In Love

In Love
Melarikan Diri



Happy reading ❤️


"Dia ?" tanya Nadia kian penasaran.


"Hummmm emang dia belum cerita ?" lelaki itu balik bertanya


Nadia menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Alex, emmm maksudku Henry tapi karena kita berteman dekat aku memanggilnya Alex."


"A-Alex ?" Tanya Nadia seraya menelan ludahnya paksa.


"Iya, Alex." Jawabnya meyakinkan. "Dasar siallann, dia pasti sengaja gak cerita. Alex emang kadang semenyebalkan itu," lanjutnya lagi seolah hal ini adalah biasa bagi ia dan Alex.


Nadia dengarkan dengan seksama apa yang lelaki bernama Nicky itu ceritakan. Ia menguraikan kisah tentang Alex yang hampir semua benar adanya seolah laki-laki itu memang memiliki hubungan yang dekat dengan suaminya.


"Ya seperti itulah Alex, saking dekatnya membuat kami saling berbagi tentang apapun termasuk dengan berbagi wanita," ucapan Nicky membuat Nadia meminum air yang berada di dekatnya dengan tak sabaran karena saking terkejutnya.


"Dan dia pun mengatakan jika kamu hebat di atas ranjang, Alex meyakinkan aku untuk bertemu denganmu. Selain kamu pintar dalam bekerja tapi kamu pun pintar dalam memuaskan hasrat laki-laki dan aku sangat tertarik karenanya," Nadia berkerut alis tak percaya, tanpa sengaja ia pun menumpahkan sebagian air yang ia minum tadi.


Nicky pun mengusap bibir Nadia yang basah dengan jempolnya dan tentu saja Nadia mengelak dengan tatapan matanya yang tak bersahabat. "Chill.. tenang sayang, hal seperti ini sudah biasa di antara semua pria," ucapnya.


"Kamu bohong," lirih Nadia dengan bibirnya yang bergetar dan dada bergemuruh tak percaya.


"Mmm, kamu gak percaya ?"


Nadia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia tak ingin percaya dengan semua yang diceritakan laki-laki itu walaupun jauh dalam hatinya Nadia merasa takut jika apa yang dikatakannya adalah benar adanya. Selama ini Alex tak pernah bercerita tentang teman-temannya hingga Nadia tak tahu apa yang Nicky paparkan benar atau tidak.


Lelaki itu mengeluarkan benda pipih dari saku jasnya, menggulir layar dan tak lama ia pun menunjukkan beberapa buah photonya bersama Alex dalam berbagai pose malah ada salah satu photo yang menunjukkan mereka tengah tersenyum ke arah kamera dan itu membuat hati Nadia mencelos seketika.


"Seperti yang aku bilang, aku dan Alex berteman dekat. Semua kami bagi bersama termasuk kesuksesan dan wanita,"


"Apa Alex mengatakan status kami berdua ?" Tanya Nadia dengan dadanya yang kian bergemuruh.


"Yes, sure... Kamu tenaga ahli yang membuat proyek Alex berhasil. Tak hanya itu, mmmm..... Kamu juga teman tidurnya," jawab Nicky dengan pandangan mata menelisik penuh maksud.


"Apa anda ingin melakukan kerjasama karena saya bisa diajak ke tempat tidur ? Itukah maksud anda ?"


"Yes, why not ? Jika bisa mendapatkan kesuksesan yang penuh gair*h, kenapa tidak ?" Nicky balik bertanya dan itu membuat Nadia kian muak saja.


"Entah apa yang Alex ceritakan padamu, tapi saya bukan perempuan seperti itu. Saya tidak bisa menjalin kerjasama dengan anda," ucap Nadia sambil berdiri dan ia pun menyambar tasnya yang terletak di atas meja. Namun belum juga ia melangkah, Nadia kembali mendudukkan tubuhnya yang setengah limbung karena pandangan matanya yang tiba-tiba menggelap.


Dengan lemah ia kembali membuka mata dan menatap gelas kosong yang airnya telah ia habiskan dengan tak sabaran tadi, ketika lelaki itu terus mengatakan hal-hal buruk. Gelas berisi air itu sudah berada di sana ketika Nadia baru saja tiba.


Nadia lengah...


Ia sadar kini telah masuk dalam perangkap lelaki itu dengan meminum airnya hingga tandas dan sekarang inilah yang ia rasakan. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga dan pikirannya setengah sadar.


"Kamu gak bisa pergi kemana-mana," ucap lelaki itu pelan sembari mengusap mulut nadia dengan sebuah tisu basah dan kemudian memagut bibirnya.


Nadia tak punya tenaga untuk menolak walaupun dalam hatinya ia menjerit dan menangis karena tak ingin sentuhan apapun dari lelaki itu.


Bahkan ketika lelaki itu mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar mereka yang sedang berciuman, Nadia tak mampu hanya sekedar mengangkat tangannya untuk mendorong kuat. Yang bisa ia lakukan hanya menitikkan air matanya yang jatuh dan berharap Tuhan mau menolongnya.


