung menegang, lelaki itu langsung membentengi pandangan Akrep yang berusaha mengintip kondisi Mischa dengan besar tubuhnya yang lebih tinggi dari Akrep.
Akrep mengangkat sebelah alis, menahan senyumnya yang hampir saja muncul akibat melihat tingkah posesif konyol Aslan yang sia-sia. Bagaimanapun juga, Akrep sudah berhasil mengintip kondisi Mischa, dan syukurlah Aslan tidak lupa memberi makan perempuan hamil itu, bukannya memforsirnya terus menerus dengan ritual panen tanpa henti seperti dugaannya sebelumnya.
Salah satu tugasnya menyela apapun kesenangan Aslan di dalam, adalah agar Aslan tidak membuat Mischa kelelahan. Mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dimana Mischa memunculkan kekkuatan dahsyat, lebih dahsyat dari kekuatan manapun yang pernah Akrep lihat, bahkan di antara makhluk semesta galaksi yang pernah berinteraksi ataupun berperang dengan Bangsa Zodijak, itu berarti kemungkinan besar mereka akan membutuhkan Mischa dalam rencana selanjutnya. Mischa mungkin belum sepenuhnya bisa diajak bekerja sama.
Posisi perempuan itu masih berada di titik abu-abu, dan Akrep entah bagaimana bisa memahami situasi itu. Karena, bagaimanapun juga MIscha adalah manusia yang pasti akan membela bangsanya. Tetapi Akrep tahu pasti, bahwa secara alami, jika hal itu berhubungan dengan Aslan, bukan tidak mungkin kekuatan Mischa akan muncul kembali.
Siapa tahu mereka butuh kekuatan itu nantinya ketika menghadapi kejutan-kejutan tak terduga dari Imhotep yang licik?
“Apakah kau cukup tahu diri untuk pergi dari sini?” Aslan mendesiskan kalimat mencela dengan ekspresi masam ketika melihat Akrep hanya melamun saja di sana.
Akrep langsung menyeringai sebagai tanggapan, menatap Aslan penuh arti. “Kau sudah cukup lama menghabiskan waktu untuk memanen Mischa, saudaraku. Kau pasti juga sadar bahwa waktu yang kuberikan untuk eh… apapun yang kalian lakukan di dalam sana sudah lebih dari cukup.”
Aslan menggertakkan gigi, tidak suka dengan sindiran sengaja yang dilemparkan Akrep kepadanya. “Kau tahu bahwa kami melakukan itu saling menyembuhkan diri,” geramnya gusar, membuat Akrep langsung mengangkat bahu, menunjukkan dengan tegas bahwa dia tidak mau berkonfrontasi dalam percakapan ini.
“Oke, saling menyembuhkan diri atau apapun itu. Tampaknya kau sudah jauh lebih baik dan sudah sembuh,” dengan sengaja Akrep meneliti seluruh diri Aslan. “Kami membutuhkanmu di ruang pertemuan. Ada beberapa pembahasan yang harus kita bicarakan, ada banyak hal yang belum berhasil kita kuak kebenarannya, ada beberapa rencana yang masih belum bisa kita pastikan.” ekspresi Akrep berubah serius tak terbantahkan. “Nasib Yesil dan mungkin nasib semuanya bergantung pada tindakan kita selanjutnya.”
Kata-kata Akrep langsung membuat Aslan tertegun. Pada akhirnya, Aslan berhasil menekan ego serta keinginannya sendiri demi kepentingan Bangsa Zodijak. Bagaimanapun, sampai dengan detik ini dia adalah pemimpin utama Bangsa Zodijak. Dan meskipun dorongan untuk mengurung diri kembali di kamar bersama Mischa yang menggiurkan untuk dipanen terasa sangat menggoda, Aslan tahu prioritas mana yang harus didahulukan.
“Baiklah. Kami akan menunggumu di sana,” dengan cepat Akrep bisa memahami pengusiran Aslan, mata Akrep melirik kembali ke arah Aslan, lalu berucap dengan hati-hati. “Bawa juga Mischa bersamamu,” sambungnya tenang.
Mata Aslan langsung melebar. “Mischa tidak ada hubungannya dengan ini semua. Dia tetap tinggal di kamar ini,” putusnya gusar.
“Tidak bisa. Kurasa Mischa ada hubungannya dengan ini. Kalau tidak kenapa Imhotep repot-repot menculiknya?” Akrep menatap Aslan untuk menyadarkannya. “Kau sudah merasakan sendiri kekuatan Mischa, mungkin jika Yesil sadar dan ada di antara kita, dia bisa membantu menganalisa dengan baik. Tetapi saat ini Yesil tidak bisa membantu kita. Jadi kita membutuhkan Mischa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin hanya bisa dijawab oleh Mischa seorang.”
