
Happy reading ❤️
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah menginjak 2 bulan sejak Alex mengganti nomor acak password pintu apartemennya. Lola tak pernah muncul lagi di sana dan hubungan Nadia serta Alex pun kian erat saja.
Kerjasama yang mereka lakukan bersama semakin mendekatkan keduanya. Bahkan Alex menawarkan beberapa projek lagi pada perusahaan istrinya itu. Selain karena hasil kerja Nadia yang sangat baik bahkan nyaris sempurna, ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi bersama ke berbagai kota berdua saja dengan sang istri. Selain bekerja, Alex menggunakan masa-masa ini sebagai bulan madu mereka yang tertunda.
Joy yang kini telah mengetahui status Alex yang sebenarnya, menempatkan mereka pada satu kamar hotel yang sama. Seperti saat ini, keduanya tengah berada di Bali untuk meninjau projek yang pertama kali Nadia lakukan dimana ia kabur ketika Alex mencoba untuk menidurinya.
"Kamu ingat dengan kamar ini ?" Tanya Alex seraya membukakan pintu kamar hotel untuk istrinya.
"Hah ?" Gumam Nadia tak paham.
Ia pun melangkahkan kaki ke dalam kamar hotel mewah itu dan mengedarkan pandangannya. Seketika bayangan Alex yang menciumnya penuh tuntutan di atas sofa, menari di benaknya .
"Waktu itu ada seseorang yang kabur dari kamar ini, dan aku seperti orang gila mencarinya," kata Alex kemudian.
"Gimana aku gak kabur, omongan kamu nyebelin banget," sahut Nadia kesal. Ia mencebikkan bibirnya ketika mengatakan itu.
Alex tersenyum samar, ia pun mendekati istrinya yang masih berdiri terpaku di tengah kamar. "Jangan lakukan itu lagi, aku benar-benar merasa takut ketika kamu pergi waktu itu. Rasanya kepalaku mau pecah karena takut hal buruk terjadi padamu," kata Alex seraya memasukkan helaian anak rambut Nadia ke belakang daun telinganya. Saat ini tubuh Alex yang tinggi tegap berdiri tegak tepat di hadapan istrinya.
"Aku gak akan kabur tanpa sebab," jawab Nadia lirih. Ia mengingatkan Alex tentang perkataan buruk suaminya waktu itu. Alex mengatakan jika ia akan memberikan apapun yang Nadia mau asal dirinya mau memuaskan hasrat berahinya.
"Im so sorry... Aku benar-benar menyesal mengatakan kata-kata buruk itu padamu. Aku sangat tertekan waktu itu karena kamu menolakku terus," sahut Alex. Ia ingat ketika itu mulai merasakan desiran yang berbeda pada istrinya namun karena perseteruan yang terjadi diantara keduanya yang disebabkan oleh sikap menyebalkan Alex ketika Nadia menyiapkan kejutan untuk ulang tahunnya membuat istrinya itu menjaga jarak darinya.
"its ok, itu udah berlalu," timpal Nadia dan ia pun berjalan menjauhi Alex untuk menelisik isi kamar hotel tersebut dengan mata Alex yang terus memperhatikannya.
Waktu itu Alex sangat marah dan kecewa saat Nadia mengatakan jika ia muak dengan setiap ciuman yang Alex berikan hingga lelaki itu berpikir pasti menyenangkan mendapatkan 2 wanita sekaligus. Tapi nyatanya setelah ia mendapati Nadia adalah seorang gadis perawan membuat Alex tergila-gila pada istrinya dan banyak melupakan Lola.
Tentang Lola, Alex masih berhubungan dengannya walaupun ia hampir tak pernah menemuinya meskipun Lola memohon dan mengiba. Kesibukan selalu menjadi alasan Alex, padahal yang terjadi sebenarnya adalah ia lebih nyaman berada di samping Nadia, istrinya.
