
Happy reading ❤️
Ia pun segera menuliskan pesan pada istrinya itu.
Alex : Nad, akan pulang terlambat.
Alex langsung mematikan daya ponselnya ketika pesan itu terkirim ia tak mau Nadia atau siapapun menghubunginya saat ini.
Nadia membaca pesan itu pelan dengan rasa kecewa luar biasa "Alex hanya mengatakan akan pulang terlambat dan dia tahu kalau aku sudah menyiapkan makan malam kejutan untuknya jadi tak mungkin ia akan lama," ucap Nadia menghibur dirinya sendiri.
Waktu terus berlalu hingga 30 menit lamanya namun Alex belum juga pulang. Akhirnya Nadia mengambil ponselnya dan menggulir layar mencari nama 'Alex' bukan lagi bocah tengik seperti beberapa waktu yang lalu dan kecemasannya bertambah karena nomor suaminya itu tak dapat dihubungi.
"Ponsel Alex pasti kehabisan dayanya," Nadia masih berpikiran positif.
Satu jam pun terlalui, kini waktu menunjukkan pukul setengah 9 malam. Nadia kembali ke kamarnya dan merapikan rambut serta riasannya ia ingin terlihat sempurna di hadapan Alex malam ini.
Setelah merapikan diri, ia pun kembali ke dapur dan menata ulang meja seolah mencari tampilan terbaik.
Satu jam tiga puluh menit pun berlalu dari terakhir Alex mengirimkan pesan padanya, "ah mungkin mobil Alex terkena masalah, pasti dia lelah jadi aku akan menunggunya di pintu," ucap Nadia menenangkan dirinya sendiri. Ia pun berjalan menuju pintu dan membukanya. Ia menyembulkan kepalanya ke arah luar dan berharap melihat kedatangan Alex namun yang ia harapkan tak terjadi juga.
Merasa yang dilakukannya tak cukup juga, akhirnya Nadia keluar dari apartemen dan benar-benar menunggu di depan pintu. Ia berjalan mondar-mandir dengan gaun yang sedikit terbuka dan wajah berpoles make up membuat beberapa lelaki yang kebetulan melewatinya memandang dirinya penuh maksud.
Lama Nadia melakukan itu, menunggu Alex di depan pintu hingga seorang lelaki mendatanginya. "Kalau orang yang kamu tuju gak ada, datang ke apartemen aku aja. Hanya beda 3 nomor dari apartemen milik teman kencanmu ini," ucapnya penuh goda membuat Nadia membulatkan matanya tak percaya.
"Apa maksudmu ? aku tinggal di sini !" jawab Nadia sedikit gusar dan akhirnya ia pun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam apartemennya.
Nadia menolehkan kepala, melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Ia duduk di ruang makan sendirian sembari memikirkan Alex yang keberadaannya entah di mana dan berulang kali dihubungi pun selalu tak bisa membuatnya merasa cemas jika hal buruk terjadi pada suaminya itu.
Dengan tangan sebagai bantalannya, Nadia menelungkupkan kepala dan berdoa semoga Alex dalam keadaan baik-baik saja.
"Cepat pulang, Sayang. Aku menunggumu," lirih Nadia seraya menahan tangisnya.
Sementara di tempat lain Alex dak Laura atau yang biasa di panggil Lola baru saja menghabiskan makan malamnya. Semua berlangsung dengan lama karena keduanya hanyut dalam kenangan masa lalu. Tak sekalipun Lola bercerita tentang alasannya pergi dan tinggal di mana dirinya selama ini.
Alex pun tak mempunyai keberanian untuk bertanya kenapa wanitanya bisa pergi untuk waktu yang lama. Dirinya takut jika ia melakukan itu Lola akan kembali menjauh karena bagi Alex kedatangan Lola adalah sesuatu yang sudah ditunggunya sejak lama.
