
Happy reading ❤️.
"Ada wanita yang beberapa waktu datang kemari bersikeras untuk bertemu dengan Anda, padahal saya sudah katakan padanya harus membuat janji temu dulu jika ia ingin berbicara langsung dengan anda tapi ia terus memaksa masuk," jelas Joy.
"Di mana dia sekarang ?"
"Se-sedang duduk menunggu dalam ruangan anda," jawab Joy takut-takut.
"Dia di dalam ?" Tanya Alex terdengar lebih serius dari sebelumnya.
"I-iya, Pak," angguk Joy pelan. Sungguh ia takut jika Alex memarahinya.
Alex tak lagi bicara, yang ia lakukan adalah memasuki ruangannya dan benar saja Lola telah duduk bersilang kaki di sofa tamu dengan pakaiannya yang begitu ketat membalut tubuhnya yang ramping, sehingga setiap lekukan indah terlihat dengan jelasnya.
Riasan wajah natural menyempurnakan kecantikannya, bahasa tubuhnya yang elegan pasti mampu membuat pria manapun terkagum-kagum padanya. Di usianya yang telah memasuki kepala 3 Lola berada dalam puncak daya tariknya.
Namun ada yang sedikit aneh pagi ini, meksipun Lola telah tampil maksimal tapi nyatanya Alex melihatnya biasa saja tak seperti waktu Lola pertama kali mendatanginya. Lelaki itu langsung bertekuk lutut di kakinya dan menuruti apa yang Lola inginkan.
Alex memasuki ruang kerjanya dengan penuh percaya diri, tak lagi terpengaruh oleh kehadirannya. Raut wajahnya tak memperlihatkan rasa takjub, terkejut atau rindu. Ia berjalan seolah Lola bukan siapa-siapa.
Lola pun tersenyum samar menahan rasa heran dan hendak berdiri untuk menyambut Alex. Ia akan mengalah kali ini, namun yang terjadi adalah Alex mengisyaratkan wanita itu agar tetap duduk dengan matanya.
Setelah Alex menyimpan tas kerjanya di atas meja, ia pun duduk di sofa dengan jarak yang cukup jauh dan itu membuat Lola kembali merasa terheran.
"Alex, kamu baik-baik aja ?" Tanya Lola dengan lembut.
"Hah ?" Alex berkerut alis tak paham
"You look so different," ( kamu terlihat sangat berbeda ) ucap Lola dengan tersenyum canggung.
"Never been better," ( tak pernah sebaik ini ) jawab Alex dengan penuh percaya diri.
"Oh, syukurlah... Kamu terlihat begitu berbeda mungkin karena kini kamu telah menjadi seorang pengusaha sukses," ucap Lola kemudian.
Alex terdiam tak menjawab, yang ia lakukan hanya mengamati wanita yang duduk dihadapannya.
Dulu... Alex tak akan berani berbicara setegas ini karena wanita itu sangat mempengaruhinya. Ia akan terus berada di ujung telunjuknya dan menuruti setiap kata yang Lola
ucapkan hanya demi bisa berada dengannya.
Lola adalah wanita yang pertama kali membuatnya jatuh cinta dengan dalam, dan membuatnya patah hati dengan hebat kemudian.
Hingga membuat Alex tak mampu lagi mengatakan cinta pada wanita manapun karena ia tak mau merasakan sakit yang sama. Bagi Alex wanita hanya untuk bersenang-senang. Oleh karena itu ia bertekad ingin menjadi seseorang yang sukses agar Lola tak memandangnya sebelah mata.
"Alex aku kangen," kata Lola memecahkan keheningan.
"Akhir-akhir ini sangat sulit sekali menghubungi kamu," keluh Lola kemudian.
"Aku sangat sibuk," sahut Alex cepat.
"Aku tahu, aku baca tentangmu di majalah bisnis. Namamu tengah melejit dan aku sangat bangga. A-aku ingin menjadi bagian dari itu,"
"Hah ?" Alex kembali berkerut alis tak paham.
"Mulai sekarang aku ingin selalu berada di sisimu, aku ingin terus berada di dekatmu. Berpisah denganmu beberapa hari terakhir ini sungguh membuatku merasa tersiksa. Aku begitu mengkhawatirkan juga merindukanmu, aku masih sangat mencintaimu, Alex," jawab Lola lembut namun begitu jelas.
Tiba-tiba saja Alex tertawa muak mendengar apa yang Lola katakan. Ia teringat apa yang istrinya pernah ucapkan "jika ia benar-benar mencintaimu, ia akan bertahan dalam kondisi apapun bukannya meninggalkanmu ketika sulit dan datang kembali untuk menikmati kesuksesanmu bagai parasit," kata-kata itu sering berputar dalam kepalanya.
Walaupun dalam hati Alex harus mengakui jika dirinya bisa menjadi seperti sekarang ini karena ingin membuktikan pada Lola jika ia mampu bangkit dan berhasil.
"Cinta ?" Tanya Alex yang kini berubah sinis.
"Tentu saja," jawab Lola tanpa rasa ragu.
Belum juga Alex menimpali, namun Joy datang dan mengingatkan jika ia harus menghadiri meeting dengan salah satu calon klien yang akan berlangsung dalam waktu setengah jam mendatang.
"Undur waktunya, Joy," jawab Alex dingin.
"Ba-baik, Pak," jawab Joy patuh dan ia pun undur diri.
Lola tersenyum puas, ia senang Alex lebih memilih dirinya saat ini.
"Seseorang pernah mengatakan padaku, jika kamu benar-benar mencintaiku seharusnya kamu tidak pergi meninggalkan aku dalam keadaan sulit dan kembali ketika aku sudah sukses. Ia juga mengatakan padaku seharusnya kamu bertahan di sampingku apapun yang terjadi, katakan padaku Lola, kemana saja kamu selama ini huh ?" lanjut Alex kemudian dengan suaranya yang dingin. Mata hitamnya berkilat dan rahangnya mengeras menahan sesuatu yang ada dalam dirinya.
"Si-siapa yang mengatakan itu ? Dia hanya seseorang yang sok tahu tentang kita," kata Lola membela diri.
"Katakan kamu pergi kemana, Laura ?" Sentak Alex dan itu membuat Lola terkesiap.
"A-aku pergi mengejar cita-cita aku tentu saja," jawab Lola terbata.
"8 tahun kamu ninggalin aku, dan selama itu aku gak pernah dengar gaung namamu. Tak pernah sekalipun nama Laura Valentina terdengar sebagai pengacara handal baik di Belanda atau di sini di Indonesia. Katakan padaku yang sebenarnya !" Titah Alex.
Laura menelan salivanya sendiri, ia tak menyangka Alex melakukan itu padanya. Lelaki itu sangat berubah dari terakhir mereka bertemu. Padahal sebelumnya Alex tak pernah berani menanyakan alasannya pergi, tapi kini Alex bertanya dengan penuh tuntutan.
"Laura !!" Sentak Alex yang tak sabaran menunggu jawaban.
Lola menjawab dengan terbata-bata. Suaranya tercekat di tenggorokan, bola matanya tak berani menatap manik hitam Alex yang berkilat karena amarah dan kedua tangannya saling meremas karena gugup. Beberapa kali Lola berganti posisi duduk selama ia berbicara, seolah tak nyaman dengan apa yang dilakukannya saat ini.
Alex amati mantan kekasihnya itu dengan lekat. Ia tahu dan sadar jika Lola sedang berbohong saat ini. Terlihat dari bahasa tubuhnya yang tak nyaman dan jawaban yang Lola berikan berbeda-beda meksipun Alex bertanya hal yang sama.
Setelah sekian lama Lola menjelaskan tentang alasannya pergi, juga karirnya yang hancur karena ia tertipu namun di jawaban yang lain ia mengatakan jika karirnya hancur karena kalah dalam pencalonan kandidat politik di kota besar yaitu San Fransisco namun Lola segera meralatnya dengan menyebutkan nama kota lainnya.
