
Happy reading ♥️
Nadia tertunduk lesu menatapi sebuah alat berbentuk panjang, yang menunjukkan satu garis saja. Ini sudah bulan ke delapan sejak ia dan Alex kembali bersama. Setiap bulannya saat Nadia mendapati tamu bulanannya terlambat datang, ia akan melakukan tes kehamilan dengan besar harapan buah cinta mereka hadir kembali tapi lagi-lagi hasilnya selalu saja bergaris satu dan itu membuat Nadia sedih juga kecewa. Padahal beberapa bulan lagi ia dan Alex akan merayakan hari jadi mereka yang ke dua.
"Masih garis satu ?" tanya Alex tenang sembari melingkarkan tangannya di atas perut Nadia yang datar dan mengecup pipi istrinya dengan mesra mengisyaratkan jika ia baik-baik saja dan tak merasa kecewa jika Nadia belum hamil lagi walaupun dalam hatinya yang paling dalam Alex pun menginginkan hal yang sama. Tapi untuk saat ini cukup bagi Alex kehadiran Nadia dalam hidupnya, itu saja sudah membuatnya bahagia luar biasa.
Alex selalu lebih mengandalkan logika, menurutnya Nadia pernah mengandung anak mereka. Hal itu menandakan jika ia dan Nadia mampu untuk memiliki keturunan hanya saja Tuhan masih memilihkan waktu yang tepat untuk mereka.
"Itu tandanya aku dan kamu masih harus berpacaran dan lebih giat lagi dalam proses pembuatannya," ucap Alex berusaha untuk menghibur istrinya. Ia kembali memberikan ciuman dan mengeratkan pelukannya, tapi Alex rasakan air bening dan hangat jatuh menimpa lengannya. Ia pun memutar tubuh Nadia pelan agar saling berhadapan tubuh mereka.
"Hei, what's wrong ?" ( hei, ada masalah apa ? ) tanya Alex lembut seraya menundukkan kepala agar lebih jelas menatap wajah sang istri dan menghapus air mata Nadia dengan jempolnya.
Nadia menggeleng pelan, ia tak mengeluarkan sepatah kata pun seolah-olah apa yang ingin ia ucapkan tercekat di tenggorokan.
Alex angkat tubuh Nadia dan mendudukkannya di atas lemari kecil yang berada di toilet hingga kini hampir sejajar tubuh mereka. "Sayang ?" tanya Alex memastikan, ia rendahkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Nadia dengan leluasa. Sebenarnya Alex tahu jika Nadia bersedih karena dirinya belum berhasil mengandung buah cinta mereka.
Nadia hanya wanita biasa yang lebih sering mengandalkan perasaannya. Rasa cintanya yang begitu besar terhadap Alex membuatnya ingin selalu memberikan yang terbaik untuk suaminya itu dan anak adalah salah satunya, ia ingin segera mengandung anak dari lelaki yang sangat dicintainya itu. "Aku membuatmu kecewa lagi," jawab Nadia dengan kepala tertunduk lesu dan air mata tumpah tanpa ia minta
Alex yang mendengar itu mengulum senyumnya, lalu mengangkat dagu Nadia dengan jempolnya agar bisa menatapnya. Mata Nadia yang sedikit sembab dan juga sendu membalas tatapan suaminya itu. "Aku tak pernah merasa kecewa karena kamu belum mengandung anak kita," ucap Alex dengan gamblang dan perlahan agar istrinya itu bisa mendengarnya dengan jelas.
"Sudah ku katakan berkali-kali bahwa aku sangat mencintaimu karena kamu seorang Nadia Wirahma. you are beautiful, smart, kind (baik), adorable ( menggemaskan), gorgeous ( sangat indah \ cantik ) and strong ( kuat). Hanya kamu satu-satunya wanita yang ku kenal yang sanggup mengangkat dan mengganti galon air. Bukankah itu amazing ?" rayu Alex.
Nadia pun tersenyum dan menahan tawa mendengar apa yang Alex ucapkan padanya.
"Aku mencintaimu, karena dirimu. Bukan karena kamu mengandung anakku. Dan jika memang Tuhan belum mengizinkan kita untuk memiliki seorang anak, maka rasa cintaku tak kan berkurang sama sekali. Ini bukan tanggung jawabmu untuk memberikan keturunan," lanjut Alex kemudian.
Nadia mengangkat wajahnya yang sembab, kata-kata yang Alex ucapkan selalu bisa membuatnya lebih tenang. Ia pun mengangguk halus menyetujuinya. "Tapi kamu pun menginginkannya bukan ?" tanya Nadia.
"Tentu saja ! aku ingin seorang anak perempuan yang cantik seperti dirimu dan aku yakin Tuhan akan memberikannya suatu saat nanti. Jadi jangan terlalu overthinhking ok ?" jawab Alex.
"Good girl, ini hari Minggu ayo kita pergi berkencan !" ajak Alex. Tapi yang Nadia lakukan adalah mencondongkan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya, memeluk Alex erat.
Alex kecup lembut puncak kepala istrinya dan membalas pelukan itu sama eratnya. Ia mengerti dan paham jika Nadia sedang merasa sensitif, pasalnya beberapa orang selalu bertanya tentang "Kapan punya anak ?" padahal tanpa mereka bertanya pun Alex dan Nadia memang sangat menginginkannya.
"Apa mau ketemu dokter ? kalau kamu ingin memeriksakan diri ke dokter kandungan maka aku akan mendukungmu, dan jika seandainya aku pun harus diperiksa maka aku akan melakukannya," ucap Alex sembari membelai rambut istrinya yang panjang.
Nadia yang mendengar itu mengangkat wajahnya dan menatap Alex tak percaya karena biasanya hanya pihak wanita yang selalu diperiksa kesehatan kesuburan mereka."Apa kamu mau melakukannya ? pemeriksaan itu ?" tanya Nadia.
"Sure, kenapa tidak ? karena kamu pun tak bisa membuat bayi sendirian. Harus ada aku yang membantu dalam proses pembuatannya, jadi tentu saja aku pun harus memeriksa kesehatanku juga walaupun aku tahu pasti 'Senjata ku ini dan pelurunya' selalu dalam keadaan prima," jawab Alex dengan matanya yang meredup sayu penuh maksud.
Nadia memutar bola matanya malas, suaminya itu selalu saja mempunyai cara untuk mengaitkan segala masalah dengan hal mesoom.
"Kalau kamu gak percaya, cobalah saat ini juga. Dengan senang hati aku akan membuktikannya," lanjut Alex dan tanpa Nadia sadari bibirnya telah menyatu dengan sempurna dengan milik suaminya.
Alex memangku Nadia bagai koala dengan bibir saling bertautan, saling melu-mat dan menyesap satu sama lain. Nadia kalungkan kedua tangannya pada leher Alex dan membelitkan kedua kakinya di pinggang. Alex tersenyum, ia sangat menyukai posisi ini. Memangku Nadia bagai koala.
Alex pun berjalan keluar dari kamar mandi dan membawa Nadia kembali ke tempat tidur mereka, ia akan menjadikan Nadia sebagai sarapan utama di pagi Minggunya yang cerah ini.
To be continued ♥️
maaf telat update
hepi wiken 🥰
jangan lupa tanggal 5 Juli yaa acara pengumuman pemenang event di audio room Sang Penulis.