
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Mischa baru merasakan sendiri betapa cepatnya Bangsa Zodijak bergerak ketika dirinya dibawa dalam gendongan Aslan dan lelaki itu bergerak seperti kilat seolah terbang melintasi lorong-lorong dan beberapa gerbang untuk kemudian mencapai kembali lokasi sayap istana yang menjadi tempat tinggal Aslan.
Bahkan waktu perjalanan yang mereka tempuh berkali-kali lipat lebih singkat dari yang ditempuh ketika mereka berdua berangkat dengan langkah normal tadi.
Aslan langsung menuju kamarnya, membukanya dengan kasar, membanting pintu itu dengan tak kalah keras, lalu melemparkan Mischa seolah-olah melemparkan benda mati ke atas ranjang.Mischa hanya bisa mengaduh ketika tubuhnya terbanting di ranjang empuk itu, lehernya terasa sakit dan meskipun Mischa berusaha menahan diri supaya tampak kuat, dirinya tetaplah manusia biasa yang bisa merasakan sakit apalagi ketika rasa sakit itu sudah berada di batas ketahanannya.
Aslan melirik ke arah leher Mischa, lelaki itu menyeringai seolah kesakitan. Tangan lelaki itu bergerak untuk mengacak rambutnya dengan frustasi sebelum kemudian beranjak ke ranjang, meletakkan satu lututnya di atas ranjang hingga membuat Mischa refleks beringsut bergerak sejauh mungkin dari Aslan.
“Lehermu,” suara Aslan mendadak serak dan menahan diri. “Kau tidak apa-apa?”
Pertanyaan aneh yang keluar dari bibir Aslan itu membuat Mischa membelalakkan mata dengan terkejut, tidak menduga bahwa lelaki itu alih-alih menanyakan kondisinya, bukan langsung merenggut dan memaksakan kehendak seperti yang biasa dilakukannya.
Dan keterkejutan Mischa yang tidak disembunyikan ternyata membuat Aslan jengkel. Dirinya sendiri bahkan tidak tahu kenapa dia menanyakan itu.
Kenapa dia harus mencemaskan kondisi Mischa padahal baginya Mischa hanyalah manusia rendahan yang tidak berarti?
“Lupakan,” Aslan menggeram dingin. “Kau sepertinya baik-baik saja, hanya sedikit luka tidak akan menyulitkanmu untuk melayaniku,”
Aslan berucap dingin dengan nada kejam, sementara tangannya bergerak melepas mantel panjang yang dikenakannya.
Napas Mischa langsung tersekat, dia melemparkan pandangan jijik ke arah Aslan, menyentuh lehernya untuk mengingatkan lelaki itu.
“Aku sedang terluka seperti ini dan kau akan tetap akan memaksakan kehendakmu?” semburnya dengan nada mencela, mencoba menohok sisi harga diri lelaki itu, kalau lelaki itu masih memilikinya.
Sayangnya, sepertinya Aslan tidak peduli akan harga diri, dia adalah Si Singa dan segala sesuatu yang dilakukannya digerakkan oleh insting liar seorang pemburu nan kejam. Jika dia menginginkan Mischa, maka dia akan mendapatkannya.
“Kau boleh berbaring terluka separah apapun, dan jika aku menginginkanmu, maka aku akan mendapatkanmu.”
Tanpa peringatan Aslan bergerak, menyergap tubuh Mischa hingga berbaring tanpa daya di bawahnya, kedua tangan Aslan bergerak mencengkeram kedua pergelangan tangan Mischa, menahannya di kiri dan kanan sebagai bentuk antisipasi berdasarkan pengalaman bahwa Mischa akan mencakarnya jika terdesak.
“Apa yang kau lakukan kepada diriku, wahai manusia rendahan?” Aslan tampak frustasi, tak bisa menahan diri untuk menghidu aroma Mischa yang membuat darahnya bergolak. “Kenapa kau membuatku menginginkanmu sampai seperti ini?” erangnya parau, lalu tanpa kata membawa Mischa ke dalam pelukannya dan memilikinya lagi.
Hari sudah berganti ketika Aslan duduk dalam keheningan, mengambil kursi yang dihadapkannya ke arah ranjang. Tubuhnya membungkuk ke arah ranjang dengan siku bertumpu pada lutut dan kedua tangan menyatu di bawah dagunya.
Mata hitamnya yang tajam menatap lurus ke depan, ke arah tubuh Mischa yang berbaring lunglai hanya tertutup selimut gelap yang melindungi tubuhnya dari pandangan Aslan.
