
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
“Kenapa kau bertanya kepadaku? Aku datang kemari karena ketidaktahuanku!” Aslan meraung, merangsek ke arah Akrep dan memukul meja di depan Akrep dengan kasar hingga menimbulkan bunyi bantingan keras.
Seluruh ruangan itu hening, tetapi Akrep yang diintimidasi oleh Aslan tampak tidak terpengaruh, lelaki itu malahan tampak sibuk berpikir, setelahnya Akrep malahan mengabaikan Aslan dan menatap ke arah Yesil.
“Apakah kau bisa menemukan jawabannya? Mungkin ini ada hubungannya dengan perubahan molekul air bumi?” tanyanya.
Yesil mengangkat bahu. “Aku sudah mendapatkan banyak informasi dari sisi bangsa Zodijak, tapi tentu saja untuk mengimbanginya, aku juga butuh banyak informasi dari sisi manusia, dari sisi Mischa,” Yesil menatap punggung Aslan yang menegang kaku. “Seandainya saja Aslan mau menurunkan sedikit penjagaannya dan membiarkan aku berbicara dengan Mischa untuk mendapatkan informasi, mungkin aku bisa menemukan jawaban untuk kita semua.”
Akrep menganggukkan kepala, lalu menatap Aslan dengan penuh rasa ingin tahu.“Jadi? Akankah kau membiarkan Yesil mencari informasi dari Mischa?”
“Untuk berapa lama?” Aslan menggeram, menatap Yesil dengan marah.
Sekali lagi Yesil mengangkat bahu. “Pendekatan terhadap Mischa tentu saja berbeda dengan pendekatan yang kita lakukan terhadap tawanan perang atau musuh. Dia istrimu, dia manusia perempuan dan dia kita curigai merupakan manifestasi perwujudan Dewi Air dari Bangsa Zodijak. Aku harus menggunakan pendekatan bersahabat dan meraih kepercayaannya, hal itu tidak bisa dilakukan secara instan.”
Yesil menatap Aslan dengan hati-hati. “Aku sempat memergoki Mischa menatap seluruh peralatan penelitianku dengan sangat tertarik dan dia terlihat familiar dengan beberapa peralatan di laboratorium penelitianku. Mungkin kita bisa menggunakan firasatku itu sebagai titik tumpu awal untuk mengorek informasi dari Mischa. Itu akan berhasiil jika kau mau memberikan izinmu. Kau bisa berpura-pura meminta Mischa supaya menjadi asistenku di ruang penelitian. Dengan begitu Mischa mungkin bisa menurunkan tembok pembatasnya serta mulai memercayaiku. Ketika sebuah kepercayaan diberikan, informasi pun akan mengalir bersamaan. Lagipula, aku pikir Mischa peduli pada Kara, bagaimanapun juga mereka telah menghabiskan waktu bersama dalam pelarian. Aku bisa memintanya membantu merawat Kara…”
“Tidak!”
Suara teriakan terdengar dari dua lelaki di sisi yang berbeda. Semua yang berada di dalam ruangan itu langsung saling menatap, serba salah.
Itu adalah suara Aslan dan Kaza yang meneriakkan ketidaksetujuannya secara berbarengan.
Yesil menatap Aslan dan Kaza dengan jengkel. Dia sudah cukup bersabar dan berusaha supaya saudara-saudaranya bisa berpikir logis. Sayangnya, hal itu tampaknya susah diterapkan kepada mereka-mereka yang sudah membawa watak kepala batu dari sananya.
“Hanya itu satu-satunya jalan,” desah Yesil dengan nada lelah.
Aslan membuka mulut, hendak menyemburkan kata-kata, tapi suaranya terhenti ketika tiba-tiba perhatiannya teralihkan ke arah cincin hitam yang melingkar di jari tangannya.
Cincin yang sekarang dipakainya itu terhubung dengan cincin pengikat yang dipasangkannya ke tangan Mischa. Cincin itu akan berubah warna sebagai peringatan ketika cincin pengikat yang berada di tangan Mischa juga berubah warna.
Dan saat ini, cincin yang semula berwarna pekat gelap itu berubah warna menjadi merah menyala, memberikan tanda tak terbantahkan.
Aslan menggertakkan gigi dengan marah sebelum membalikkan badan dan melesat pergi, diikuti oleh saudara-saudaranya.
Manusia perempuan bodoh itu telah mengabaikan peringatan Aslan dan melanggar batas wilayah yang ditentukan!
