In Love

In Love
Selanjutnya



Alex menarik kain bedcover berwarna putih itu untuk menutupi pundak Nadia yang telanjang. Tak hanya pundaknya saja, tapi di balik kain bedcover itu tubuh Nadia juga masih polos tak mengenakan sehelai benang pun. Pada akhirnya Nadia memutuskan untuk tidak pergi bekerja. Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu dan meluapkan rasa rindunya pada Alex yang beberapa waktu lalu sangat menyiksanya.


Alex amati lekat-lekat wajah Nadia yang yang memejamkan mata. Hembusan nafasnya yang teratur dan bibirnya yang setengah terbuka menandakan jika Nadia telah tertidur pulas.


Bagaimana ia tak tertidur pulas ? tubuhnya pasti sangat kelelahan karena Alex terus mengajaknya berc*nta bahkan tanda kemerahan yang ia berikan terpampang nyata di sekitar leher dan dada istrinya. Alex tersenyum sendiri mengingat bagaimana Nadia mendesis dan melenguhkan namanya berulang kali ketika ia tinggalkan tanda merah itu tanpa menghentikan hujaman nya di bawah sana. "Sayang...," gumam Alex sembari membelai lembut wajah Nadia yang tertidur pulas karena kelelahan.


"Nghhhh, erang Nadia sembari menggeliatkan tubuhnya pelan karena ka rasakan tangan Alex membelai wajahnya.


"Sshhhhhh... tidurlah sayang...." bisik Alex. Ia berusaha menenangkan Nadia agar tidak terbangun dari tidurnya.


Alex tak bermaksud untuk membangunkan istrinya itu, ia hanya merasa gemas dan ingin membelainya saja sebagai tanda sayang. Alex tatapi wajah Nadia yang memejamkan mata, bersyukur dalam hati karena istrinya itu memberikan kesempatan kedua untuk cinta mereka.


Perpisahan singkat ini menyadarkan keduanya jika cinta mereka lebih kuat dari segala rintangan yang datang menghadang. "I love you more than before," ( aku mencintaimu lebih dari sebelumnya) gumam Alex tanpa mengalihkan pandangannya.


Alex bayangkan hidupnya beberapa waktu tanpa Nadia begitu terasa menderita dan nyaris gila. "Ingin rasanya aku mengunci diri kita berdua dan membuang kuncinya jauh-jauh hingga kita terjebak berdua tanpa ada yang mengganggu. Hanya ada aku dan kamu...," batin Alex dalam hati. Sungguh Alex sedang merasa begitu mencintai Nadia dan tak ingin jauh darinya.


"Love you, baby...," Alex berucap lirih dan mencium dahi Nadia pelan sebelum ia bangkit dari tempatnya terduduk yaitu di atas ranjang Nadia.


Masih dengan tubuhnya yang polos Alex berdiri dan berjalan mencari ponselnya. Ia menggulir layar untuk menemukan nama kontak yang akan dihubunginya. Tertera nama Daniel di sana dan Alex pun menekan tombol berwarna hijau untuk melakukan panggilan.


Sudah hampir pukul 11 siang dan Nadia belum memberikan kabar jika ia tak masuk kerja hari ini. Tadi ketika keduanya tengah asyik bergumul, ponsel Nadia berdering juga bergetar menandakan seseorang tengah menghubunginya. Alih-alih menerima panggilan itu Nadia memilih untuk menolak panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya karena ia sedang menikmati hujaman yang Alex berikan.


Dan begitu pun untuk yang kedua kalinya, Alex yang menolak panggilan di ponsel Nadia karena ia sedang menikmati cengkraman erat di tubuh bawahnya.


Alex menaikkan alisnya dan melihat bayangannya sendiri di dalam cermin, ia menarik nafas dalam ketika ingat bagaimana liarnya percintaan yang ia lakukan dengan sang istri.


Cukup lama menunggu akhirnya panggilan itu terhubung juga, terdengar suara seorang lelaki di sebrang sana.


"Halo, selamat siang," ucapnya ketika panggilan itu terhubung.