Alex melihat jam di tangannya dan sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam, bukannya ia tak ingat akan janjinya dengan Nadia tapi pertemuan dengan Lola dirasa lebih penting dari segalanya pada saat ini, dan berfikir jika istrinya itu pasti sudah tertidur.
"Sudah malam, ayo aku antar pulang," ajak Alex.
"Mmmm.. aku masih ingin menikmati kota Jakarta. Sudah lama aku tak datang kesini," jawab Lola sembari melihat langit malam.
"Terus kamu mau kemana ?" Tanya Alex lagi.
"Bagaimana kalau kita minum dan dansa bersama seperti yang sering kita lakukan dulu," jawab Lola dengan matanya yang sendu.
Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, Alex menuruti apa yang Lola inginkan tanpa berani memprotes ataupun melarang. Ia segera membawa kekasih yang pernah meninggalkannya itu ke club malam elite tempat yang biasa di datanginya.
***
Sudah hampir pukul 3 pagi, Lola sudah meminum banyak minuman beralkoh*l satu hal yang Alex heran karena dulu seingatnya kekasihnya itu tak pernah minum sebanyak ini. Entah berapa lagu yang mereka nikmati bersama dengan tubuh saling meliuk penuh goda. Hingga akhirnya Alex mengajak wanita itu pulang.
"Ayo pulang, besok aku harus menemui klien penting," ajak Alex dan Lola yang setengah sadar pun menurutinya.
"Aku antarkan kemana ?" Tanya Alex masih dengan kesadaran penuh. Malam ini ia hanya minum sedikit saja karena ingat besok harus bertemu dengan klien besar yang didalamnya terdapat campur tangan Nadia.
"Kenapa gak bawa aku ke tempatmu ?" Tanya Lola.
"Hah?" Gumam Alex, tentu saja ia ingin tapi sekarang ia tak lagi tinggal sendiri.
"Maaf, aku gak bisa bawa kamu kesana,"
"Kenapa ?" Tanya Lola.
"Karena aku gak bisa," jawab Alex. Ia tak bisa berkata yang sebenarnya.
Pada akhirnya Alex mengantarkan Lola ke hotel dimana ia tinggal dan letaknya ternyata tak jauh dari kantor tempat dirinya bekerja. Sepertinya Lola memang sengaja untuk tinggal di sana.
***
Alex tiba di apartemennya hampir pukul 4 pagi dan terheran karena lampu-lampu masih menyala. "Nadia, pasti takut sendirian di apartemen," gumamnya.
Ia pun berjalan menuju kamarnya namun terkejut ketika melihat istrinya itu duduk tertidur di ruang makan dengan kepala menelungkup dan wajahnya tertutup sebagian rambut.
Tak hanya itu yang membuat Alex terkejut tapi juga hidangan daging steak yang sudah dingin, kue ulang tahun bertuliskan 'Happy Birthday Alex' dan kado serta lilin-lilin kecil yang menghiasi meja. Seketika Alex pun meraup wajahnya, tak menyangka jika Nadia telah menyiapkan segalanya. Ataukah ibunya yang mengirimkan ini semua. Batin Alex penuh pertanyaan saat ini.
"Nad... Bangun," Alex mengguncangkan tubuh Nadia dengan perlahan. Kulitnya terasa dingin karena terpaan angin malam.
"Nad... Bangun... Pindah ke kamar," Alex berusaha untuk membangunkannya lagi dan kali ini membuahkan hasil karena Nadia mulai menggerakkan tubuhnya.
"Jam 4 pagi," jawab Alex.
"Kamu baru pulang?" Tanya Nadia sembari mengucek matanya.
"Iya, kan aku udah bilang aku pulang terlambat,"
"Kamu bilang akan pulang terlambat bukan bilang akan pulang pagi," ucap Nadia dengan nada kecewa.
"Kamu pergi kemana ?" Tanya Nadia.
"Aku pergi nemenin teman makan,"
"Sampai pagi ?"
Alex diam tak menjawab.
"Pergi dengan siapa ?"
"Teman," jawab Alex.
