In Love

In Love
Mencoba



Happy reading ❤️


"Terimakasih, Alex," bisik Nadia dan ia pun melepaskan pelukan itu dan pergi berlalu meninggalkan Alex yang terdiam membeku seolah terhipnotis oleh ciuman istrinya.


Alex menelan salivanya sendiri karena bibir Nadia yang basah dan kenyal masih terasa begitu nyata di pipinya. Ia meletakkan sendok yang dipegangnya ke atas piring. Tangannya beralih meraba pipinya yang baru saja mendapatkan sebuah ciuman. Telah bertahun-tahun ia tak merasakan itu, sebuah ciuman penanda rasa sayang. Bukan ciuman panas di bibir yang penuh nafsv yang seperti biasa ia lakukan dengan para wanita pemuasnya. Mata Alex menatap kosong ke depan, sungguh ciuman Nadia sangat mempengaruhinya.


Tapi si pemberi efek malah asik bercengkrama di kamar barunya. Ranjang dan bantal yang empuk menjadi pusat perhatiannya saat ini. Tak hanya itu Alex juga menyediakan lemari serta meja kerja untuknya. Nadia menatapi dan bahkan menyentuhnya dengan rasa takjub. Tak menyangka jika seorang Alex yang menyebalkan bisa sebaik ini.


Senyum terkembang dengan sempurna dari bibirnya. Nadia merasa senang luar biasa karena perhatian yang Alex berikan. Rasa kecewa pada Alex karena tak menghubunginya selama 2 malam yang lalu,kini hilang sudah.


Nadia segera berganti baju hanya dengan mengenakan kaos putih polos oversize dan celana pendek setengah paha hingga tak terlihat karena kaosnya yang kebesaran. Lagi-lagi ia menggelung rambutnya asal hingga menyisakan banyak anak rambut yang menjuntai.


Setelah selesai berganti pakaian Nadia keluar dari kamarnya dan kembali menuju Alex yang terdiam tanpa menghabiskan mie nya. Lelaki itu tentu saja memperhatikan istrinya yang datang menghampiri.


"Kok gak dihabisin ?" Tanya Nadia pada Alex yang diam mematung. Sedangkan ia duduk tepat di hadapan sang suami dengan kedua tangan menopang dagu dan tersenyum manis padanya.


"Hah ?" Tanya Alex tampak terkejut.


"Oh ini ? Gak naf*u makan lagi gara-gara lo," jawab Alex dengan kembali ke stelan pabrik yaitu seorang lelaki menyebalkan.


Nadia mencebikkan bibirnya ketika ia mendengar itu, "Padahal baru kamu makan sedikit loh itu, kamu malu ya karena ketahuan ?" Goda Nadia.


"Nggak, kenapa harus malu ?" Alex balik bertanya.


"Liat lo jadi gak naf*u makan, tapi naf*u yang lain dan lo berhutang itu," lanjut Alex nampak lebih serius kali ini.


"Hah ? Aku berhutang apa ?" Tanya Nadia polos. Bibirnya setengah terbuka setelah menanyakan hal itu, tentu saja Alex semakin tersiksa karenanya.


"Lo tuh jangan berusaha ngegoda gue, Nad," desis Alex seraya mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekati.


"Menggoda ?" Nadia berkerut alis tak paham.


Tak tahan lagi, Alex pun berdiri dan menarik tangan Nadia agar ia tak lagi terduduk.


Dengan tak sabaran, Alex melepaskan cekalannya dan beralih merengkuh pinggang Nadia untuk mendekat dengannya, tangan yang lain menahan punggung sang istri agar semakin padu tubuh mereka. Nafas Alex memburu dan Nadia memandangnya cemas.


"A... A... Alex... Kamu ke.. kenapa ?" Tanya Nadia dengan bibir bergetar dan dada berdebar tak karuan.


Bukan sebuah jawaban yang Nadia dapatkan namun Alex semakin menundukkan wajahnya berusaha meraih bibir Nadia yang terus menghantuinya. Nadia memejamkan mata seolah menunggu apa yang akan Alex lakukan padanya dan tangannya meremas kain kemeja Alex untuk berpegangan.


Nafas hangat Alex mulai menerpa wajahnya dan sedetik kemudian bibir mereka bersatu dengan sempurna. Nadia pun meremas kain kemeja Alex semakin erat saja.


"Maaf mengganggu kalian, apa bukannya masih sore untuk melakukan hal itu ?" Tanya seorang wanita yang sangat mereka kenali suaranya dan tentu saja itu sontak membuat keduanya memisahkan diri dengan tergesa. Menyisakan Nadia dengan wajahnya yang merona dan Alex yang nampak sangat terkejut.


"Maaf, mama langsung masuk tadi pintu apartemen kamu setengah terbuka," lanjut mama Alex dengan banyak kantong belanjaan di tangannya.


"Ah Mama," dengan wajah semerah tomat Nadia segera menyalami ibu mertuanya itu dan membantu membawakan kantong yang dibawanya.


"Kok Mama gak bilang dulu mau datang ?" Tanya Alex yang kini nampak salah tingkah.


"Mau ketemu anak sendiri apa harus bilang dulu ? Lagian mama tahu Nadia baru pulang hari ini dan dia pasti capek. Mama sengaja datang mau masak buat kalian berdua." jawab mama Alex sedikit kesal.


