In Love

In Love
Tentang Kita



Happy reading ❤️


"Kalian tak akan bahagia..." Ucap Lola lirih namun Alex dan Nadia masih bisa mendengarnya dengan jelas hingga keduanya menolehkan wajahnya menatap Lola yang berdiri sambil menangis.


"Kalian tak akan bahagia...,"ucap Lola lagi.


Nadia menatapnya takut-takut karena ini pertama kalinya ia berurusan dengan wanita lain dalam hubungan asmara. Ia pun menolehkan wajah dan menatap Alex yang berdiri di sebelahnya. Lelaki itu memandangi Lola dengan rahang mengeras dan bibir terkatup rapat. Bisa Nadia lihat dengan jelas rasa amarah yang sedang coba Alex kuasai dalam dirinya.


"Yes we will, aku dan Nadia akan bahagia," ucap Alex pada akhirnya. Lalu ia pun kembali membawa jemari Nadia dalam genggamannya dan melangkah bersama memasuki lift meninggalkan Lola yang terdiam terpaku di tempatnya berdiri dengan tatapan mata yang tak bisa Nadia artikan.


Wanita itu terus menatap tanpa jeda hingga pintu lift tertutup dengan sempurna.


Nadia menarik nafas dalam dan menghembuskan nya pelan. Helaan nafas Nadia bisa terdengar jelas oleh Alex dan ia pun segera merengkuh pinggang sang istri untuk padu dan berhadapan dengan tubuhnya. "Semua akan baik-baik saja, percayalah...," Ucap Alex seraya menatap mata Nadia dengan dalam.


"Apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Hanya aku dan kamu," lanjut Alex kemudian.


"Ta-tapi dia belum rela kamu...," Ucap Nadia terbata.


"Im done with her, ( aku sudah selesai dengannya ) gak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku berjanji akan membuat kita bahagia," timpal Alex. Ia tahu saat ini Nadia merasa cemas juga takut walaupun ia bisa menutupinya dengan sempurna.


"Alex.. aku...," Mata Nadia terlihat kian sendu ketika mengatakan itu.


"Let's talk about us, (ayo kita bicara tentang kita ) tentang mu dan tentang aku, hanya tentang kita berdua," sahut Alex seraya memandang Nadia penuh cinta.


Nadia mengangguk pelan, sungguh saat ini ia merasa cemas luar biasa karena ancaman Lola lebih terdengar seperti kutukan baginya namun dekapan Alex yang begitu erat membuatnya merasa aman dan ucapan Alex yang menenangkan membuatnya merasa lebih kuat dari sebelumnya.


"I love you, Nadia," lirih Alex berkata, dan ia pun menundukkan wajahnya. Meraih bibir Nadia dengan bibirnya dan mengulumnya lembut. Seperti sebelumnya, tak ada pagutan lidah yang penuh nafs*. Yang ia lakukan adalah mengecap manisnya bibir Nadia dengan penuh perasaan hingga istrinya itu menjinjitkan kakinya agar tautan bibir mereka tak terpisah dan ia memejamkan mata menikmati apa yang Alex lakukan padanya.


'Ting' suara pintu lift yang terbuka menyadarkan keduanya bahwa mereka telah sampai di lantai yang di tuju.


Alex pun memisahkan tautan bibir mereka dan ia kembali menggenggam tangan Nadia dan melangkah bersama keluar dari lift.


Ada yang berbeda kali ini, rasa hangat memenuhi hati keduanya saat akan memasuki apartemen mereka.


Apartemen yang beberapa bulan terakhir ini ditinggali bersama tanpa ada rasa cinta di dalamnya. Namun sekarang keduanya tahu jika tempat yang mereka tinggali sebenarnya sudah diisi rasa cinta namun belum disadari saja.


"Ayo masuk," Alex membukakan pintu apartemen untuk Nadia masuki. Ini kali pertama Alex melakukan itu padanya hingga Nadia pun tertawa.


"Kenapa ?" Tanya Alex berkerut dahi.


