In Love

In Love
Pertanda



"Laura ? Lola yang harus diamputasi ? Kenapa ?" Tanya Nadia beruntun, ia menatap Alex dalam ketika menanyakan itu semua.


"Alex ?" Tanya Nadia lagi karena Alex tak jua menjawab. Yang ia lakukan hanya balas menatap Nadia tanpa mampu berkata-kata.


Sadar jika Alex sepertinya tak ingin membicarakan hal yang bersangkutan dengan Laura atau Lola, akhirnya Nadia memutuskan untuk tak lagi bertanya walaupun dalam hatinya ia merasa kecewa karena ternyata Alex masih saja peduli dengan wanita itu.


"Ini minumnya, kamu tadi pergi meninggalkan meja makan tanpa minum terlebih dahulu," ucap Nadia sembari menyerahkan segelas air putih dan ia pun segera beranjak pergi.


Alex meraihnya namun tak juga meminumnya, ia menelan ludahnya paksa sembari mencekal lengan Nadia agar tidak pergi. "Nad, tunggu..," ucapnya lirih.


Nadia menghentikan langkahnya, dan menolehkan kepala. Ia tatapi Alex yang masih terlihat ragu untuk berbicara seolah kata-kata yang hendak diucapkannya tercekat di tenggorokan.


"Kalau kamu gak mau cerita tak apa," sahut Nadia pelan.


"Bukan begitu, aku hanya bingung harus mulai bercerita dari mana," timpal Alex sembari terus menahan lengan Nadia agar tak pergi.


Alex meminum segelas air putih itu dengan tak sabaran, sebelum ia mulai bercerita.


"Ayo," Alex menautkan jemarinya kedalam genggaman tangan Nadia dan menuntunnya menuju kamar mereka.


Nadia duduk di atas ranjang dengan kedua kaki menjuntai ke bawah, sedangkan Alex duduk di kursi kayu di hadapannya. Suasana menjadi begitu sunyi.


Nadia menunggu Alex untuk mulai bercerita, sedangkan Alex masih mencari kata-kata yang tepat untuk mengutarakannya.


"Alex, aku menunggu," ucap Nadia dan itu membuat Alex kian terdesak.


Alex menarik nafas dalam dan membawa jemari Nadia dalam tangannya kemudian menggenggamnya erat. "Aku akan katakan semua, aku harap kamu bisa menerimanya dengan lapang dada,"


"Hah ? Apa kamu dan Lola ?" Tanya Nadia dengan menahan rasa ngilu di hatinya. Ia mengira Alex dan Lola akan kembali bersama


"Apa kalian.... Ingin kembali ?" Tanya Nadia lagi. Alex yang mendengar itu berkerut alis tak paham.


"Aku ingin kembali ? Tidak !! Ya Tuhan, tak pernah sekalipun terlintas untuk kembali pada wanita gila itu," jawab Alex.


"Lalu ?" Tanya Nadia lagi, matanya sudah memburam karena cairan bening yang telah menggenang di pelupuk matanya.


"Semua yang terjadi padamu, pada kita... Lola lah yang merencanakannya...,"


***


Lama Alex bercerita, ia memaparkannya secara runtut agar Nadia mengerti dan paham. Nadia yang mendengarkan itu semua tak sekalipun memotong perkataan suaminya. Ia hanya diam tanpa bersuara dan itu membuat perasaan Alex tak karuan.


"Nad..,sayang..., Katakan sesuatu, please...," Ucap Alex frustasi.


"Aku tak tahu harus berkata apa, aku hanya kecewa karena kamu menutupinya," sahut Nadia sembari tersenyum masam dan sedetik kemudian ia mengusap pipinya yang basah. Air bening yang Nadia tahan tak terbendung lagi.


"Aku bukan menutupinya, Sayang... Aku hanya ingin mengatakan semua ketika semua sudah jelas," jawab Alex beralasan.


"Tapi bukan itu yang aku rasakan, kamu berusaha menutupi apa yang Lola lakukan, apa kamu masih peduli padanya ? Mungkin yang Lola katakan ketika aku tak sadarkan diri benar adanya,"


"Hah ?" Gumam Alex tak paham.


