Inevitable War

Inevitable War
Episode 80 : Belajar



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



 


Hal itu rupanya tidak mempan karena sepertinya Kara tidak memiliki niat untuk beranjak pergi. Lelaki itu hanya mengangkat bahu, lalu tersenyum dan mengangguk ke arah tatapan sedih Mischa karena melihat kondisinya yang masih belum pulih benar, seolah-olah ingin menunjukkan kepada Mischa bahwa dia tidak apa-apa.


“Asalkan aku tetap di sini, tidak mendekat dan menjaga jarak, Aslan tidak akan mengendus aromaku di tubuh Mischa,” Kara mengedikkan bahu ke arah kursi di dekat Yesil sebelum kemudian meminta bantuan. “Bisakah kau ambilkan aku kursi untuk duduk, Yesil? Karena sepertinya pembicaraanku dengan Mischa akan panjang.”


Yesil langsung bangkit berdiri tanpa kata, mengambilkan kursi untuk Kara, lalu membantu Kara duduk dengan hati-hati.


“Kau ingin membicarakan apa dengan Mischa?” tatapan Yesil masih tampak cemas, mengkhawatirkan murka Aslan kalau sampai tahu bahwa Kara memulai percakapan bersama Mischa.


Kondisi Kara sampai saat ini bisa dikatakan belum pulih benar, kalau sampai Aslan marah dan menghajar Kara lagi, Yesil tidak bisa membayangkan betapa sulitnya proses pemulihan yang kedua itu nanti.


“Mengenai menyentuh laki-laki Zodijak,” tatapan Kara lurus ke arah Mischa meskipun dia sedang menjawab pertanyaan dari Yesil. “Aku yang berpengalaman dalam hal ini.. dengan Natasha…” suara Kara berubah serak bercampur kepedihan dalam yang menyayat jiwa. “Mischa tidak memiliki pengalaman apa-apa, kita tidak ingin sampai dia gagal menyenangkan Aslan dan membuat Aslan marah, bukan?”


Yesil ternganga, lalu melirik ke arah Mischa yang menunduk dengan pipi merah padam dan berganti menatap Kara kembali.


“Maksudmu kau akan memberi kursus cara menyentuh laki-laki Zodijak? Kepada Mischa?” tanyanya tak percaya.


Kara menyeringai. “Kalau bukan aku siapa lagi? Kau tidak bisa karena aku tahu pasti bahwa kau tidak memiliki pengalaman disentuh wanita sebelumnya meskipun kau telah bercinta dengan wanita Zodijak,” sahut Kara dengan nada santai, tetapi mampu membuat Yesil tertegun tak bisa membantah.


Pada akhirnya, ketika Yesil berhasil mengeluarkan kata-kata, lelaki itu tampak salah tingkah.


“Aku akan pergi melakukan penelitianku di ruang dalam, kalian boleh bercakap-cakap, tetapi ingat untuk menjaga jarak, Kara, demi keselamatanmu. Kau sendiri yang tahu bagaimana tajamnya indera penciuman Aslan,” Yesil berucap cepat, lalu mengangguk ke arah Mischa untuk berpamitan sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan Mischa hanya berdua dengan Kara.


Kara melirik ke arah Mischa yang masih menunduk dengan pipi memerah, lalu tersenyum pengertian.


“Jangan merasa canggung padaku, Mischa. Aku hanya ingin membantumu.”


Perlahan Mischa mendongakkan kepala, mengamati kondisi Kara dan sinar sedih muncul di matanya.


“Apakah kau benar-benar sudah membaik?” tanya Mischa tak yakin.Kara menatap keseluruhan dirinya, lalu terkekeh tanpa beban.


“Kondisiku sudah benar-benar baik dibandingkan yang terakhir kali, percayalah,” dengan jenaka Kara mengedipkan sebelah mata. “Aku bahkan sudah bisa mondar-mandir di kamar dengan mudah. Tadi aku mencoba berjalan menyusuri lorong dan mendengar suaramu. Aku tak bisa menahan diri untuk mendekat.” tatapan Kara melembut. “Kau sendiri? Apakah kau baik-baik saja?”


