In Love

In Love
Klien Baru



Happy reading ❤️


"Aku udah di bawah," tulis Alex singkat melalui aplikasi pesan. Nadia melirik jam di pergelangan tangannya dan masih menunjukkan pukul 5 kurang. Belum waktunya pulang tapi Alex sudah menjemputnya.


Nadia pun mengulum senyum karena rasa hangat kembali menyelimuti hatinya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya pelan. Pikirannya melayang memikirkan tiga hari terbaik dalam hidupnya.


Beginilah rasanya jika cinta bersambut, hanya Alex dan Alex yang ada dalam hati juga kepalanya. Ingin rasanya ia segera meninggalkan tempat duduknya saat ini dan segera menemui Alex untuk memberikan segala rasa cinta yang dimilikinya.


Nadia membuka tasnya dan mencari sebuah cermin kecil, padahal sebelumnya ia tak pernah membawa benda itu. Ia menatap bayangannya sendiri dan memastikan jika penampilannya telah sempurna sebelum ia menemui Alex.


Setelah yakin sudah tampil sempurna Nadia pun segera membereskan meja kerjanya dan berdiri untuk segera pergi.


"Aaw," Nadia memekik menahan sakit ketika perut bawahnya terasa keram. Ini bukan yang pertama kalinya. Tadi siang pun setelah pulang makan siang di luar kantor ia pun merasakan hal yang sama.


"Baik-baik di dalam sana," ucap Nadia cemas. Ia pun mengusap perutnya yang masih datar.


"Mbak gak pa-pa ?" Tanya Dian si anak magang karena ia melihat raut wajah Nadia yang sedikit tegang saat ini.


"Hum ? Oh aku gak pa-pa," jawab Nadia bohong. Padahal ia merasa takut saat ini, dan tak mungkin jika ia menceritakan kecemasannya pada Dian karena ia dan yang lainnya tak tahu jika Nadia telah menikah.


"Aku pulang duluan ya, Di." Nadia berpamitan masih dengan rasa cemas yang menyelimuti dirinya saat ini.


"Oke, Mbak. Hati-hati di jalan," jawab Dian sambil terus memperhatikan. Ia amati punggung Nadia yang kian menjauh.


"Mbak Nadia orang baik, gak mungkin berita itu benar," gumam Dian. Mengingat sebuah kabar miring yang beredar di divisinya selama Nadia tak masuk 3 hari terakhir ini.


***


Alex tersenyum lebar ketika melihat kedatangan wanita yang sangat ia rindukan hari ini melalui pantulan kaca spion di atasnya.


Padahal tadi pagi pun ia yang mengantarkan Nadia ke kantor namun berpisah beberapa jam lamanya membuat lelaki itu menahan rasa rindu yang membuncah.


Alex menekan tombol kunci otomatis mobilnya dan Nadia pun segera masuk ke dalamnya namun sebelumnya ia menolehkan kepalanya ke sekeliling untuk memastikan tak ada yang melihatnya memasuki mobil mewah Alex .


"Berasa jadi selingkuhan tau gak ?" Keluh Alex saat Nadia baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi tepat di sebelah suaminya itu.


"Hum ?" Nadia berkerut alis tak paham.


"Aku... Serasa jadi selingkuhan karena gak bisa jemput kamu tepat di depan kantor dan kamu harus lihat dulu sekeliling setiap mau masuk mobil aku. Padahal kita suami istri yang sah," jawab Alex. Ia tak bisa menyembunyikan wajah kesalnya.


"Yang dulu mau nikahnya diam-diam siapa hayooo ?" Tanya Nadia sambil tertawa, ia berusaha untuk mencairkan suasana karena kini Alex tengah merajuk.


"Hu'um... Dan kini aku sangat menyesalinya," jawab Alex masih serius saja.


"Bersabarlah, akan ada waktunya semua orang tahu tentang kita," kata Nadia lagi. Ia masih berusaha untuk menenangkan suaminya.


"How's your day ?" Tanya Alex mencoba untuk mengalihkan perhatiannya sendiri


"Good, everything good," jawab Nadia sedikit berbohong. Entah kenapa ia tak berani mengatakan jika perutnya terasa keram hari ini.


Nadia belum siap jika euforia rasa bahagia yang tengah dirasakan berubah menjadi rasa cemas.


"Syukurlah jika semua baik-baik saja," sahut Alex. Ia pun mencondongkan tubuhnya dan mengangkat wajah Nadia dengan jempolnya untuk meraih bibir sang istri dan mengulumnya lembut.


"Seharian ini aku merindukanmu," lirih Alex ketika tautan bibir mereka terpisah.