Akrep mengutarakan kalimatnya dari sisi logika tak terbantahkan, membuat Aslan terdiam dan tidak mengatakan apapun, bahkan setelah Akrep menggumamkan kalimat hendak pergi dan meninggalkan tempat itu.
“Makan,”
Kaza berucap dengan nada kasar. Lelaki itu memasuki ruang perawatan dengan langkah berderap seperti hendak berperang, lalu menyalakan lampu.
Pada saat itulah Sasha langsung mendongakkan kepala dan menatap untuk meneliti sosok pemarah di depannya ini. Kaza langsung menyambar tatapan takut Sasha dengan mata tajamnya yang tidak bersahabat, membuat Sasha kehilangan nyali dan langsung menundukkan kepala.
Tidak dia duga, kemudian Kaza menarik salah satu meja besi yang ada di ruang perawatan itu dan membawanya ke tepi ranjang. Lelaki itu memberi isyarat supaya Sasha beringsut ke tepi ranjang dengan tak terbantahkan sebelum kemudian membanting nampan itu di depan Sasha lalu menyuruhnya makan dengan nada yang tak kalah kasarnya.
Sasha masih terpaku di sana. Dia duduk dengan kaki menggantung di tepi ranjang, sementara meja itu dekat di depannya.
Makanan yang ada di nampan itu tampak menggiurkan, apalagi untuk dirinya yang tidak sadarkan diri entah berapa lama sehingga perutnya sepertinya mulai kehilangan rasa malu serta langsung menabuh genderang kebahagiaan yang mendorong air liurnya muncul memenuhi rongga mulutnya.
Sasha menelan ludah, mencoba mengendalikan nafsu makannya dan berpikir lebih dalam. Dia tentu saja masih ragu menghabiskan makanan itu, apalagi dengan Kaza yang berdiri tepat di seberang meja, berkacak pinggang menunggu dengan sikap seolah menahan marah setiap waktu.
Sasha lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Kara, sehingga dia merasa begitu mengenal Kara dengan lebih baik. Dan sekarang, ketika matanya menelusuri sosok di depannya tersebut, Sasha menyadari betapa Kara dan Kaza hampir-hampir tidak bisa dibedakan. Yang membuat kedua sosok ini berbeda adalah gestur tubuh dan ekspresi wajah mereka. Kara selalu bersikap lembut, dan itu tercermin di wajah maupun tatapannya, bahkan tubuh Kara selalu tampak santai dan tenang, seolah menyalurkan kedamaian bagi siapapun yang berada di sekelilingnya. Sementara itu, Kaza begitu berbeda, lelaki itu selalu menampilkan tubuh tegang seolah siap melenting untuk bertarung, wajah murung dengan bibir cemberut dan ekspresi keras serta mulut tajam yang siap menyerang.
Kenapa dua bersaudara yang begitu mirip bisa memiliki sikap yang begitu berbeda?
Sasha memang masih remaja, bisa dibilang bahkan dia masih anak-anak. Tetapi tempaan hidup yang keras dalam perjuangannya sebatang kara sebelum bertemu dengan Mischa telah mendidik pikirannya supaya lebih dewasa daripada yang seharusnya. Dia mempelajari watak manusia demi keselamatan dirinya, dan dia tahu apa itu kebencian apalagi yang ditampilkan dengan gamblang. Segala gestur tubuh Kaza, semuanya menyiratkan kebencian kepada dirinya….
Tetapi kenapa? Apa salah Sasha?
“Makan!” Kali ini Kaza mengeraskan suaranya, membuat Sasha terlonjak dari duduk karena kaget. Tangan Sasha gemetaran ketika mencoba meraih sendok, otomatis langsung mencoba untuk makan karena ketakutan dibentak seperti itu.
Sasha menyuapkan semangkuk sup ke dalam mulutnya karena ngeri, tidak memperhitungkan kesiapannya hingga akhirnya sup itu bukannya mengalir ke kerongkongan menuju saluran cerna, malahan masuk ke tenggorolan menuju paru-parunya.
Seketika itu juga, buluh halus yang ada di saluran napasnya yang berfungsi menjaga paru-parunya dari invasi mahluk asing langsung bereaksi, melontarkan cairan yang dianggap salah tempat itu kembali ke permukaan, masuk ke hidung dan mulut Sasha dengan lontaran keras yang terasa panas membakar.