
Happy reading ❤️
Flashback Beberapa jam yang lalu.
Alex tiba di kantor lebih siang dari biasanya. Ia langsung memasuki ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya tanpa melakukan apapun. Pikiran dan jiwanya terasa hampa dan kosong.
Kemarin terlalu banyak kejadian yang membuat hidupnya jungkir balik bagai roller coaster. Kenyataan jika Lola tak mencintainya membuat diri Alex hancur namun keputusannya untuk tidak melibatkan hati pada istrinya Nadia membuat ia merasakan lebih hancur lagi. Masih lekat dalam ingatannya bagaimana Nadia berusaha mengusap air mata di pipinya.
Sakit...
Itulah yang Alex rasakan ketika melihat Nadia seperti itu. Tapi ia tak punya pilihan lain selain melakukannya. Ia tak mau melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Jatuh cinta begitu dalam pada wanita namun pada akhirnya menerima kekecewaan seperti yang Lola lakukan padanya.
"Jal*ng siallaann," maki Alex ketika ingat Lola. Wanita toxic itu benar-benar membuatnya hancur secara emosional dan mental.
Hal pertama yang Alex lakukan pada Lola adalah mengusirnya dari tempat kost dan menghentikan aliran dananya. Ia melemparkan wanita itu ke jalanan tanpa belas kasih. Meskipun Lola memohon dan mengiba, Alex tak peduli lagi.
Yang menjadi bahan pikirannya saat ini adalah Nadia yang tinggal satu atap dengannya. Walaupun bibirnya berucap "tak ada 'kita'" tapi nyatanya ia pun merasakan sakit yang sama.
Nadia sudah ada di hatinya walaupun ia tak pernah mengungkapkannya secara langsung.
"Nad..." Gumam Alex sembari membayangkan wajah Nadia yang menangis semalam.
"Maafin aku...." Gumamnya lagi dengan suara begitu lirih hingga nyaris tak terdengar.
"Kata orang cinta itu membuat bahagia, tapi kenapa tidak untukku ya, Tuhan ?" Tanya Alex dalam hatinya. Matanya menatap kosong gedung tinggi lainnya.
Suara ketukan di pintu terdengar dan Alex pun memutar kursinya menghadap meja kerjanya. "Masuk," sahut Alex.
Heru sang asisten datang dengan tumpukan map di tangannya. "Minggu depan adalah peninjauan terakhir proyek yang berada di Jogja dan Semarang. Ini semua berkasnya," ucap Heru seraya mendudukkan tubuhnya tepat di hadapan Alex.
Alex masih menatap kosong tanpa menimpali apa yang Heru ucapkan, hingga membuat lelaki itu kembali berbicara. "Pak, Pak Henry ?" Tanya Heru dengan suara sedikit meninggi.
"Hah ?" Tanya Alex yang kini mulai kembali pada kesadarannya.
"Ini proyek yang Jogja dan Semarang harus ditinjau sekali lagi. Tentunya anda yang akan pergi dengan Bu Nadia bukan ?" Tanya Heru.
"Nadia ?" Tanya Alex dengan suara bergetar.
"Iya," jawab Heru singkat.
"Saya sudah tidak bisa pergi lagi dengannya," jawab Alex dengan menghela nafasnya yang terasa berat.
"Oohhh. Jika begitu apa saya saja yang pergi ?" Tanya Heru antusias.
Secara refleks pandangan Alex berubah sinis, dalan hatinya yang paling dalam sungguh ia merasa tak rela.
Tapi...
Ia sudah memutuskan untuk tidak melibatkan hatinya. "Iya... Kamu yang pergi," jawab Alex dengan berat hati.
"Oke boss,"
"Kapan perginya ?" Tanya Alex.
"Mungkin sekitar satu Minggu lagi," jawab Heru dengan mata berbinar bahagia.
Alex yang melihat itu ingin sekali memberikan bogem mentahnya. Ia sungguh merasa sangat cemburu dan tak rela.
Melihat mimik wajah Alex yang berubah tak bersahabat, Heru pun memilih undur diri. Tapi ia sungguh merasa bahagia karena bisa pergi bersama wanita yang sangat dikaguminya.
Setelah kepergian Heru, Alex pun kembali menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.
***
Pukul 1 malam Alex keluar dari ruang kerjanya. Ia sengaja melakukan itu karena belum siap untuk bertemu dengan Nadia setelah pembicaraan semalam.