Nadia kembali merona, pipinya terasa panas seketika. "Aku juga, aku selalu memikirkanmu," sahutnya. Alex yang mendengar itu langsung tersenyum. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Dengan wajah sumringah Alex mulai menjalankan mobilnya, membelah jalanan ibukota untuk pulang ke apartemen mereka.


***


"Masih sibuk ?" Tanya Nadia. Ia melihat Alex masih berjibaku dengan banyak tumpukan kertas di atas meja.


"Hu'um, semakin banyak tawaran kerjasama," jawab Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang sedang ia baca.


"Baguslah, aku senang melihatnya," Sahut Nadia dan ia pun mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah suaminya.


Alex letakkan kertas yang dipegangnya di atas meja, ia lebih memilih untuk menyenderkan tubuhnya di atas sofa dan membawa Nadia dalam pelukannya.


"Semua karena kerja kerasmu," timpal Nadia.


"Tapi kamu ikut andil di dalamnya," sahut Alex.


"Mmm, gimana kalau kamu kerja bareng aku aja ?" Tanya Alex kemudian.


"Hah ?" Nadia berkerut alis tak percaya.


"Ya... Kamu kerja sama aku aja, jadi kita bisa selalu bersama. Kamu dan aku bekerja dalam satu ruangan," jawab alex seraya menyentuhkan batang hidungnya yang mancung di pipi Nadia dan menggeseknya pelan. Tangannya tak tinggal diam, ia sudah bergerilya di balik piyama Nadia dan memberikan sentuhan-sentuhan halus yang memicu hasrat.


"Nghhh," lenguh Nadia tertahan.


"Kita akan bekerja seperti ini, dengan kamu dalam pelukan aku," bisik Alex lirih. Bibirnya yang basah dan kenyal mulai menciumi sepanjang rahang, belakang telinga dan Nadia pun tengadah agar Alex bisa mencumbu leher jenjangnya.


"Kalau seperti iniiihhh,mana bisa kerja," protes Nadia dengan sedikit des*h karena Alex kini mulai memberikan cumbuan yang kian menuntut. Sentuhan halusnya pun berubah menjadi rabaan-rabaan gemas.


"Tapi aku suka dengan cara seperti ini," jawab Alex. Ia pun menatap Nadia dalam dan menundukkan wajahnya untuk meraih bibir Nadia dengan bibirnya dan mulai menyecapnya tak sabaran.


Susah payah Nadia membalas ciuman itu karena Alex begitu menuntut. Bahkan tangannya sudah mulai membuka kancing piyama Nadia satu persatu.


Mata hitamnya telah berkabut gair*h, suaranya berubah parau dan ketegangannya pun telah berdiri tegak sempurna.


"Boleh ya ?" Tanya Alex mengiba.


Nadia mengangguk pelan, dan Alex pun tersenyum karenanya. Ia kembali mencumbu sang istri dengan lebih lembut dari sebelumnya.


"I love you, Nadia," bisik Alex lirih dan mereka pun melakukannya dengan penuh rasa cinta di setiap sentuhannya.


***


"Hari ini ada yang aneh deh," ucap Alex sembari mengeratkan pelukannya.


Beberapa saat yang lalu, keduanya baru saja melakukan penyatuan diri dengan penuh rasa cinta. Dan saat ini Alex tengah memeluk tubuh Nadia yang masih polos tanpa sehelai benangpun. Bahkan peluh masih membasahi tubuh keduanya.


"Apanya yang aneh ?" Tanya Nadia sembari mengangkat wajahnya dan menatap Alex lekat-lekat.


"Mmm... Ada seseorang yang ingin bekerjasama denganku namun seperti sedikit memaksa. Bahkan dia meminta untuk berphoto bersama dengan alasan dia mengagumi aku, padahal kita baru pertama kali bertemu," jawab Alex.


"Dia fans kamu mungkin, atau naksir kamu," sahut Nadia.


"Dia laki-laki, Nad. Amit-amit ditaksir laki juga," Alex bergidik ngeri ketika mengatakan itu.


"Maunya ditaksir wanita ?" Tanya Nadia dengan menyipitkan matanya.


"Maunya ditaksir kamu seorang," sahut Alex dengan kembali memagut bibir Nadia lembut.


"Sekarang jago gombal," ucap Nadia sembari tertawa.


"Gombal sama kamu doang," sahut Alex membela dirinya sendiri.


"Eh kalau sama kamu bukan gombal tapi yang aku rasakan sebenarnya," lanjut Alex kemudian dan Nadia kembali tertawa mendengarnya.


"Eh soal photo tadi... Apa yang kamu lakukan ?" Tanya Nadia penasaran.


"Akhirnya aku bersedia, karena orang itu terus mendesak," jawab Alex.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘


Mumpung awal minggu vote yuu


Buat yang suka novelnya dan yang ikhlas aja.


Maaciw Zheyenk ❤️❤️❤️❤️❤️