
Alex menggulingkan tubuhnya pelan, memisahkan penyatuannya dari Nadia setelah ia mendapatkan pelepasannya yang luar biasa. Begitu pun Nadia yang kini nafasnya menderu pendek-pendek karena Alex tak pernah gagal membawanya pada nikmat surga dunia.
Nafas keduanya sama-sama memburu seolah saling berlomba meraup oksigen untuk mengisi paru-paru mereka. Tubuh Nadia bagai candu bagi Alex, ia begitu tergila-gila padanya.
Begitu juga Alex bagi Nadia, lelaki itu selalu bisa membuatnya menjadi seseorang yang berbeda jika berada di atas ranjang. Nadia akan menggila setiap Alex memberikan sentuhannya.
Ia akan menjadi seseorang yang berbeda dengan menggerakkan tubuhnya liar seraya melihat dan menatap dalam mata hitam Alex yang berkilat gair*h. Menyentuh tubuh suaminya lebih dan lebih lagi di setiap waktunya dan mendes*hkan nama Alex berkali-kali setiap Alex menghujamnya dalam. Nadia juga akan memohon agar Alex terus melakukannya jika lelaki itu berhenti menghentaknya sebentar saja.
Alex sangat menyukai itu, Ia memuja Nadia yang tergila-gila padanya hingga percinta*n mereka kian panas dan intens saja. Sering Alex membayangkannya ketika ia sendirian dan tersenyum puas karenanya.
"Sayang," ucap Nadia lembut namun menggema di keheningan malam. Ia masih bertelanj*ng bulat, tak menutupi tubuhnya yang polos dengan apapun hingga memanjakan mata Alex yang terbaring tepat di sebelahnya.
"Apa ?" sahut Alex masih dengan terengah-engah. Ia miringkan tubuhnya agar bisa menatapi tubuh polos Nadia dengan lebih leluasa.
"Aku lapar," jawab Nadia yang kini sama-sama memiringkan tubuhnya menghadap Alex. "Jam segini masih bisa pesan online gak ?" Lanjut Nadia tapi yang ditanyai malah asik menelisik dan menatapi tubuh polos istrinya.
"Aleeexxhhh... iiiiiiihhhhh," rengek Nadia kesal juga malu. Buru-buru Nadia tutupi tubuh telanj*ngnya dengan menarik bedcover yang berada di ujung kaki.
"Ck!" Alex berdecak kecewa. "Untuk apa ditutupi ? aku udah lihat semuanya. Bahkan aku hapal betul letak setiap tahi lalat di tubuhmu dan bisa memetakan nya dengan mata tertutup," lanjut Alex kemudian.
"Aku malu," cicit Nadia hampir tak terdengar.
"Malu ?" tanya Alex terheran. "Kamu meliukkan tubuhmu dengan liar di atas ketegangan ku tanpa malu-malu tapi kini hanya terbaring saja kamu merasa malu ?" tanya Alex lagi seraya tersenyum geli.
Nadia mendelikkan matanya, "itu hal yang berbeda, Alex !" jawabnya. Seperti yang sudah diceritakan jika Nadia akan menjadi orang yang berbeda jika Alex memberikan sentuhannya.
Masih dengan terkekeh geli, Alex bangkit untuk membersihkan diri. "Akan aku pesankan makanan," ucap Alex seraya menundukkan kepala dan mencium dahi Nadia lembut. Alex berdiri masih dengan tubuhnya yang polos dan merai ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas. Ia menggulir layar, mencari aplikasi berwarna hijau dan memesan makanan juga minuman yang istrinya suka.
Nadia adalah wanita dewasa yang sedang dimabuk cinta, saat ini ia sedang menikmati pemandangan luar biasa di hadapannya. Alex masih bertelan*jang bulat dengan ponsel di tangannya. Setiap guratan otot yang tak berlebihan di tubuh Alex memanjakan mata Nadia saat ini. Ketegangan Alex telah mereda, dan tergantung lucu membuat Nadia tertawa tapi tawanya surut ketika ia ingat bagaimana benda itu bisa membuatnya menahan nafas karena sesak ia rasakan ketika benda tegang itu melesak masuk dengan sempurna. "Ngghhhn," lenguh Nadia ketika membayangkannya.
Alex tautkan kedua alisnya saat mendengar Nadia melenguh sambil mengigit bibir bawahnya. Alex pun ikuti arah mata Nadia yang ternyata tengah memperhatikan inti tubuhnya. Ia pun menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli.
Alex simpan kembali ponselnya di atas nakas setelah ia selesai memesan makanan secara online dan ia pun berjalan memutar ranjang mendekati Nadia yang masih saja asik memperhatikannya. "Ayo mesoom, kita bersihkan diri," ucap Alex seraya mengangkat tubuh polos istrinya ala bridal style.
"Awwww," pekik Nadia ketika ia rasakan tubuhnya melayang di udara. "siapa yang mesoom ?" protes Nadia dengan wajahnya yang semerah tomat.
"kamu," jawab Alex gemas dan ia pun menurunkan istrinya di dalam kamar mandi. "Tapi aku suka saat kamu seperti ini," lanjut Alex seraya menyudutkan Nadia di salah satu dinding kamar mandi dan mengangkat sebelah kakinya agar terbuka inti tubuhnya yang masih basah.
"Aleeexxhhh," ucap Nadia lirih seraya menggigit bibir bawahnya karena ia rasakan inti tubuh Alex di bawah sana telah kembali menegang dan bersiap membelah jalannnya untuk memasuki dirinya.
"Eugghhh," geram Alex seraya mendorong pinggulnya keras hingga ketegangannya melesak masuk dengan sempurna. Nadia mengigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata. Kedua tangannya memegang bahu Alex untuk berpegangan karena di bawah sana Alex kembali menghujamkan ketegangannya dalam-dalam.
***
"Enak ?" tanya Alex dan Nadia mengangguk pelan . Saat ini keduanya tengah menikmati makanan yang dipesan Alex secara online. Nadia makan dengan lahap untuk memulihkan tenaganya yang terkuras habis karena Alex terus mengajaknya melakukan kegiatan panas.
"Good, aku senang jika kamu menyukainya. Setelah ini kita tidur ya karena besok kita harus kembali mengikuti sidang. Kamu siap kan?" tanya Alex dan lagi-lagi Nadia mengangguk pelan tanpa bersuara.
Sudah beberapa hari berlalu dari sidang pertama mereka ketika Lola berteriak dan mencaci maki Nadia dan besok mereka harus hadir kembali di persidangan. "Ingat, apa yang dikatakan wanita jal*ng itu tak benar, jangan sampai kamu terpengaruh. Aku mencintaimu dan tak ada kaitannya dengan dia. Kamu mengerti ?" tanya Alex.
"Good girl," sahut Alex dengan mengangkat kedua jempolnya.
***
Esoknya, Alex dan Nadia tiba di persidangan tepat waktu. Seperti sebelumnya, Alex selalu menggenggam tangan Nadia dengan erat. iya lakukan itu agar Nadia tahu bahwa ia akan selalu berada di sisinya.
persidangan hari ini masih menghadirkan Lola sebagai tersangka utamanya. lelaki yang bernama Nicky pun yang ikut terlibat dalam kasus ini rencananya akan hadir untuk memberikan keterangannya di hari yang sama. oleh karena itu Alex akan terus menemani Nadia walaupun kesibukannya luar biasa.
Nadia serta Alex dan tim kuasa hukumnya duduk di atas kursi yang telah disediakan, di seberang sana Lola dengan baju tahanan yang berwarna jingga telah duduk bersama seorang pengacaranya.
Dengan berani Lola tetapi Nadia penuh intimidasi, padahal pengacara Alex telah memberikannya ancaman tuntutan hukuman yang lebih berat karena perbuatan Lola di waktu lalu.