Sebenarnya ia tak sesibuk itu, hari ini sungguh Alex merasa tak mood untuk bekerja. Bahkan ada beberapa janji temu yang ia batalkan begitu saja. Yang ia lakukan hanya menonton film di ruang kerjanya ditemani banyak box es krim.
Nadia pernah mengatakan padanya jika merasa patah hati, es krim dapat membantu meredakannya. Jadi itulah yang ia lakukan.
Anehnya bukan patah hati karena Lola yang menipunya tapi karena ia sendiri yang membentengi diri untuk jatuh cinta pada istrinya Nadia.
Alex menjalankan mobilnya pelan. Jalanan sudah sangat lenggang, tak ada kemacetan dimana pun namun tetap saja masih ramai oleh banyaknya kendaraan lain.
Pikirannya melayang pada Nadia. Dalam hatinya, Alex menebak-nebak apa istrinya itu pulang ke apartemen ataukah ke tempat kostnya atau mungkin ke rumahnya di Bogor.
Ia mengetuk-ngetuk setir mobilnya sembari memikirkan itu semua. Meksipun Alex menjalankan kendaraannya dengan pelan tapi akhirnya ia sampai juga ke apartemen mewahnya.
Terdiam sebentar di dalam mobil yang sudah terparkir dengan sempurna. Hatinya berdebar kencang hanya karena tak tahu apakah Nadia pulang ke apartemennya.
"Huuufffffttt," Alex menarik nafas dalam dan menghembuskan nya pelan. Ia pun segera turun dari mobilnya yang terparkir di lantai dasar dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai yang ia tuju.
Alex kembali terdiam terpaku tepat dihadapan pintu kamar apartemennya. Ia menelan paksa ludahnya dan kembali mengatur nafasnya. Hatinya terasa tak menentu dan masih menebak-nebak Nadia berada di mana.
Dengan perlahan ia menekan nomor acak kode pintunya. Alex tersenyum samar ketika ia sadar itu adalah tanggal pernikahannya dengan Nadia.
"Best time ever," ( waktu terbaik ) gumam Alex ketika ia ingat pernikahannya dengan sang istri.
Apartemen begitu gelap karena hampir semua lampu dimatikan, Alex pun tersenyum kecut karena mengira Nadia tak pulang ke apartemennya.
Dengan langkah gontai ia berjalan menuju sakelar lampu dan menyalakannya. Hal pertama yang ia segera ia lihat adalah rak sepatu yang berada di dekat pintu. Wajahnya yang ditekuk berubah sirna karena melihat sepatu heels berwarna nude milik istrinya ada disana.
"Kamu pulang," bisik Alex lirih. Ia tersenyum juga menitikkan air matanya dalam waktu bersamaan.
Dengan kedua jarinya Alex mengusap air di ujung matanya, dan dengan langkah tergesa Alex berjalan menuju kamar Nadia kerena ia mengira istrinya itu berada di sana.
Terlihat Nadia tidur meringkuk dengan piyama pink bergambar beruang. Alex menarik nafasnya lega.
"Terimakasih sudah mau pulang," gumam Alex seraya berdiri tepat di hadapan sang istri yang tertidur pulas dan memperhatikannya. Ia tersenyum bahagia ketika mendengar dengkuran halus istrinya itu.
Alex memilih untuk segera berganti baju dengan cepat dan segera menyusul istrinya tidur di atas ranjang.
"Mimpi indah, Nad," gumam Alex lirih sebelum ia membalikkan tubuhnya dan tidur memunggungi istrinya.
Flashback off.
***
Nadia terbangun ketika hari masih gelap. Ia tak tahu jam berapa Alex pulang, karena ia tak lagi menunggu kepulangannya seperti dulu.
Tapi dalam hati sungguh Nadia sangat bersyukur karena Alex pulang ke apartemen mereka.
***
Kejadian seperti itu terus berlangsung selama hampir satu Minggu lamanya. Nadia akan berangkat pagi sekali dan Alex akan pulang larut sekali. Jadi mereka tak ada kesempatan untuk bertemu walaupun tinggal satu atap dan tidur di atas ranjang yang sama.
Selama itu pula Alex tak meminta haknya dan begitu juga Nadia. Walaupun rasa rindu untuk saling berbagi kasih sangat membuncah dalam hati keduanya.
***
Hari itu Alex pulang sore menjelang malam hari. Tak lagi tengah malam karena badannya mulai demam dan pegal-pegal. Selama satu Minggu ini makannya tak beraturan, ia hanya makan jika Joy mengingatkan.
Karena merasa begitu pusing Alex pun memarkirkan mobilnya di pelataran parkir tepat di halaman apartemennya hingga ia harus berjalan melalui lobi untuk menuju lift.
Baru juga satu langkah ia berjalan memasuki lobi, tubuhnya langsung terpaku tak bergerak dan ia pun menelan salivanya yang kelat.
Di hadapannya Nadia tengah duduk di sebuah coffee shop dan berhadapan bersama Edo dengan secangkir kopi di meja mereka.
Terlihat Nadia tertawa lepas, tawa yang dulu hanya untuknya tapi kini ia memberikannya pada lelaki lain dan Alex pun tersenyum samar melihatnya.
Ingin rasanya ia mendatangi Nadia dan membawanya pergi, tapi ia ingat untuk tidak banyak melibatkan hati. Alex pun memutuskan untuk segera pergi menuju lift yang akan membawanya ke lantai yang ia tuju.
***
Tadi, ketika Nadia memasuki lobi apartemen ia bertemu dengan Edo yang ternyata sama-sama baru pulang kerja.
Sebenarnya selama satu Minggu ini Edo selalu memperhatikan Nadia yang kini selalu sendirian karena biasanya wanita itu akan selalu bersama Alex dan bergandengan tangan mesra.
"Hayooo, akhirnya kita ketemu. Gimana proyek kamu lancar gak ? Katanya mau traktir kopi ketika bonusnya cair," todong Edo tanpa basa-basi.
"Oh hai, hahahaha iya... Maaf aku lupa. Ya udah sekarang aja yuk ?" Ajak Nadia dan tentu saja Edo tak menolak.
Edo amati wajah wanita di hadapannya lekat-lekat, meksipun Nadia berusaha untuk tertawa tapi kesedihan terpancar dari matanya.
Edo sadar wanita yang ia kagumi itu sedang tidak baik-baik saja.
***
Nadia berjalan beriringan dengan Edo sembari bercerita tentang banyak hal. Lelaki itu tak kehabisan bahan cerita hingga keduanya terus saling berbicara.
"Aku udah sampai," ucap Nadia ketika ia tiba di depan pintu apartemennya.
"Masuklah," sahut Edo dengan senyuman manisnya.
"Apa setelah kamu pulang dari Jogja kita bisa bertemu lagi ?" Tanya Edo.
"Sure, nanti aku kabari" jawab Nadia dan ia pun memasuki apartemennya.
Ia menutup pintu dengan sempurna dan terkejut melihat sepatu kerja Alex sudah berada di atas rak. Nadia pun menarik nafas dalam.
"Baru pulang ?" Tanya Alex yang berjalan dari arah dapur dengan sebuah gelas di tangannya.
"Iya," jawab Nadia sembari tersenyum.
"Tadi aku lihat kamu dan Edo lagi minum kopi, mau aku sapa takutnya mengganggu," ucap Alex sambil tersenyum padahal Ia merasakan sakit ketika mengatakan itu.
Tak hanya Alex yang merasakan sakit dan sesak namun Nadia juga. Kini Alex tak lagi merasa cemburu padanya.
"Hu'um kami minum kopi bersama," sahut Nadia dengan tenangnya.
"Oh ya, lusa aku akan pergi ke Jogja untuk meninjau proyek kita," ucap Nadia.
Keduanya terdiam dengan pandangan terkunci satu sama lain. Mereka ingat kenangan manis ketika keduanya mendatangi kota gudeg itu.
"Oh, dari perusahaanku Heru yang pergi," jawab Alex.
"Oh, baiklah tolong katakan padanya untuk melengkapi berkas sebelum pergi ke Jogja," timpal Nadia.
"Sure, nanti aku sampaikan," jawab Alex seraya tersenyum.
"Aku ganti baju dulu ya," sahut Nadia dan Alex pun menganggukan kepalanya sebagai tanggapan.
Kini keduanya bagai orang asing yang tinggal dalam satu atap dan tidur di atas ranjang yang sama.
Kini Alex dan Nadia hanya dua orang asing yang memiliki kenangan indah bersama.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