
"Apakah kamu memiliki Pria idaman lain ? Apakah kamu mengkhianati aku, Nadia ?"
Mata Nadia langsung membola, ia sungguh tak suka dengan tuduhan suaminya itu.
"Kamu hanya pergi dua hari saja dan itupun kamu menelepon aku setiap waktu ! Selebihnya kamu selalu bersamaku ! Di kantor pun kamu selalu berada di ruangan yang sama denganku ! Hampir 24 jam aku bersamamu, Alex !!" jawab Nadia tak terima
" Katakan padaku, Alex !! bagaimana caraku berselingkuh jika kamu terus menempel padaku !!" Sahut Nadia dengan suara meninggi. Air bening berhamburan keluar dari matanya. Sungguh ia tak terima apa yang Alex tuduhkan padanya.
"Apa kamu lupa ? Aku yang jatuh cinta padamu lebih dulu, dan rasa cinta itu tak pernah pudar. Rasa cinta itu tumbuh semakin besar padamu Alex ! Walaupun kamu sangat menyebalkan seperti sekarang ini !!" Lanjut Nadia sembari menghentakkan kakinya kuat-kuat di atas lantai sebelum ia pergi ke kamar tamu dan mengunci diri di dalamnya. Ia tak mau melihat wajah Alex lama-lama.
Nadia jatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan menangis hebat di sana. Entah mengapa ia merasa begitu tersinggung dengan apa yang Alex ucapkan. Bagaimana bisa Alex menuduhnya seperti itu ?
Lelaki itu selalu berada dekat dengannya, bahkan Nadia hampir tak punya waktu untuk dirinya sendiri.
Nadia masih bergelut dengan pikirannya sendiri, sedangkan di luar sana Alex masih terdiam di tempatnya berdiri. "Papa ?" Tanya Nadine sambil terisak. Tanpa Alex sadari gadis kecilnya itu sudah menangis. Ini adalah pertama kalinya Nadine melihat Mama dan Papanya bertengkar.
"Sayang...," Alex pun meraih gadis kecil itu dalam pangkuannya.
"Kenapa Mama dan Papa ?" Tanya nya masih diiringi isakan tangisnya.
"Sssttt.. tenanglah... Tak ada apa-apa Sayang. Nadine sama mbok dulu ya, boleh makan es krim di dapur. Biar Papa bicara dulu sama Mama," bujuk Alex.
"Nadine boleh makan dua scoop ?" Tanya gadis itu dengan wajah polosnya.
Alex tersenyum, dan mencium gemas pipi putri kecilnya itu. "Boleh, Sayang. Apapun untukmu," ucapnya sembari membawa Nadine ke dapur.
"Aku ingin Papa yang ambilin es krimnya dan jangan lupa pakai mangkuk gambar beruang," pinta gadis kecil itu dengan manja dan tentu saja Alex tak bisa menolaknya.
Setelah menyediakan semangkuk es krim untuk Nadine, Alex pun kembali pada istrinya yang mengunci diri di dalam kamar tamu. Ia akan berbicara dan memperbaiki hubungannya dengan sang istri.
Apa yang Nadia ucapkan memang benar adanya. Ia selalu menempel pada istrinya itu hampir setiap waktu. Ruang gerak Nadia yang sempit membuat istrinya tak mungkin berselingkuh tapi kenapa Nadia berubah dalam waktu yang sekejap saja ? Dan itu membuat Alex sangat tersiksa hingga ia tak bisa mengontrol ucapannya.
Alex mengetuk pintu kamar tamu itu berulang kali, tapi Nadia masih tak Mau menampakan diri.
"Sayang... Ku akui, aku yang salah... Aku minta maaf," ucap Alex dari balik pintu.
"Bisakah kita bicara sebentar ? Kita cari dimana letak salahnya dan perbaiki lagi semuanya. Aku kangen kamu," ucap Alex lagi terdengar nelangsa.
Nadia pun bangkit dan berjalan menuju pintu . Bukannya tak ingin berbaikan, dan bukan juga tak Ingin menyelesaikan masalah tapi ia masih belum bisa bertemu suaminya itu. Ada dalam dirinya yang menolak untuk berdekatan dengan Alex dan Nadia pun tak mengerti kenapa.
"A-Alex," sahut Nadia terbata-bata.
" Ya Sayang..... Aku di sini. Maafkan aku...," Timpal Alex cepat.
"Bolehkah aku minta waktu untuk diriku sendiri ?" Tanya Nadia takut-takut.
"Ya... Bisakah kamu biarkan aku sendiri dulu?"
"Tapi aku sudah minta maaf dan aku mengaku salah," potong Alex.
"Iya, dan aku sudah memaafkanmu.... Tapi...,"
"Tapi apa ?" Tanya Alex tak sabaran. Ia menggerakkan gagang pintu berharap Nadia telah membuka kuncinya tapi apa yang Alex harapkan tak sesuai kenyataan.
"Tapi aku ingin sendirian, tanpa kamu," jawab Nadia dari balik pintu.
Alex tercengang, dirinya langsung terdiam tak bisa berkata-kata. Bagai petir menyambar di siang hari yang cerah. Awan mendung langsung menyelimuti hatinya.
"Kenapa tak mau dekat denganku, Sayang ?" Tanya Alex frustasi.
"Entahlah, aku gak tahu..., Tapi please... Berikan aku waktu untuk sendirian" Jawab Nadia seraya memohon.
Cukup lama Alex terdiam dengan berbagai macam pikiran buruk yang berkecamuk dalam benaknya. Walaupun berat akhirnya Alex menyetujui. "Baiklah....," Jawab Alex pada akhirnya.
"Terimakasih," ucap Nadia lirih.
"Sayang....," Ucap Alex lagi. Ia belum juga beranjak dari pintu kamar tamu itu.
Nadia hendak pergi ke atas ranjangnya, namun langkahnya terhenti saat Alex kembali memanggilnya.
"Sampai kapan kamu memerlukan waktu untuk sendirian ?"
Hening untuk beberapa saat..
"Nad ?"
"Entahlah...," akhirnya Nadia bersuara.
" Satu atau dua jam cukup ? Kita kan harus pergi ke dokter," kata Alex
"Mmm mungkin satu atau dua hari... Atau satu dua Minggu. Aku tak tahu... Dan jangan khawatir aku bisa pergi ke dokter sendirian,"
"A-apa ???" Tanya Alex dengan wajahnya yang berubah pias. Ia merasa tersambar petir untuk yang kedua kalinya.
To be continued ♥️
Astogeeeeh nyambung lagi 🤣🤣🤣😅😅😅