"Aku ingat pertama kali aku melangkahkan kaki ke apartemen ini dengan rasa takut, karena kamu selalu menindasku," jawab Nadia. Pikirannya melayang membayangkan pertama kali ia memasuki apartemen Alex dan perlakuan Alex yang menyebalkan waktu itu.


"Ah tentang itu... Sebaiknya kita bicara."


"Mhhh oke," sahut Nadia dengan dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang karena ia tak dapat menebak-nebak apa yang hendak Alex katakan padanya.


"Ah... Koperku di mana ya ?" Tanya Nadia, ia berusaha mengalihkan pikirannya untuk sesaat.


"Itu urusan gampang, nanti biar Heru yang memeriksanya," sahut Alex. Ia pun segera menghubungi asistennya itu.


Dan tak lama ia pun menghubungi sekretaris pribadinya. "Joy, aku akan sibuk untuk 2 atau 3 jam ke depan. Ponselku akan ku matikan, aku benar-benar tak ingin diganggu," ucap Alex pada sekretarisnya itu dan ia pun mematikan daya ponselnya ketika panggilan itu terputus.


"Kenapa kamu matikan ?" Tanya Nadia terheran.


"Karena kita akan bicara," jawab Alex seraya menarik halus tangan Nadia untuk duduk di sofa dan ia pun melakukan hal yang sama.


"Bicara tentang apa ?" Tanya Nadia dengan dadanya yang kembali berdebar kencang.


"Aku dan kamu," jawab Alex. Mata hitamnya menatap teduh, hingga Nadia merasa tenggelam di dalamnya.


"You first...," Ucap Nadia dengan menelan ludahnya paksa.


Alex tersenyum sebelum ia mulai berbicara, "ketika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu itu adalah hal yang sebenarnya, dan yang ku katakan pada wanita tadi jika aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu itu pun sama benarnya," ucap Alex memulai pembicaraan mereka.


"What....," Gumam Nadia tak percaya.


"Kamu bohong... Buktinya kamu bersama Lola ketika dia kembali dan mengabaikan aku," ucap Nadia sembari mengusap air matanya yang dengan lancang membasahi pipi.


"Mungkin kelihatannya seperti itu, tapi di dalam sini (Alex menepuk dadanya sendiri) aku ternyata sudah jatuh cinta padamu namun terus berusaha mengingkarinya," jawab Alex.


Nadia tersenyum samar dan masih berusaha untuk mengeringkan pipinya yang basah. Tentang Alex selalu membuatnya merasa lemah.


"Kamu datang terlambat ketika kita pertama kali bertemu. Saat kamu muncul dari balik pintu, entah kenapa hatiku berdebar kencang padahal aku tak pernah seperti itu pada wanita mana pun," ucap Alex.


"Gombal," sahut Nadia dengan memutar bola matanya malas.


"Serius, Nad. Walaupun banyak orang mengatakan bahwa aku seorang player tapi sebenarnya aku tak paham tentang cinta hingga aku bertemu kamu dan merasakan debaran itu lagi," timpal Alex terlihat serius.


"Tapi... Aku pernah terluka hebat karena cinta dan aku sangat takut merasakannya lagi hingga aku terus bersikap buruk agar kamu mundur tapi kamu bukanlah wanita yang lemah dan terus bertahan hingga kita menikah."


"Aku hanya tak mau mengecewakan semuanya," sahut Nadia.


"Aku tahu... Aku tahu kamu menikah denganku karena rasa cinta dan patuh mu terhadap orang tua hingga aku pun berusaha untuk terus mengingkari perasaan ini karena aku takut kamu tak merasakan hal yang sama hingga aku membuat perjanjian nikah yang sebenarnya adalah untuk membentengi perasaanku sendiri,"


"Lalu tentang Lola ? Kamu pun kembali padanya padahal kita masih bersama," ucap Nadia dengan menahan rasa sakit di dadanya.