"Bahwa dialah yang sebenarnya kamu cintai, hingga begitu sulit bagimu untuk  melepaskannya," ucap Nadia lirih.


"Aku hanya mencintaimu, Nadia. Aku bersumpah demi Tuhan, hanya kamu," sahut Alex frustasi. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Tapi kamu selalu menutupi...,"


"Karena aku seorang pengecut, Nadia !!! Aku takut kamu akan semakin menjauhi aku ketika tahu jika Lola yang mencelakai kamu. Aku takut kamu akan menyalahkan segala sikapku yang tidak tegas padanya, hingga kamu dan aku harus mengalami hal ini. Aku takut kamu semakin jauh dariku....," Potong Alex. Ia begitu frustasi ketika mengatakan itu semua.


Nadia tak berkata apapun, tatapan matanya kosong. Hampa yang kini ia rasakan dalam hatinya.


"Bukannya aku tidak tegas padanya, bukannya aku masih peduli. Aku kira dia tidak akan berani melakukan hal buruk seperti itu. Aku yang salah karena menganggapnya sepele, aku sibuk jatuh cinta padamu hingga lengah padanya," lanjut Alex lagi tapi Nadia masih diam tak bersuara.


"Aku salah... Seharusnya ketika tahu Lola melakukan kejahatan di Belanda sana. Menyakiti hati wanita lain dan menelantarkan anaknya sendiri. Hari itu juga seharusnya aku melaporkan Lola," ucap Alex penuh sesal.


"Pantas saja ia tak punya rasa empati


Ketika aku kehilangan calon anakku, wanita itu tak menyesal sedikit pun malah terus membujukmu untuk ninggalin aku," sahut Nadia sembari kembali mengusap pipinya.


"Seharusnya kamu tahu... Jika wanita itu mampu menelantarkan anaknya demi kepentingan pribadi, demi kesenangan dirinya sendiri maka kejahatan apapun mampu dia lakukan," lanjut Nadia.


"Nad... Aku...,"


"Sudahlah..., Semua telah terjadi," potong Nadia.


"Aku tahu, kamu pasti sangat kecewa padaku...," Ucap Alex yang kini duduk bersimpuh di hadapan Nadia.


"Aku tak tahu harus bagaimana," lirih Nadia hampir tak terdengar.


"Kamu tak perlu melakukan apapun, aku yang akan memperbaiki semuanya. Aku akan selesaikan satu persatu masalah kita, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua dan kita akan tetap bertahan bersama, please...," Ucap Alex seraya menciumi punggung tangan Nadia yang ada dalam genggamannya.


Dapat Nadia rasakan hangatnya air bening yang mengenai punggung tangannya, rupanya tak hanya dirinya saja yang menangis tetapi Alex juga.


Keduanya sama-sama merasakan sakit dan begitu putus asa.


"Kumohon Nadia...., Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua....," Ucap Alex dengan kepala tertunduk sambil terus menciumi tangan Nadia yang berada dalam genggamannya.


***


Waktu terus berlalu hingga hampir 2 Minggu lamanya. Masa cuti Nadia pun sudah hampir habis.


Selama waktu berjalan banyak hal yang terjadi. Lola dan Nicky sudah resmi menjadi tersangka, Nadia mendapatkan uang kompensasi yang begitu besar dari perusahaannya juga dari perusahaan tempat Nicky bekerja dan tak hanya itu, Nadia juga mendapatkan promosi naik jabatan menjadi seorang manager seperti yang dulu pak Adi pernah janjikan jika ia berhasil melakukan kerjasama dengan perusahaan Alex.


Promosi dan uang kompensasi yang diterimanya hanya Nadia yang tahu, ia belum menceritakan hal ini pada keluarganya atau juga pada Alex.


Hubungannya dengan Alex, walaupun dikatakan baik-baik saja tapi sebenarnya ada batasan yang tak kasat mata yang kian melebar diantara mereka. Nadia semakin membatasi diri, sedangkan Alex yang berusaha menepati janjinya menyelesaikan masalah semakin sibuk hingga komunikasi keduanya kian memburuk.