"Ya, selamat siang. Maaf mengganggu waktu anda. Saya Alexander Henry Salim, atau biasa di panggil Henry. Suami dari Nadia Wirahma," ucap Alex dengan jelas, perlahan dan penuh tekanan. Saat ini Alex sedang mengklaim jika Nadia adalah miliknya.


"Hu'um, saya tahu tentang anda," jawab Daniel dengan nada dingin.


"Maaf baru mengabarkan, istri saya tidak bisa masuk kerja karena kelelahan," lanjut Alex.


Hening sejenak sebelum Daniel kembali berbicara.


"Anda sedang berada di Bandung bukan ? kami menanti kedatangan Anda," sahut Daniel.


"Iya, saya baru datang tadi malam tapi maaf hari ini saya belum bisa datang untuk mengunjungi perusahaan Anda. Besok pagi saya dan istri saya akan datang," ucap Alex.


"Baiklah, kami sangat menantikan kedatangan Anda," timpal Daniel terdengar sopan namun Alex tahu jika lelaki yang tengah berbicara dengannya saat ini juga terdengar begitu dingin.


"Terimakasih atas waktu anda," ucap Alex dan ia pun segera memutuskan panggilan itu.


Alex kembali menatap sang istri yang masih tertidur pulas. "Lelaki mana yang tidak akan tertarik padamu ? Kamu sangat cantik, pintar dan baik," batin Alex dalam hati. "Terimakasih sudah setia padaku," masih Alex membatin dalam hatinya dan ia kembali berucap banyak kata syukur.


***


Tepat pukul setengah satu siang Nadia terbangun, ia mengedarkan pandangannya dan tak ada Alex di sana. Rasa takut ditinggalkan membuat Nadia bangkit dengan tergesa, ia pun melilitkan bedcover putih itu untuk menutupi tubuhnya yang polos dan keluar dari kamarnya.


Nadia bernafas lega ketika yang sangat ia takutkan ternyata tak terjadi. Alex masih berada di sana, di dapur sederhananya sedang menyiapkan makan siang seperti halnya tadi malam, Alex lah yang memasak untuk mereka. Suaminya itu bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana training kaos berwarna abu-abu saja. Untuk kesekian kalinya otot perut Alex yang terlihat liat itu sangat menggoda Nadia.


"Sudah bangun ?" tanya Alex pada Nadia yang menyenderkan tubuhnya di daun pintu. Rambutnya terlihat tak beraturan namun Alex sangat menyukainya.


"Hu'um," jawab Nadia singkat dan tersenyum canggung.


Alex yang melihat itu mengerutkan kedua alisnya karena ia rasa ada sesuatu dengan isterinya itu. "Ada apa ?" tanya Alex sembari menghentikan apa yang sedang dilakukannya dan berjalan mendekati Nadia.


"Nothing," jawab Nadia seraya menatap manik hitam Alex dengan sayu.


"Bohong... dan kamu sangat tak pandai berbohong, Sayang," sahut Alex karena kecemasan terlihat jelas di wajah istrinya itu.


"A-aku kira kamu pergi," sahut Nadia pelan.


"Pergi ?" tanya Alex berkerut alis tak paham.


"Hu'um pergi ninggalin aku, karena pas aku bangun kamu gak ada di sisiku," jawab Nadia sambil tertunduk malu.


Alex yang mendengar itu mengulum senyumnya dan merasa kian gemas saja. Ia pun menarik dagu Nadia dengan jempolnya agar Alex bisa melihat wajah istrinya itu dengan jelas. Pandangan mata mereka bertemu dan saling terkunci.


Alex genggam tangan Nadia dan mendudukkan tubuh istrinya itu tepat di hadapannya. "Tunggu sebentar," ucap Alex. Ia berdiri dan berjalan menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaan yang ia tunda tadi yaitu menghangatkan makanan yang dibelinya melalui aplikasi online.


"Aku mau masakin kamu tapi aku juga lelah, jadi pesan online saja," ucap Alex seraya meletakkan sepiring nasi goreng dengan banyak isian di dalamnya.


