
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Lorong itu gelap dan hening, dengan suhu tubuh yang membuat bulu kuduk merinding. Sisi lorong ini terletak di bagian paling dasar dari ruang bawah tanah tempat persembunyian mereka. Bagian paling bawah di ruang bawah tanah.
Kale memandang ke sekeliling, tempat orang-orang berpakaian tentara sepertinya berlalu lalang dan sebagian menjaga pintu-pintu yang menyimpan kunci kekuatan mereka, seperti gudang senjata yang berisi senjata serta amunisi dalam jumlah banyak yang dikumpulkan dari berbagai belahan dunia, bahan makanan untuk menyambung kehidupan mereka, dan juga obat-obatan yang dikumpulkan dengan susah payah.
Para penjaga itu menganggukkan kepala ke arah Kale, memberi hormat karena kedudukan Kale sebagai salah satu orang kepercayaan Sang Dokter membuatnya cukup dihormati di area ini dan memperoleh akses bahkan ke bagian-bagian paling rahasia sekalipun di wilayah persembunyian ini.
Langkah Kale tetap lurus dan melewati pintu-pintu penting itu dan dia berjalan terus hingga sampai di sebuah pintu besar berwarna hitam dengan penjagaan yang lebih ketat lagi, untuk kemudian kakinya berhenti, membiarkan ekspresinya nan tegas bertemu dengan penjaga-penjaga yang berpakaian tentara padang pasir sama seperti dirinya.
“Aku hendak mengunjungi pasien nomor satu dan memeriksa keadaannya,” dengan nada suaranya yang biasa Kale menyatakan maksudnya secara formalitas, dan tak perlu menunggu lama sampai para penjaga itu bergerak patuh untuk membuka pintu.
Kale melangkah masuk, ke ruangan luas tempat para peneliti sedang melakukan apapun yang mereka lakukan, sebagian menciptakan obat sebagian lagi menciptakan kekuatan.
Pandangan Kale menyapu ke arah manusia-manusia dengan ilmu pengetahuan tinggi yang sedang sibuk bekerja dan senyum sinis muncul di bibirnya.
Sungguh ironis ketika peperangan hampir menghancurkan bumi, ilmu pengetahuan bukannya digunakan untuk mendamaikan tetapi malahan digunakan untuk menciptakan mesin pembunuh yang lebih dahsyat… Sebuah mesin pembunuh yang akan menggelorakan peperangan itu kembali.
Dirinya mungkin salah satu mesin pembunuh itu, salah satu yang terpilih untuk memimpin dan melatih pasukan khusus yang dikembangkan kekuatannya dengan bantuan penelitian khusus dan menerima suntikan “kekuatan” secara berkala.
Para prajurit yang saat ini sedang disiapkan untuk perang yang lebih besar tidak pernah tahu bahwa suntikan kekuatan yang mereka terima saat ini bukannya diperoleh dari hasil campuran bahan kimia yang merupakan kesuksesan penelitian dari para ilmuwan yang tampak sibuk di bawah ini, melainkan berasal dari sosok tubuh tanpa dosa yang berbaring tak berdaya di sebuah ruangan khusus yang gelap dan dingin nan dijaga ketat tanpa nurani.
Hanya para ilmuwan ini, dirinya dan Sang Dokter itu sendirilah yang mengetahui mengenai rahasia pasien nomor satu ini. Para prajurit lain yang diperintahkan untuk mencari serta memburu manusia lain yang memiliki kriteria darah seperti Natasha tidak pernah tahu bahwa mereka sedang mencari tambahan suplai sumber kekuatan itu sendiri, mereka semua hanya tahu bahwa darah manusia-manusia istimewa ini dibutuhkan sebagai tambahan bahan kimia untuk obat kekuatan mereka.
Yah… bagaimanapun juga, jika mereka ingin menggalang kekuatan, mereka harus berhasil mendapatkan suplai baru. Natasha saja tidak cukup, jumlah darah yang diambil harus dibatasi kalau tidak Natasha akan mati kehabisan darah, padahal mereka harus menjaga Natasha tetap hidup demi kelangsungan kekuatan pasukan mereka, karena itulah suplai kekuatan untuk pasukan mereka juga terbatas.
