
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira.
Mischa setengah diseret melalui lorong-lorong istana berdinding hitam oleh dua orang manusia yang sudah tanpa jiwa dan berubah menjadi budak.
Mereka melewati banyak sekali makhluk-makhluk Zodijak yang berlalu lalang, membuat Mischa terkesiap ketakutan karenanya.
Sebagian dari makhluk-makhluk itu sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan sebagian lagi tampak tertarik, mengamati Miacha penuh rasa ingin tahu. Tetapi, begitu mereka melihat lambang Aslan di leher Mischa dan kedua budak yang mengapitnya, ekspresi mereka berubah dan langsung menjaga jarak dengan takut.
Mischa dibawa memasuki sebuah kamar cukup luas dengan nuansa gelap. Dia tidak sempat mengamati ruang kamar itu karena dirinya dengan kasar langsung didorong ke sebuah ruang mandi yang sangat luas.
Salah seorang budak mengucapkan kata ’mandi’ dengan gerakan mulut dan tanpa suara, lalu mengunci pintu dari luar dan meninggalkan Mischa sendirian di sana.
Mischa memandang ke sekeliling, ke area besar serupa permandian dengan pancuran yang dibatasi tirai di sisi satu, dan kolam mandi di tengah ruangan. Karena tahu bahwa dia tidak akan dikeluarkan dari ruangan ini sebelum dia mandi, Mischa mengangkat bahu, melepaskan pakaian, meletakkannya di keranjang yang telah tersedia, lalu masuk ke bawah pancuran, menutup tirai dan menyalakan pancuran.
Mumpung saat ini jiwanya masih dibiarkan hidup, tidak ada salahnya dia menikmati kemewahan langka sebelum kematian menjemputnya.
Air hangat langsung menimpa tubuhnya dari pancuran atas, memijit kepala dan pundaknya dengan sangat nikmat. Mischa berpegangan ke dinding kristal hitam yang berkilauan itu. Cahaya redup ruang mandi membuatnya bisa melihat pantulan dirinya di dinding hitam, tampak kurus dan menyedihkan.
Pandangan Mischa beralih dari pantulan dirinya ke sekeliling ruang mandi. Mischa menemukan sebuah botol kaca berkilauan yang menempel di dinding. Botol itu berisi cairan berwarna oranye bening yang menggoda. Dengan penuh rasa ingin tahu, disentuhnya botol itu, tanpa sengaja menemukan sebuah tombol yang langsung disentuhnya.
Cairan kental keluar dari botol itu dan Mischa menampungnya dengan telapak tangan, menatap cairan itu dengan curiga. Didekatkannya cairan itu ke hidungnya dan aroma lemon yang pekat langsung menyapa hidung. Masih dipenuhi keingintahuan, Mischa menjilat cairan itu dan mengerutkan kening sedikit karena rasanya getir.
Astaga. Mungkinkah ini sabun mandi?
Mandi dengan air bersih adalah kemewahan baginya, apalagi mandi dengan sabun… itu adalah sesuatu yang bahkan Mischa tidak berani membayangkan bisa merasakannya.
Mischa menetesi cairan sabun kental itu dengan air, lalu menggosokkan kedua tangannya menciptakan busa yang menguarkan aroma lemon segar memenuhi ruangan. Dengan hati-hati disentuhkannya sabun itu di tubuhnya.
Busanya terasa dingin ketika menyentuh kulit, kontras dengan air hangat yang membasahi Mischa. Mischa tidak bisa menahan diri untuk mengambil sabun itu lagi, mengusapkan ke seluruh tubuh, wajah, dan rambutnya kuat-kuat, menciptakan busa dimana-mana. Digosokkannya tubuh dengan sekuat tenaga, membersihkan diri sebersih-bersihnya.
Setidaknya takdir sudah berbaik hati padanya dengan membiarkannya mandi sebelum dibunuh. Jika dia mati nanti, dia akan mati dalam kondisi bersih.
﴿﴿◌﴾﴾
Selesai mandi, Mischa melirik ke kanan dan kiri, merasa bingung karena pakaiannya yang tadi dia letakkan di keranjang yang berada di balik tirai pancuran mandi sudah tidak ada.
Siapa yang masuk kemari dan mengambil pakaiannya? Bagaimana dia bisa keluar dari sini kalau pakaiannya tidak ada?
Mata Mischa memandang sekeliling dan sedikit lega ketika menemukan sebuah gaun terusan polos sepanjang lutut digantung di sisi dinding ruang mandi itu, warna biru mudanya tampak kontras dengan tembok yang hitam legam.