Ketika Mischa mencapai ujung lorong gelap yang teramat panjang, napasnya sudah mulai terengah-engah sementara demamnya mulai menyiksa hingga menyebabkan pandangannya mulai berkunang-kunang.
Tempat tinggal Aslan hampir sama seperti tempat lain di dalam istana ini yang pernah dilaluinya. Sebagian besar merupakan labirin yang berwujud lorong gelap bercabang-cabang sehingga membuat Mischa kebingungan. Setiap menemukan lorong yang bercabang, Mischa harus berhenti untuk berpikir sejenak untuk kemudian mengambil langkah sesuai instingnya. Tiap cabang akan membawa ke cabang lainnya begitu terus hingga Mischa merasa dirinya terjebak di labirin tak berujung.
Dalam hati Mischa mengumpat-umpat kepada Aslan karena Lelaki Zodijak aneh itu membuat sistem tempat tinggal yang sangat susah untuk dilalui, bahkan hanya untuk mencari air saja dia sampai kesulitan seperti ini.
Tenggorokan Mischa terasa sakit dan menyiksa, sementara panas yang mendera tubuhnya malahan membuatnya menggigil kedinginan. Akhirnya setelah langkah panjang yang tak berujung, Mischa berhasil menemukan aula luar yang terhampar di depannya, penuh dengan makhluk-mahluk bermata hitam legam yang tampak sibuk berlalu lalang, sebagian bersenjata lengkap dan sebagian lagi mengenakan pakaian khas prajurit Bangsa Zodijak yang sebagian besar didominasi oleh warna hitam.
Tiba-tiba saja Mischa merasa menyesal karena telah menempuh jalan sendirian sejauh ini hanya untuk mencari air. Sekarang dia ingin berbalik arah, tetapi langkahnya tertahan oleh rasa ragu karena dirinya bahkan tidak yakin bisa menemukan jalan pulang untuk kembali ke kamarnya.
Dan sepertinya semua sudah terlambat, karena keberadaan seorang manusia perempuan mengenakan gaun biru yang kontras dengan prajurit Bangsa Zodijak tentu saja menarik perhatian mereka.
Sekelompok prajurit laki-laki bertubuh tinggi yang mengerikan dalam sekejap sudah merubunginya, tidak memberi celah bagi Mischa untuk melarikan diri sementara mereka semua memasang ekspresi garang menakutkan seperti hendak melahap Mischa hidup-hidup.
“Di sini bukan tempat untuk budak manusia. Bagaimana bisa kau terdampar di sini?” salah seorang prajurit itu menghardik dengan suara garang, membuat Mischa terkesiap karena terkejut bercampur ngeri.
Mischa mencoba menjawab, tapi suaranya tidak keluar. Dia baru saja membuka mulutnya ketika sebelah lengannya dicengkeram dengan kasar dan tubuhnya yang lunglai karena menahan sakit serta demam diseret untuk kemudian dilemparkan ke salah seorang penjaga di dekat pintu.
“Bawa budak ini ke area budak. Entah sebodoh apa dia sampai bisa terdampar ke basis prajurit,” prajurit itu memberi perintah kepada penjaga pintu yang segera mengangguk dan menyeret Mischa seolah Mischa barang tak bernyawa, dan membawa Mischa keluar dari pintu.
Mischa tahu bahwa mereka semua mengira bahwa dirinya hanyalah budak yang sudah kehilangan jiwa, kosong selayaknya benda mati yang bisa diperintah semau mereka, karena itulah mereka memperlakukan Mischa selayaknya barang. Tapi Mischa sendiri tidak memberontak, dirinya senang karena dijauhkan dari prajurit-prajurit Bangsa Zodijak yang mengerikan itu.
Setidaknya jika dia dibawa ke area budak, dia akan bersama dengan manusia sejenisnya meskipun manusia-manusia itu tidak berjiwa lagi. Selain itu, Mischa sudah terlalu lemah untuk memberontak, kepalanya terasa pening dan pandangannya mulai kabur, sementara langkahnya terseok-seok mengikuti cekalan dari prajurit penjaga pintu itu.
Mereka berjalan melalui lorong-lorong lagi, lalu sampai disebuah gerbang besar dari bahan metal berkilauan. Penjaga pintu itu membuka gerbang besar tersebut dan sinar matahari langsung menyambut mereka, membuat Mischa memejamkan mata menahan silau, karena sejak dikurung didalam ruangan terus menerus oleh Aslan, matanya perlu beradaptasi ketika harus berhadapan dengan sinar matahari lagi.