Alex menarik nafasnya dalam sebelum ia kembali berbicara. "Saat Lola kembali aku sangat syok, aku selalu ingin memperlihatkan padanya bahwa aku bukan seorang pecundang karena ia selalu melihatku sebelah mata. Aku kira aku melakukan itu karena masih mencintainya tapi nyatanya aku selalu teringat padamu jika sedang bersamanya. Banyak janji yang ku ingkari padanya karena aku lebih memilih untuk bersamamu, hatiku yang ingin sama kamu," jawab Alex.


"Lalu katamu tak ada lagi tentang kita ? Apa artinya itu, Alex ? Dan kamu pernah mengeluarkan kata umpatan ketika terakhir kita bercint*. Aku sangat sakit hati mendengarnya," tanya Nadia sembari kembali mengusap pipinya yang basah.


"Im so sorry... Maafin aku... Aku benar-benar menyesal... Dan percayalah umpatan itu bukan untukmu tapi untuk wanita jal*ng itu,"


"Kamu membayangkan Lola ketika kita bercint* ?" Tanya Nadia tak terima.


"No ! Gak pernah ! Bahkan aku selalu membayangkan wajahmu setiap aku berusaha memuaskan diriku sendiri !" Jawab Alex tak sadar.


"Hah ???" Mata Nadia membelalak tak percaya.


"Emmhh itu... Itu sebelum kita tidur bersama. Sudah ku katakan dari awal bertemu aku sudah ada rasa sama kamu, dan setelah tinggal bersama rasa itu kian terasa. Jangan salahin aku, Nad ! Kamu sendiri yang bilang agar aku gak main-main diluar sana," jawab Alex.


"Jadinya aku... Aku berusaha puaskan diri sendiri sambil bayangin kamu," lanjut Alex dengan kepala tertunduk karena malu.


Nadia tak percaya namun disisi lain juga merasa senang dan gemas dengan suaminya itu. Ia pun tertawa karenanya.


"Dan aku sangat tertekan juga putus asa ketika kamu terus menolakku hingga kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulutku ketika kita berada di Bali untuk pertama kali," ucap Alex penuh sesal.


"Padahal jika kamu meminta hak mu, dari awal menikah pun akan aku serahkan dengan sukarela," sahut Nadia dan itu membuat Alex menatapnya tak percaya.


"Alex, kamu belum jawab... Apa maksudmu tak ada lagi 'kita' ?" Tanya Nadia penuh tuntutan.


"Waktu kita di Bali untuk kedua kalinya, tepat sebelum kita melakukan kegiatan panas. Aku mendapatkan berita buruk tentang Lola. Apa yang sebenarnya ia lakukan ketika meninggalkan aku. Sebagai lelaki ego ku terluka," jawab Alex.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Nadia.


"Seperti yang kamu tahu Lola adalah cinta pertamaku dan ternyata ia tak pernah mencintaiku walaupun aku telah memberikan segalanya, ia yang sukarela menjadi kekasihku saja tak mencintai aku apalagi kamu yang menikahiku karena perjodohan. Sebelum aku jatuh cinta terlalu dalam aku memutuskan untuk menjauhimu karena aku takut kembali patah hati dan kali ini pasti efeknya akan lebih buruk lagi bagiku,"


"Tapi aku bukan Lola," sahut Nadia.


"Ya, aku tahu... Terimakasih karena tak meninggalkan aku di masa terburukku," ucap Alex sungguh-sungguh.


"Sepertinya Lola sangat berarti bagimu," Nadia berkata dengan wajahnya yang sendu.


Alex menatapnya lekat, ia mengangkat dagu Nadia hingga mata mereka bertemu. "Lola cinta adalah cinta pertamaku," ucap Alex dan itu membuat Nadia kian sendu saja dan ia pun kembali menundukkan kepala.


Alex kembali mengangkat dagu Nadia agar ia bisa menatap mata istrinya dengan dalam "Tapi kamu adalah cinta terakhirku... Tak kan ada cinta yang lain. Hanya kamu..." Lanjut Alex kemudian


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘❤️