
Happy reading ❤️
Petugas kepolisian tak hanya menanyai Nadia tapi juga Alex yang namanya mencuat dari keterangan yang Nadia berikan.
Tentu saja Alex membantahnya, ia mengatakan jika ia tak kenal dengan lelaki bernama Nicky itu. Alex pun menceritakan bagaimana ia bisa berada dalam photo bersama, karena lelaki itu memintanya dengan cara memaksa dan Alex tak tahu jika ia telah merencanakan hal buruk dengan photo itu.
"Aku bersumpah demi Tuhan, demi mama ku... Aku tak mengenalnya. Percayalah padaku ayah, ibu..," ucap Alex frustasi.
"Percayalah padaku sayang... kamu sangat tahu jika aku ini lelaki pencemburu, tak mungkin aku melakukan hal itu padamu. Membagimu dengan laki-laki lain ? Hal yang tak mungkin aku lakukan, Nadia. Bahkan aku tak rela jika lelaki lain menatapmu, karena kamu wanitaku," ucap Alex dengan menggebu hingga petugas kepolisian yang melihatnya tersenyum dan kedua orang tua Nadia menunduk malu mendengarnya.
Sedangkan Nadia menatap datar ketika Alex mengatakan itu semua seolah rasa cemburu Alex sudah tak berarti lagi. Hatinya terasa hampa.
"Percayalah... Aku tak mengenalnya. Kamu boleh tanyakan pada para netijen yang membaca kisah kita. Aku tak pernah berteman dengannya. Aku mencintaimu, Nadia. Tak mungkin aku membagimu dengan yang lain," ucap Alex seraya membawa jemari Nadia pada genggamannya dan ia tatapi wajah pucat istrinya yang terlihat sendu.
Nadia pandangi wajah tampan lelaki yang telah membuatnya jatuh cinta. Lelaki yang telah menjungkirbalikkan dunianya, lelaki yang bisa membuatnya merasakan jika cinta itu ternyata... Menyakitkan...
"Hanya cinta, hanya cinta yang bisa menyakiti seperti ini," batin Nadia dalam hati. Dibanding dengan bahagia cinta ini terasa bagai sebuah siksaan bagi Nadia karena banyaknya rintangan yang ia rasakan. Termasuk yang sedang dialaminya saat ini hingga ia harus kehilangan buah hati yang mengikat cintanya dengan Alex.
"Aku percaya padamu," sahut Nadia pelan dengan senyum yang ia paksakan dan pandangan sayu yang tak teralihkan.
"Terimakasih sayang," Alex pun meraih tangan Nadia dan menciumnya.
Petugas polisi pun kembali menanyai Nadia, dan ia menjawab semua sesuai yang diingatnya.
***
Nadia menatap kosong ke luar jendela, memikirkan hal yang tadi melintas di kepalanya. Ya benar ia sangat mencintai Alex dan lelaki itu pun mencintainya tapi meksipun begitu, bahagia sepertinya tidak ditakdirkan untuk menjadi milik mereka, walaupun keduanya berada dalam rasa yang sama.
Dan kehilangan buah hati mereka adalah puncak dari segalanya. Tak ada lagi yang mengeratkan tali cinta yang begitu rapuh karena banyak sekali rintangan yang harus di laluinya.
"Sayang ?" Lagi-lagi Alex membuyarkan lamunan Nadia entah untuk yang ke berapa kalinya. Karena itulah yang sering Nadia lakukan, berdiam diri dalam sunyi sibuk dengan isi kepalanya sendiri.
"Hum ?" Guman Nadia balik bertanya.
"Ada mama," ucap Alex pelan. Ia menunjukkan ibunya yang kini berdiri tepat di sebelah Nadia terduduk namun istrinya itu tak menyadarinya.
"Sayang....," Mama Alex membawa Nadia dalam pelukannya dan mencium puncak kepala menantunya itu penuh kasih sayang. Terdengar isakan tangis dari keduanya dan Nadia pun membalas pelukan itu sama eratnya.
"Maafkan mama baru datang, maafkan mama yang tak bisa menjagamu," mama Alex menguraikan pelukannya dan menatap wajah Nadia dengan rasa bersalah.
