
Selamat membaca ❤️
Tetesan air hujan membasahi keduanya. Dahi dan hidung mereka saling bersentuhan pelan, mata keduanya pun saling bertatapan.
"Aku mencintaimu, Nadia." Bisik Alex lirih tepat di atas bibir istrinya yang basah.
"Ku mohon, jangan tinggalkan aku," lanjut Alex dengan matanya yang mengembun.
"What ?" Gumam Nadia, bibirnya bergerak pelan ketika mengatakan itu. Kepalanya menengadah menatap wajah Alex yang tertunduk padanya. Mata hitam Alex yang berkilat kini terlihat sayu.
'Tin tin tin !!!' belum juga Nadia menjawab pernyataan yang Alex ucapkan sebuah mobil menyalakan klaksonnya karena Alex dan Nadia menghalangi jalannya.
"Sorry," ucap Alex sembari mengacungkan jempol pada pengemudi mobil tersebut dan ia pun segera meraih jemari Nadia yang dingin pada genggamannya kemudian Nadia pun berjalan mengikuti Alex meninggalkan tempat itu.
Dapat Nadia rasakan genggaman tangan Alex lebih erat dari sebelum-sebelumnya, seolah tak mau kehilangan. Nadia menyadari itu, tentu saja. Sepanjang perjalanan batinnya bergejolak, hatinya terasa kian ngilu. "Aku mencintaimu, Nadia. Ku mohon jangan tinggalkan aku." Apa yang Alex ucapkan terus berputar dalam kepalanya.
Keduanya berjalan dalam diam, hanya suara hujan yang terdengar dan itu semakin membuat suasana makin syahdu.
Alex menarik nafas dalam-dalam, kepalanya di penuhi dugaan-dugaan buruk tentang istrinya. Ia eratkan genggaman tangannya seolah tak ingin kehilangan.
Setiap tarikan nafas yang Alex lakukan terasa begitu berat, matanya sudah terasa panas menahan buram dari air yang menggenang di pelupuk. Apapun yang terjadi dalam hidupnya Alex hampir tak pernah menangisinya. Tapi sekarang, untuk sesuatu yang belum pasti, ia rasakan air matanya menggenang.
"Alex pelan-pelan," kata Nadia terdengar lirih karena Alex makin mengeratkan genggaman tangannya.
"Ah maaf," ucap Alex merasa bersalah.
"Sebaiknya kita pulang saja, baju kita basah," ajak Nadia karena pada akhirnya mereka berdua berjalan dalam hujan dengan suasana hati yang tak karuan.
"Baiklah, besok kita jalan-jalan lagi. Aku janji," sahut Alex dan Nadia mengangguk pelan menyetujui.
Setibanya di pelataran parkir Alex membantu Nadia mengenakan helmnya padahal Nadia bisa melakukannya sendiri tapi Alex bersikeras untuk membantunya.
Nadia belitkan kedua tangannya di pinggang Alex dan lelaki itu kembali menahan belitan tangan itu dengan tangannya. Sedangkan tangan yang lain mengendalikan stang motornya.
Butuh beberapa belas menit untuk sampai di apartemen mereka. Setelah turun dari motor, Alex kembali menakutkan jemarinya kedalam genggaman tangan Nadia dan mereka pun berjalan beriringan memasuki lift.
Nadia mengembuskan nafas melalui mulutnya menahan rasa dingin yang mulai menyelimuti dirinya. "Dingin ?" Tanya Alex dan Nadia pun mengangguk pelan.
"Sini," Alex pun menarik Nadia dalam dekapannya karena memang mereka hanya berdua dalam lift itu. "Setelah ini tak akan dingin lagi," lanjut Alex. Merasa jika hanya dekapan saja tak cukup, Alex pun kembali memagut bibir Nadia yang dingin.
"Alex.. mmmm," gumam Nadia berusaha memisahkan tautan bibir mereka karena takut tiba-tiba seseorang masuk ke dalam lift yang mereka naiki tapi Alex malah menahan kepalanya agar tak menjauh dan memperdalam ciuman mereka.
'ting,' suara pintu lift yang terbuka menandakan mereka baru saja sampai pada lantai yang dituju.
Pintu lift terbuka ketika tautan bibir keduanya belum terpisah hingga seseorang yang berdiri tepat di hadapan pintu lift dapat melihat aksi keduanya dengan jelas.
"Ah sorry," gumam Alex pada Edo yang terdiam terpaku dan membisu melihat keduanya.
Alex kembali menggandeng tangan Nadia untuk keluar dari lift itu meninggalkan Edo yang tak berucap kata sedikit pun. Sedangkan Nadia menundukkan kepalanya mengikuti langkah Alex seolah tak peduli akan kehadiran Edo di sana.
Alex menekan kode acak pintu apartemennya, yang pertama kali ia lakukan adalah mencari handuk dan memberikannya pada sang istri.
"Akan aku siapkan air hangat untuk mandi. Kita mandi bersama," ucap Alex sembari melucuti pakaiannya sendiri tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Nadia.
"Hah ? Ta-tapi Alex..," potong Nadia cemas.
"Kita mandi bersama, tak ada bantahan,"putus Alex. Ia mencuri sebuah kecupan dari bibir Nadia sebelum pergi ke kamar mandi dan memenuhi bathtub dengan air hangat.
Nadia menanti dan tunggu dengan cemas. Beberapa kali ia menelan ludahnya paksa. Menatapi pintu kamar mandi yang tak tertutup sempurna karena Alex berada di dalamnya sedang menyiapkan air hangat untuk mereka berdua. Suara keran air yang dibuka pun terdengar dengan jelasnya.
"A-Alex..., Ki-kita tak bisa melakukannya," lirih Nadia dengan terbata tapi Alex diam tak bersuara. Yang ia lakukan adalah melucuti pakaian Nadia dengan tangannya.
Nadia tak kuasa untuk menolak apalagi berontak, ia hanya diam membiarkan Alex melakukannya. Tubuhnya gemetar setiap Alex menyentuh kulitnya dan tentu saja Alex menyadari hal itu.
"Kita tak akan mandi bersama," ucap Alex berusaha menenangkan. "Aku hanya ingin memandikanmu karena kamu sudah gemetar dingin seperti ini," lanjut Alex. Ia sadar jika Nadia belum lama ini mengalami hal yang menakutkan dengan lelaki lain.
"Apa kamu takut denganku ?" Tanya Alex. Ia menghentikan sesaat jemarinya yang tengah melucuti pakaian sang istri.
Nadia menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Apa kamu percaya sama aku ?" Tanya Alex lagi.
Kali ini Nadia menganggukkan kepalanya.
"Good girl," sahut Alex. Ia pun meneruskan apa yang ia lakukan sebelumnya yaitu melucuti semua kain yang menempel pada tubuh Nadia dan memangkunya ala bridal menuju kamar mandi.
Alex dudukkan Nadia ke dalam bathtub yang berisi air hangat dan menuangkan sampo pada telapak tangannya. Ia mengusap rambut Nadia hingga berbusa dan tak hanya itu Alex juga menuangkan sabun pada spon dan menggosoknya pelan pada hampir seluruh tubuh Nadia.
Sebisa mungkin Alex menahan hasrat yang sudah menggila, tubuh bawahnya menegang ingin dipuaskan tapi ia juga tak bisa egois meminta itu semua. Dibanding kebutuhannya, kesiapan Nadia lebih penting dari segalanya.
Sedangkan Nadia, ia memejamkan matanya. Ia menikmati setiap sentuhan lembut yang Alex berikan di seluruh tubuhnya. Nadia tak menyangka mendapatkan lebih dari yang dirinya inginkan sebelum mereka berpisah.
Alex sirami Nadia dengan air hangat untuk menghilangkan semua busa, keduanya terdiam dalam sunyi. Ia kembali memangku Nadia dalam balutan handuk dan mendudukkannya di atas ranjang.
"Aku mandi dulu," ucap Alex dan tak lama ia pun menghilang di balik pintu.
***
Alex keluar dari kamarnya, ia melihat Nadia tengah memasak sesuatu di dapur. "Masak apa ? Aku mau mie instan rasa rendang yang kamu masak waktu itu," ucap Alex sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursi.
"Ternyata kita satu hati, aku memang memasak itu buat kamu," jawab Nadia terkekeh geli.
Di luar sana hujan masih turun membasahi bumi yang kini berselimut gelapnya malam. Buliran titik-titik air menghiasi kaca jendela. Alex dan Nadia sedang menikmati makan malam mereka yang sederhana tapi begitu terasa nikmat.
Alex tundukkan kepala, ia sadar apa yang terjadi bagaikan sebuah dejavu dari hal-hal manis yang pernah dilaluinya dengan Nadia dulu. Walaupun semuanya terasa menyenangkan tapi Alex merasakan ngilu dihatinya.
***
Tak terasa waktu pun terus berlalu, bagi Alex dan Nadia ini adalah akhir pekan yang paling mengesankan. Dihiasi banyak pelukan dan ciuman seperti pasangan yang saling mencinta pada umumnya, hingga Alex pun tak lagi bertanya apa Nadia akan meninggalkannya. Tak ingin merusak suasana yang tercipta, Alex pun mengenyahkan segala pikiran buruknya.
Alex terbangun tanpa kehadiran Nadia di sisinya, ia segera bangkit dari ranjangnya dan berjalan untuk mencari tapi ia bernafas lega ketika mendengar suara-suara dari luar kamar yang menandakan kehadiran Nadia di luar sana.
Nadia duduk di atas kursi, menunggu Alex keluar dari kamarnya. Walaupun akan pergi tapi ia tak akan meninggalkan lelaki itu begitu saja tanpa kata-kata perpisahan.
Beberapa kali Nadia mengusap pipinya yang basah, belum apa-apa hatinya sudah terasa sakit dan ngilu. Sungguh berat rasanya akan berpisah dengan lelaki yang ia cintai.
"Kamu mau dinas ?" Tanya Alex yang ternyata sudah berada di hadapannya tanpa Nadia sadari. Alex bertanya seperti itu karena melihat koper Nadia yang terletak di sana. Tak hanya satu tapi 2, Nadia sudah mengemasi semua barangnya ketika Alex masih tertidur.
"Du-duduklah... Kita harus bicara," sahut Nadia terbata.
Rahang Alex mengeras seketika, mata hitamnya berkilat menatap tajam wajah Nadia yang sedikit sembab.
To be continued ❤️
Thanks for reading ❤️