"Teman siapa ?"
Hening....
"Aku tanya dengan siapa, Alex ?" Tanya Nadia dengan suara meninggi menahan tangis.
"Lola !!! Laura temanku. Dan untuk apa kamu marah ? Aku gak nyuruh kamu untuk melakukan semua ini," tunjuk Alex pada meja yang sudah tertata rapi.
Nadia yang mendengar itu langsung berdiri seraya mengusap pipinya yang telah basah.
"Apa kamu itu bodoh hingga harus menunggu aku semalaman ? Harusnya kamu tidur jika aku tak datang dalam satu jam. Dan untuk apa kamu mempersiapkan ini semua ?" Tanya Alex sembari menelisik penampilan Nadia saat ini yang mengenakan gaun dan sedikit riasan.
"Apa kamu menungguku karena... ?" Alex menjeda ucapannya
"Karena apa ?" Tanya Nadia tak sabaran.
"Karena mempunyai perasaan padaku ? Apa kamu jatuh cinta padaku?" Tanya Alex dengan pandangan matanya yang sulit untuk diartikan sedangkan Nadia terdiam mematung mendengarkan setiap kata yang Alex tujukan padanya.
"Apa karena aku mencium mu dan bersikap manis padamu hingga kamu terbawa perasaan ? Jangan katakan kamu jatuh cinta padaku, Nadia. Jangan melakukan hal yang bodoh" Ucap alex seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Nadia yang mendengar itu merasakan ngilu dalam hatinya, matanya terasa panas karena air bening yang terus mengalir tak tertahankan.
"Bodoh ?" Tanya Nadia seraya tertawa menahan rasa perih di hati.
"Sebenarnya siapa yang bodoh diantara kita ? Aku atau kamu ?" Tanya Nadia dengan mengusap pipinya yang basah.
"Aku tak sebodoh itu untuk jatuh cinta padamu," ucap Nadia bohong.
"Kamu lah yang bodoh ! Kamu lelaki paling bodoh di dunia ini. you are so f*cking stup*d !!!" desis Nadia tajam seraya menunjuk wajah Alex dengan jarinya.
"What ?" Tanya Alex sedikit gusar.
"Iya kamu lelaki bodoh yang masih mengejar wanita yang jelas-jelas meninggalkanmu dalam keadaan sulit dan sekarang datang hanya untuk menikmati kesuksesanmu. Kamu tahu Alex ? Jika dia benar-benar mencintaimu dia akan bertahan apapun kondisinya. Bukannya pergi tanpa jejak."
"Cukup Nadia ! Jangan bicara buruk tentangnya. Kamu gak tahu siapa Laura sebenarnya, jadi tak berhak untuk menilai dirinya !!" potong Alex seraya menggebrak meja sungguh ia terpancing emosi dengan apa yang Nadia ucapkan.
"Kamu yang paling tahu tentang dia ? Katakan padaku kenapa dia ninggalin kamu ??" Tanya Nadia seraya tersenyum meledek.
Alex terdiam mendengar itu semua.
"Jangan besar kepala karena mengira aku jatuh cinta padamu, aku hanya menganggap mu sebagai teman serumah tak lebih dari itu dan berusaha untuk bersikap baik layaknya teman." ucap Nadia dengan hati yang terasa perih karena lagi-lagi ia harus mengingkari perasaannya sendiri.
"Ah dan satu lagi. Setiap ciuman dan sikap manis yang kamu berikan padaku...," Nadia menjeda ucapannya
"Im sick of it ( aku muak dengan semuanya )," lanjut Nadia. Ia mengucapkannya dengan perlahan dan begitu jelas hingga membuat Alex tercengang mendengarnya.
Nadia melangkahkan kaki pergi menuju kamarnya dan membanting pintu sekeras yang ia bisa meninggalkan Alex yang terdiam membeku.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘
Berasa prestasi bisa double up 😎😎
makasih banyak like dan komennya 😚😚