In Love

In Love
Makan Siang



Seperti sebelumnya Alex masih menggunakan jasa supir untuk mengantarnya kemanapun yang dirinya inginkan. Saat ini Alex tengah duduk bersebelahan dengan Nadia di bangku penumpang di dalam mobil mewahnya menuju kantor di mana Nadia bekerja.


Ada yang sangat berbeda dengan sangat mencolok saat ini yaitu cincin pernikahan yang saling melingkar di jari manis masing-masing. Hal yang pertama kali keduanya lakukan bersama setelah menikah karena biasanya cincin mereka hanya menjadi penunggu laci.


Alex yang merasa luar biasa bahagia karena melihat Nadia mengenakannya meraih dan mencium punggung tangan istrinya itu dengan lembut. Mata hitamnya menatap teduh dan untuk kesekian kalinya ia mengucapkan kata-kata syukur dalam hatinya.


"Ada apa ?" tanya Nadia dengan pipi bersemu merah karena lagi-lagi Alex memperlakukannya dengan manis.


"Im so happy because of you," ( Aku sangat bahagia karenamu ) jawab Alex tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"A-aku juga, aku sangat bahagia berada di sisimu," jawab Nadia sedikit terbata. Alex yang mendengar itu menarik dagu Nadia agar lebih dekat bibir mereka, lantas Alex berikan sebuah kecupan mesra. "Love you, Sayang... sudah ku katakan kamu akan sangat bosan sekali mendengarnya," gumam Alex tepat di atas bibir Nadia yang sedikit basah karena ulahnya.


Nadia menggelengkan kepala tanda tak setuju, "Aku tak akan pernah bosan mendengarnya," jawab Nadia. Bagaimana mungkin ia akan merasa bosan ? sejak dulu pertama kali ia jatuh cinta pada suaminya itu mati-matian Nadia berharap dalam hati untuk mendengar kata-kata keramat itu terucap dari bibir Alex.


Dan kini... kata-kata cinta yang Alex ucapkan untuknya bagaikan mantra yang sangat ampuh untuk menghilangkan sagala kesakitan nya di waktu lalu.


"Kalau begitu setiap aku mengatakan cinta, kamu harus jawab dengan kata yang sama karena aku pun sangat ingin mendengar mu mengatakan kata cinta untukku," kata Alex lagi. Masih ia berucap lirih tepat di atas bibir sang istri.


"i love you, Sayang." Alex kembali mengungkapkan perasaan cintanya.


"Love you more," ( Cintaku padamu lebih besar lagi ) jawab Nadia tepat di atas bibir suaminya hingga sebuah senyuman melengkung dengan indah di bibir Alex saat ini, ia kembali memberikan sebuah kecupan pada istri yang sangat dicintainya itu.


Sang supir sadar akan keromantisan penumpangnya tentu saja, tapi ia lebih memilih untuk terus berkosentrasi pada jalanan walaupun sebenarnya saat ini ia ingin menghilang saja karena takut terkena diabetes dari manisnya cinta Alex dan Nadia yang sangat berlebihan.


Setelah beberapa menit berkendara akhirnya sang supir bisa bernafas dengan lega karena mereka baru saja tiba di parkiran kantor tempat Nadia bekerja dan tak perlu lagi mendengarkan kata-kata manis saling puja dari penumpang yang dibawanya.


"Eheemm, Kita telah tiba pak Henry," ucap supir itu. Bahkan ia harus berdehem dulu sebelum berbicara untuk menetralkan ucapannya yang tercekat di tenggorokan.


"Terimakasih," ucap Alex dan ia pun membuka sendiri pintu mobilnya yang sudah tidak terkunci. "Ayo , Sayang...," Alex mengulurkan tangannya untuk Nadia raih.


Nadia mengulum senyumnya sebelum ia meraih uluran tangan Alex. Lelaki itu selalu saja berhasil membuat dadanya berdegup lebih kencang dan membuat pipinya bersemu merah dan terasa panas. Ia raih uluran tangan Alex dan keluar dari mobil Mercedes Benz hitam milik suaminya itu.


"Ayo," ucap Alex lagi dan ia pun menautkan jemarinya pada genggaman tangan Nadia.