"Aku yang salah... Maafkan aku tak bisa menjaga diri dengan baik," sahut Nadia.
"Tidak sayang, bukan salahmu... Bukan salahmu..," sahut mama Alex kembali memeluknya.
Setelah pertemuan haru itu Nadia pun berbicara dengan mama Alex dan masih ditemani oleh ke-dua orang tuanya.
Lama berbincang hingga malam kian larut dan akhirnya mama Alex pun pamit undur diri.
"Aku antar mama ke bawah, aku akan kembali secepatnya," ucap Alex lirih dan Nadia menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Cepat sembuh dan banyak beristirahat," pesan mama Alex, dan Nadia pun tersenyum menyetujuinya.
"Besok pun jika hasil pemeriksaannya baik Nadia sudah diperbolehkan pulang," kali ini ibu Nadia yang menyahuti.
"Oh baguslah, mama akan bersihkan kamar Alex di rumah. Untuk sementara kalian tinggal di rumah mama dulu, jadi kamu tak akan sendirian jika Alex pergi bekerja," sahut mama Alex begitu antusias.
"Jam berapa mama harus jemput kamu, Sayang?" Lanjutnya lagi. Mama Alex yang hendak pergi menghentikan langkahnya dan kembali berbalik arah menuju Nadia yang duduk di atas ranjangnya.
"A-aku mau pulang ke rumah ibu, a-aku mau pulang ke Bogor," jawab Nadia.
Mendengar jawaban Nadia, membuat Alex spontan menolehkan kepala pada istrinya. Ia terkejut, tentu saja.
Alex dan Nadia bersitatap tanpa bicara.
Alex kira Nadia akan pulang ke apartemen mereka seperti biasa, tapi tanpa membicarakannya terlebih dahulu Nadia telah mengambil keputusan.
"A-aku ingin bersama ibu untuk sementara waktu," ucap Nadia seolah menjawab apa yang sedang Alex pikirkan.
"Ten-tentu, kamu bisa pulang kemanapun kamu mau," sahut Alex mencoba memahami keinginan istrinya walaupun ia sedikit merasa kecewa.
"Ya, sayang kamu boleh pulang ke mana pun, mama akan datang lagi besok untuk mengantarmu pulang," tutur mama Alex dan ia pun meninggalkan ruang rawat inap menantunya itu.
***
"Jika ternyata wanita itu yang menyakiti Nadia maka mama tak akan memaafkanmu, Alex," ucap mama Alex dengan nada suara yang begitu dingin menandakan kemarahannya.
"Seharusnya kamu segera menyerahkan dia ke kedutaan atau polisi ketika mama mengirimi mu email !! Tapi lihatlah ! Kamu tak melakukan apapun," balas mama Alex masih dengan rasa emosi yang tak bisa ia sembunyikan padahal Alex adalah anak kesayangannya dan ia hampir tak pernah memarahi Alex sekesal apapun tapi tidak kali ini.
"Pasti karena kamu masih menyimpan perasaan pada wanita jahat itu !" Tuduh mama Alex. Matanya berkilat marah ketika mengatakan hal itu.
"Tidak, bukan begitu !" Protes Alex lagi.
"Lalu kenapa ?"
"Karena waktu itu aku sedang sibuk jatuh cinta pada menantu Mama !" Jawab Alex.
"Tapi setelahnya aku menyakiti Nadia dengan mengingkari perasaanku sendiri karena takut dia melakukan hal yang sama padaku. Aku takut Nadia membuatku patah hati seperti dia," lanjut Alex sembari menundukkan kepala karena merasa bersalah.
"Anak bodoh !" Ucap mamanya kesal.
"Aku akan selesaikan semuanya, aku janji," sahut Alex sembari mengangkat kembali kepalanya.
Mama alex tatap anaknya dengan lekat, walaupun kesal dan kecewa tapi rasa sayangnya melebihi segalanya hingga ia pun berusaha memaklumi kesalahan fatal yang dilakukan Alex saat ini yaitu membiarkan Lola berkeliaran. "Harus ! Kali ini jika Lola terbukti berbuat jahat pada Nadia, kamu harus bertindak tegas dan berjuanglah untuk istrimu karena Nadia sangat berhak mendapatkannya,"
Alex menganggukkan kepalanya kuat-kuat sebagai tanda setuju dengan apa yang baru saja ibunya utarakan.
