Inevitable War

Inevitable War
Episode 131 : Menanti



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserve


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




 


“Aslan!”


Mischa berteriak begitu keras hingga tenggorokannya terasa sakit. Suaranya menggema, terpantul oleh bukit pasir yang menjadi saksi bagaimana hebatnya kehancuran di bawah sana.


Seluruh pasir yang membentang luas di area bawah tanah itu rubuh ke bawah, seolah-olah tersedot oleh lubang gelap yang memanggil dari bawah tanah, pasir itu mengalir begitu kuat laksana air bah, menjatuhi lubang itu dengan suara keras dan bergemuruh dengan debu mengepul di udara.


Dan ketika keruntuhan itu selesai, tercipta keheningan berselimut jejak kabut pasir yang tersisa, menyesakkan dada.Setelah kabut pasir nan pekat itu berangsur menghilang.


Mata Mischa membelalak ketika menatap dataran luas di depannya telah menimbun lubang besar itu, menciptakan cekungan dalam yang menodai datarnya lapisan pasir nan sangat tebal di gurun tersebut.


Ekspresi Mischa dipenuhi schock yang amat sangat, matanya nanar, terasa panas oleh pergolakan dalam batinnya yang langsung memompa gumpalan air mata untuk menjebol pertahanan dirinya.


Ketika menoleh ke arah Akrep yang berdiri di belakangnya dan memegang pundaknya untuk menjaga supaya Mischa tidak melompat maju, wajah Mischa telah basah oleh air mata.


“Aslan?”


Mischa akhirnya bisa mengeluarkan pertanyaan dengan suara serak yang bercampur isakan.


Dia tidak tahu kenapa dia menangis, kenapa sekarang kesedihan terasa begitu nyata di dalam jiwa dan merenggut semua pertahanan dirinya. Seolah-olah jantungnya tercabut paksa, menyisakan perih yang menyiksa dalam luka yang semakin lama semakin lebar.


Seharusnya sebagai manusia dan musuh para alien ini, Mischa berpesta pora ketika mengetahui kenyataan bahwa Aslan yang merupakan pemimpin dari Bangsa Zodijak mengalami celaka. Tetapi tidak. Kesedihan begitu nyata, kecemasan meledak di dalam jiwanya sementara harapan seolah bersembunyi, tak berani muncul keluar karena takut terhempas.


Mischa mencemaskan Aslan. Pun dia tak ingin lelaki itu celaka.


Entah bagaimana, dalam kesimpang siuran hubungan mereka berdua yang penuh konflik, ada keterikatan yang terjalin tanpa sengaja, tumbuh begitu erat dengan hadirnya bayi di dalam perutnya.


Apakah Mischa telah mengkhianati kaum manusia yang selama ini dibelanya? Apakah benar kata Imhotep bahwa darah Kaum Zodijak mengalir di tubuhnya dan menguasai akal sehatnya? Apa yang harus Mischa lakukan? Apa yang terjadi pada Aslan?


“Mischa,” Akrep meremas pundak Mischa lembut, membawanya kembali dari lamunan. “Kami akan menyelamatkan Aslan.” ujarnya kemudian.


Mischa mengerutkan kening, menatap kerusakan di depannya dengan tatapan skeptis. Melihat besarnya cekungan yang tertutup pasir itu, Aslan sudah dipastikan terkubur dibawah berton-ton pasir panas bercampur kebakaran di bawah sana.


Mischa tahu bahwa meskipun sebagai Bangsa Zodijak, Aslan bisa dibilang sangat kuat, tetap saja terasa mustahil membayangkan Aslan bisa bertahan di bawah sana.


“Bagaimana caranya?” Mischa menggigil ketika bertanya, takut akan jawaban yang akan diberikan kepadanya.


“Kami akan menggali, lalu masuk,” Akrep menoleh ke belakang seolah menunggu. Dan tak lama kemudian, seperti tepat pada waktunya, suara bergemuruh datang mendekat dari arah belakang, membuat mereka semua menolah.


Tiga buah pesawat datang bersamaan, dua pesawat yang berukuran lebih kecil dan satu lagi pesawat berukuran raksasa berwarna hitam dengan badan pesawat berbentuk segi lima berwarna hitam legam, dengan sesuatu seperti lengan-lengan robot panjang di setiap sudutnya.


Lengan-lengan robot raksasa yang terhubung dengan pesawat itu memiliki sesuatu seperti cakar besar di ujungnya.


“Itu Sevgil dan Khar. Kaza ada di pesawat yang paling besar,” Akrep menjelaskan dengan cepat sebelum kemudian tampak bersiap, “Kaza akan mengeruk pasir lalu Sevgil dan Khar akan menyemprotkan air ke sisa ledakan yang masih membara di dalam sana, setelah itu kami akan melompat masuk.”


Mata Mischa masih tertuju pada tiga pesawat yang datang beriringan itu, ada secercah harapan di benaknya meskipun sisanya masih dipenuhi oleh perasaan ragu.