Nadia menurut, tentu saja. Selama keduanya berjalan dengan bergandengan tangan, Nadia tundukan kepala dan amati genggaman tangan mereka. Ia tersenyum samar, " Jadilah satu-satunya milikku. aku ingin kita terus bergandengan tangan seperti ini selamanya. Baik itu dalam rasa bahagia ataupun ketika kita melewati rasa duka karena aku yakin bahagiaku hanya denganmu. Kamulah satu-satunya cintaku," batin Nadia dalam hati.


Lalu ia mengangkat wajahnya dan menatap gugup ke depan sana. Nadia tolehkan kepala pada Alex yang terlihat bersemangat lalu ia kembali menatapi genggaman tangan mereka. Di depan sana telah berjejer beberapa orang yang menyambut kedatangan mereka.


Ini adalah kali pertama mereka tampil dengan mesra di depan banyak orang yang mengenalinya. "Kenapa? " tanya Alex dengan sedikit melambatkan langkahnya, ia harus tundukan kepala untuk berbicara pada Nadia karena badannya yang tinggi tegap.


Nadia melipat kedua bibirnya kedalam, dan menggeleng pelan.


"Sayang kenapa ?" tanya Alex lagi, kali ini ia menghentikan langkahnya dengan sempurna.


"I-ini... semua akan melihatnya," ucap Nadia seraya menunjukkan genggaman tangan mereka.


"Biarkan semua orang tahu, biarkan seisi dunia tahu jika Nadia Wirahma hanya milik Alexander Henry Salim seorang," ucap Alex dengan jelasnya hingga membuat wajah Nadia yang berhiaskan semburat merah melengkungkan senyumnya.


Senyum yang kini menular pada wajah suaminya dan Alex semakin mengeratkan genggamannya. Beberapa kamera mulai mengeluarkan cahayanya pertanda beberapa orang wartawan tengah meliput kedatangan mereka. Nadia secara refleks melindungi matanya dengan tangan dari kilatan cahaya dan ia menjadi gugup seketika. Ia pun baru sadar jika di belakang dirinya dan Alex berjalan beberapa orang dengan setelan jas hitam mengikuti. Mereka adalah orang-orang yang disewa Alex sebagai bodyguard.


Tak hanya orang-orang berjas hitam tapi juga Joy sekretaris Alex dan Heru sang asisten yang berjalan dengan tertunduk lesu juga malu karena pernah menaruh hati pada wanita yang ternyata istri boss nya. Terlalu fokus pada Alex saja membuat Nadia lupa dengan dunia sekitarnya.


"Tenang, Sayang. Ada aku," bisik Alex sembari kembali menundukkan kepalanya. Ia tahu Nadia tengah merasa gugup saat ini. Tampil perdana sebagai suami istri di depan banyak orang, di mana sebelumnya banyak gosip buruk beredar tentang mereka tentunya tidak mudah bagi Nadia yang baru kali ini mengalaminya. Berbeda dengan Alex yang lebih berpengalaman dalam hal digosipkan. Ia tak pernah ambil pusing dengan itu semua.


Walaupun enggan tapi Alex akhirnya lepaskan tautan jemari mereka, tapi karena tak ingin terpisahkan akhirnya Alex melingkar kan satu tangan nya di pinggang Nadia dan menarik nya agar lebih mendekat. "Selamat Pagi," sapa Alex pada Daniel yang melangkahkan kakinya maju mendekati Alex dan Nadia.


"Selamat pagi," sahut Daniel dan ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Perkenalkan saya, Henry dan ini istri saya Nadia. Anda pasti sudah mengenalnya bukan ?" sahut Alex seraya menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya erat


"Tentu, Nadia sudah menjadi bagian dari perusahaan kami sejak lama," sahut Daniel tersenyum canggung.


"Ah iya, sebelum menikah pun istri saya sudah bekerja di perusahaan Anda yang berlokasi di Jakarta. Iya kan, Sayang ?" tanya Alex sambil menolehkan kepalanya pada sang istri dan Nadia yang mendengar itu membalas tatapan Alex kemudian menganggukkan kepalanya pelan.


Semua melihatnya dengan tak percaya. "Mari...," sahut Daniel sembari menunjukkan jalan.


***


Waktu makan siang pun tiba setelah Alex melakukan perkenalan sebagai salah satu pemegang saham dan menjelaskan singkat tentang Nadia dan pernikahan mereka. Alex juga menjabarkan tentang kerjasama yang akan dilakukan perusahaan yang ia pimpin dan perusahaan tempat Nadia bekerja. Ia mengatakan jika ia membutuhkan istrinya itu sebagai pilot project dan mengharuskannya kembali ke Jakarta.


