
Alex dan Nadia mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerja mereka. Alex yang berada di Jakarta menatap pemandangan kota melalui kaca besar yang ada di belakangnya, pikirannya melayang pada wanita yang sangat dirindukannya saat ini. Membayangkan wajah Nadia yang tersenyum manis ketika menerima karangan bunga darinya, dan kini senyum itu menular padanya.
Sedangkan Nadia yang kini berada di Bandung duduk termenung di ruangannya. Ia menatap kosong ke sembarang arah sambil membayangkan Alex dan apa yang kira-kira sedang dilakukan lelaki itu di Jakarta.
"Baru 2 hari terpisah tapi kenapa begitu terasa menyiksa," keluh keduanya bersamaan. Meksipun jarak membentang diantara keduanya tapi hati mereka terpaut satu sama lain hingga memiliki perasaan yang sama.
Alex mengatakan jika Nadia boleh pergi tapi kini ia sangat merana. Sedangkan Nadia, ia lah yang memutuskan untuk pergi dari kehidupan Alex tapi kini ia pun merasa sangat tersiksa.
Alex dan Nadia kembali meraih ponsel mereka, membuka pesan singkat yang tadi mereka terima dan membacanya lagi berulang kali. Menarik nafas dalam sambil memejamkan mata, menikmati rasa rindu yang kian menyiksa.
Alex menekan kontak Nadia dan melihat profil istrinya itu, tak ada photo Nadia di sana hanya kutipan kata yang mungkin sedang istrinya itu rasakan.
"Cinta tak selamanya saling memiliki, tapi cinta sejati akan kekal abadi dalam hati," baca Alex pelan dan ia pun tersenyum ketika berpikir kutipan kata-kata cinta itu ditujukan untuknya.
"Tapi aku..." gumam Alex lirih sambil terus memperhatikan kata-kata itu.
"Aku harus miliki kamu," lanjut Alex sembari memejamkan mata. "Kamu diciptakan oleh Tuhan hanya untuk menjadi milik aku, Sayang," kembali Alex bergumam dengan lirih. Jemarinya menghapus nama Nadia huruf demi huruf dan menggantinya dengan kata 'Sayang ❤️' kemudian menyimpannya.
Nadia pun melakukan hal yang sama. Saat ini ia sedang menatapi nama Alex yang kini terpampang nyata di layar ponselnya. huruf demi huruf Nadia hapus dari nama Alex dan hendak menggantinya, namun ia berpikir untuk beberapa saat mencari nama yang tepat untuk suaminya itu.
Lama berpikir, akhirnya Nadia mengurungkan niatnya. Ia kembali mengetikkan nama Alex di sana dan menyimpannya lalu keluar dari aplikasi pesan tersebut.
"Memikirkan mu tak ada habisnya," keluh Nadia. Ia pun segera menyimpan ponselnya di dalam laci meja kerjanya dan memulai kembali pekerjaannya.
Alex mendes*h kecewa ketika mendapati status Nadia tak lagi online, ia yakin jika istrinya itu sudah mengenyahkan ponselnya.
"Aarrgghh," erang Alex kesal. Ia pun kembali tenggelam dalam pekerjaannya dan berusaha melupakan Nadia untuk sejenak saja.
***
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah hampir satu Minggu semenjak kepergian Nadia. Alex berdebar cemas karena istrinya itu akan melayangkan gugatan cerai padanya.
Alex lakukan berbagai cara agar Nadia mengulur waktu gugatannya, karena Alex sangat tak ingin berpisah namun ia juga belum bisa menemui sang istri karena urusannya yang belum selesai. Salah satu cara yang Alex lakukan adalah membuat Nadia sibuk dengan pekerjaannya.
Dengan koneksi dan pengaruh yang ia punya di dalam perusahaan sang istri membuat Alex bisa sedikit mengendalikannya. Setelah pengiriman karangan bunga itu keduanya tak lagi saling berhubungan. Keduanya saling memberikan kesempatan untuk menata hati masing-masing walaupun rasa rindu yang datang kian menyiksa.
Alex bernafas lega saat orang kepercayaannya mengatakan jika menjelang akhir pekan Nadia masih berada di Bandung untuk menyelesaikan pekerjaannya. "Jaga terus istriku dengan sebaik-baiknya," titah Alex tak terbantahkan.
"Maafkan aku yang membuatmu sibuk ,Sayang. Bersabarlah sedikit lagi kita akan bertemu," lirih Alex sembari memejamkan matanya.
"Pak Henry, pengacara anda telah datang," ujar Joy yang tanpa Alex sadari sudah berada di hadapannya. Terlalu larut dengan lamunannya membuat Alex tak mendengar jika pintu ruangannya telah diketuk berulang kali.
"Maaf saya lancang masuk karena anda tak juga menjawab ketukan pintu," ucap Joy.
"Tidak apa, tadi saya sedang menerima telepon," sahut Alex beralasan dan Joy pun tersenyum maklum. Padahal sebenarnya Joy tahu jika bossnya itu kembali melamun seperti yang Joy pergoki sebelumnya.
Ya, berulang kali Joy mendapati Alex tengah melamun dengan wajahnya yang terlihat sendu bahkan kemarin sore ketika Alex akan pulang meninggalkan ruangannya lelaki itu berjalan dengan tertunduk lesu dan tak peduli akan orang-orang di sekelilingnya yang memperhatikan.
Alex membereskan mejanya dan berdiri untuk beranjak pergi, di ambang pintu pengacaranya berdiri tanpa Alex persilahkan masuk.
"Kita langsung pergi saja, aku ingin semua masalah ini segera selesai," ucap Alex dan sang pengacara pun mengangguk patuh.