“Mundur, Mischa. Pergilah ke pesawatku,” Akrep menunjuk dengan suara tegas ke arah satu pesawat besar lain yang terparkir di belakang mereka.


Mischa menolehkan kepala dan begidik ngeri ketika melihat begitu banyak pasukan militer Zodijak yang berkerumun ditempat itu. Mereka semua bertubuh tinggi besar, dengan mata gelap yang menyeramkan dibalut dengan pakaian militer tebal yang lengkap dengan senjata di tangannya. Bagi Mischa yang bertubuh kurus, para pasukan itu layaknya makhluk besar yang bisa menggilasnya tanpa ampun.


“Mereka tidak akan berani menyakitimu. Bahkan mereka tidak akan berani menyentuhmu. Kau milik Aslan dan sudah ditandai. Tidak ada yang berani menyentuh milik Aslan,” Akrep mengucapkan kalimatnya dengan tegas seolah mengerti apa yang berkecamuk di benak Mischa, sebelum kemudian setengah mendorong tubuh Mischa menjauh. “Pergilah, ini akan berbahaya. Percayakan kepada kami,” ujarnya cepat.


Sejenak Mischa merasa ragu dan masih terpaku di tempatnya. Hempasan angin yang dibawa oleh pesawat yang terbang di atasnya membuat rambutnya berkibar dan sebagian menutupi wajah. Tetapi pada akhirnya pikiran sadarnya kembali dan Mischa menyadari tidak ada gunanya dia berada di dekat lubang ini selain membahayakan dirinya sendiri.


Pesawat pengeruk dengan cakar-cakarnya yang panjang itu tampak berbahaya, setelah itu ada bergalon-galon air yang akan disemburkan ke bawah, dan kemungkinan Mischa terkena sambaran tangan raksasa ataupun hempasan air akan cukup besar jika dia memaksakan berada di dekat sini.


Pada akhirnya Mischa melangkah mundur, matanya masih tetap terpaku pada cekungan di pasir tersebut, miris membayangkan Aslan tertimbun di sana. Lalu setelah menghela napas panjang, Mischa membalikkan badan menuju ke arah pesawat yang ditunjuk oleh Akrep untuk berlindung.


Ketika langkahnya semakin dekat dengan pesawat sekaligus dekat dengan pasukan yang sedang berbaris itu, jantung Mischa berdebar kencang, dia menelan ludah, berusaha tidak melambatkan langkah dan menelan rasa takut.


Kemudian tanpa diduga, pasukan Tentara Zodijak yang tadinya berbaris rapi itu tiba-tiba bergerak serentak, membelah barisan dan memberi jalan untuk Mischa dengan ruang yang cukup bagi Mischa guna berjalan leluasa tanpa tersentuh oleh pasukan tersebut.


Mischa sempat tertegun sejenak, tetapi kemudian dia menyadari kebenaran perkataan Akrep bahwa pasukan ini tidak akan berani menyentuhnya. Mischa kemudian langsung berlari membelah barisan pasukan tersebut menuju ke arah pesawat yang tampak begitu besar dari jarak dekat seperti ini.


Ada tangga besar yang menghubungkan antara badan pesawat dengan pasir di bawahnya. Tanpa kata dan tanpa bertanya, Mischa menaiki tangga tersebut dan mendaki sampai ke atas untuk kemudian menjejakkan kaki di lambung pesawat.


Mata Mischa bertemu dengan sosok Natasha yang masih terbujur kaku, dibaringkan di salah satu kursi panjang yang ada di dalam pesawat ini.


Kursi itu sedianya digunakan untuk mengangkut pasukan yang duduk memanjang saling berhadapan dan sekarang Natasha ada di atas sana, dibalut selimut tebal untuk menjaga suhu tubuhnya dari ruang lambung pesawat nan dingin, kontras dengan udara kering dan panas dari padang gurun di luar sana.


Entah kenapa Mischa merasa takut mendekati Natasha. Seolah mereka berdua begitu dekat tetapi juga asing satu sama lain.


Mischa masih belum bisa menerima bahwa dirinya dan Natasha bersaudara. Kalau memang benar apa yang dikatakan oleh Imhotep, berarti Sasha yang merupakan pasangan air suci Kaza juga termasuk saudaranya?


Entahlah, Mischa butuh waktu untuk menelaah apalagi menerima itu semua.


Kata-kata Imhotep yang masih terngiang bagaikan mimpi dan susah untuk dipercaya oleh pikiran logisnya.


Saat ini pikiran Mischa masih terpaku pada usaha penyelamatan yang ada di depan mata.


Menolak untuk masuk dan berlindung ke lumbung pesawat yang lebih dalam, Mischa duduk di lantai lambung pesawat tepat di ambang pintu masuk pesawat supaya dia bisa melihat lebih leluasa dari tempat tinggi dan luas ini.


Mischa menekuk lutut dan memeluknya dengan pandangan mata nanar ke depan. Menanti.




 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author yang berjudul Essence Of The Darkness selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


Terima Kasih.


AY