In Love

In Love
Tentang Kita



Nadia berdiri menghadap kaca besar apartemen Alex, memandangi luasnya kota Jakarta dari ketinggian. Matahari mulai memancarkan warna jingga pertanda akan kembali ke peraduannya.


Seperti yang Alex inginkan tadi siang, Nadia pulang ke apartemen begitu juga Alex. Ia menemani istrinya itu sepanjang waktu. Walaupun tak banyak yang dibicarakan lagi setelah ungkapan isi hati Alex di mobilnya beberapa jam yang lalu mengenai Nadia dan pikiran buruknya...


POV Nadia.


"Dasar jal*ng kecil kamu, Nadia !!! kamu merebut kekasih ku !! balasan mu adalah kehilangan bayimu dengan Alex, dan kamu memang pantas mendapatkannya. Kamu tidak akan pernah bahagia dengan Alex !!!"


Teriakan wanita itu masih saja berputar dalam kepalaku seperti potongan adegan film, matanya menatap nyalang padaku dan telunjuknya yang menunjuk-nunjuk terarah pada wajahku.


Tubuhku yang gemetar tiba-tiba membeku tak dapat digerakkan, yang aku rasakan kemudian basah di mataku telah meluruh jatuh. Kata-kata yang ia ucapkan langsung menusuk ke dalam hati dan menghancurkan perasaanku. Membangkitkan kembali ingatanku pada rasa kehilangan buah cintaku yang teramat menyakitkan.


Rasanya bagaikan ditampar dengan kerasnya di depan banyak orang tapi sayangnya rasa sakit dari tamparan itu tak hanya terasa di wajah tapi merambat memasuki ruang hati yang dalam.


Aku yang hanya gadis biasa ini tak pernah menyangka akan jatuh cinta pada sorang lelaki yang karakternya hampir sama dengan tokoh utama pria dalam setiap novel cinta yang aku baca. Begitu sempurna, itulah yang aku pikirkan tentang Alex.


Dulu...


Butuh waktu beberapa saat untuk menetralkan debaran jantungku setiap aku akan membuka pintu kamarku dan berjalan keluar. Dadaku akan kembali berdegup menggila bila aku dapati Alex di ruang makan atau dimana pun ia berada dalam jangkauan mataku dan bila mata kami bertemu makan berdesirlah seluruh darahku. Bayangkan aku harus tersiksa dengan perasaan itu ketika kami tinggal bersama tanpa sanggup mengungkapkan perasaan cinta karena aku yang lebih dulu mencintainya.


Tapi ternyata jatuh cinta tak seindah yang aku kira meski pada awalnya aku pun tak ingin jatuh cinta padanya tapi hatiku tak bisa diajak kompromi. Padahal aku tahu jika Alex masih terjebak dengan masa lalunya, aku yang cinta buta ini memberanikan diri untuk terus mencintainya hingga banyak rasa sakit yang aku terima tapi aku terus bertahan.


Cintaku semakin menggila ketika Alex mulai menyentuhku. Bukan hanya sekedar mengaguminya dari jauh tapi kini aku bisa merasakan sentuhannya. Bisa merasakan debaran jantungnya di telingaku, bisa merasakan rambutnya dengan jemariku, bisa merasakan bibirnya di atas bibirku dan ketika tubuh kami bersatu, aku merasa memiliki Alex seutuhnya. Walaupun aku tak tahu apa yang ia rasakan dalam hatinya tapi aku tak peduli, aku akan dengan sukarela menyerahkan diri setiap Alex menginginkanku. Cinta membuatku buta dan tuli tentang Alex dan masa lalunya.


Ketika Alex mengatakan bahwa dia juga cinta aku, bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. Rasa bahagiaku tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya Alex yang ada di kepala serta hatiku di setiap waktu. Tapi.. semakin aku mencintainya semakin takut aku kehilangannya. Alex bagaikan candu bagiku, aku akan merasakan kesakitan tanpanya.


Ketika Alex kembali mematahkan hatiku untuk entah yang ke berapa kalinya aku benar-benar merasa hancur, ingin menyerah tapi aku tak mampu. Aku selalu meyakinkan diri bahwa aku bertahan karena banyak hati yang aku jaga yaitu ayah, ibu dan mamanya Alex yang sangat baik padaku tapi yang sebenarnya terjadi adalah aku yang terlalu mencintainya tak mempunya nyali untuk pergi.


