Inevitable War

Inevitable War
Episode 113 : Terluka



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




Semakin mereka melangkah turun menuju area ruang bawah tanah, semakin mengerikan pemandangan yang terpampang nyata di depan mereka.


Bangunan-bangunan yang ada di sekeliling mereka bukan hanya runtuh, tetapi benar-benar hancur lebur seperti serpihan dan rata dengan tanah.


Akrep memandang ke seluruh area untuk memindai, lalu mengerutkan kening ketika menemukan bahwa jalan masuk untuk menuju area bawah tanah terlah tertimbun reruntuhan bongkahan batu raksasa yang sama sekali tidak menyisakan  celah.


Langkah Akrep terhenti di depan jalan buntu itu sementara Khar dan Sevgil ikut berhenti di berlakangnya. Mata Akrep yang awas mengawasi reruntuhan bangunan tersebut dan ekspresinya berubah gelap ketika menyadari sesuatu.


“Batu ini tidak runtuh secara alami menutup akses ke ruang bawah tanah, tetapi disusun oleh seseorang… seseorang yang sangat kuat untuk menghalangi akses masuk kita,” Akrep menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan bebatuan besar tersebut dan Khar serta Sevgil langsung bergerak membantu.


“Apakah menurutmu tawanan kita, pemimpin pasukan bawah tanah yang kita lumpuhkan itu begitu kuat hingga masih bisa selamat dari ledakan ini bahkan menyempatkan diri mengangkat batu-batu besar untuk menghalangi jalan?” ujar Khar dengan alis berkerut sementara tangannya bergerak cepat menyingkirkan penghalang mereka.


Akrep menganggukkan kepala dengan waspada, “Jangan lupa bahwa kita menghadapi imhotep, Sang Penyembuh kuno yang berarti memiliki ilmu yang sangat hebat menyangkut tubuh Bangsa Zodijak. Mengingat kemungkinan besar dia sudah jatuh serta menyusup ke bumi sejak masa lampau, aku sangat yakin bahwa dia juga memiliki pengetahuan yang sangat besar mengenai tubuh manusia. Memodifikasi manusia pasti sangat mudah baginya. Mungkin saja pemimpin pasukan kaum bawah tanah itu terlihat lemah, tetapi siapa yang menduga apa yang tersimpan di dalam tubuhnya? Bahkan bom yang begini dahsyat pun sama sekali tak terlacak dan tidak kita duga.”


Sevgil yang sejak tadi diam langsung menyela dengan suara waspada.“Kau bilang bahwa musuh kita bergerak keluar dari ruang bawah tanah ini, menurutmu apa yang dia incar?” tanyanya perlahan, menyuarakan pertanyaan yang jawaban sebenarnya sudah mereka tebak dengan pemikiran yang sama.


Ekspresi Akrep menggelap penuh kecemasan sebelum kemudian berkata.


“Aku dan Khar akan menuju ruang penjara bawah tanah untuk melihat kondisi Yesil dan Kara. Sevgil, kau lebih baik pergi ke area Aslan dan menyusul Aslan kalau-kalau dia membutuhkan bantuan. Aku… kita semua pasti menebak hal yang sama bahwa musuh kita sudah memiliki Natasha tetapi tetap mengincar manusia perempuan yang menjadi pasangan air suci Aslan dan Kaza. Jika darah Natasha bisa dibuat menjadi senjata untuk melumpuhkan kita, maka akan sangat menggiurkan bagi musuh kita jika mendapatkan pemasok darah tambahan dari Mischa dan Sasha.”


Akrep menyelesaikan kalimatnya dengan nada mendesak, dan seolah memahami perintah yang tersirat di sana, Sevgil langsung melesat pergi untuk melaksanakan tugas tanpa mengatakan apa-apa lagi.


 



 


Mischa berjalan pelan sambil berpegangan pada lorong sebagai penunjuk jalannya. Baru beberapa lama menembus kabut debu yang semakin pekat, Mischa sudah mulai merasa ketakutan dan sedikit menyesali keputusan nekatnya untuk menembus kabut debu itu seorang diri tanpa mau bersabar menunggu bantuan.


Sekarang di tengah kabut debu yang menghalangi pandangannya, dia kehilangan arah dan navigasi sehingga sepertinya telah tersesat entah kemana.


