In Love

In Love
Tangis Terakhir



Happy reading ❤️


Tanpa keduanya sadari, seseorang melihat itu semua dengan wajah lelahnya. Lelah karena mencari istrinya yang menghilang, bahkan ia harus membatalkan janji temu dengan kekasihnya yang telah lama pergi hanya untuk mencari sang istri yang katanya tak dicintainya.


Alex menatap keduanya dengan seksama dan tanpa jeda tak sekalipun ia mengedipkan matanya ketika melihat keduanya berpelukan. Fakta bahwa Nadia yang lebih dulu memeluk lelaki yang Alex yakini adalah Bimo membuatnya tersenyum muak.


Muak karena ternyata istrinya itu menghilang dengan kekasihnya. "Dan gue  kaya orang beg* nyari-nyari juga ngerasa khawatir padahal dia sedang having fun dengan mantannya," gumam Alex dengan tersenyum miring.


Keduanya pun mengurai pelukan dan Bimo mengacak puncak kepala istrinya gemas sebelum ia pergi membuat Alex mengepalkan tangannya, ia terus mengamati dan membalikkan tubuhnya ketika Bimo berjalan melewatinya. Padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya karena lelaki itu tak datang ketika ia menikahi Nadia tapi entah kenapa Alex tak sudi hanya untuk sekedar melihat wajahnya apalagi jika harus berkenalan.


Setelah Bimo pergi, Alex berusaha menyusul langkah Nadia namun istrinya itu lebih dulu menaiki lift dan pintu itu tertutup ketika Alex berusaha masuk dan sayangnya Nadia tak melihat itu semua karena ia menundukkan kepala, juga cukup banyak orang yang berdiri di hadapannya.


Dengan tak sabaran Alex menekan tombol lift yang ada di sebelahnya dan dengan tergesa masuk ketika pintu lift terbuka namun sayangnya cukup banyak orang yang ikut serta dan turun di setiap lantai yang berbeda hingga Alex yang sedang terburu-buru menjadi terhambat.


Nadia menekan 6 kombinasi angka yang sangat ia benci. Ia tersenyum samar ketika sadar mengapa benci pada nomor-nomor itu, "mungkin dari awal aku emang udah punya rasa sama si bocah tengik itu," batinnya dalam hati.


Nadia menarik nafas dalam ketika ia memasuki apartemen. Ia teringat kembali hal yang sangat menyedihkan dan membuatnya patah hati kemarin malam. Melepaskan sepatu kerjanya dan menyimpan dalam rak, lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil botol air serta mugnya.


Belum juga Nadia berbelok ke arah dapur namun pintu apartemennya telah kembali terbuka dan Alex muncul dengan wajahnya yang dingin dan menatap dirinya dengan sedikit "marah?"  Tebak Nadia dalam hatinya.


Tak ingin berdebat, Nadia memalingkan wajahnya dan pergi seolah tak peduli dengan kedatangan suaminya itu.


"Kemana saja kamu hari ini ?" Tanya Alex dengan gusar.


Nadia mengacuhkannya, ia tak menjawab. Yang dirinya lakukan adalah membuka lemari es dan mengambil sebotol air.


"Nadia !!!" Hardik Alex dengan suara menggelegar.


"Gak usah teriak, gue denger kok. Gue kerja." sahut Nadia dengan malasnya.


"Gue ?" Gumam Alex tak suka. Ia mengerutkan dahinya ketika mengatakan itu


"Kamu tahu ? Kurir yang mengantarkan makan siang bilang kamu gak masuk kerja. Terus aku telepon kantormu dan mereka mengatakan hal yang sama, aku datangi kantormu untuk memastikan dan ya kamu tak ada disana ! Aku muter-muter nyari kamu sampai ke kosan tapi gak ada siapa-siapa, dan ponselmu sengaja dimatikan bukan ??" Alex mengatakan itu semua dengan meledak-ledak karena tak bisa lagi menahan emosinya.


Sedangkan Nadia sedang tak ingin meladeninya yang ia lakukan mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya dan minum dengan santainya seolah tak peduli dengan kemarahan Alex saat ini.


"Nadia !!!" Sentak Alex


"Apa kamu bodoh ? Kalau orang kantor mengatakan gue gak masuk ya berarti gue gak masuk," jawab Nadia menirukan apa yang pernah Alex ucapkan padanya.


"Bodoh ??" Tanya Alex tak percaya.


"Dan gue gak nyuruh lo untuk melakukan semua, gue gak minta lo buat nyari gue," jawab Nadia. Lagi-lagi ia menirukan apa yang pernah Alex katakan padanya.


Alex terdiam, ia sadar Nadia mengikuti setiap kata yang diucapkannya malam lalu dan ternyata terasa begitu sakit baginya. Cukup bagi Alex mengerti apa yang Nadia rasakan saat ini.


"Suka tak suka, mau gak mau... Kamu adalah istriku sekarang ini dan jadi tanggung jawabku,"


Nadia tersenyum muak,"istri hanya sebatas status," jawab Nadia dengan jelasnya.


"What ?" Gumam Alex tercengang. Namun belum juga Alex kembali berkata-kata, terdengar suara bel di pintu depan dan itu membuat keduanya terdiam.


Bel pintu yang berbunyi lagi memaksa Alex harus berjalan kembali ke arah pintu padahal ia dan Nadia belum selesai berbicara.