"Bukan begitu, Ma. Kalau mama mau main ke sini biar Alex yang jemput." Sahut alex beralasan.


"Mama udah tua tapi belum renta, masih bisa pergi-pergi sendiri." Jawab mamanya sedikit kesal karena ia mengira Alex tak menyukai kedatangannya.


"Mama mau masak apa ? Yuk Nadia bantu biar sekalian belajar," sahut Nadia berusaha mencairkan suasana yang sedikit menegang antara ibu dan anak itu.


"Ah iya, ayo bantu Mama." Mama Alex berubah tak lagi merasa kesal. Dengan penuh semangat ia mengajak Nadia ke dapur dan mengeluarkan semua belanjaannya.


"Maaf mama menggangu kalian tadi," bisiknya dan itu membuat Nadia kembali merona.


"Ah gak pa-pa kok, Ma. Kita gak ngapa-ngapain,"


Nadia tak membenarkan tak juga mengelak. Ia tak mau mertuanya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Dan apa yang baru saja terjadi Nadia pun tak mengerti, ia tak tahu apa Alex hanya menggodanya lagi atau memang berniat menciumnya.


Sedangkan Alex memilih untuk menonton TV dengan pikiran penuh Nadia. Bagaimana bisa ia melakukan hal itu dan..."Nadia tak menolaknya ?" Batin Alex dalam hati.


Alex menatap telapak tangannya sendiri, bisa ia ingat dengan jelas bagaimana ia merengkuh pinggang Nadia untuk menyatu dengannya dan bibir itu meskipun hanya merasakan sekilas saja namun ia yakin rasanya lebih manis dari yang ia bayangkan.


Ia menolehkan kepala melihat sang istri yang kini sibuk memasak dengan mamanya. Entah apa yang mereka bicarakan namun mata Alex terus tertuju pada bibir itu.


"Apa dengan begini Mama boleh berharap cucu dari kalian ?" Bisik Mama Alex dan itu membuat Nadia terkejut hingga ia menghentikan pergerakan tangannya yang tengah memotong sebuah kentang.


"Hah ?" Gumam Nadia yang kini merasa bingung karena tak bisa menjawab pertanyaan ibu mertuanya.


"Mama tahun kalian baru saja menikah tapi Alex mulai berubah, dan mama sangat senang karena itu."


"Berubah ?" Tanya Nadia tak paham.


"Beberapa malam yang lalu Alex pergi ke klub malam, karena pas kamu pergi mama meminta orang untuk mengawasinya."


"Klub malam ?" Tanya Nadia dengan sedikit rasa kecewa.


"Ya, tapi tak lama hanya sebentar saja lalu ia pulang dan malam berikutnya ia diam di apartemen," jawab mama Alex tanpa menyebutkan jika anaknya itu sempat berdekatan dengan seorang wanita.


"Benarkah ?"


"Ya.. dan mama bersyukur karena itu. Insting mama tak meleset, kamu adalah obat yang tepat untuknya."


Perasaan Nadia sangat tak menentu setelah mendengarkan apa yang ibu mertuanya itu katakan.


"Mungkin kehadiran anak akan membuatnya menjadi lelaki yang lebih baik lagi."


"Tapi ma...," Sahut Nadia sedikit ragu. Bagaimana ia mau punya anak sedangkan selama ini tidur di kamar yang terpisah.


"Mama tidak memintamu untuk melakukannya saat ini juga, tidak dalam waktu dekat. Tapi maukah kamu mencobanya ?"


"Mencoba ?"


"Mencoba untuk memiliki anak dengan Alex. Semoga dengan begitu perasaan kalian akan lebih terikat lagi dan rasa cinta pun akan tumbuh."


Nadia tak menjawab yang ia lakukan hanya memandang nanar ibu mertuanya.


"Alex seorang lelaki yang baik dan penyayang. Mama yakin dia akan menjadi ayah yang baik. Dan jika itu terjadi mama harap kamulah yang jadi ibu dari anak-anaknya Alex."


"Ma... Kenapa aku ?"


"Karena mama sangat sayang kamu seperti anak mama sendiri dan kamu satu-satunya wanita yang mama percaya untuk mendampingi Alex."


"Bagaimana jika aku gagal ?"


"Setidaknya kamu telah mencoba... Maukah kamu mencobanya ?" Tanya mama Alex penuh harap.


Nadia mengalihkan pandangannya pada Alex yang duduk membelakanginya. Lelaki itu memang telah mencuri perhatiannya sejak mereka pertama kali bertemu. Walaupun Alex telah banyak melakukan hal yang menyebalkan tapi lelaki itu selalu ada dalam pikirannya.


Dan yang tadi terjadi membuat mama Alex berharap besar padanya padahal yang sebenarnya terjadi belum tentu Alex benar-benar akan menciumnya.


Nadia menolehkan kembali kepalanya pada sang ibu mertua karena lamat-lamat terdengar isakkan tangis dari sebelahnya dan tepat seperti dugaannya mama Alex kini tengah mengusap pipinya yang basah.


Terlihat bagaimana sayangnya mama Alex terhadap sang anak dan begitu mengkhawatirkan kehidupan anak lelaki satu-satunya itu. Nadia yang seorang wanita tentunya paham bagaimana perasaan mama Alex saat ini.


"Aku akan mencobanya..., Jika ternyata aku gagal, aku harap mama tidak kecewa." Ucap Nadia pada akhirnya.


to be continued ❤️