Lola selalu menerima apapun yang Alex putuskan, ia selalu bersabar meksipun selalu Alex abaikan. Tuhan membalikkan keadaan dengan begitu mudahnya. Jika dulu Alex yang selalu memohon dan juga bersabar, kini Lola lah yang melakukan itu semua hanya agar Alex tak pergi dari sisinya. Ia merasa menjadi wanita yang tak memiliki harga diri lagi karena terus bertahan walaupun Alex tak lagi menganggapnya.
Alex pun sudah tak tertarik dengan apa yang Lola lakukan, bahkan ia tak mencari tahu alasan mengapa wanita itu pergi. Alex tengah sibuk menikmati euforia kebersamaannya bersama Nadia. Walaupun kata cinta belum ia ungkapkan namun dalam hatinya Alex merasakan itu. Sikapnya semakin manis juga kian posesif saja.
Pernah suatu waktu mereka bertemu Edo dengan tak sengaja dan sama-sama akan memasuki lift. Alex pun sudah tahu jika lelaki itu hanya berpura-pura menjadi kekasih istrinya hanya untuk mengelabui Lola waktu itu, tapi tetap saja ia merasa sangat cemburu.
Keadaan lift cukup padat, berisikan lebih dari 5 orang. Alex, Nadia dan Edo berdiri berjajar di barisan paling belakang. Awal mula, Alex hanya menggenggam jemari Nadia untuk memperlihatkan bahwa wanita itu adalah miliknya.
Tapi ternyata Edo masih mengajak Nadia bicara tentang banyak hal. Merasa tak rela istrinya berbicara dengan lelaki yang pernah diakuinya sebagai kekasih meskipun itu hanya sebuah sandiwara, Alex pun merubah posisinya berdiri. Ia membuat poisi Nadia menjadi berdiri di depannya dan tanpa malu-malu ia membelitkan kedua tangannya di atas perut datar sang istri dan memeluknya erat.
Apa yang Alex lakukan tentu saja menjadi pusat perhatian karena pantulan bayangan mereka terlihat di dinding lift yang terlihat seperti cermin.
Dada Nadia berdegup kencang saat itu, ia mencoba untuk melepaskan diri. Namun semakin ia berontak, semakin Alex mengeratkan pelukannya.
"Diam," bisik Alex. Tapi Nadia tak menurutinya, yang ia lakukan adalah mencoba melepaskan belitan tangan suaminya dengan perlahan tapi Alex tak bergeming.
"Diam sayang," bisik Alex lagi dan ia pun mengecup serta mengigit gemas daun telinga Nadia hingga istrinya itu melonjakkan tubuhnya karena terkejut.
"Atau aku lakukan lebih dari ini," ancam Alex dan setelah itu Nadia menurutinya.
Edo yang melihat itu menundukkan kepalanya karena merasa jengah juga sedikit marah.
Edo tersenyum samar ketika ia sadar dirinya tengah dilanda rasa cemburu karena wanita yang ia kagumi bermesraan dengan suaminya.
Alex dan Nadia keluar lebih dulu sambil berpegangan tangan, diikuti oleh Edo yang berjalan di belakang mereka dengan terus memperhatikan keduanya.
Alex sadar akan itu tentu saja, ia tahu lelaki bernama Edo itu memiliki rasa yang lain pada Nadia.
Tapi ia tak akan pernah membiarkan itu terjadi. Nadia hanya miliknya seorang. Oleh karena itu sebisa mungkin Alex akan melindunginya dari para lelaki lain yang datang untuk mendekatinya. Tak heran jika Alex terus meminta haknya sebagai suami karena ia merasa Nadia hanya miliknya saja.
"Suka dengan pemandangannya ? Kalau kurang suka, kita bisa mencari kamar yang lain," tanya Alex seraya melingkarkan kedua tangannya di atas perut Nadia yang datar.
"Hu'um suka banget, sangat indah..." Jawab Nadia sembari menatap jauh.
"Tapi... Menurutku kamu lebih indah lagi," Alex masih berbisik tapi kini suaranya sudah terdengar parau dan tentunya Nadia paham akan itu.
"Alexhh," gumam Nadia lirih karena suaminya itu sudah melabuhkan bibirnya yang basah dan kenyal menyusuri ceruk leher Nadia yang jenjang dan memberikan banyak kecupan di sana.