Alex membuka pintu dan berdirilah laki-laki yang tadi istrinya peluk. Entah kenapa ia sangat tak menyukainya, bukan cemburu tentu saja. Hanya baginya tak pantas jika ia lelaki itu mendekati istrinya. Ya walau bagaimanapun Nadia itu istrinya, miliknya.


"Alex ?" Tanya Bimo ramah.


"Ya, kenapa ?" Tanya Alex nampak tak bersahabat.


Alex hendak mengambilnya, namun tangan Nadia lebih cepat meriahnya.


"Ya ampun Bim, kamu pasti harus putar balik lagi tadi ?" Tanya Nadia dengan  nada suara dan susunan kata yang sangat berbeda membuat Alex melihatnya dengan tak suka.


"Its oke, takutnya harus diminum malam ini kan ?" Tanya Bimo.


"Iya, makasih banget. Maaf repotin kamu terus," kata Nadia dengan merasa tak enak.


Melihat Alex yang kurang ramah membuat Bimo segera undur diri. Nadia hendak memberikan salam perpisahan pada sahabatnya itu namun Alex segera menghalangi.


"Terimakasih sudah membantu istriku," kata Alex dengan menekankan kata istri dan segera menutup pintu padahal Bimo masih berdiri disana.


"Kamu sakit ?" Tanya Alex ketika pintu itu sudah tertutup dan ia menyentuh dahi Nadia untuk memeriksa namun sang istri segera menepisnya.


"Seharusnya aku gak khawatir ya ? Kamu  seharian dijagain mantan pacar sampai pulang larut malam," sindir Alex.


"Setidaknya, gue gak pulang subuh cuma buat nemenin mantan pacar makan," sahut Nadia.


"F*ck !" Maki Alex karena perkataan Nadia tepat pada sasarannya.


"Cuma sekedar meluruskan, gue istirahat di kostan dan pada jam istirahat Bimo sama Meta bawain makan, karena sorenya masih demam Bimo maksa gue buat berobat. That's all... Gak adil rasanya kalo lo berpikiran buruk tentang Bimo," jelas Nadia.


"Gimana aku gak berpikiran negatif ? Kamu bawa lelaki lain ke apartemen kita dan memeluknya," sahut Alex dengan suara meninggi.


"Memeluk hanya sebatas teman, karena gue memang sedang membutuhkannya," ucap Nadia dengan wajah sendunya.


"Membutuhkannya ? Kamu ingin dipeluk dan disentuh olehnya ?" Tanya Alex seraya berjalan mendekati dengan rahang mengeras menahan amarah.


Nadia tak mengerti apa yang Alex tanyakan dan tak mengerti mengapa Alex terlihat gusar. Yang ia lakukan hanya berjalan mundur menjauhi. Ia ingat kejadian dulu ketika Alex mengerjainya.


Bagai dejavu Alex kembali memojokkannya di dinding namun bedanya kali ini Nadia tak merasa takut, ia menatap mata Alex sama tajamnya.


"Apa kamu ingin disentuh seperti ini olehnya ?" Tanya Alex seraya merengkuh pinggang Nadia agar padu dengan tubuhnya.


"Jangan sentuh gue, Alex," ucap Nadia dengan jelasnya.


"Kenapa ? Kamu merasa muak ? Tapi tubuhmu berkata sebaliknya," jawab Alex karena tubuh Nadia yang melemah bagaikan jelly dalam dekapannya, bahkan ia meremas kain kemeja Alex untuk berpegangan.


Cukup lama Alex mendekap Nadia dengan pandangan mata yang saling terkunci hingga akhirnya Alex menundukkan kepala berusaha untuk membenamkan bibirnya namun Nadia menolehkan kepalanya menolak ciuman itu. Membuat hati Alex nelangsa karena sebuah penolakan. Ia pun tersenyum masam.


"Bisa tolong lepaskan ? Gue mau minum obat dan beristirahat," ucap Nadia.


Alex pun melepaskan dekapannya dan membiarkan Nadia pergi menjauh darinya.


Nadia meminum obatnya dan tanpa berkata apapun lagi, ia berjalan memasuki kamarnya. Menutup pintu kamarnya dengan rapat, tak lama terdengar kunci yang diputar dari dalam. Meninggalkan Alex yang masih berdiri sembari menyenderkan tubuhnya di kepala kursi.


Di dalam kamar, Nadia segera mengganti baju dan naik ke atas tempat tidurnya. Dadanya masih saja berdetak dengan kencang karena dekapan Alex yang begitu mempengaruhinya.


Bohong jika ia merasa baik-baik saja, yang ia lakukan tadi hanya berpura-pura kuat. Jika Alex menyentuhkan bibirnya sedikit saja, dirinya yakin saat itu juga ia akan menyatakan perasaannya dan memohon juga mengiba pada Alex agar menerima perasaannya.


"Beg* banget sih, Nad." Nadia mengusap air mata di pipinya dan merutuki dirinya sendiri yang masih saja tak bisa menghilangkan perasaan cintanya pada Alex.


"Ini malam terakhir kita menangisinya, karena mulai besok kita akan bangkit dan melawan perasaan ini bersama... Hai hati, ku mohon relakan Alex untuk pergi darimu," lirih Nadia sembari memejamkan  matanya yang masih saja mengeluarkan air bening yang dengan lancang terus keluar membasahi kedua pipinya.


To be continued ❤️


Jangan lupa like dan komen ya