
Alex ulurkan tangan dan Nadia meraihnya, "Happy anniversary, Sayang," ucap Alex pada wanita yang sangat ia cintai dengan sepenuh hati.
Nadia raih uluran tangan itu dengan segenap cinta yang ia punya, yang tak terbatas dan tak terukur banyaknya hingga ia lupa atas segala kesakitan yang pernah dirasakannya. Di depan sana berdiri lelaki yang telah membuatnya jatuh cinta, dan Nadia sudah tak sabar untuk mengarungi kehidupan bersamanya.
"Aku mencintaimu." itulah kata-kata pertama yang Nadia ucapkan setelah mendekat pada Alex. Lelaki itu tersenyum dan langsung merengkuh pinggang serta menahan punggung sang istri agar bersatu padu tubuh mereka. Alex tundukkan kepala, mata hitamnya menelisik wajah Nadia dengan seksama dan menatapnya penuh puja. "Kamu suka ?" tanya Alex tanpa melonggarkan dekapannya.
"Suka sekali, ini kejutan termanis dan terindah yang pernah aku dapatkan," jawab Nadia dengan mata berbinar menatapi kekasih hatinya.
"Rumah ini milikmu,"
"Milik kita," potong Nadia. Alex yang mendengar itu mengulum senyum dan mengangguk menyetujuinya.
"Rumah kita... dan rumah ini akan menjadi awal dari kehidupan kita yang baru, seperti yang pernah aku katakan di Bandung ketika menjemputmu. Kita akan memulai semuanya dari titik awal, tapi kali ini dengan cinta yang lebih kuat. Hanya ada aku dan kamu," ucap Alex dengan jelasnya dan apa yang Alex ucapkan membuat dada Nadia menghangat karena rasa bahagia.
"Hanya kamu, aku dan anak-anak kita," Nadia menambahkan.
"Dan beberapa baby sitter juga asisten," Alex mengernyitkan dahi, membayangkan akan ramainya rumah mereka nanti.
Nadia yang mendengarkan itu memutar bola matanya, "Alex, kamu merusak momen romantis kita ," keluh Nadia karena suaminya itu menyebutkan para kata baby sitter dan asisten rumah tangga segala.
Alex terkekeh mendengar keluhan istrinya itu, "Aku ingin anak-anak ada yang menjaga ketika aku ingin berduaan saja dengan ibu mereka dan aku tak bisa menunggu lama saat menginginkanmu," Alex semakin tundukkan wajahnya dan membenamkan bibirnya di atas bibir Nadia dan mengulumnya rasa-rasa.
Nadia kalungkan kedua tangannya pada leher Alex dan ia jinjit kan kedua kakinya agar makin dalam ciuman mereka. Alex melu-mat bibir Nadia dengan penuh kelembutan, membelai lidah istrinya dengan miliknya dan kedua tangannya yang kekar menahan tubuh Nadia yang mulai melemah bagaikan jelly.
"Aku mencintaimu, sungguh," ucap Alex ketika tautan bibir mereka terpisah. "Setiap kalimat cinta yang tertulis dalam kartu itu, aku yang menuliskannya sendiri dengan membayangkan wajahmu," lanjut Alex dan itu membuat wajah Nadia merona merah.
"gombal !" sahut Nadia mencoba berkilah, padahal yang sebenarnya terjadi saat ini dadanya berdegup kian kencang ketika mendengar apa yang Alex ucapkan.
"Beneran, Yank...," sahut Alex, ia tak terima sang istri menuduhnya gombal.
Nadia edarkan pandangannya, menelisik isi kamar yang dipenuhi balon berbentuk cinta dan kelopak bunga mawar yang menghampar hingga wanginya menguar memenuhi ruangan itu. Tak hanya itu, beberapa kotak kado berwarna emas dan berhiaskan pita merah juga Alex letakkan di
beberapa tempat yang bisa Nadia lihat.
"Mau membuka kado mu ?" tanya Alex.