Aku pun pernah berharap agar buah cinta jangan dulu hadir dalam kehidupan kami tapi nyatanya dalam hati yang paling dalam aku sangat menginginkannya hingga ketika aku benar-benar mengandung anak dari lelaki yang aku cinta, aku merasa luar biasa bahagia. Berharap dia akan menjadi lem penguat cinta kami yang rapuh.


Ku jaga dia dengan sepenuh hati karena ada darah Alex di sana. Aku kira setelah ini hidupku akan berubah bahagia dan menjadi keluarga yang sempurna. Aku bagaikan hidup dalam mimpi dan terbangun ketika kenyataannya adalah masih ada wanita lain yang menjadi bayang-bayang hidup Alex dan dia lah yang menyebabkan aku kehilangan segalanya. Bagai langit runtuh, hidupku hancur seketika.


Aku merasakan kehilangan, kesakitan, patah hati, ragu, dan hilang harapan pada cinta kami. Kehilangan buah cinta kami adalah patah hati yang sebenarnya karena hal itu ,aku menjadi ragu akan perasaan cinta Alex padaku karena ia masih saja berhubungan dengan wanita itu di belakangku.


"Dasar jal*ng kecil kamu, Nadia !!! kamu merebut kekasih ku !! balasan mu adalah kehilangan bayimu dengan Alex, dan kamu memang pantas mendapatkannya. Kamu tidak akan pernah bahagia dengan Alex !!!


Lagi-lagi perkataan wanita itu terngiang di telingaku, apakah benar yang ia katakan ? bahwa aku ini merebut Alex dari sisinya hingga kehilangan buah cintaku adalah balasan yang pantas aku dapatkan. Benarkah aku tak akan pernah bahagia dengan Alex ?


Tapi hidup tanpa Alex membuatku lebih tak bahagia lagi. Aku bagai mayat hidup tanpanya di sisiku, hidupku terasa sangat hampa dan menderita. Aku pernah pergi meninggalkan Alex, berpura-pura kuat dan tangguh tanpanya karena aku sudah terbiasa hidup mandiri tapi nyatanya aku sangat membutuhkan Alex dalam setiap helaan nafasku.


***


POV Alex


Semua yang terjadi di hari ini di luar kendaliku, padahal aku kira semuanya telah berjalan baik hingga jal*ng itu kembali melukai hati wanitaku.


Hatiku hancur melihat wanita yang aku cintai menangis dengan pandangan mata kosong. Aku mencintainya tapi terus membuatnya kesakitan.


Entah berapa kali Nadia menangis karena sesuatu yang berhubungan denganku dan itu membuat aku takut ia pergi lagi dari sisiku untuk ke dua kalinya. Nadia dan segala pikiran dalam kepalanya yang membuatku ketakutan. Takut untuk ditinggalkan.


Oh Tuhan... Aku sangat mencintainya tapi ternyata cinta tak semudah itu untuk kami walaupun kami berada dalam rasa yang sama.


Aku tahu seharusnya tak mengatakan kata-kata itu padanya tadi. Aku lakukan itu agar ia tak lagi menjaga jarak dariku, aku tak sanggup berjauhan dengannya karena Nadia bagaikan oksigen bagiku, Aku membutuhkannya di setiap helaan nafas ku.


Jangan salahkan Nadia dengan segala pikirannya, ia telah melalui banyak hal dan kebanyakan dari hal itu adalah yang menyakitinya.


Aku telah berlaku jahat padanya di waktu lalu, menyiksanya dengan rasa cinta yang aku tahan karena aku takut dia seperti wanita lainnya yang mencintaiku hanya karena apa yang aku miliki tapi nyatanya Nadia terus bertahan dan membuktikan jika rasa cinta yang dimilikinya memang nyata adanya.


Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun lamanya, aku merasakan cinta lagi dan itu terasa sangat luar biasa. Aku merasa hidup lagi, karena Nadia mengisi jiwaku yang hampa.


Setiap aku merasakan tubuh Nadia dalam pelukanku, aku menjadi lelaki paling bahagia di dunia ini. Hingga rasanya ingin ku sembunyikan dia dari dari lelaki lain karena hanya aku saja yang boleh memujanya.


Ketika aku tahu Nadia mengandung anakku makin sempurna lah rasa cintaku padanya dan mengabaikan Lola yang ternyata masih berusaha untuk memanfaatkan aku.


Demi Tuhan... aku sangat ketakutan ketika Nadia kembali berdiam diri dalam sunyi. Tak akan kubiarkan ia sendiri. Aku tak peduli jika dikatakan egois atau apapun, aku hanya ingin Nadia terus berada di sisiku dan akan ku curahkan banyak cinta yang berhak ia dapatkan.