Siang ini Alex akan mengunjungi Lola yang kini sudah menjadi seorang tahanan. Bukan inginnya Alex bertemu wanita itu tapi panggilan dari pihak kepolisian yang mengharuskan Alex datang dan kesempatan ini ia gunakan untuk berbicara dengan Lola yang katanya masih terus mengelak walaupun bukti-bukti telah terkumpul.
Lama berkendara akhirnya mereka tiba di kantor polisi. Alex keluar dari mobil diikuti pengacaranya, ia memasuki ruangan khusus dan tak lama keluar lagi ditemani seorang petugas yang akan mengantarkannya menemui Lola.
Alex memasuki ruangan lain yang ukurannya tak begitu besar ditemani petugas itu dan juga pengacaranya. Ia menanti dan tunggu kedatangan wanita yang dulu pernah mengisi hidupnya tapi kini sekedar melihatnya saja Alex merasa tak sudi.
Derit pintu yang terbuka terdengar begitu jelasnya, membuat semua yang berada di ruangan itu menolehkan kepalanya ke arah suara. Lola yang kini mengenakan baju berwarna jingga khusus tahanan datang dengan tongkat penyanggah yang membantunya untuk berjalan karena kini ia kehilangan sebelah kakinya.
Mata Lola mengembun ketika melihat kehadiran Alex di sana, "Sayang," ucap Lola sembari menumpahkan air matanya tapi Alex balas menatapnya dengan muak.
Lola ditemani 2 petugas polisi yang mengawalnya, Alex yang meminta itu, ia ingin pengawasan pada Lola Lebih ketat dari tahanan yang lainnya.
"Kamu datang untuk membawa aku pergi dari sini kan ?" tanya Lola. Matanya menatap Alex lekat-lekat, ia tak mempedulikan kehadiran orang lain di sekitarnya.
Mata hitam Alex berkilat penuh amarah melihatnya, seandainya tak ada orang lain disana bisa jadi Alex akan mencelakai wanita itu. "Alex percayalah, aku tidak melakukannya. Lelaki itu menjebak aku," ucap Lola meyakinkan Alex.
Alex yang mendengar itu tersenyum miring, sungguh ia merasa muak pada Lola yang masih berusaha menipunya.
"Sayang, kamu pasti percaya padaku kan ?" tanya Lola lagi.
Alex lemparkan satu map yang berisikan beberapa lembar kertas. "Baca !" titah Alex tak terbantahkan.
Lola meraih map itu, tapi matanya tertuju pada jemari Alex yang kini berhiaskan cincin pernikahannya. Ia pun merasakan ngilu dalam hatinya.
"Pantas saja sebagai sesama wanita kamu sama sekali tak punya rasa empati ketika Nadia dan aku kehilangan calon buah hati kami, karena kamu sendiri sebagai ibu begitu tega meninggalkan anak mu hanya agar kamu bisa menemukan kesenangan mu," lanjut Alex. Suaranya terdengar lebih dingin dari sebelumnya.
Lola yang mendengar itu berkerut alis tak paham, laku ia buka map itu dan lembaran kertas pertama yang ia lihat adalah sebuah logo pengadilan San Fransisco di bagian kop surat.
"A-apa ini ?" tanya lola sedikit cemas juga lemas.
Ia baca kertas itu dengan seksama dan tak butuh waktu lama air matanya tumpah membasahi wajahnya yang kini terlihat ketakutan.
"Tidak...," gumam Lola sembari menutup mulutnya tak percaya.
"Tidakk... jangan anakku," ucapnya lirih.
"Kini kamu bisa rasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kita cintai bukan ?" tanya Alex. Rahangnya mengeras ketika ia menanyakan hal itu.
Lola tak menjawab, ia masih sibuk membaca kertas-kertas yang Alex berikan. Kekasihnya Andrew Bright yang kini buron akan di deportasi ke Belanda untuk menjalani hukumannya dan seluruh hartanya telah berpindah tangan ke istrinya yang sah. Sedangkan anak Lola diambil alih hak asuhnya oleh pemerintah hingga ia menemukan keluarga yang baru untuk menjadi pengasuhnya.
Lola tak lagi diizinkan mengasuh anak kandungnya sendiri bahkan ia diberikan peringatan agar tidak menemui atau mendekati anaknya karena wanita itu terbukti menelantarkan anaknya sendiri berhari-hari di apartemennya.
Anak Lola yang masih berusia 6 tahun ditinggalkan begitu saja hingga ia harus bertahan hidup dengan memakan sayuran mentah yang ada di dalam kulkas. Beruntung baginya pengurus apartemen mendapatkan keluhan dari tetangga Lola yang mengatakan bahwa ia mendengarkan tangisan seorang anak berhari-hari lamanya dari unit apartemen yang Lola tinggali hingga anak perempuan Lola bisa diselamatkan.
Hari di mana Lola melarikan diri ke Indonesia untuk mengejar Alex kembali, ternyata sang kekasih pun sama-sama melarikan diri karena ia tak mau masuk penjara dan meninggalkan putri mereka begitu saja.
"Tidakkk... jangan ambil anakku...," teriak Lola begitu histeris. Kini ia tak lagi bisa menemui anaknya karena sangsi berat menantinya jika ia nekat untuk bertemu anaknya.
"Setelah hukuman mu disini berakhir, kamu akan langsung terbang ke San Fransisco untuk mendapatkan hukuman mu yang lain Dan untuk anakmu, aku harap ia menemukan keluarga yang baik dan tulus sayang padanya tidak seperti kamu dan kekasih mu," ujar Alex penuh penekanan.
Karena terlalu mementingkan dirinya sendiri dan menghalalkan segera cara untuk mendapatkannya, pada akhirnya Lola kehilangan segalanya.