Tapi sepertinya ancaman itu dianggap angin lalu oleh Lola, ia masih saja melayangkan pandangan sinisnya pada Nadia dan berharap apa yang ia lakukan dapat melemahkan rasa percaya diri wanita yang kini menjadi istri mantan kekasihnya itu.
Merasa ditatapi, Nadia pun menolehkan kepala dan melihat Lola yang kini tengah menatapnya sinis. Nadia balas tatapan mata itu dengan cara yang sama, ia tegakkan kepala dan tak lupa sunggingkan senyum miring di wajah cantiknya. Nadia tunjukkan pada Lola bahwa ia tidaklah lemah.
Tak cukup sampai di situ Nadia pun berbicara pada Alex dengan cara berbisik intim tanpa melepaskan pandangannya dari Lola, Ia memanas-manasi juga menunjukkan pada Lola bahwa Alex adalah miliknya.
Nadia tersenyum sinis pada Lola yang terus menatapnya hingga pada akhirnya Lola mengalihkan pandangannya ke arah lain karena merasa gagal untuk mengintimidasi Nadia.
Semua orang yang hadir di ruang sidang itu berdiri untuk memberikan penghormatan kepada hakim yang baru saja datang memasuki ruangan. Lola pun berdiri dengan tertunduk lesu tidak sepercaya diri sebelumnya.
setelah sang hakim dudu, semua orang pun dipersilakan untuk duduk kembali dan persidangan pun dimulai. Waktu terus berlalu hingga tiba giliran Nadia untuk duduk di hadapan semua orang. "kamu pasti bisa, Sayang. aku di sini menemanimu, "bisik Alex sebelum istrinya itu berdiri dan berjalan menuju kursi yang telah disediakan.
kata-kata yang Alex ucapkan, bagaikan sebuah mantra bagi Nadia. Ia tak lagi merasa takut dan bimbang. Nadia berjalan dengan penuh percaya diri dan dagu terangkat. Ia ditanya banyak pertanyaan yang pada akhirnya menyudutkan Lola.
Lola mendengarkan jawaban Nadia dengan kepala tertunduk dan tersenyum muak. sungguh Ia merasa benci pada Nadia yang dianggapnya sebagai penghalang untuk mendapatkan Alex kembali dan saat ini dalam kepalanya berputar kata-kata yang akan menjadi sarangan balik untuk Nadia.
Setelah Nadia turun dari atas kursi, giliran Lola yang akan ditanyai. Dengan dua tongkat kayu yang menahan tubuhnya Lola berjalan tertatih. Yang pertama Lola lakukan adalah menatap Alex dan tersenyum padanya, berharap lelaki itu terpengaruh oleh tatapan matanya yang sayu.
Alex melihat dan membalas tatapan mata Lola sambil tersenyum muak. Ia lebih dulu mengalihkan pandangannya dan kembali fokus pada Nadia.
Lola yang melihat itu mengepalkan tangan menahan amarahnya. "siallaan kamu Alex, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada pelc*r kecilmu. Kamu akan memujaku dan berada di bawah telunjukku seperti dulu," batin Lola dalam hatinya.
Lola sungging kan senyum miring di wajahnya dan bersiap untuk mengeluarkan kata-kata jahat yang akan ia tujukan untuk Nadia. Tak peduli jiga tuntutannya di tambah.
Baru saja Lola akan membuka suaranya, tapi kini Lola diam terpaku membisu. Ia menangkap kehadiran seorang lelaki yang dikenal juga ditakutinya. Lelaki itu bukan Niki, ia adalah seorang warga asing yang mengenakan kacamata hitam di dalam ruangan sidang. Walaupun wajahnya tertutup kacamata tapi Lola bisa melihat dengan jelas bagaimana lelaki itu tersenyum miring padanya.
"Gotcha !" ( Kena kamu ) gumam lelaki itu pelan tapi Lola masih bisa membaca gerak bibinya dengan jelas. bagaimana lelaki buron itu bisa berada di sini ? tanya Lola dalam hati.
To be continued ♥️
jangan lupa like komen vote dan hadiah
terimakasih.