Mischa mengangguk malu-malu, menatap Kara dalam senyum bingung.“Aku baik-baik saja. Aku kuat,” ucap Mischa pelan seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Senyum Kara melebar. “Kau wanita yang kuat. Hanya wanita kuat yang bisa menangani lelaki Zodijak,” tatapan Kara lalu berubah serius. “Sekarang karena kita akan membahasnya dan karena hanya aku yang bisa membantumu, aku mohon kau buang semua rasa canggung dan malu. Kita memang baru saja bertemu dan tidak akrab, tetapi percayalah, aku merasa dekat denganmu, mungkin karena kau begitu mirip dengan Natasha, dan kuharap kau merasakan hal yang sama.”


Tak ada kata yang bisa terucap dari bibir Mischa mendengar perkataan Kara itu, dia hanya menganggukkan kepala sekali lagi dan menunggu. Kara sendiri langsung bertanya,


“Apakah benar Aslan menyuruhmu menyentuhnya?” ujarnya kemudian.


Mischa sendiri kembali mengerutkan kening mendengar pertanyaan itu, karena sekali lagi dia mendengar nada tidak percaya yang kental di sana. Tetapi dengan menyingkirkan pikirannya, Mischa memilih menjawab dengan jujur, tahu bahwa Kara tidak akan menjerumuskannya.


“Ya. Aslan menyuruhku berlatih menyentuhnya ketika…” suara Mischa hilang ketika hendak mengatakan tentang adegan di atas ranjang dan bingung untuk menyebutnya dengan ungkapan apa. Pada akhirnya Mischa hanya terdiam, menatap Kara sambil berharap lelaki itu tahu apa yang dimaksudkannya. Dan syukurlah lelaki itu mengerti, bisa dilihat dari anggukan kepalanya. “Itu semua.. sebagai imbalan agar Aslan mau meletakkan Sasha di bawah perlindungannya.”


Kara tampak berpikir, memikirkan tentang tawaran Aslan itu. Sebenarnya dengan Sasha berada dalam perlindungan Aslan, posisi Sasha akan lebih aman, karena saat ini Kaza masih tidak bisa diharapkan dan Kara mengenal saudara kembarnya dengan sangat dalam.


Kara tahu ketika Kaza sedang berada dalam penyangkalan, saudara kembarnya itu akan mencoba segala macam cara untuk menyingkirkan Sasha dan tidak menutup kemungkinan bahwa Kaza akan melukai Sasha entah sengaja atau tidak sengaja.


Dia harus mendukung upaya Mischa untuk meletakkan Sasha di bawah perlindungan Aslan, sampai Kaza siap menerima kenyataan akan keterikatannya dengan Sasha.


Lagipula cukup menyenangkan melihat Kaza nanti kalang kabut ketika Sasha dipindahtangankan di bawah kekuasaan Aslan sementara Kaza sendiri tidak bisa memperjuangkan Sasha karena dia masih sombong dan penuh penyangkalan.


Perhatian Kara kemudian teralih kembali ke arah Mischa yang menunggu, dan tatapannya kembali serius.


“Apakah kau tahu, Mischa? Bahwa laki-laki Zodijak tidak pernah disentuh oleh wanita seumur hidupnya?” ujar Kara kemudian, membuat Mischa membelalakkan mata, gantian terkejut.


“Tidak pernah disentuh?” Ingatan Mischa langsung berputar pada kontrak pernikahan para lelaki Zodijak dengan perempuan Zodijak yang melahirkan keturunan dalam jumlah banyak dalam sekali waktu kehamilan, belum lagi dengan pengetahuan yang didapat dari ayahnya bahwa lelaki Zodijak biasanya memiliki banyak kekasih dari kaum perempuan yang sudah lepas dari kontrak pernikahan.


Mischa memang lugu, tetapi dia tahu bahwa untuk menghasilkan seorang anak, sama seperti halnya manusia, kaum zodijak butuh melakukan proses pembuahan. Bagaimana mungkin proses pembuahan bisa berlangsung jika laki-laki Zodijak tidak pernah disentuh?


