
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserve
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M ER
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Anak itu mendongak kembali dan menatapnya dengan mata melebar, seolah terkejut karena Kaza bersikap baik kepadanya. Lama kemudian, Sasha sepertinya baru menyadari bahwa Kaza baru saja mengajukan pertanyaan kepadanya.
Dengan gugup Sasha menganggukkan kepala.
“Enak sekali. Terima kasih,” jawab Sasha dengan nada terbata. Tiba-tiba Sasha lalu mendongak lagi, mulutnya membuka seperti hendak berbicara, tetapi seolah ada yang menahan suaranya sehinga tidak keluar. Sasha mengatupkan mulutnya kembali dan menunduk, membuat Kaza mengerutkan kening penuh rasa ingin tahu.
“Ada apa?” tanyanya dengan nada mengintimidasi yang khas.
Sasha mengerjapkan mata, akhirnya membuka mulut kembali.
“Di… di kaum kami, kaum penyelinap… menemukan makanan sangat sulit,” mata Sasha menelusuri mangkuk-mangkuk penuh makanan yang sedang dihabiskannya, “Kami memakan apapun yang bisa dimakan, serangga, lumut, bahkan tanaman kering yang rasanya sangat tidak enak. Kadang kami harus menahan tidak makan ketika Bangsa Zodijak sedang berpatroli di area luar, memaksa kami meringkuk di lantai ruang bawah tanah dan tidak bergerak supaya tidak terdeteksi.” Sasha menatap ke arah Kaza, kali ini ekspresinya tampak bersungguh-sungguh. “Ka… karena itu, ketika aku mengucap terima kasih, itu benar-benar terima kasih yang sesungguhnya…” kepala Sasha menunduk malu-malu dan menatap kembali ke arah makanan di atas nampan, “Makanan seperti ini, bahkan jika dibagi oleh sepuluh orang dalam kelompok sekalipun tetap saja seperti pesta pora bagi kami. Karena itu, terima kasih sudah menyelamatkan kakakku Mischa dan aku serta memberikan kami makanan serta tempat tinggal.”
Kaza bergeming. Ini adalah kalimat paling panjang yang pernah diucapkan oleh Sasha kepadanya. Sepertinya anak ini begitu gugup, dan untuk menutupi kegugupannya, mulutnya jadi tidak berhenti menyerocos dan menyemburkan kata-kata tak terkendali.
Tetapi, apa yang dikatakan oleh Sasha ini entah kenapa membuat hatinya terasa diremas dan sesak. Anak ini, telah menumbuhkan rasa empati yang dia pikir tidak pernah akan dia rasakan apalagi kepada kaum manusia.
Inikah yang dirasakan baik oleh Kara maupun Aslan? Rasa terikat dan saling menanggung beban bersama yang tidak bisa ditahan dan muncul begitu saja?
“Apakah ada banyak seperti kalian di luar sana?” Kaza tiba-tiba bertanya tentang pertanyaan yang jawabannya sebenarnya sudah dia ketahui. Dia sendiri tahu bahwa kaum penyelinap masih ada di luar sana dalam jumlah banyak. Mereka adalah para penyintas yang bertahan hidup dengan kekuatannya sendiri di tengah gejolak perang antara manusia dengan Bangsa Zodijak.
Dan sampai dengan saat ini, meskipun Bangsa Zodijak sendiri sengaja membiarkan mereka hidup hanya untuk digunakan sebagai buruan ketika Bangsa Zodijak sedang ingin bersenang-senang, kaum penyelinap itu tetap tidak menyerah, sekuat tenaga bertahan dan berjuang demi kehidupan mereka.
Mischa dan juga Sasha adalah salah satunya. Begitupun dengan pasangan air suci Zodijak yang lain yang mungkin sampai dengan saat ini masih tersebar di luar sana.
Entah kenapa Kaza merasakan ironi yang sangat dalam sedang melingkupi mereka. Ketujuh pemimpin Bangsa Zodijak, pada mulanya memimpin invasi ke bumi demi mendapatkan air, pengganti dari air suci Zodijak yang telah menjadi sumber daya mereka yang mulai musnah secara misterius.
Dirinya dan seluruh Bangsa Zodijak semula menganggap bahwa Invasi ke bumi ini benar adanya. Sebelum melakukan penyerangan, mereka semua telah mengawasi dan mempelajari manusia sekian lama. Hasil pengamatan mereka menemukan bahwa manusia, yang dianugerahi sumber daya luar biasa dalam wujud air yang suci dan sakral, ternyata menyia-nyiakan berkat itu dengan bodohnya. Mereka merusak air, mencemarinya, membuang-buangnya, bahkan merendahkan air itu sendiri seolah anugerah itu bukanlah sesuatu yang tidak berharga. Dan itu menciptakan kemarahan bagi Bangsa Zodijak sendiri. Mereka, Bangsa Zodijak, diajari untuk menghormati dan menghargai air sebagai sumber daya paling kuat dan paling dihormati. Karena itulah, keputusan menginvasi bumi demi merebut air yang telah manusia sia-siakan dengan bodoh, dianggap sebagai keputusan yang paling benar dan paling baik.
Sebab, apa salahnya mengambil sesuatu yang sama sekali tidak dihargai oleh manusia?