Sang Dokter memiliki ambisi kuat untuk menciptakan ribuan pasukan dengan kekuatan luar biasa dan tubuh kuat yang bisa menandingi Bangsa Zodijak. Ribuan penelitian telah dilakukan untuk mencoba mengubah manusia-manusia biasa menjadi pemasok kekuatan seperti Natasha, tetapi segala cara yang mereka lakukan tidak berhasil hingga akhirnya Sang Dokter menyerah dan menerima kenyataan bahwa manusia seperti Natasha bukannya diciptakan melainkan sudah ada sejak lahir.
Sang dokter juga meyakini bahwa ada manusia-manusia istimewa seperti Natasha di dunia ini. Karena itulah Sang Dokter mengirimkan pasukannya dalam jumlah besar untuk berburu dan mencari manusia-manusia seperti Natasha ini.
Untuk menemukannya sebenarnya cukup mudah secara teoritis, mereka hanya perlu membawa sedikit darah Natasha lalu meneteskannya pada perempuan-perempuan yang memiliki ciri fisik seperti Natsha karena para ilmuwan menemukan bahwa keunikan darah Natasha ditentukan oleh DNA nya dan siapapun yg memiliki keunikan yang sama akan bisa diidentifikasi dari kemiripannya secara fisik.
Setelah mereka menemukan perempuan dengan ciri fisik yg dicurigai seperti Natasha, mereka tinggal meneteskan satu tetes cairan darah Natasha yang mereka bawa ke perempuan yang mereka curigai itu, lalu mengambil sampel darah untuk melihat reaksinya. Jika perempuan itu sama seperti Natasha, maka warna darahnya akan berubah menjadi biru bening seperti air yang memantulkan cahaya langit, jika tidak, maka darahnya tetap merah.
Sayangnya, penemuan mereka sampai sekarang tetap tidak membuahkan hasil… pencarian mereka berujung nihil.
Entah kenapa sekarang Kale mulai meragu dan berpikir bahwa jangan-jangan Natasha memang hanya satu-satunya di dunia ini… dan jika benar itu yang terjadi, maka kekuatan mereka tidak akan bisa berkembang lebih dari ini, tidak bisa bertambah lebih dari ini, padahal kemarin mereka menyaksikan sendiri betapa masih lemahnya kekuatan mereka ketika kenyataanya, sepuluh orang prajurit terbaik mereka dibantai dengan mudah hanya oleh satu orang prajurit Zodijak.
“Silahkan masuk, Tuan Kale,” seorang ilmuwan berkata sambil membuka pintu kaca buram yang tampak berembun karena ruangan yang ada di baliknya sangat dingin.
Suara ilmuwan itu mengagetkan Kale dari lamunannya hingga mengerjapkan mata. Kale lalu berhasil menguasai diri, menganggukkan kepala sebelum kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan itu.Mata hijau Kale yang tampak berpadu indah dengan rambut cokelat mudanya melirik ke arah beberapa ilmuwan dan penjaga yang ada di dalam ruangan tersebut, lalu dia memberi isyarat dengan tangan.
“Kosongkan ruangan,” perintahnya dengan nada dingin tak terbantahkan.Seluruh manusia yang berada di dalam ruangan itu bergerak patuh lalu segera menyingkir dari ruangan itu sambil menutup pintu di belakang mereka, meninggalkan Kale sendirian bersama sosok pasien nomor satu yang saat ini menjadi pusat pandangannya.
Kale melangkah mendekat, memandang lurus ke arah tubuh Natasha yang terbaring kaku tak sadarkan diri. Wajah Natasha begitu pucat, mungkin karena aliran darahnya melambat akibat ruangan ini memiliki suhu sedingin es, tetapi kecantikannya masih ada di sana, kecantikan yang sama yang terus terpatri di benak Kale yang masih terkenang akan Natasha yang dulu begitu hidup, dengan tawa cerahnya nan renyah berpadu dengan binar di matanya yang begitu indah.
Dulu Natasha selalu tertawa, dulu Natasha begitu cantik, begitu ceria dan menjadi pusat semangat bagi orang-orang di sekelilingnya.