Baiknya selimut itu harus tetap berada di sana, kalau tidak Aslan tidak akan bisa menahan diri untuk naik kembali ke atas ranjang dan menyentuh perempuan itu lagi untuk memperpanjang masa bulan madu mereka tanpa batas waktu.
Aslan bahkan harus memaksa dan menyeret dirinya untuk turun dari ranjang dan membersihkan diri tadi, melawan sekuat tenaga keinginan untuk terus berada di dekat perempuan itu.
Aslan tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, terhadap wanita manapun, apalagi terhadap manusia.
Dorongan primitif untuk terus memanen perempuan itu… seolah-olah dia ingin membuahinya dan tak akan berhenti sampai berhasil?
Kerutan di dahi Aslan semakin dalam ketika berpikir.
Apakah benar begitu? Apakah dirinya sebagai Si Singa didorong untuk terus berusaha membuahi manusia perempuan yang kemungkinan besar merupakan manifestasi dari perwujudan Dewi Air Bangsa Zodijak?
Tapi hal itu tidak mungkin terjadi bukan?
Meski banyak terjadi hubungan antara Lelaki Zodijak dengan manusia perempuan yang menjadi budaknya, sepanjang sejarah mereka berada di bumi, tidak pernah sekalipun terjadi pembuahan yang berhasil.
Aslan meringis dan memijit pangkal hidungnya dengan marah.
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar dalam kepala Aslan, membuatnya merasa muak hingga akhirnya berdiri dengan marah, mendorong kursinya kasar lalu bergegas meninggalkan kamar sebelum dia tergoda kembali untuk menyentuh Mischa.
Ketika Mischa terbangun, dia merasakan kepalanya begitu sakit seolah tertusuk-tusuk tanpa ampun. Mischa berusaha bangun hanya untuk membiarkan tubuhnya ambruk di atas ranjang. Tangan Mischa bergerak menyentuh dahinya, lalu menelusuri kulit tubuhnya.
Desahan kecewanya keluar karena dia merasa tubuhnya panas sekali. Panas itu mungkin terjadi entah karena dia memang kelelahan, entah karena luka di lehernya yang sekarang makin terasa nyeri dan berdenyut-meminta perhatian.
Mischa berusaha menelan ludah, rasanya sangat sakit ketika dia mencoba melakukan itu.
Dia butuh air minum.
Mata Mischa menatap sekeliling kamar dan menyadari bahwa dirinya sendirian di kamar dan kelegaan langsung meliputi dirinya karena Aslan tidak ada di kamar ini.
Mischa menelan ludah kembali sambil menahan sakit, dia ingin minum tapi tidak menemukan gelas atau poci berisi air yang biasanya tersedia di samping ranjang.
Dengan putus asa, Mischa berusaha mengumpulkan kekuatannya yang tersisa, lalu mencoba bangkit dari ranjang. Setiap gerakannya membuat kepalanya seolah-olah dipukul dengan benda keras, bahkan telinganya berdenging menyakitkan karenanya.
Akhirnya dia berhasil duduk di tepi ranjang dan bergerak perlahan untuk meraih gaunnya yang tadi dicampakkan begitu saja oleh Aslan.
Dengan perlahan Mischa mengenakan pakaiannya kembali, lalu mencoba berdiri meskipun kakinya gemetaran. Langkah demi langkah merupakan perjuangan yang berat, tapi Mischa bisa berhasil mencapai pintu.
Disentuhnya gagang pintu itu dengan penuh harap dan Mischa mendesah lega ketika mengetahui bahwa pintu itu tidak dikunci.
Rupanya Aslan menepati perkataannya akan membiarkan Mischa bergerak bebas di ruangan ini, lelaki itu sepertinya yakin bahwa Mischa tidak akan macam-macam mengingat saat ini ada cincin pengikat yang menentukan keselamatan Sasha di jarinya.
Mischa mengamati cincin itu di jarinya, lalu memejamkan mata sejenak untuk kembali mengumpulkan kekuatan sebelum kemudian membuka pintu.
Langkah pertamanya keluar dari kamar tertahan sejenak, diberati oleh rasa ragu.
Di hadapan Mischa terbentang lorong panjang yang seolah tak berujung, berdinding hitam dan karpet gelap senada bahkan dengan atap yang sama gelapnya.
Ketika keluar bersama Aslan Mischa tidak sempat memperhatikan sekeliling, tetapi sekarang dia sedikit ingat bahwa untuk keluar dari area tempat tinggal Aslan, dirinya harus mengambil langkah ke arah kanan.