Tetapi, melihat Sasha sekarang ini, Kaza jadi bertanya-tanya, apakah keputusan menginvasi dan menyerang bumi ini benar adanya.
Apakah dibenarkan merenggut apa yang menjadi hak dan milik bangsa lain, terlepas dari kenyataan bahwa bangsa itu tidak menghargainya?
“Kau benar.” tubuh Akrep menegang, berubah waspada. “Bisa saja saat ini Imhotep telah menemukan pasangan air suci yang lain.” mata Akrep beralih ke arah Aslan. “Kita harus segera pergi dan menyusul sebelum Imhotep mendapatkan semuanya.”
Aslan menganggukkan kepala. Dia lalu menoleh ke arah Mischa dan menyadari ada yang berbeda dari perempuannya itu. Mischa tampak pucat seolah baru menyadari sesuatu. Hal itu membuatnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
“Kenapa denganmu, Mischa?” Aslan sudah mempelajari mengenai Mischa sepanjang kedekatan di antara mereka selama ini. Dia bisa membaca berbagai emosi yang muncul di wajah Mischa dan menelaahnya.
Mischa suka menipiskan bibir ketika marah, mulutnya mengerucut ketika tidak setuju, dan dadanya naik turun karena napas yang cepat ketika hendak berteriak serta membantah. Tetapi kali ini, Mischa tampak pucat pasi dengan ekspresi aneh yang tidak bisa dibacanya. Manusia perempuan itu tampak… bingung. Aslan langsung bergerak cepat, melangkah melewati saudara-saudaranya dan berlutut di depan sofa tempat Mischa duduk. Tubuhnya yang tinggi membuat kepalanya sejajar dengan Mischa dalam posisinya yang seperti itu.
“Kenapa?” Aslan mengerutkan kening, mata kelamnya menatap tajam ke arah Mischa, bertanya dengan nada mengejar serta menuntut jawaban.
Mischa sendiri mendongakkan kepala, menantang mata hitam yang begitu mengganggu, lalu menghela napas panjang.
Kalimat Sevgil tadi telah membuatnya mengambil keputusan. Sebuah keputusan yang mungkin akan membuatnya mengkhianati bangsa manusia karena informasi yang diberikannya ini mungkin akan memberikan bantuan kepada Bangsa Zodijak.
Tetapi, tidak ada jalan lain, bukan? Apa yang dikatakan oleh Sevgil tadi menyadarkannya, bahwa Imhotep saat ini adalah musuh sebenarnya yang harus mereka pikirkan. Tujuan utama Imhotep bukan hanya menghancurkan Bangsa Zodijak, tetapi juga menghancurkan manusia.
Dari apa yang dikatakan Imhotep kepadanya dalam pertemuan singkat ketika Mischa diculik, sekarang ini Mischa bisa mengambil kesimpulan bahwa Imhotep ingin menyapu habis semuanya dan menguasai bumi untuk kepentingannya sendiri.
Bisa dibayangkannya ketika Imhotep menguasai bumi ini, dunia akan dipenuhi oleh dua jenis makhluk. Yang pertama adalah makhluk rekayasa genetika buatan Imhotep, yang menurut Imhotep – meskipun sampai saat ini Mischa masih belum mempercayainya – dirinya termasuk di dalamnya.
Mischa yakin Imhotep akan menemukan cara untuk mereproduksi makhluk-makhluk seperti dirinya, yang mengandung genetik Imhotep dan dengan bangganya dia panggil dengan sebutan ‘anak-anaknya’ dan berfungsi sebagai pemasok darah untuk serum dan senjata.
Jenis makhluk kedua yang menguasai bumi juga tak kalah mengerikannya, mereka adalah kaum manusia yang menjual nurani demi apa yang disebut kekuatan, manusia-manusia ini akan menerima suntikan darah dari ‘anak-anak’ Imhotep dan berubah menjadi makhluk dengan kekuatan dahsyat, tetapi tidak memiliki kehendak karena diperbudak oleh Imhotep.
Bumi yang sekarang sudah cukup menyedihkan. Tetapi, bumi yang akan diwujudkan oleh Imhotep akan menjadi neraka sesungguhnya bagi Bangsa Manusia yang tersisa.
Mischa tidak boleh membiarkan itu terjadi. Seperti yang dikatakan oleh Aslan, bahwa musuh dari musuhnya adalah teman, maka sekarang Mischa harus melonggarkan prinsipnya dan bekerjasama dengan Bangsa Zodijak untuk mencapai tujuan tak langsung, yaitu menyelamatkan umat manusia.
Nanti, setelah Imhotep berhasil dikalahkan, setidaknya ancaman mengerikan yang mengancam umat manusia bisa dimusnahkan, dan Mischa akan meminta kompromi kepada Aslan, kompromi yang sudah dijanjikan oleh lelaki Zodijak itu, bahwa dia akan memberikan satu wilayah khusus untuk manusia yang tersisa, jika Mischa mau bekerja sama. Mischa menatap mata Aslan dalam, akhirnya membuka mulutnya.
“Ada yang ingin kuceritakan kepada kalian,” ujarnya dengan penuh tekad, bersiap meluncurkan semua informasi yang diperolehnya dari apa yang dikatakan oleh Imhotep kepadanya sebelumnya kepada Aslan dan saudara-saudaranya.