
Semoga masih ada yang nungguin 😁
Happy reading ♥️
"Sayaaang... aku pulang... sayang ??" Alex mencari keberadaan istrinya yang kini tengah hamil besar dan memasuki trimester ketiga akhir. Hanya hitungan beberapa Minggu saja Nadia diperkirakan akan melahirkan anak pertamanya dengan Alex.
"Bi, istriku dimana ?" tanya Alex pada asisten rumah tangganya yang sedang membersihkan area dapur.
"Ibu di atas, sepertinya sedang beristirahat di kamarnya ?" jawab sang asisten yang sedikit terkejut karena kedatangan Alex yang tiba-tiba dan jam masih menunjukkan pukul 4 sore kurang. Biasanya majikannya itu akan tiba di rumah sekitar pukul 7 malam.
"Oh ok," sahut Alex dan ia pun berlalu pergi menuju tangga yang akan membawanya ke lantai 2 dimana istrinya berada dengan 2 paper bag yang ia bawa di tangan kanan dan kirinya.
Pelan-pelan Alex berjalan, ia tak ingin mengganggu istrinya jika ia sedang tidur siang. Sudah satu Minggu ini Nadia tak lagi bekerja dan itu keinginan Alex tentu saja. Ia ingin istrinya itu untuk mulai beristirahat di rumah menanti kelahirannya.
Pintu bercat putih itu tak tertutup sempurna, Alex pun membukanya dengan perlahan. Senyumnya melengkung sempurna saat ia melihat Nadia yang tengah bersandar di kepala ranjang sambil tertidur dengan beberapa helai rambut menutupi sebagian wajahnya dan buku tentang bayi yang sedang dibacanya tergeletak tepat di sebelahnya.
Terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari ponsel Nadia yang diperdengarkan untuk buah hati yang masih berada di dalam perutnya.
Alex letakkan kedua paper bag dibawanya di atas nakas dan ia pun segera menghampiri istrinya itu. Alex dudukkan tubuhnya tepat di sebelah Nadia dan menatapnya lekat-lekat sebelum ia membangunkannya.
Pipinya yang membulat terlihat mengkilap, sebagaimana wanita yang tengah hamil besar pada umumnya. Tapi Alex sangat menyukainya, menurut Alex itu membuat kecantikan istrinya bertambah.
Alex belai lembut rambut Nadia yang panjang dan merapikan bagian yang menutupi wajah cantiknya. "Sayang, aku pulang.. aku rindu," ucap Alex pelan dan tak lama Nadia pun membuka matanya dengan perlahan.
"Hai," ucap Alex lagi ketika Nadia sudah benar-benar membuka matanya. "Maaf membangunkan mu, tapi sebaiknya kamu baringkan tubuhmu dengan benar. Nanti pegal jika terus seperti ini," lanjut Alex kemudian tanpa menghentikan belaian lembutnya.
"Gak apa-apa, memang sudah waktunya aku bangun," sahut Nadia sembari menutup bukunya. Kemudian ia meraih ponselnya dan mematikan aplikasi yang sedang memperdengarkan ayat-ayat suci.
"Papa pulang," ucap Alex seraya menundukkan kepalanya dan mencium lembut perut istrinya yang buncit.
Sepertinya sang bayi yang berada dalam kandungan itu mengetahui jika seseorang yang sang sangat mencintainya sudah pulang ke rumah karena tiba-tiba saja ia bergerak dalam perut Nadia.
"Dia senang kamu pulang," ucap Nadia dan Alex pun tersenyum dengan mata berbinar bahagia.
Mata Nadia beralih melihat jam dan ia terkejut ketika melihat waktu masih menunjukkan pukul 4 sore. "Kok tumben udah pulang ?" tanya nya.
"Hu'um, tadi siang aku mengunjungi lokasi proyek bersama Marcela dan Heru tentu saja. Diperjalanan pulang ke kantor aku melewati toko buku dan berhenti sebentar lalu membeli ini," Alex menunjukkan 2 paper bag yang tadi ia bawa dan mengeluarkan isinya yang ternyata buku-buku dongeng pengantar tidur untuk anak-anak dengan gambar lucu di sampulnya. Ada yang bergambar beruang, kelinci dan istana. Ia begitu antusias menunjukkan itu semua pada Nadia.
"Kamu sengaja pulang cepat untuk menunjukkan ini ?" tanya Nadia sembari terkekeh geli
"Dan juga untuk menemani kamu jalan sore," Jawab Alex. Di pemeriksaan terakhir, dokter menyarankan Nadia untuk banyak melakukan olahraga jalan santai guna memperlancar proses kelahirannya.
"Apa tidak menggangu pekerjaanmu ?" tanya Nadia. Ia takut Alex mengabaikan pekerjaannya begitu saja.
" Gak apa-apa, lagian semua yang penting sudah aku kerjakan. Ayo aku temani jalan-jalan di taman," ajak Alex dan Nadia pun tersenyum sumringah karenanya.
***
"Besok jadi ke Singapura ?" tanya Nadia.
Saat ini keduanya tengah berjalan sembari bergandengan tangan di taman yang letaknya tak jauh dari rumah mereka.
"Jadi, aku terbang pukul 10 pagi," jawab Alex. Untuk 3 hari ke depan ia akan melakukan perjalanan dinas di Singapura. "Tapi kenapa rasanya berat banget ya mau ninggalin kamu ?" tanya Alex seraya menarik tangan Nadia dan menciumnya dengan lembut.