“Ya, itulah yang terjadi,” Kara bergumam sambil menganggukkan kepala, seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran Mischa. “Kaum perempuan Zodijak dilarang menyentuh pasangannya. Mereka diharuskan berbaring diam seperti patung dan tidak boleh menyentuh kami, kaum laki-laki, ketika dibuahi atau ketika proses bercinta.”Kara tidak memedulikan wajah Mischa yang kembali memerah karena kata-katanya yang vulgar. “Menyentuh kaum laki-laki, bahkan yang sudah terikat kontrak pernikahan pun, dilarang oleh hukum kami. Karena di Bangsa Zodijak, lelaki dipandang memiliki kelas yang sangat tinggi, dan seorang perempuan Zodijak yang berada di kelas jauh di bawahnya, tidak pantas untuk menyentuh kami, kaum laki-laki ketika bercinta.”


“Jadi… jadi maksudmu, kalau aku menyentuh Aslan, aku akan dihukum oleh hukum bangsa kalian?” Mischa bertanya terbata dengan ekspresi ngeri setelah berhasil mencerna kata-kata Kara.


Kara langsung menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Mischa.


“Tidak, bukan begitu. Hukum itu tidak berlaku kalau pihak laki-lakinya sendiri memberikan izin bagi para perempuan pasangannya untuk menyentuh. Sayangnya, setahuku, sampai saat ini hal itu tidak pernah terjadi, karena kami dibesarkan dengan doktrin bahwa drajat kami lebih tinggi, dan membiarkan kaum wanita yang lebih rendah menyentuh kami adalah sebuah kesalahan.”


Kara menghentikan perkataannya sementara tatapan matanya menerawang, meredup dalam senyuman sendu. “Tetapi aku adalah pengecualian pertama. Aku dulu juga memiliki pikiran yang sama, sampai aku bertemu dengan Natasha. Ketika Natasha mengulurkan tangan untuk menyentuh pipiku ketika kami bercinta, dadaku seakan meledak oleh rasa sesak karena bahagia. Lalu dia menyentuhku lebih dan lebih lagi, dan saat itulah aku sadar, bahwa pelukan dan sentuhan wanita ketika kami bercinta bukanlah suatu kesalahan, itu terasa sangat…” Kara menghentikan kalimatnya, seolah bingung untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan. “Sangat… hebat,” sambungnya kemudian sambil tersenyum lebar.


Mischa terpesona. Menatap mata Kara yang berpendar penuh cinta ketika membicarakan Natasha membuatnya menyadari bahwa meskipun terlahir sebagai lelaki Zodijak, Kara memiliki hati lembut layaknya manusia. Dan saat ini Kara tampak begitu rapuh, membuat Mischa merasa ingin melangkah maju, mendekat ke arah Kara dan memberinya pelukan bersaudara untuk saling berbagi kekuatan.


Tetapi tentu saja Mischa tidak akan melakukannya, dia sudah pasti tidak ingin Kara menjadi pelampiasan kemarahan Aslan seperti sebelumnya.Kara sendiri menggelengkan kepala, tampak berusaha keras mengusir kenangan yang menggayuti pikirannya, lalu mengangkat kepala dan menatap Mischa dengan penuh tekad.


“Aslan memiliki harga diri yang sangat tinggi dibandingkan kami semua. Dan sekarang dia memberimu kesempatan untuk menyentuhnya, tetapi tentu saja keangkuhannya yang sangat tinggi akan merepotkanmu nanti. Aku akan mengajarkanmu bagaimana cara menyentuh Aslan nanti dan menyenangkannya, bukannya membuat Aslan marah.”



 


Berbeda dengan malam sebelumnya, malam ini Mischa tidak bisa tidur.


Yang pertama dia khawatir percakapannya dengan Kara tadi siang akan terendus oleh Aslan dan menimbulkan masalah baru bagi Kara, dan yang kedua karena apa yang diajarkan Kara kepadanya terasa begitu menghantui bahkan ketika malam menjelang semakin larut seperti sekarang ini.


Lalu langkah itu terdengar mendekat, dan Mischa langsung menduga  dengan tepat siapa yang datang menjemputnya tengah malam begini.


Matanya melirik cemas ke arah Sasha, memastikan bahwa anak itu sedang tertidur lelap dan langsung bernapas lega ketika demikian adanya.


Mischa tahu bahwa Aslan tidak akan mau repot-repot menggunakan mata palsunya demi Sasha dan hal itu akan membuat Sasha amat ketakutan kalau sampai dia terbangun dan menemukan Aslan ada di kamar ini.