"Walaupun alasan yang sebenarnya adalah saya tidak bisa berjauhan dengan istri saya," kelakar Alex dan orang-orang yang mendengar itu tertawa menanggapinya.


"Tapi benar loh, seminggu berpisah saja rasanya hampir gila," lanjut Alex dan itu membuat Nadia merona.


Heru dan joy yang mendengar itu saling beradu pandang dan pada akhirnya sama-sama paham kenapa Alex bersikap dingin satu Minggu kemarin ternyata ia sedang berjauhan dengan istrinya, karena kini sikap Alex kembali seperti biasa bahkan lebih cerah ceria dari biasanya.


"Mau apa lagi , Sayang ?" tanya Alex pada Nadia yang duduk di sebelahnya. Saat ini Alex, Nadia dan beberapa petinggi perusahaan sedang duduk bersama untuk menikmati makan siang.


"Ini sudah cukup," jawab Nadia sembari menatapi menu makan siangnya di atas piring namun masih saja merasa ada yang kurang.


"Mau aku suapi ?" tanya Alex lirih namun masih bisa terdengar hingga Daniel juga Heru berdehem canggung.


"Alex...," Nadia berucap lirih dan merasa malu.


"What ?" gumam Alex tanpa dosa.


"Oh wait, aku tahu sayang," lanjut Alex sembari memanggil Joy sekretarisnya dan ia pun berbisik ketika joy datang.


"Baik Pak," Joy mengangguk patuh dan berlalu pergi.


Pada akhirnya semua orang menunggu karena Alex belum memulai makan siangnya padahal Alex tak meminta mereka melakukan itu. Setelah beberapa saat menanti, akhirnya Joy datang dengan satu toples kerupuk dan menyerahkannya pada Alex.


"Ini, sayang," ucap Alex sembari memberikannya beberapa keping pada Nadia.


"Terima kasih, kamu yang terbaik," sahut Nadia seolah hanya ada mereka saja di dunia ini.


"Apapun untukmu," sahut Alex dengan ekspresi yang sama dengan sang istri.


Merasa diperhatikan, keduanya kompak menolehkan kepala pada orang-orang yang duduk satu meja dengan mereka dan benar saja semua mata tertuju pada Alex dan Nadia, memperhatikan keduanya "Ah... maaf... istri saya sangat menyukai kerupuk dan hampir tak bisa makan tanpanya. Ayo silahkan nikmati makan siangnya," ucap Alex dan semua pun mulai menikmati makan siang mereka.


***


"Jadi ini ruang kerja mu ?" tanya Alex sambil duduk di kursi kerja Nadia.


"Iya di sinilah aku selalu memikirkan kamu," jawab Nadia sambil mengulum senyumnya.


Senyum yang kini menular pada wajah Alex karena dadanya menghangat seketika.


Nadia edarkan pandangannya, menelisik ruang kerjanya sendiri. Sudah satu minggu ia bekerja di ruangan sederhana itu dengan perasaan tersiksa menahan rindu pada lelaki yang tengah duduk di kursi kerjanya.


Nadia adalah seorang yang sangat profesional, namun kali ini hati mengalahkan logikanya. Nadia tahu jika ia masih harus tinggal di Bandung dan menyelesaikan pekerjaannya. Tapi ternyata hatinya berkata tak mau...


Tak mau lagi berjauhan dengan lelaki yang sangat ia cintai dengan dalam.


"Alex... bolehkah aku kembali ke Jakarta dengan mu tanpa menyelesaikan sisa pekerjaan aku ?" tanya Nadia takut-takut karena Alex pun sangat perfeksionis bila bersangkutan dengan pekerjaan.


Mata Alex berbinar ketika mendengar itu. "Sure, tentu sayang dan aku senang sekali dengan keputusanmu," ucap Alex seraya berdiri dan berjalan mendekati Nadia.


"Dan sayang... ada sesuatu yang belum aku katakan padamu...," ucap Alex seraya membelai lembut wajah istrinya.


"Apa ?" gumam Nadia lirih.


"Perusahaan ini milikmu.. aku membelinya atas nama mu," ucap Alex dan itu membuat Nadia membulatkan matanya tak percaya.


To be continued ♥️


Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote ya.


This episode dedicated to kang GoBrak dan duta shampoo 😁 yang ngerti ini pasti komen 😂