Nadia tersenyum, "Aku akan baik-baik saja, kamu tak usah khawatir. Lagian kamu pergi juga nggak lama," ucapnya.
"Hu'um, aku tahu... tapi tetap saja terasa begitu berat," sahut Alex tanpa bisa menyembunyikan rasa cemas dari wajahnya. "Aku pasti akan terus memikirkan kamu," lanjutnya lagi dan apa yang Alex katakan mampu meluluh lantakkan hati Nadia.
Ya.. kata-kata suaminya itu masih mampu membuat perasaan Nadia melambung tinggi ke awan.
"Aku pun, aku akan terus memikirkan kamu," sahut Nadia seraya mengeratkan genggaman tangannya.
Keduanya menghentikan langkah mereka untuk sesaat dan saling memandang satu sama lain dengan cinta yang sama besarnya. Alex melengkungkan senyumnya begitu juga Nadia.
Keduanya kembali berjalan tanpa melepaskan tautan jemari mereka. Nadia duduk di bangku taman sedangkan Alex membeli gula-gula kapas berwarna merah muda. Semenjak Nadia hamil ia sangat suka makanan itu. Alex dudukkan tubuhnya tepat di sebelah Nadia, dan memberikan satu gula-gula kapas untuk sang istri.
Tak lama datanglah seorang anak perempuan yang masih berusia sekitar 3 tahun, ia datang karena tertarik dengan gula-gula yang Alex miliki.
"Mau ?" tanya Alex gemas dan sang anak hanya mengangguk pelan.
"Tanya sama mama dulu," lanjut Alex lagi.
"Sayang, jangan begitu," tiba-tiba datanglah seorang wanita yang Alex tebak itu adalah ibunya.
"Maaf," ucapnya lagi seraya memangku sang anak hingga rambutnya yang diikat dua bergoyang-goyang.
"Lucu banget sih gemes," ucap Alex tanpa bisa menyembunyikan rasa gemasnya. Ia sangat berharap anak yang berada dalam kandungan istrinya berjenis kelamin perempuan.
Alex ingin seorang anak perempuan yang mirip Nadia."akan sangat menyenangkan punya 2 perempuan bawel di rumah," ucap Alex waktu itu. Tapi hingga saat ini sang bayi masih tak mau memperlihatkan jenis kelaminnya. Ia akan bersembunyi setiap Mama Papanya melakukan pemeriksaan.
Tapi walaupun nanti yang lahir ternyata seorang anak laki-laki, itu tak akan menjadi masalah bagi Alex karena ia akan merasa sama bahagianya.
***
Malam harinya Nadia baringkan tubuhnya di atas ranjang setelah ia membantu Alex untuk berkemas. Alex menyusul sang istri dengan sebuah buku dongeng di tangannya.
"Mau aku bacain cerita tentang apa ?" tanya Alex.
"Mmm.... bagaimana jika tentang Mama Papa kelinci saja ?" jawab Nadia dan Alex pun tersenyum menyetujuinya.
Nadia dekatkan tubuhnya pada Alex hingga kepalanya bersentuhan dengan dada bidang suaminya itu. Bisa Nadia dengar detak jantung Alex dengan jelasnya. "aku mencintaimu di setiap helaan nafas ku," ucap Alex seolah-olah bisa menebak apa yang Nadia pikirkan.
Lagi-lagi perkataan Alex membuat perasaan Nadia melambung tinggi di awan.
"aku pun, aku sangat mencintaimu," sahut Nadia dan ia pun mengecup lembut pipi suaminya.
Alex pun membalasnya dengan kecupan di puncak kepala Nadia. Lalu ia mulai membuka buku dongeng itu dan membacanya.
"Dan... Sang mama memeluk bunny agar tertidur lelap dan Sang Papa bertugas untuk melindungi keduanya dengan penuh rasa cinta," ucap Alex mengakhiri ceritanya. Tak lupa ia membelai lembut perut buncit Nadia dan menciumnya penuh kasih sayang.
"Seperti kami yang akan menjagamu dengan segenap cinta yang kami punya," bisik Alex. Lagi-lagi Nadia rasakan gerakan dalam perut buncitnya.
Alex sentuh kan tangannya do atas perut Nadia dan bisa merasakannya. Ia tersenyum dengan mata berbinar bahagia.
***
Nadia duduk di atas sofa sembari menikmati susu coklat hangat yang baru saja ia buat di dapur. Alex sudah pergi ke bandara tadi pagi. Belum lama suaminya itu pergi tapi Nadia sudah setengah mati merindukannya.
"Papa pergi sebentar saja, jangan seperti ini," ucap Nadia sembari mengusap pipinya yang basah. Sungguh ia merindukan Alex dengan sangat saat ini.
Jika sesuai jadwal penerbangan, pesawat yang Alex tumpangi akan lepas landas dalam waktu 10 menit lagi. Ingin Nadia menghubungi tapi tentunya Alex sudah harus menonaktifkan jaringan ponselnya.
"Safe flight, Sayang," gumam Nadia pelan. Dalam hatinya terlantun banyak do'a untuk lelaki yang paling dicintainya itu.
Larut dalam pikirannya sendiri membuat Nadia tak sadar jika bel pintunya berbunyi. Ia usap air yang membasahi pipinya sebelum berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Aku gak bisa ninggalin kamu," ucap lelaki yang memenuhi pikirannya saat ini. Ia berdiri tegap tepat di hadapannya.
Thanks for reading ♥️
Jangan lupa vote babang Alex dan mbak Nadia ya 😁
maaciw zheyeenk 😚