Tirai itu terbuka, dan Aslan muncul, menatap Mischa dengan ekspresi datar tak terbaca. Keduanya diam cukup lama, seolah-olah sama-sama berantisipasi akan apa yang terjadi kemudian, lalu Aslanlah yang memecah keheningan di antara mereka dengan mengulurkan telapak tangannya ke arah Mischa dan melemparkan tatapan arogan kepada istrinya.


“Ayo, pulang,” ujar Aslan sambil tak lupa menyelipkan nada penuh perintah di sana.


Mischa menatap ke arah telapak tangan Aslan yang terbuka menghadapnya, lalu beranjak dari duduk dan dengan berani mengabaikan uluran tangan Aslan lalu berjalan melewati laki-laki itu dengan ekspresi tak peduli.


Aslan menatap punggung perempuan kurus keras kepala yang berjalan menjauh memunggunginya dengan marah, tetapi dia menahan diri dan membiarkan Mischa berbuat semaunya.


Kali ini kesabarannya harus mendapatkan imbalan setimpal, Mischa harus benar-benar bisa menyenangkan dirinya malam ini, sebagai timbal balik kesabarannya.


 



 


“Apakah kau ingin mandi dulu?”


Aslan bertanya datar ketika mereka memasuki kamar dan Aslan menutup pintu di belakangnya, ditatapnya Mischa yang berdiri dengan canggung di tengah kamar, seolah bingung ingin menempatkan dirinya di mana.


Yah, mau bagaimana lagi, mereka hampir tidak pernah bercakap-cakap dengan baik di kamar ini, jika tidak sedang beradu argumen, mereka akan bercinta habis-habisan, hanya dua kegiatan utama itu yang mereka lakukan.


Tapi kali ini berbeda. Kali ini Aslan memutuskan untuk memberi izin Mischa menyentuhnya dan Aslan dipenuhi akan rasa ingin tahu yang mendera, ingin tahu seperti apa rasanya ketika Mischa menyentuhnya.


“Aku sudah mandi,” Mischa menjawab cepat, tidak mau menatap langsung mata Aslan, “Kau… kau mandilah dulu, aku menunggu di sini.”


Aslan menyipitkan mata ketika kesabarannya mulai terusik kembali. Penolakan Mischa ini mengganggu dirinya, seolah-olah Mischa ingin mengulur-ngulur waktu supaya tidak segera bersentuhan dengannya. Harga dirinya langsung memuncak, membuat tangannya bergerak dan mencengkeram pergelangan tangan Mischa dengan erat.


“Tapi aku ingin kau temani mandi,” Aslan menarik Mischa mendekat, membiarkan Mischa menabrak dadanya. Mischa sendiri mengaduh dan mencoba melangkah mundur menjauh meskipun Aslan dengan segera menahannya.


“Apakah kau tidak mendengar bahwa aku sudah mandi?” Mischa memekik, berusaha melepaskan cengkeraman Aslan di tangannya.


“Aku tidak mau mandi lagi, kenapa kau ini?”


“Kau tidak boleh menolak perintahku. Jika aku ingin kau masuk ke kolam mandi dan mandi bersamaku, maka kau harus melakukannya,” Aslan melangkah menuju ruang mandi, setengah menyeret Mischa dengan tekad tak terbantahkan.


“Aslan!” Mischa meronta sambil menjerit, berusaha membatalkan niat Aslan sambil berteriak.


“Bukankah kau ingin aku menyentuhmu di ranjang? Bukan di kamar mandi?!” serunya kemudian dengan nada putus asa ketika Aslan telah membuka pintu ruang mandi dan dia diseret melewati ambang pintu.


Langkah Aslan terhenti, lelaki itu menoleh dan mengawasi Mischa dengan tatapan mata mengintimidasi dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum kemudian menjawab dengan senyum penuh ironi tersirat di bibirnya.


“Siapa bilang aku hanya ingin disentuh olehmu di atas ranjang? Aku ingin disentuh olehmu dimana-mana.” jawabnya singkat, penuh hasrat.


 



Catatan Author : Jangan berharap lebih, adegan berikutnya mungkin akan disensor habis-habisan wkwkwkwkw. Untuk versi uncutnya, silahkan ke Projectsairaakira dot com, Inevitable War Part 25 : Come To Heel ( 2 )