Tangan kurus Mischa berpegangan ke dinding dan dengan susah payah dirinya bergerak, langkah demi langkah menelusuri lorong itu.
Dia ingin menemukan air untuk diminum, dan siapa tahu jika dirinya beruntung, dia bisa menemukan lokasi tempat Sasha ditahan.
Aslan memasuki ruangan tempat saudara-saudaranya berkumpul dengan ekspresi muram. Matanya langsung memindai ke seluruh ruangan dan cemberut ketika melihat semuanya lengkap di sana kecuali Kara yang masih belum sadarkan diri.
Bahkan Kaza yang nampak masih kepayahan beserta Yesil pun ada di sana.
Kaza langsung memalingkan muka seolah tidak mau bertatapan mata dengan Aslan, lelaki itu memilih mengalihkan pandangannya ke jendela kaca besar, tempat pesawat-pesawat tempur milik Bangsa Zodijak tampak berlalu lalang melaksanakan tugas patroli dan penyerangannya ke daerah-daerah penaklukan.
Akreplah yang menyapa Aslan, mengangkat sebelah alis dan memecah keheningan yang diakibatkan ekspresi muram Aslan yang langsung menyebar ke seluruh ruangan.
Akrep tentu sudah tahu mengenai insiden di tempat kediaman Yesil, tetapi lelaki itu memilih untuk tidak mengangkatnya ke permukaan karena tahu bahwa hal itu bisa memicu kemurkaan Aslan yang emosinya masih tampak tidak stabil sejak kehadiran Mischa di antara mereka.
Mata Akrep yang awas tentu saja langsung bisa melihat luka cakaran yang masih tampak segar di pipi Aslan, membuatnya tak bisa menahan diri untuk berkata.
“Akhirnya kau berhasil melepaskan diri dari pengantinmu,” ujar Akrep dengan nada menggoda yang langsung disahuti oleh tawa tertahan Sevgil.
Sayang tawa Sevgil langsung berhenti karena Aslan melemparkan tatapan membunuh ke arahnya.
Aslan berjalan ke arah meja besar di tengah ruangan, menuang air untuk dirinya sendiri dan menenggaknya dengan kasar, setelah itu dia setengah membanting gelasnya di meja besar tengah ruangan dan menatap saudara-saudaranya dengan kasar, tatapannya berakhir ke wajah Akrep ketika kemudian dia berkata.
“Jelaskan apa yang terjadi pada diriku karena aku sendiri tidak bisa menjelaskannya,” geram Aslan marah. “Perempuan itu menarikku dan aku tak berdaya. Aku tidak bisa menjelaskannya… aku hanya… hanya…” Aslan menelan ludah dengan marah karena kehilangan kata-kata. Sebagai seseorang yang terbiasa memimpin dan berkuasa, dia benci ketika merasa tidak bisa mengendalikan dirinya seperti ini. “Seolah aku kehilangan akal sehatku dan direnggut oleh hasrat primitif tak terkendali untuk memilikinya.”
Akrep memiringkan kepala, menatap Aslan dengan penuh rasa ingin tahu. “Itukah penyebab kau mengurung diri di kamar dengan pengantinmu berhari-hari lamanya?” pertanyaan itu terdengar seperti sebuah godaan, tapi nada bicara Akrep menunjukkan bahwa dia serius dengan kata-katanya.
Aslan mengerutkan kening marah. “Menurutmu karena apa? Aku bersikap seperti kucing besar di musim kawin yang terus menerus mengejar betinanya. Dan kau tentu tahu kan apa tujuan musim kawin bagi kucing-kucing besar itu?” serunya kasar.
“Untuk reproduksi,” Yesillah yang menyahut cepat, setengah menganggukkan kepala ketika berhasil menyimpulkan. “Yah selain kau pada dasarnya memang membawa kekuatan kucing besar di dalam dirimu.”Yesil berdehem seolah-olah menahan senyum sebelum melanjutkan. “Reproduksi sendiri secara ilmiah disebabkan dorongan alami untuk membuahi pasangannya demi mempertahankan kelangsungan hidup. Seluruh hasrat untuk kawin diantara pasangan didunia ini sebenarnya didorong oleh keinginan melanjutkan keturunan dan mempertahankan eksistensinya di dunia, ”
“Kau ingin membuahi perempuan itu?” Akrep mengerutkan kening. “Tapi kenapa?”
ini adalah versi sensor. Untuk melihat versi lengkapnya silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com, Inevitable War part 10