Ekspresi sedih langsung menggayuti benak Kale ketika matanya terpaku pada Natasha yang saat ini begitu berkebalikan dengan Natasha yang dulu. Kesedihan itu begitu menyayat, bercampur dengan penyesalan akan dosa yang dia tahu tidak akan termaafkan, membuat Kale menggerakkan tangan untuk meremas pangkal hidung, menahan air mata yang menyesaki dan mendesak di ujung mata, berusaha membebaskan diri sekaligus melegakan perasaannya.
Kale memejamkan mata ketika segulir bening lolos tanpa bisa ditahan, mengalir di pipinya.
“Maafkan aku Natasha,” bisiknya serak menahan kepedihan, semakin menyayat di tengah ruangan hening tanpa Natasha bisa bereaksi.
Tanpa Kale sadari, di sebuah ruang khusus yang misterius, Sang Dokter tengah mengawasi melalui layar yang tersambung dengan kamera tersembunyi yang dipasang olehnya tanpa sepengetahuan Kale di ruangan tempat Natasha dibaringkan.
Dan ekspresi Sang Dokter ketika melihat apa yang terpampang di depannya begitu mengerikan, dipenuhi kekejaman dan kelicikan tanpa batas.
Mischa selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian lengkap yang telah disediakan untuknya. Setelah itu dia bergegas membuka pintu dan melangkah keluar dari kamar tersebut, tidak sabar untuk menyongsong kebebasan semunya ketika mendapatkan izin langsung dari Aslan untuk keluar dari kamar ini.
Ketika mengancingkan gaun birunya, satu dari banyak gaun yang disiapkan oleh Aslan di lemari pakaian, Mischa tanpa sadar menatap ke arah cermin dan memandang wajahnya.
Rona pucatnya sepertinya sudah memudar, berganti dengan pipi kemerahan yang tampak sehat, pun dengan matanya yang cekung karena menahankan sakit tubuhnya sudah berganti dengan binar mata yang tampak berkilauan.
Mischa menyentuhkan jemari ke pipi, sedikit ragu dengan perubahan dirinya yang baru kali ini dia pikirkan. Memang kalau dipikir-pikir, dia merasa lebih sehat akhir-akhir ini.
Biasanya di malam hari, dirinya harus meringkuk karena menahankan rasa sakit di seluruh sendi dan organ dalamnya, membuat tubuhnya lunglai dan tidak bisa digerakkan. Mereka menyebut kondisinya yang kehilangan daya dan tidak mampu bergerak sebagai ‘flare‘ dan dulu ketika Mischa masih bersama ayahnya, ayahnya sebagai seorang ilmuwan memiliki keistimewaan sehingga mempunyai akses untuk mendapatkan obat serupa steroid yang bisa menghilangan rasa sakit Mischa karena obat penghilang rasa sakit biasa sudah tidak bisa berfungsi.
Tetapi ketika Mischa kehilangan ayahnya, dia harus bertahan dengan kekuatan dirinya sendiri, menahankan rasa sakit tak terperi sambil menggertakkan gigi dan memohon supaya rasa sakit itu reda dengan segera.
Setelah malam-malam dimana Mischa tidak bisa bergerak, biasanya kondisinya mulai membaik dan bisa melakukan segala sesuatu dengan biasa sampai kemudian dia sampai di titik batas dan mengalami flare lagi.
Sekarang bahkan Mischa tidak merasa sakit sama sekali.
Sendi-sendinya yang biasanya terasa nyeri di malam hari tidak terasa menyiksa lagi, dan dia bahkan tidak mengalami flare sama sekali. Padahal jika diingat, betapa tenaganya diforsir setelah tinggal di dalam Istana Bangsa Zodijak tersebut.
Apakah benar kata Aslan bahwa lelaki itu menyembuhkannya?
Tanpa sadar Mischa memeluk dirinya sendiri, matanya memandang ke cermin, ke arah sosok dirinya yang tampak sehat, sosok yang mungkin hampir tidak dia kenali lagi saat ini.
Mischa tidak suka… sungguh tidak suka ketika dirinya harus bergantung pada belas kasihan Aslan hanya untuk bertahan hidup.