Apakah gaun ini untuknya? Dia tidak melihatnya ketika pertama masuk tadi…
Mischa menyentuh gaun itu dengan jemari, tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa kagum dengan kehalusan bahannya. Dari pengetahuan yang diperoleh melalui jurnal-jurnal penelitian ayahnya di masa lampau, Mischa sedikit banyak tahu kalau bahan-bahan ini bukanlah kain biasa. Ini adalah kain kualitas terbaik yang dipakai oleh perempuan-perempuan Bangsa Zodijak dengan kelembutan tekstur yang mungkin seratus kali lebih baik dari kain sutera alami kualitas nomor satu di bumi.
Perempuan Zodijak yang siap menikah akan disatukan di satu tempat, sementara para laki-laki akan memilih mana yang paling potensial menjadi ibu dari anak-anaknya. Seorang calon ibu yang kuat di Bangsa Zodijak bisa melahirkan lima sampai sepuluh anak dengan jenis kelamin yang sama dalam satu kali kehamilan, setelah itu perempuan Zodijak tidak akan pernah bisa mengandung lagi.
Pernikahan antara Bangsa Zodijak biasanya adalah kontrak untuk melanjutkan keturunan, para perempuan Zodijak yang sudah mengandung lalu diurus, dirawat sampai melahirkan anak-anak mereka, para ibu diwajibkan mengurus anak-anak mereka sampai remaja, anak laki-laki akan dididik sebagai prajurit dan anak perempuan akan dididik sebagai calon ibu potensial berikutnya.
Setelah seluruh proses selesai dan sang anak siap dilepaskan untuk melanjutkan ke jenjang mandiri, kontrak pernikahan pun diakhiri, sang ibu akan dipisahkan dari anak-anaknya lalu ditempatkan di daerah terpisah, sebuah area khusus yang menjadi tempat para ibu yang sudah tidak bisa mengandung lagi karena perempuan Zodijak tidak bisa mengandung lebih dari satu kali.
Perempuan-perempuan itulah yang kemudian bisa dipilih menjadi kekasih, tanpa kontrak pernikahan dan tanpa status, hanya untuk memuaskan nafsu.
Ayahnya dulu bilang bahwa lelaki Zodijak berhak memiliki banyak kekasih dan bebas memilih dari para ibu yang sudah dipisahkan dari anak-anaknya, tetapi mereka hanya akan memiliki satu istri “perawan” yang bisa memberinya kontrak pernikahan untuk melanjutkan keturunan.
Struktur kedudukan para perempuan itu pun bergantung pada laki-laki yang memilihnya, semakin tinggi kedudukan laki-laki tersebut, semakin tinggi pula posisi perempuan tersebut dalam struktur sosial para perempuan.
Tidak ada ikatan kasih sayang anak dengan ibunya bagi Bangsa Zodijak, bagi mereka ibu hanyalah penghantar dan perawat yang akan mempersiapkan masa depan mereka, dan wanita hanyalah komoditas untuk melanjutkan keturunan serta memuaskan nafsu.
Sungguh berbeda dengan kaum manusia… sampai dengan saat ini, betapa Mischa bersyukur dilahirkan sebagai manusia, dimana wanita dihargai, dicintai dan memiliki keterikatan erat sebagai seorang anak, seorang istri, maupun seorang ibu.
Pemikiran tentang sosok ibu membuat hati Mischa sedih.
Ibunya juga terbunuh dalam perang hanya sekejap setelah melahirkannya. Mischa tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, tapi ayahnya bilang bahwa ibunya sangat mencintainya dan sangat bahagia ketika mengandung Mischa.
Mischa menghembuskan napas keras untuk mengusir kesedihan, lalu mengambil gaun itu dan memutuskan untuk memakainya daripada dia harus bertelanjang. Dimasukkannya gaun longgar berpotongan lurus itu melalui kepala, lalu Mischa berdiri kebingungan, mencoba menilai situasi dengan bantuan panca indranya.
Suasana terasa sangat hening. Entah karena ruang mandi ini tertutup rapat, entah karena memang tidak ada kegiatan apapun di luar sana.
Apa yang sebaiknya dia lakukan? Apakah dia berdiam diri sampai ada yang memerintahkan keluar, atau mencoba keluar saja karena barangkali pintu kamar mandi sudah tidak dikunci lagi?
Akhirnya jiwa pemberontak Mischalah yang menang, mendorongnya mencari cara untuk menyelamatkan diri atau setidaknya melarikan diri dari tempat ini.
Setengah mengendap-endap, Mischa melangkah ke pintu, lalu menghentikan langkahnya pelan di depan pintu.
Dengan ragu dipegangnya kenop pintu dan setelah menghela napas panjang, diputarnya perlahan.Suara “klik” terdengar pelan, dan Mischa merasa menemukan secercah harapan untuk melarikan diri.
Dengan hati-hati, Mischa melangkah keluar dari ruang mandi, menjejakkan kakinya ke karpet abu-abu tebal di bawah sana, lalu tertegun.
Dirinya sekarang berada di dalam sebuah kamar luas bernuansa hitam sedikit gelap. Mata Mischa mengitari kamar itu sambil mencari-cari pintu keluar, tapi perhatiannya entah kenapa tertarik ke atas ranjang dan seketika Mischa terkesiap sementara wajahnya berubah pucat pasi.
Di atas ranjang itu, sosok yang dikenali oleh Mischa sedang berbaring Aslan… makhluk buas itu berbaring telentang di atas ranjang besar yang mendominasi ruangan, dengan berbantalkan kedua tangannya, sementara matanya tampak terpejam rapat.
Mischa menelan ludah ketika matanya menemukan pintu keluar dari kamar tempatnya berada sekarang ini. Sialnya untuk mencapai pintu itu, Mischa harus melewati tubuh Aslan yang terbaring di ranjang.
Mata Mischa menelusuri tubuh Aslan, menilai seperti apa sosok musuh yang harus dihadapinya.
Tubuh Aslan tinggi dengan otot yang tangguh dan kuat seperti kebanyakan para lelaki Bangsa Zodijak. Rambutnya yang berwarna cokelat gelap sedikit panjang menyaru dengan bantal alas kepalanya. Lelaki itu memakai pakaian santai dengan celana dari bahan kulit gelap yang tampak lembut. Sementara sepatu boot dari bahan yang sama tampak masih terpasang di kakinya.
Mischa mencuri-curi pandang ke arah wajah Aslan untuk memastikan mata lelaki itu masih terpejam. Untungnya apa yang ditakutkan Mischa, bahwa mata itu tiba-tiba terbuka ternyata tidak terjadi.
Kenapa Aslan ada di sini dan tertidur dengan santainya di atas ranjang? Ini kamar siapa?
Mischa menghela napas panjang sementara jantungnya berdebar, meningkat seiring dengan aliran darahnya yang mengecang memenuhi pembuluh nadinya.
Pintu itu… apakah pintu itu terkunci? Ataukah masih ada kesempatan bagi Mischa untuk menyelinap keluar?
Mischa menajamkan pendengarannya dan memastikan bahwa suasana benar-benar hening. Entah karena kamar ini kedap suara, atau kemungkinan besar memang tidak ada kegiatan apapun di luar sana.
Dia harus berhasil melewati Aslan dan setidaknya keluar dari ruangan ini.
Diliriknya kembali Aslan dan bersyukur mata itu masih terpejam. Lelaki Zodijak itu terlihat tidak berbahaya ketika sedang tidur, karena mungkin yang paling menakutkan bagi Mischa adalah mata hitam legam yang penuh dengan nafsu membunuh mengerikan.
Mischa menggerakkan kakinya perlahan, sepatunya juga sudah hilang entah dimana bersama dengan pakaiannya sehingga dia tidak mengenakan alas kaki. Beruntung karpet tebal empuk yang menyelimuti seluruh lantai kamar menyelubungi kakinya, meredam suara langkahnya.
Setiap langkah maju membuat debaran di jantung Mischa semakin kencang, sementara matanya tak lepas dari sosok tubuh Aslan yang tidak bergerak di atas ranjang. Suasana yang begini senyap sedikit mengganggu Mischa karena entah kenapa napasnya yang berat jadi terdengar kencang. membuat Mischa terpaksa menahan napas, berusaha menarik dan menghembuskan napasnya perlahan untuk meminimalisasi suara.
Satu langkah, dua langkah… jantung Mischa serasa mau pecah menahan debarannya.
Mischa mengernyit sambil meletakkan satu tangan di dada, lalu melanjutkan langkah kembali, maju perlahan sambil terus waspada akan posisi Aslan yang tampaknya sama sekali tidak bergerak.
Dia berhasil melewati Aslan, tubuh Mischa sudah berada di ujung kepala ranjang, tinggal beberapa langkah lagi dia bisa mencapai pintu.
Mischa menatap pintu keluar, menetapkan fokusnya di sana sebagai pintu penyelamatnya. Tanpa sadar dia melebarkan langkah kaki, berusaha mencapai dan hendak membuka pintu itu secepat dia bisa, dan dia berhasil.
Napas Mischa memburu ketika kedua tangannya yang gemetar menyentuh pelapis tebal pintu yang sangat berat itu, ditemukannya kenop pintu berbentuk lingkaran dengan aksen mahkota, dan tangannya makin gemetar ketika memutar kenop pintu.
Tidak terbuka, tidak ada suara “klik” seperti ketika dirinya berada di kamar mandi…
Mischa memejamkan mata, harapannya pupus sudah.
Pintu ini ternyata terkunci.
﴿﴿◌﴾﴾