"San Fransisco," gumam Alex seraya tersenyum muak.
"Percayalah Alex, apa yang aku katakan itu benar. Semua yang terjadi menyadarkan aku jika sebenarnya tempat terbaik untuk ku adalah di sisimu, aku kembali karena aku mencintaimu dan aku tak memiliki siapapun kecuali kamu," ucap Lola lirih. Sesekali ia menyeka air matanya yang membasahi pipi.
Alex kembali amati wanita di hadapannya, kenapa kata-kata cinta yang Lola ucapkan tak lagi berarti di telinganya. Ia merasakan hampa saat mendengar itu semua.
Sudah lama Alex tak mendengarkan atau pun mengatakan kata 'cinta' apalagi merasakannya. Wanita di hadapannya ini telah membuatnya mati rasa.
"Bagaimana dengan Nadia ?" Batin Alex dalam hati. Tiba-tiba saja ia mengingat istrinya itu.
Ia ingat bagaimana dirinya tak suka Nadia dekat dengan lelaki lain karena wanita itu adalah istrinya. Kini setelah Alex mendapatkan Nadia seutuhnya, ia pun tak ingin lagi melepaskan istrinya itu. Nadia hanya akan menjadi miliknya seorang apapun yang terjadi. Meksipun Alex belum yakin apakah yang tengah ia rasakan adalah sebuah rasa cinta.
Alex tak ingin mengumbar rasa cinta dengan mudahnya karena ia tak mau kembali dikecewakan.
"Alex... Akan aku lakukan apapun untuk membuktikan rasa cintaku..." Ucap Lola penuh mohon.
"Yeah right," Alex tertawa muak.
"Akan aku buktikan meski itu harus bersujud di kakimu," ucap Lola kemudian.
Alex terdiam, dan bagai dejavu ia pun merasa kembali ke masa lalu. Kata-kata itu pernah terucap bertahun-tahun yang lalu namun kini Tuhan telah membalikkan keadaan.
Kini, kata itu bukan terucap dari mulutnya tapi dari mulut wanita yang meninggalkannya padahal Alex pun pernah bersimpuh di kakinya memohon agar Lola tak pernah pergi namun yang terjadi adalah sebaliknya.
"Alex aku bersungguh-sungguh," kata Lola lagi masih dengan air mata yang berhamburan.
Alex tersenyum miring karena muak, hati dan rasa cintanya telah rusak. "Dan ini semua karenamu," batin Alex dalam hatinya.
"Buktikan Laura ! Mungkin aku bisa mempertimbangkannya," ucap Alex dan itu membuat wajah Lola berubah sedikit cerah.
"Hal pertama yang kulakukan adalah mengambil semua kemewahan yang aku berikan, kita lihat apa kamu masih mencintai aku dalam keadaan susah seperti dulu?"
'brak' tas tangan Lola langsung lepas dari genggamannya ketika ia mendengar itu. Alex kembali tersenyum muak karenanya.
"Asal aku bersamamu, tentu aku kuat," sahut Lola seraya mengambil tasnya yang terjatuh.
"Kita akan tinggal bersama bukan ?" Tanya Lola.
"No.., tentu tidak... Aku akan tinggal di apartemenku sendiri,"
"Lalu aku ?"
"Akan aku sewakan kamar kos dan kamu bisa mencari kerja. Kita lihat apa yang kamu ucapkan itu benar ? Apa kamu akan bertahan dan terus mencintai aku ?"
"Alex apa kamu ingin balas dendam karena kepergian aku ?" Tanya Lola tak terima.
"No ! Aku hanya ingin melihat kebenaran dari ucapanmu," jawab Alex seraya tersenyum miring.
To be continued ❤️
Mon maap telat karena ada urusan RL dulu 🙏🙏
Nanti2 jangan ditunggu tengah malam lagi takutnya aku ada keperluan atau sesuatu.