Lihatlah ia berdiri di sana, dalam jangkauan pandanganku. Bisa melihatnya ada di sekitarku saja sudah membuatku bahagia.


***


Author POV.


Nadia masih asik memperhatikan matahari yang kian tenggelam, pikirannya masih melayang entah kemana tapi yang pasti selalu ada Alex di dalamnya.


Alex sandarkan tubuhnya di dinding, matanya sibuk menatapi sang istri yang berdiri membelakangi. Tak tahan lagi, Alex pun berjalan mendekati dan dengan perlahan ia melingkarkan tangannya yang kekar di tubuh Nadia dan mendekapnya erat.


Nadia terhenyak mendapatkan pelukan posesif seperti itu, tapi ia tak menolaknya. Ia sandarkan kepalanya pada dada bidang Alex dan suaminya itu memberikan ciuman di puncak kepalanya dan lagi-lagi Nadia tak menolaknya.


Alex tundukkan kepala dan mencium pelipis Nadia dan istrinya itu tersenyum karenanya. Alex semakin tundukkan kepala agar bisa mencium pipi Nadia dengan gemas dan kali ini istrinya terkekeh karena kegelian.


"Maafin aku," bisik Alex tepat di telinga Nadia dan dengan perlahan ia memutar tubuh Nadia agar menghadapnya tanpa melepaskan rengkuhan tangan di pinggangnya.


Mata mereka saling bertemu dan terkunci, "Ayo kita luruskan masalah ini," ucap Alex lirih.


"Masalah apa ?" tanya Nadia pelan.


"Tentang aku, tentang kamu, kita....," jawab Alex dengan matanya yang menatap dalam.


"Kamu tak pernah merebut aku dari wanita mana pun, karena aku sendiri yang datang padamu dan kemudian jatuh cinta karena kamu wanita yang luar biasa. Dan kehilangan buah hati kita adalah ujian bagi cinta kita bukan karena kesalahan yang kamu lakukan seperti yang wanita gila itu tuduhkan,"


"Wanita gila itu adalah cinta pertama mu," potong Nadia sambil tersenyum masam.


"Tapi kamu adalah cinta terakhirku dan tak akan ada cinta yang lainnya," sahut Alex sungguh-sungguh.


Nadia kembali tersenyum dengan mata memburam karena genangan air bening di pelupuk matanya.


"Dengarkan aku... Sudah kukatakan jika aku tak bisa menjamin perjalanan cinta kita berdua akan mudah dan tanpa rintangan tapi aku berjanji apapun yang terjadi kita akan bergandengan tangan dan menghadapinya bersama dengan rasa cinta. Mari kita lakukan itu sekarang, kita hadapi berdua masalah ini. Bahagiamu adalah bahagiaku, begitu juga rasa sakit mu akan menjadi sakit ku juga," lanjut Alex lebih serius lagi dari sebelumnya.


Mendengar yang Alex ucapkan membuat Nadia tak bisa lagi menahan air matanya dan ia pun menganggukkan kepala menyetujuinya.


"Maafkan Aku yang terlalu keras padamu tadi," ucap Alex seraya mengeringkan air mata Nadia dengan jempolnya.


"Ma-maafkan aku juga yang terlalu terbawa perasaan hingga melampiaskannya padamu, padahal kamu selalu berusaha untuk menguatkan aku," sahut Nadia terbata di sela-sela isakkan tangisnya.


Alex tersenyum lega, "jadi kita udah baikan sekarang ?" tanya Alex.


"Kita gak marahan, hanya aku saja yang sedang menyebalkan," jawab Nadia tertunduk malu.


"Mmm.... jadi... bolehkah aku mencium mu sekarang ?" tanya Alex seraya mengangkat dagu Nadia dengan jempolnya.


Nadia mengulum senyum dan menganggukkan kepala sebagai jawaban. Alex rengkuh tubuh Nadia agar lebih lekat padanya, "Aku mencintaimu," bisik Alex sebelum membenamkan bibirnya di atas bibir Nadia dan mengulumnya rasa-rasa.


Nadia membalas ciuman itu dengan cara yang sama, dan matahari yang tenggelam dengan sinarnya yang jingga menjadi saksi semakin kuatnya cinta mereka.


to be continued ♥️


jangan lupa event In Love with Peak Fam masih berlangsung ya.


Yang suka novelnya dan juga ikhlas ayo berikan hadiahnya karena nanti untuk pemberi hadiah terbesar ada pulsa atau e-money yang bisa didapatkan.


pencatatan sampai tanggal 30 Juni ya


terimakasih ♥️