Area untuk tempat tinggal budak Aslan mungkin terletak di luar bangunan istana ini.
Mischa masih sempat melamun ditelan kesadarannya yang mulai memudar sebelum matanya menangkap kilasan cahaya dari tangannya.
Dengan susah payah Mischa mengangkat jemari dan kepanikan langsung melandanya ketika melihat bahwa cincin itu telah berubah warna menjadi merah.
Dia keluar dari batas area yang telah ditentukan Aslan!
Mischa menjerit, memikirkan nasib Sasha dan peledak yang dipasang di gelang kaki adik angkatnya itu, menyadari sepenuhnya bahwa dia hanya memiliki kesempatan sedikit untuk kembali mundur ke area yang telah ditentukan Aslan, jika tidak, maka peledak yang ada di kaki Sasha akan terpicu dan meledak.
Sekuat tenaga, dengan sisa kesadaran dan kekuatan yang dimilikinya, Mischa berusaha meronta, mengabaikan rasa sakit yang memukulnya dari semua sisi.
Sayangnya kekuatan seorang manusia perempuan, apalagi yang sedang sakit, sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan Bangsa Zodijak.
Rontaan Mischa untuk meminta berbalik arah kembali ke dalam bangunan istana sia-sia, malah berakhir dengan rasa nyeri dahsyat di kepalanya yang menghantam dan membuatnya kehilangan kesadaran.
“Aku memasang perimeter pembatas di seluruh sisi gedung areaku. Jika cincin ini berubah warna, berarti Mischa ada di batas wilayah,” Aslan berteriak ke arah saudara-saudaranya, “Berpencar ke semua sisi, temukan dia!” perintahnya dengan suara tegas menahankan rasa marah bercampur panik.
Semua saudaranya menganggukkan kepala dan menurut pada perintah itu, sadar akan posisi Aslan sebagai pemimpin mereka. Semuanya langsung bergerak ke berbagai penjuru, berusaha menemukan Mischa secepat dia bisa.
Aslan sendiri bergerak ke satu sisi yang terdekat dari kamarnya, menggertakkan gigi dengan marah karena menyadari bahwa kemungkinan besar Mischa telah mengabaikan perintahnya dan mencoba melarikan diri lagi darinya lagi.
Perempuan bodoh yang merepotkan!
Aslan mengumpat dalam hati ketika dirinya sampai ke perbatasan yang ditandai olehnya, memeriksa kesana dan tidak menemukan apapun. Dia langsung berbalik arah untuk memeriksa area perbatasan lain sambil mengertakkan gigi dan mengepalkan jemari.
Kenapa Mischa tidak bisa menjadi perempuan penurut yang melakukan semua perintahnya tanpa dipaksa? Kenapa dari seluruh manusia perempuan yang lemah itu, dia harus menangani perempuan bebal keras kepala yang tidak mudah untuk ditundukkan?
Ekspresi Aslan benar-benar dipenuhi kemurkaan ketika dirinya sampai di area perbatasan yang lain, memindai dengan cepat dan lagi-lagi tidak menemukan Mischa di sana. Dirinya hampir membalikkan badan untuk melesat ke lokasi perbatasan yang lain ketika Khar tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
“Yesil sudah menemukannya, dia di temukan di batas wilayah yang berhubungan dengan area budak. Salah seorang prajurit mengira dia adalah budak yang tersesat dan hendak membawanya kembali area budak. Beruntung Yesil menemukannya dengan cepat dan langsung membawanya masuk ke istana sebelum cincinnya memicu peledak.”
Aslan langsung menoleh ke arah cincinnya yang sudah kembali berwarna hitam. Ketegangan di wajahnya memudar ketika dia memimpin langkah dan membiarkan Khar mengikutinya.
“Bawa aku kepadanya,” geramnya cepat.
“Aslan,” Khar bergumam dengan hati-hati, menyadari kemarahan yang masih membara di dalam jiwa Aslan. “Bukan salahnya, bukan salah Mischa…. dia bilang dia mencari air dan dia sedang sakit, demamnya tinggi sekali.”
Sejenak Aslan tertegun, tetapi lelaki itu memilih tak bersuara dan kembali mempercepat langkahnya.