
...****************...
"Sekali lagi terimakasih tuan Als, tolong kirimkan rekening anda ke saya.. saya akan mengganti semua biaya pengobatan saya hari ini."
"Nona Selena menurut anda apakah saya terlihat seperti kekurangan uang? Bukankah sudah sewajarnya calon suami membantu calon istri?" Jawab Als pada calon istrinya itu.
Selena tersenyum, tidak menyangka tuan Als yang berwajah dingin itu hatinya ternyata lembut juga sebenarnya. Kemudian Selena menatap Als dengan tatapan serius.
"Tuan Als ...?"
"Ya?"
Saya setuju menikah dengan anda!"
Alsean kaget ternyata Selena memberi keputusan lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukan.
Als merasa senang wanita ini sangat mudah bekerjasama.
"Bagus, setelah kamu sembuh mari kita menikah... Nona Selena?" Jawab Als tersenyum, sambil mengulurkan tangannya.
Mereka pun bersalaman, entah mengapa Selena merasa ia bukan melakukan pernikahan melainkan seperti berbisnis dimana semua yang diputuskan demi keuntungan kedua belah pihak.
"Apa kau merasa lapar?" Tanya Als pada Selena.
"Emmm...tidak..."jawab Selena sembari tersenyum, namun perutnya berkata lain.
KRUCUKKK..
Alsean tertawa lirih,
"Kau tunggu sebentar, biar aku belikan sesuatu yang bisa kau makan." Pamit Als, pada selena.
Karena buru-buru Als tidak sempat memikirkan untuk membelikan buah tangan sebelum menengok Selena.
"Tidak perlu tuan Als, saya sudah banyak merepotkan Anda." Celetuk Selena tak enak.
"Hanya hal kecil, tidak perlu sesungkan itu." Als bergegas pergi mencarikan sesuatu untuk dimakan.
Setelah beberapa menit kemudian, Als membawakan bubur hangat yang diperoleh dari kantin rumah sakit.
Selena duduk perlahan-lahan.
"Buka mulut mu, saya bantu suapi kamu." titah Als pada sambil menyendokkan bubur yang masih hangat itu.
"Terimakasih tapi tidak perlu tuan.. Hanya kepala saya yang terbentur tapi tangan saya masih normal kok tuan Als." Sahut Selena lirih pada Als.
Selena menolak sambil tersenyum, bagaimanapun Alsean Morchen adalah orang terhormat. Masa iya harus menyuapinya?
"Yasudah ini..." Sahut Als, sembari menyerahkan bubur itu pada Selena..
"Habiskan buburnya. Kalau begitu kamu, saya tinggal ke depan sebentar.. Ada yang harus saya bicarakan dengan Dirly."
"Oh.. iya silahkan saja tuan Als, tidak apa-apa."
Diluar kamar Selena.
Als dan Dirly duduk berdampingan. Mereka berdua sempat membicarakan latar belakang Selana yang harus diselidiki sebelum menikah.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan sesuatu dalam penyelidikanmu?" Tanya Als.
"Saya mendapatkan beberapa informasi mengenai nona Selena."
"la berusia 21 tahun, ibunya sudah meninggal karena penyakit gagal ginjal 1 tahun yang lalu, sekarang ia tinggal dengan ayahnya yang merupakan seorang penjudi dan pemabuk yang memiliki banyak hutang dimana mana Tuan Als.
Nona Selena bekerja di dua tempat yang berbeda dalam 1 hari, kata beberapa orang, ayahnya sering memukulinya jika nona Selena tidak mau membayar hutang judinya."
"Saya sangat kaget dan tidak percaya awalnya, tapi setelah orang saya yang habis membututi ayah nona Selena hari ini. Dia mengetahui sesuatu, katanya dia telah memukul putrinya dan merampas uang putrinya untuk modal berjudi. Mungkinkah nona tadi pingsan karena dipukuli ayahnya?" Tukas asisten Dirly mengutarakan kecurigaan nya pada Ayah Selena.
Als nampak kesal setelah mendengar cerita Dirly. Bagaimana bisa wanita seusia begitu dengan badan yang tinggal tulang dan tak berdaging, bisa menerima semua pukulan ayahnya?
Bahkan Selena masih sempat-sempatnya berbohong demi sang ayah, dengan mengatakan bahwa ia tidak sengaja terpeleset? Als tak Habis pikir.
"Ayah seperti itu masih mau dilindungi?" Calon istriku mendapatkan perlakuan seperti ini, aku pasti akan membalasnya Selena!
...****************...
Bersambung..