"Apa yang kamu rasakan pada Nadia saat ini, Alex ?" tanya mamanya dengan menatap dalam mata anaknya. Ia yakin jika mata tak bisa berbohong.
"Aku mencintainya, sangat mencintainya," jawab Alex tanpa ragu.
Mama Alex tersenyum lega, dan ia pun menepuk pundak Alex pelan sebelum ia memasuki mobil mewahnya.
***
Lola berjalan mondar-mandir di apartemen Nicky lelaki yang telah ia tipu. Lola tak memiliki apa-apa lagi hingga ia harus tinggal disana. Sudah dua kali ia mencoba untuk melenyapkan temannya itu namun penjagaan yang ketat sangat menyulitkannya.
"Siaaalll," umpat Lola sembari melemparkan apapun yang ada dalam jangkauan tangannya.
"Dia harus mati sebelum bisa memberikan keterangan atau aku tak kan pernah bisa mendapatkan uang Alex lagi," ucapnya frustasi.
***
Pukul 12 siang Nadia sudah membenahi semua barangnya, akhirnya di hari ke 4 ia sudah boleh pulang ke rumah. Ada Meta, pak Adi dan bosnya siang ini. Mereka datang untuk melihat keadaan Nadia.
Meskipun fisiknya terlihat sehat, namun semua tahu jika didalam sana Nadia tidak baik-baik saja. Hingga bos nya pun memberikan ia cuti kerja untuk waktu yang cukup lama dan Nadia sangat berterimakasih karena itu.
Ia pulang bersama kedua orangtuanya dan mama Alex yang ikut mendampinginya. Kepergiannya itu dilepaskan oleh Meta, pak Adi dan bosnya. Tak adpa Alex disana. Lelaki itu pergi untuk mengurusi sesuatu yang penting setelah sebelumnya mendengar penjelasan dokter kandungan.
"2 Minggu ke depan anda harus kembali untuk melakukan USG dan memastikan jika rahim anda telah benar-benar bersih dan setelah itu bisa dilakukan program kehamilan," jelas dokter Dewi.
"Untuk sementara jangan melakukan hubungan suami istri dulu sampai pendarahannya berhenti," lanjutnya lagi.
Nadia ingat, Alex langsung menatapnya ketika dokter mengatakan hal itu. Seketika keadaan menjadi canggung.
Nadia sendiri kini tak yakin dengan perasaannya, ia masih sangat mencintai Alex tapi dirinya takut.
Takut jika bahagia memang tak ditakdirkan untuknya dan Alex. Apalagi ketika ia mengetahui jika ia mengalami pendarahan itu selain karena kandungannya yang lemah tapi juga karena pengaruh obat yang diberikan laki-laki itu.
Tubuhnya meremang dan menggigil ketika ia ingat itu semua.
***
Pukul 21 malam Nadia sudah bersiap untuk tidur di kamarnya yang dulu ketika ia masih gadis. Ia baringkan tubuhnya diatas ranjang yang tak terlalu besar seperti milik Alex.
Ah tentang Alex... Lalaki itu tak ada kabarnya lagi semenjak ia berpamitan tadi pagi. Nadia sadar jika Alex terkejut dengan keputusannya pulang ke rumah bukan ke apartemen mereka.
Tapi berpisah seperti ini bukannya lebih baik ? Dengan begitu mereka bisa berpikir lagi tentang perasaannya masing-masing. Walaupun tak terucapkan tapi Nadia yakin Alex pun tahu jika hubungan mereka kini tak baik-baik saja.
'tok, tok,' terdengar suara pintu yang diketuk pelan.
"Masuk, mbak belum tidur," sahut Nadia karena ia menyangka Nayla sang adik yang mengetuk pintunya. Tadi sang adik mengatakan ingin menemaninya tidur.
Derit suara pintu yang dibuka secara perlahan pun terdengar. "Maaf aku pulang terlambat," ucap Alex yang kini melangkahkan kakinya memasuki kamar sederhana milik istrinya.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