Inevitable War

Inevitable War
Episode 23 : Pertemuan Kembali



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



 


 


“Mischa?”


Kara membangunkan Mischa dengan lembut, sedikit menyentuh lengannya tetapi tidak mau terlalu jauh karena takut Mischa akan menjerit ketakutan.


“Bangun, Mischa… sudah hampir petang, kita harus melanjutkan perjalanan.”Matahari yang sudah mulai kembali ke peraduannya menyisakan jejak dingin menguar yang mulai merayapi kulit dan menunjukkan keinginan jelasnya untuk menembuskan hawa dinginnya hingga menusuk tulang.Kara memandang ke langit, sedikit lega karena sampai saat ini, dengungan pesawat pengintai Bangsa Zodijak yang ditakutkannya belum juga terdengar. Itu berarti pasukan Zodijak belum menyisir daerah ini, dan itu berarti kesempatan mereka untuk melarikan diri dan menghapus jejak masih cukup besar.


Kara membiarkan Mischa tidur lebih lama dari yang seharusnya karena dirinya merasa tidak tega. Mischa tertidur begitu pulas dengan dengkuran halus yang menunjukkan kelelahannya. Ketika hendak membangunkan Mischa dan mendapati betapa lelapnya perempuan itu, Kara sempat mengurungkan niatnya lebih lama dan memberikan waktu sedikit lama bagi Mischa untuk tertidur.


Tapi sekarang sudah hampir petang dan jika mereka tidak bisa menemukan apa yang mereka cari, setidaknya sekarang mereka harus menemukan tempat berlindung untuk malam ini.


Mischa sendiri mengerjap-ngerjapkan mata mendengar panggilan Kara yang seolah menariknya dari alam mimpi. Dia membuka mata dan menyadari bahwa sinar terik matahari sudah tidak menyambut pandangannya lagi.


Sudah petang?


Mata Mischa membelalak ketika kesadarannya kembali dan dengan gugup dia langsung berdiri sehingga langsung bertatapan dengan Kara yang sudah berdiri menunggu.


“Kita harus mencari tempat perlindungan. Apakah kau masih kuat berjalan?” Kara langsung bertanya.


Mischa menganggukkan kepala meskipun saat ini setelah tidur, seluruh tubuhnya terasa sakit bahkan ketika digerakkan sedikit saja.


Kara lalu membalikkan badan dan memberi isyarat supaya Mischa mengikutinya. “Bagus. Sekarang ikuti aku, kita akan menuju area itu,” tangan Kara menunjuk bangunan serupa kubah setengah lingkaran raksasa yang ada di area tengah reruntuhan bangunan.


Bangunan-bangunan di sekitar kubah itu sudah hancur lebur menyisakan reruntuhan batu bercampur rangka-rangka besi yang sudah berkarat, tetapi kubah itu sendiri, karena dibuat dari bahan baja kelas tinggi, tampak masih berdiri kokoh meskipun tampak begitu kotor tertutup debu dan pasir yang berterbangan di siang hari.


“Itu tampak seperti terowongan penghubung,” Mischa memicingkan mata untuk menatap lebih jelas bangunan yang tampak dari kejauhan itu.


Kara tersenyum.  “Benar, di bawah kubah itu ada terowongan yang menghubungkan stasiun kereta satu dengan stasiun kereta lain. Dan dari apa yang kupelajari dari kaum manusia, mereka selalu membuat terowongan bawah tanah di bawah stasiun kereta. Kita hanya bisa berharap di terowongan bawah tanah itu ada koloni Kaum Penyelinap yang bisa menampung kita untuk sementara. Jika kita tidak menemukan pun, setidaknya kita bisa berlindung di terowongan bawah tanah untuk sementara malam ini, sampai kita bisa melanjutkan perjalanan lagi,” jelasnya sambil terus melangkah.


Mischa sendiri berusaha mengiringi langkah Kara yang telah berbaik hati memperlambat sedikit langkahnya.


Bangsa Zodijak benar-benar kuat dan Mischa kali ini melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa kuatnya Bangsa Zodijak ini, Kara bahkan tampak tidak kelelahan sedikitpun dan masih terlihat begitu segar tanpa cela.


“Mempelajari kaum manusia?” Mischa teringat ayahnya sendiri yang begitu teliti mempelajari Bangsa Zodijak, bukan hanya tubuhnya tetapi juga kebudayaannya, sepertinya hal yang sama juga dilakukan Bangsa Zodijak terhadap manusia.


Kara melirik ke arah Mischa dan tersenyum lembut. “Kami sudah mempelajari kaum manusia dan bumi bertahun-tahun sebelum kami memutuskan menyerang. Kenali musuh-musuhmu dengan baik, Mischa, maka kau akan menemukan jalan termudah untuk mengalahkan mereka,” ucap Kara masih sambil dihiasi senyuman.



Bangunan kubah raksasa itu tadinya tampak begitu dekat jika diukur dengan pandangan mata, tetapi ternyata sebenarnya begitu jauh ketika ditempuh dengan berjalan kaki.


Berjam-jam mereka berjalan untuk mencapai kubah itu, sehingga ketika mereka sampai di pintu masuk kubah, malam sudah mulai menjelang dan udara dingin menusuk tulang mulai datang untuk mendera.


Napas Mischa yang terengah menciptakan kabut putih di depannya ketika dia menghembuskan napas, membuat Kara melirik dengan cemas.


“Apakah menurutmu di dalam sana aman?” bisik Mischa ragu, menatap ke arah kegelapan pekat yang menyambut mereka ketika menjejakkan kaki di pintu terowongan raksasa itu.


Kara menatap ke sekeliling dengan pandangan tajam sementara seluruh indranya bekerja untuk berburu.


Dia mencium bau manusia, dan itu bukan aroma Mischa.


“Ada manusia,” tanpa ragu Kara melangkah, memasuki area terowongan yang gelap gulita, lalu menoleh ke arah Mischa yang masih berdiri di pintu terowongan dengan ragu. Cahaya redup dari bulan yang bersinar di luar menerpa sebagaian tubuh Mischa sementara sisi lainnya menciptakan siluet gelap yang tak terbaca oleh mata.


Kara lalu mengulurkan tangan ke arah Mischa. “Kurasa kau harus memegang tanganku kalau tidak mau tersesat di kegelapan ini,” ucap Kara menawarkan.


Sejenak Mischa ragu, matanya mengamati uluran tangan yang tampak menyeramkan karena dengan kegelapan yang menelan Kara saat ini, uluran tangan itu seperti uluran tangan tak bertuan yang dikirimkan dari kegelapan.


Tetapi apa yang ditawarkan oleh Kara benar adanya. Mischa akan tersesat kalau tidak berpegangan pada Kara. Lelaki Zodijak bisa menembus kegelapan karena indra pengelihatan mereka sangat hebat sehingga kegelapan bukanlah penghalang untuk mereka.Mischa akhirnya mengulurkan tangannya pada Kara dan membiarkan Kara menggenggam tangannya itu sebelum membimbingnya melangkah memasuki kegelapan pekat.



Dengan tenang Kara berjalan, membawa Mischa di sisinya. Aroma manusia itu tercium semakin pekat, membuat Kara yakin bahwa mereka sudah dekat.


Saat ini kaum manusia itu tidak akan bisa melihat Kara dan Mischa karena kegelapan total terowongan yang menelan mereka, tapi Kara yakin bahwa Kaum Penyelinap ini sedikit banyak sudah berlatih dengan kegelapan sehingga mereka tetap saja bisa mengetahui kedatangan Kara dan Mischa ke dalam area perlindungan mereka.


Dan dugaan Kara benar adanya, ketika kakinya hendak melangkah menuruni tangga menuju area bawah tanah, tiga orang lelaki langsung menghadangnya dalam posisi bersembunyi di kegelapan.


Mereka semua membawa senjata yang menyedihkan, seperti pisau dan cangkul yang tentu saja tidak akan berguna jika Kara menggunakan kekuatannya.


Kara bisa menghabisi mereka semua dengan mudah dalam sekali tebasan, tetapi tentu saja dia tidak akan melakukan itu. Saat ini Kara membutuhkan informasi sebanyak-banyaknya yang bisa diperolehnya untuk menemukan Natasha, dan untuk itu semua, Kara bersedia bekerjasama dengan manusia.


Kali ini, untuk semakin meyakinkan kaum manusia bahwa dirinya juga termasuk kaum manusia, Kara tetap melangkah maju sambil menggandeng Mischa mengikuti langkahnya. Dia berpura-pura tidak melihat tiga manusia yang menghadang dalam kegelapan itu karena memang manusia biasa tidak akan bisa melihat menembus kegelapan.


Tiga manusia di depannya ini bisa melihat Mischa dan Kara karena sepertinya mereka menggunakan alat khusus yang dipasang di mata, semacam kacamata infra merah yang bisa menampilkan bayangan kegelapan meski dalam warna monokrom yang jauh berbeda dengan kemampuan mata Kara yang bisa menampilkan keseluruhan tampilan dalam kegelapan, dengan visualisasi yang luar biasa jelas.


Kara merasa sedikit senang melihat alat yang digunakan oleh kaum penyelinap itu. Meskipun senjata mereka menyedihkan, tetapi mereka ternyata memiliki alat yang biarpun bisa dibilang tetap kuno tapi tidak kehilangan fungsinya, sehingga berguna untuk menembus kegelapan menunjukkan bahwa koloni kaum penyelinap yang mereka temukan ini cukup kuat.


Tiga orang manusia yang menghadang itu saling melempar pandang sementara Kara masih tetap pura-pura tidak tahu. Lalu ketika Kara dan Mischa hampir melewati mereka, salah seorang di antaranya akhirnya berbicara.


“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya manusia itu dengan suara lantang.


Mischa langsung menegang, tetapi Kara mengeratkan genggamannya di tangan Mischa untuk menenangkan perempuan itu.


“Kami terpecah dari koloni kami,” Kara berucap tenang. “Koloni kami diserang oleh Bangsa Zodijak ketika aku dan adikku, Mischa sedang mencari makan. Saat ini kami sedang mencari koloni baru untuk bergabung.”


Ketiga manusia itu kembali saling berpandangan. Lalu kembali salah seorang yang sepertinya paling berpengalaman dibanding yang lain menjawab perlahan.


“Sayangnya kelompok kami sudah penuh. Jika kami menambah anggota lagi, sama saja menambah beban.”“Kalian bisa memanfaatkan kami,” Kara tidak menyerah, melemparkan suara membujuk yang sudah menjadi keahliannya. “Aku dan adikku masih muda dan kuat, kami tidak terluka sedikit pun dan tidak sedang sakit sehingga kami tidak akan merepotkan kelompok kalian, malahan seperti yang kubilang tadi, kalian bisa memanfaatkan tenaga kami.” sambungnya kemudian.


Kata-kata Kara sepertinya berhasil membujuk tiga lelaki itu, mereka saling berbisik bisik sebelum kemudian memutuskan.


“Kami akan membawa kalian ke dalam untuk menemui ketua kami. Jika beliau memutuskan untuk menerima kalian, maka kalian akan diterima.”


Salah seorang kaum penyelinap itu menyerahkan sebuah tali ke tangan Kara. “Pegang tali ini supaya kalian tidak terpisah dari kami dalam kegelapan.” ujarnya.


Kara sesungguhnya tidak memerlukan tali itu karena dia bahkan bisa melihat lebih jelas dari kaum manusia dan sudah pasti tidak akan tersesat dalam kegelapan, tetapi karena saat ini dia sedang menyamar, diterimanya tali itu sambil menggumamkan terima kasih.


Mereka lalu berjalan menembus kegelapan, melalui kelokan demi kelokan lorong yang berliku, menuruni beberapa tangga lagi untuk menembus lapisan-lapisan ruang bawah tanah.


Dalam perjalanan itu, Kara memegang tali yang diberikan kepadanya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya menggandeng erat tangan Mischa yang sejak tadi memilih diam saja, hanya napasnya yang terdengar sedikit terengah ketika perjalanan mereka menembus ruang bawah tanah terowongan ini seakan tidak berujung.


Beruntung akhirnya mereka sampai juga, ditandai dengan cahaya yang tampak samar-samar di depan sana, berasal dari lilin atau mungkin juga lampu minyak yang dinyalakan sedikit demi sedikit untuk menghemat energi.


Mereka sampai ke sebuah pintu besi yang tampak cukup berat untuk dibuka, lalu tiga lelaki itu masuk diikuti Kara dan Mischa.Kali ini mereka dihadapkan ke sebuah ruangan yang cukup terang karena ada sekitar empat lampu minyak yang dinyalakan. Di depan mereka ada beberapa manusia lain yang sedang tertidur meringkuk saling berangkulan untuk mengalahkan hawa dingin.


“Kami akan memanggil pemimpin kami, tunggu di sini,” ujar salah seorang dari kaum penyelinap itu lalu melangkah pergi meninggalkan Mischa dan Kara berdiri di depan pintu besi yang kini sudah ditutup kembali.


Mischa sendiri mengedarkan pandangannya,  tampak tertarik dengan manusia-manusia yang sedang tertidur pulas di lantai itu. Mereka semuanya perempuan dan kebanyakan masih muda, beberapa bahkan tampak lebih muda dari Mischa sendiri.


Mata Mischa terus menelusuri sosok-sosok yang sedang terlelap itu sampai matanya menemukan sesuatu, sesuatu yang sangat familiar hingga membuat jantungnya berdebar dan air matanya hampir tumpah,


“Sasha?” bisiknya dengan suara serak menahan haru sekaligus tak percaya dengan apa yang ditemukan oleh matanya.