"Kamu terlalu banyak memberikan aku hadiah, sedangkan aku belum memberi mu apa-apa," jawab Nadia tertunduk malu.
"Sudah aku serahkan semua milikku padamu, Alex. Kamu sudah menjadi pemilik hatiku dan seluruh rasa cintaku semenjak kita bertemu," jawab Nadia seraya membalas tatapan Alex sama dalamnya dan kedua tangannya masih bergelanjut manja pada leher suaminya. Sesekali jemari Nadia menyisir rambut Alex dengan lembut.
Hening untuk beberapa saat, keduanya mengulum senyum dengan mata terkunci menatap satu sama lain seolah tak ada puasnya. "Aku sangat menginginkanmu saat ini," Alex merapikan rambut Nadia yan menutupi dahinya ketika ia mengatakan itu. Suaranya telah terdengar berat menandakan hasrat lelakinya telah bangkit. Nafasnya yang memburu, menerpa hangat wajah Nadia.
"Maka, aku akan menjadi milikmu," jawab Nadia berpasrah diri.
Alex melengkungkan senyumnya, dan ia pun membelai pipi Nadia lembut. "Tapi sebaiknya kita makan malam dulu, karena aku dan kamu akan memerlukan banyak tenaga untuk melalui malam ini," ucap Alex seraya kembali membenamkan bibirnya di atas bibir Nadia dan menyesapnya gemas.
Nadia membalas ciuman itu sama Inginnya, ia mencubit pinggang Alex gemas dan suaminya itu mengaduh berpura-pura kesakitan. "Aww," pekik Alex dan tautan bibir keduanya pun terpisah.
"Ayo, kita makan malam di bawah. Kamu bisa membuka kado mu nanti dan langsung mengenakannya," ucap Alex seraya meraih jemari Nadia dalam genggamannya dan membawa istrinya itu ke lantai bawah di mana sebuah sajian makan malam romantis menunggu mereka.
***
Nadia berdiri di kamar menatapi beberapa kotak kado yang telah Alex susun dengan rapi. Beberapa puluh menit yang lalu ia dan Alex telah menyelesaikan makan malam romantis mereka.
Seperti yang Alex titah kan, Nadia kembali naik kembali ke kamar mereka untuk membuka kado yang telah Alex siapkan, sementara itu Alex akan menunggunya dengan duduk santai di atas sofa besar yang berada di lantai bawah.
Nadia perhatikan kotak-kotak itu dengan seksama dan ia pun memulai memilih hadiah mana yang akan ia buka untuk yang pertama. Pilihannya jatuh pada kotak paling atas dengan ukuran paling kecil
Nadia tarik pita merah yang menghiasi kotak itu dengan pelan hingga terlepas sempurna dan pun bisa membuka kotak itu dengan mudah.
"Paris !" pekik Nadia tertahan ketika ia menemukan tiket pesawat dan brosur perjalanan wisata yang akan ia lakukan dengan Alex. "Bulan madu di Paris," Nadia membaca kertas itu dengan mata berbinar dan senyuman di bibirnya.
Lalu ia pun memilih kotak kedua dan melakukan hal yang sama untuk membukanya. Sebuah tas, parfum gelang emas dan jam tangan mewah berada di dalamnya. Ini pertama kali Nadia mendapatkan hadiah barang dengan merek ternama yang dulunya hanya bisa ia lihat melalui iklan saja. Ia pun kembali melengkungkan senyumnya.
Nadia pun membuka kotak terkahir yang Alex letakkan paling bawah. Dalam benaknya ini pastilah paling istimewa karena ukurannya yang paling besar. Ia pun membukanya dengan cara yang sama.
Ia membuka pitanya dengan perlahan, hingga terlepas dengan sempurna. Wangi parfum vanila menguar ketika kotak itu terbuka. Wangi khas seperti dirinya. Nadia mengeluarkan kain-kain tipis yang membungkus hadiah tersebut helai demi helai.
"Oh my....," decak Nadia menghela nafasnya saat ia tahu apa yang ada di dalamnya.
to be continued
thanks for reading ♥️