"I want you so badly..." ( Aku sangat menginginkanmu ) bisik Alex serak.
"Sekali ini saja sebelum makan malam," lanjutnya lagi sembari terus memberikan ciumannya.
"Ish... Selalu saja begitu. 'Sekali ini saja' sekali ini saja sebelum tidur, sekali ini saja sebelum pergi ke kantor, sekali ini saja sebelum kita pergi nonton, sekali ini saja sebelum ke rumah mama, sekali ini saja sebelum ke bandara, sekali ini saja sebelum mandi, sekali ini saja sebelum kamu pergi bertemu teman, sekali ini saja teruuuuus" sahut Nadia gemas.
Alex yang mendengar itu terkekeh geli dan memutar tubuh Nadia agar menghadapnya. Jangan salahkan dirinya yang kini terus menginginkan istrinya itu karena Nadia sangat mahir memuaskannya di atas ranjang.
Jika saja bukan Alex sendiri yang mengambil kesuciannya, ia tak akan percaya jika istrinya itu seorang pemula. Padahal Nadia baru berkenalan dengan dunia ranjang beberapa bulan yang lalu tapi ia tak pernah gagal membuat suaminya merasakan surga dunia.
Alex tundukkan wajahnya untuk meraih bibir Nadia dengan bibirnya dan mengulumnya lembut. Nadia mengalungkan tangannya pada leher Alex dan membalas ciuman itu sama panasnya. Ia biarkan lidah Alex untuk melesak masuk dan membelai miliknya.
Tak sampai disitu, Nadia pun menurunkan satu tangannya dan mulai memberikan rabaan halus seringan bulu di atas dada Alex yang tak tertutup kain.
"Oh God...," Lirih Alex ketika sentuhan itu mulai mempengaruhi tubuhnya. Ia pun mendesak Nadia agar terbaring di atas tempat tidur dan menindihnya tanpa memisahkan tautan bibir mereka.
Keduanya telah terbuai oleh setiap sentuhan yang saling diberikan, keduanya sudah sama inginnya namun ponsel Alex yang terdapat dalam saku celananya berdering juga bergetar dalam waktu bersamaan.
Alex mencoba untuk mengabaikan, begitu juga Nadia. Keduanya memilih untuk melanjutkan kegiatan panas yang baru saja dimulai tapi bunyi deringan dari ponsel Alex tak jua berhenti.
"Sayaghhh tunggu sebentar," ucap Alex dengan sedikit des*h.
Alex pun merogoh saku celananya dan melihat nama mamanya tertera di layar ponselnya. Sudah 2 bulan ini mamanya kembali tinggal di Belanda.
"Mama," ucap Alex memberi tahu Nadia yang telah terbaring dengan matanya yang telah berkabut karena gai*rah.
Alex menyimpan ponselnya di atas meja dan mengabaikan panggilan dari mamanya itu. Ia lebih memilih untuk kembali menindih tubuh Nadia. Tapi ponselnya kembali berdering untuk ketiga kalinya.
"Angkatlah, mungkin sangat penting," ucap Nadia dengan nafas tersengal.
"Tapi kamu..." Ucap Alex ragu.
"Aku bisa menunggu," sahut Nadia pelan.
Alex pun menjauhkan tubuhnya dari atas sang istri, ia mengambil ponselnya dari atas nakas dan menerima panggilan dari ibunya.
"Alex, lihat email yang baru saja mama kirimkan padamu," ucap mamanya singkat lalu ia mengakhiri panggilan itu.
Alex lakukan apa yang mamanya inginkan, ia membuka email miliknya sembari berdiri dan memilih nama ibunya yang tertera di deretan paling atas.
Alex baca email itu dengan seksama, rahangnya mengeras seketika. "F*ck" umpat Alex ketika ia mendapati banyak berita yang tengah ramai di Belanda dan tertera nama Laura Valentina di sana.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘
Maaf apdet nya telat2 karena saya gak hanya menulis saja tapi juga banyak hal di rl yang harus dilakukan dan dibereskan.
Terimakasih atas perhatiannya ( ˘ ³˘)♥