Apalagi beberapa malam ini Alex tak pulang ke Bogor karena banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan di luar kota, selain itu kasus Nadia yang masih bergulir membuat kesibukan Alex makin bertambah.


Hari ini Jum'at siang. Nadia baru saja mendapatkan email bahwa penempatan tugas yang barunya sebagai manager adalah di kota Bandung dan dimulai dari hari Senin yang akan datang.


Nadia terdiam, memikirkan semua. Uang untuk membayar hutang orangtuanya pada mama Alex sudah terkumpul, ia pun kini dipindah tugaskan dan menempati posisi yang lebih tinggi di kota lain. Dulu Nadia pernah berjanji pada mama Alex akan berusaha untuk memberikan cucu. Dan ya, ia telah berusaha meskipun akhirnya gagal. Semua yang Nadia ingin lakukan telah ia lakukan dan inilah hasilnya. Apa semua ini pertanda dari Tuhan agar ia berpisah dari Alex ?


Nadia sudah berjuang, sudah bertahan semampu yang ia bisa. Walaupun ia sangat mencintai Alex dan Alex pun mencintainya tapi sepertinya bahagia memang bukan ditakdirkan untuk menjadi milik keduanya. Walaupun berat namun pada akhirnya Nadia mengambil sebuah keputusan.


"Mau kemana udah rapi ?" Tanya ibu Nadia ketika ia mendapati anaknya telah bersiap untuk pergi.


"Aku harus pergi ke kantor sebentar, ada yang haru aku selesaikan," jawab Nadia sembari merapikan tas dan memasukkan beberapa lembar kertas ke dalamnya.


"Jangan sendirian," sahut ibunya. Ia masih merasa khawatir jika Nadia bepergian sendiri.


Nadia tersenyum memaklumi, pastilah sang ibu akan merasa khawatir jika ia pergi sendirian dan Nadia pun sebenarnya masih sedikit takut keluar rumah tanpa ditemani. "Aku pergi sama Dimas (adik lelakinya)," sahut Nadia dan kini ibunya bisa bernafas dengan lega.


***


"Dek, nanti setelah keluar jalan tol ambil arah kiri ya," ucap Nadia pada sang adik yang kini sedang mengendalikan setir mobil.


"Loh kok ke kiri ? Bukannya mau ke kantor ?" Tanya sang adik terheran karena arah yang Nadia tunjukkan berlawan dengan letak kantor kakaknya itu.


"Mbak gak ke kantor, mbak mau ketemu seseorang," jawab Nadia seraya membuang pandangannya ke arah luar jendela, menatapi setiap jalan yang dilaluinya dan berharap jalan yang dipilihnya adalah yang terbaik bagi semua.


Setelah berkendara beberapa puluh menit lamanya, akhirnya Nadia sampai di sebuah rumah mewah yang dulu pernah beberapa kali didatanginya.


Ia berdiri di depan pintu berwarna putih dan mengetuknya. Nadia menolehkan kepala dan memastikan sang adik untuk tidak mengikutinya. Tersenyum lega ketika melihat Dimas tetap berada di balik setirnya.


Cukup lama menanti akhirnya pintu itu terbuka juga dan seseorang yang ingin Nadia temui berdiri di hadapannya.


"Eh Nadia ?" Tanya mama Alex, ia terkejut dengan kedatangan menantunya yang tiba-tiba.


"Alex mana ?" Tanya mama Alex sembari mengedarkan pandangannya mencari kehadiran sang anak.


"Mmm... Alex kerja. Aku datang sendirian karena ingin bertemu Mama," sahut Nadia dengan tersenyum manis.


"Ya ampun... Padahal kamu tinggal telepon saja dan mama akan langsung pergi ke Bogor untuk menemuimu, Sayang. Ayo masuk," ucap mama Alex sembari menggandeng tangan Nadia dan mereka memasuki rumah bersama-sama.


Nadia menarik nafas dalam-dalam, mama Alex sangat baik dan juga sangat menyayanginya. Selama ia sakit beberapa kali ibu mertuanya itu datang ke Bogor untuk melihat keadaannya. Pasti akan sangat menyedihkan untuk kehilangan mertua sebaik mama Alex.


To be continued ❤️


Thanks for reading ❤️