Kaki Mischa terasa lemah dan dia kelelahan, sementara itu paru-parunya terasa sesak karena menghirup udara kotor sementara sapu tangan yang ditutupkan ke hidung dan mulutnya mulai terasa tidak membantu. Mischa membutuhkan oksigen bersih untuk mengisi paru-parunya, tetapi yang tersedia untuknya hanyalah kumpulan udara yang pekat oleh debu dan minim oksigen, membuat paru-parunya terasa panas karena tersiksa dan seolah ingin meledak.


Perlahan Mischa terbatu-batuk karena tenggorokan dan seluruh area saluran pernapasannya terasa begitu gatal menyiksa, tetapi sayangnya batuk pun tidak membantu karena tenggorokannya malahan terasa semakin gatal memrotes udara mengerikan yang dia hirup yang membuatnya kesakitan.


Mischa menekan sapu tangan pelindung satu-satunya itu di hidung dan akhirnya memutuskan untuk menguatkan diri melangkah lagi.  karena dia tahu bahwa dia tidak akan mendapatkan apa-apa dengan hanya berdiam di kumpulan debu seperti ini.


Langkah kaki Mischa gemetar dan lemah ketika memaksakan diri kembali berjalan, sementara itu keputusasaan semakin mendera ketika setelah beberapa langkah yang begitu menyiksa, Mischa masih belum menemukan ujung dari lorong penuh kabut debu ini sementara paru-parunya semakin terasa panas dan tersiksa.


Mischa mulai terhuyung ketika kemudian matanya yang awas melihat sekelebatan sosok yang bergerak mendekat dari arah berlawanan ke arahnya. Sosok itu tak terlihat, hanya berupa siluet gelap tetapi menunjukkan sosok laki-lagi tegap dengan tubuh tinggi.


Mata Mischa langsung berbinar ketika menyadari bahwa dirinya menemukan secercah harapan.


“Aslan?” seru Mischa penuh harap, tidak menyimpan curiga sama sekali ketika dirinya seolah mendapatkan suntikan kekuatan yang berasal dari taburan harapan, membuat kakinya yang tadinya lemah kembali mampu berjalan menghampiri.


Dan kemudian, dengan setengah berlari, Mischa datang menghambur ke arah sosok tersebut.Belum pernah Mischa merasa sesenang ini ketika hendak bertemu dengan Aslan…


 



 


 


Setelah berlari dengan gerakan secepat kilat menuruni tangga, Akrep dan Khar langsung menuju ke tempat kejadian utama di mana sumber ledakan terjadi.


Puing-puing reruntuhan dan kerusakan begitu parah dan mata Akrep mau tak mau langsung terpaku pada lingkaran besar bekas terbakar yang sepertinya menjadi pusat ledakan.


Siapapun yang berada di tengah lingkaran itu dan meledakkan diri sekarang sudah tidak ada di tempat ini, melarikan diri entah kemana dengan tujuan yang seolah tidak dapat ditahan.


Saat ini semua tergantung waktu. Siapa yang lebih cepat maka dialah yang menang, dan Akrep tentu saja berharap bahwa pihaknyalah yang menang. Dia sungguh berharap musuh mereka tidak berhasil mengambil Mischa maupun Sasha dan memanfaatkannya untuk kepentingan mereka sendiri.


“Yesil!”


Khar berseru dengan nada cemas ketika tangannya bergerak menyingkirkan reruntuhan dan menemukan tubuh Yesil yang jatuh telungkup tak berdaya.


Dengan gerakan sigap Khar mengangkat tubuh Yesil dan matanya dipenuhi kelegaan ketika menemukan Kara yang terbatuk-batuk di bawah tubuh Yesil.


Mata Akrep langsung menelusuri tubuh Kara ketika dia membantu saudaranya itu berdiri dan menyadari bahwa Kara tidak terluka sama sekali, hanya kotor karena timbunan debu puing yang berjatuhan, sementara Yesil…


Khar sedang berlutut, kepalanya menunduk ke arah Yesil yang berbaring tak sadarkan diri di lantai.


Yesil benar-benar tampak porak poranda seperti apa yang terjadi di sekelilingnya. Tubuhnya tampak penuh luka, sekujur kulitnya seolah terkoyak karena ledakan dahsyat itu.


Dan ketika mata Akrep yang tajam mengawasi lebih dalam, sadarlah dia bahwa ada kilau biru yang berasal dari ledakan yang masih mengotori permukaan kulit Yesil, hampir keseluruhan tubuhnya.


Rupanya benar dugaan Akrep bahwa bom peledak itu dibuat dengan menggunakan darah Natasha uang telah dimodifikasi menjadi racun yang bisa meracuni mereka semua.