***


"Dia sudah bersamaku di kamar hotel. Seperti yang kamu bilang dia benar-benar cantik, apa benar aku boleh menidurinya ?" Ucap lelaki yang kini tengah berdiri membelakangi dengan sebuah ponsel di telinganya.


Hal terakhir yang Nadia ingat adalah lelaki itu memagut bibirnya dan ia menangis karena itu. Sungguh tubuhnya tak berdaya sama sekali untuk melakukan perlawanan dan setelah itu ia tak sadarkan diri hingga berada di tempat ini sekarang.


"Tapi dia belum sadar, dan aku gak suka tidur sama wanita yang gak sadarkan diri. Aku ingin mendengar segala des*annya," ucap lelaki itu lagi dan ia segera menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Nadia yang tertidur di sofa.


Nadia segera menutup matanya sebelum lelaki itu menoleh, ia bagaikan tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu.


"Tolong aku ya Tuhan...," Ucap Nadia berulang kali dalam hati. Ia merasa sedikit lega ketika melihat keadaannya yang masih berpakaian lengkap menandakan lelaki jahat itu tidak atau belum menyentuhnya.


Terdengar Nicky menutup panggilan teleponnya, dan meletakkan beda pipih itu di atas meja. Derap langkah juga terdengar, menandakan lelaki itu datang menghampirinya.


"Apa dosis obatnya terlalu keras hingga ia belum juga sadarkan diri ?" Tanya Nicky bermonolog, ia berdecak kesal karenanya.


"Kamu cantik, pantas saja lelaki itu berpaling padamu," ucapnya lagi sembari merapikan rambut Nadia yang menutupi dahi.


Sebisa mungkin Nadia tetap tenang walaupun rasa jijik menghinggapinya karena setiap sentuhan lelaki itu di atas kepalanya. Ia tetap memejamkan matanya seolah belum tersadar dari pingsannya.


"Cepat bangun, aku pun bisa puasin kamu kaya dia. Dan kalau kamu mau kita bisa berhubungan dengan serius, aku gak akan nolak jika Alex melepaskanmu," ucapan Nicky membuat Nadia kian bergidik ngeri namun tetap ia berusaha untuk tenang.


Kursi berderit, menandakan lelaki itu berdiri dari tempat ia duduk dan derap langkah menjauh terdengar oleh Nadia. Ia yakin lelaki itu pergi menjauhinya.


Nadia membuka sedikit matanya untuk melihat keadaan dan seperti yang ia duga lelaki itu berjalan menuju ruang lainnya hingga punggungnya hampir tak terlihat dan Nadia pun membuka matanya lebar-lebar.


Nadia gerakan ujung kakinya perlahan dan bersyukur dalam hati karena kini tubuhnya dapat digerakkan. Ia mendudukkan tubuhnya tegak dan yang kini yang ia pikirkan adalah keluar dari ruangan itu secepat yang ia bisa dan Nadia yakin ia bisa melakukan itu semua.


"Blam !" Terdengar suara pintu yang di tutup, sepertinya lelaki itu memasuki sebuah ruangan lain atau toilet mungkin, Nadia tak perduli.


Nadia berdiri perlahan dengan rasa pening yang masih ia rasakan dan berjalan secepat mungkin menuju pintu keluar. Ia tak peduli dengan tas atau sepatu, Nadia pergi meninggalkan itu semua dan berlari kecil dengan tergesa di lorong hotel ketika ia berhasil keluar dari kamar itu.


Nadia menekan tombol lift dengan tak sabaran, sesekali ia mengusap perutnya yang kembali terasa keram.


"Ayo-ayo ! Ku mohon terbukalah," ucapnya frustasi. Ia ingin segera pintu lift itu terbuka dan membawanya pergi.


Apa yang Nadia inginkan terjadi, pintu lift itu terbuka dengan beberapa orang di dalamnya. Ia segera menerobos masuk dan berdiri di bagian paling belakang agar tubuhnya terhalangi. Nadia takut lelaki itu melihatnya melarikan diri.


Dan benar itulah yang terjadi, lelaki itu terlihat berlari tergesa dengan bertelanjang kaki, matanya melihat gusar ke arah sekitar, mencari seseorang yang melarikan diri dari kamar hotelnya.


Dia melihat ke arah pintu lift yang hampir tertutup dan berlari kecil menghampiri, " tolong aku yaa.. Tuhan," gumam Nadia berulang kali. Kedua tangannya yang basah akan keringat saling meremas karena takut yang ia rasakan saat ini.


Tuhan mengabulkan permintaannya, pintu lift itu tertutup ketika lelaki jahat itu hampir saja sampai. Lift pun bergerak membawa Nadia ke lantai dasar dan berharap bisa melarikan diri.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘


Taqaballahu minna wa minkum semuanya 🙏🙏


Maafin aku lahir batin ya 🙏🙏


Mon maap upnya telat-telat karena quality time dulu ma keluarga.


Jangan lupa Like dan komen yaa..


Yang mau vote juga hadiah boleh..


Terimakasih ❤️