"Minum dulu," Alex menyerahkan segelas air putih pada Nadia dan ia pun meminumnya. Alex kembali tersenyum gemas dan mengusap bulir air yang membasahi ujung bibir istrinya itu dengan jempolnya.


"Aku suapi," ucap Alex seraya menyendok nasi dan mengarahkannya pada mulut Nadia.


"Aku bisa sendiri," rengek Nadia terdengar manja.


"Enggak, aku suapi !" sahut Alex, bahkan ia memelototkan matanya seolah-olah mengancam namun Nadia malah tertawa melihatnya.


Nadia buka mulutnya dan membiarkan Alex untuk menyuapinya. "Good girl," ucap Alex lalu ia mencium pipi Nadia dengan gemas, dan setelah itu ia menyendokkan nasi goreng itu untuk dirinya sendiri.


"Ah tunggu sayang, aku lupa." Alex pun berdiri lalu berjalan dengan tergesa dan tak lama ia kembali dengan satu kantong plastik berisikan kerupuk.


"Kesukaanmu," ucap Alex seraya menyerahkannya pada Nadia.


"Terimakasih," sahut Nadia sembari meraihnya lalu membuka plastik itu dan mengambil isinya.


Alex pandangi wajah cantik di hadapannya, ia melengkungkan senyum di bibirnya karena rasa haru bahagia yang masih memenuhi dadanya.


"Mmm... sayang...," ucap Alex sedikit ragu.


"Kenapa ?" tanya Nadia sambil mengunyah makanan yang baru saja Alex suap kan.


"Tadi aku sudah menghubungi kantor mu dan memberitahukan mereka bahwa kamu gak masuk kerja," ucap Alex.


"Oke, terimakasih," sahut Nadia singkat sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kamu gak keberatan aku yang melakukannya ?" tanya Alex. Nadia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku langsung menghubungi Daniel," ucap Alex lagi.


"Oke that's cool," ( ok tak apa ) sahut Nadia lagi.


"Beneran gak apa-apa ?" tanya Alex memastikan.


"Kamu bilang ingin menjadi bagian di seluruh hidupku ? maka aku mengizinkannya lagian aku juga lupa tak memberi kabar ke kantor karena terlalu bersemangat berci*ta denganmu," sahut Nadia dengan nada suara yang semakin pelan karena ia kembali merasa malu.


"Apa kamu menyukainya ?" tanya Alex gemas.


"Suka apa ? Daniel ? tidak sama sekali !!!" jawab Nadia dengan tegasnya.


Alex kembali melengkungkan senyumnya ketika mendengar itu. "Bukan Daniel, tapi percint**n kita. apakah kamu menyukainya ?" tanya Alex.


Nadia menatap Alex tak percaya. Ia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Semburat merah kembali menghiasi wajah Nadia entah untuk yang ke berapa kalinya. "Suka... sangat suka," jawab Nadia sembari mengigit bibir bawahnya.


Apa yang Nadia ucapkan membuat Alex tertawa. "Aku juga, aku sangat menyukainya," sahut Alex dan Mereka pun tertawa bersama.


***


Seperti yang Alex janjikan, pagi ini ia dan Nadia akan mendatangi tempat istrinya itu bekerja. Saat ini keduanya tengah bersiap untuk pergi.


Alex sedang mengancingkan lengan kemejanya sembari memperhatikan Nadia yang tengah memoleskan riasan natural di depan cermin.


Tak henti-hentinya Alex melayangkan pandangan penuh puja pada istrinya itu. Sadar akan sesuatu, Alex pun berjalan lalu kemudian berdiri tepat di belakang Nadia yang sedang duduk menghadap cermin.


Dengan perlahan Alex membuka kaitan di rantai kalung Nadia dan melepaskannya dengan sempurna, sedangkan Nadia hanya diam dan pasrah dengan apa yang Alex lakukan padanya.


Alex keluarkan cincin yang di dalamnya terukir namanya itu dari untaian rantai emas milik Nadia, kemudian ia berlutut di hadapannya dan meraih jemari Nadia untuk menyematkannya.


"Aku mencintaimu... Sungguh sangat mencintaimu... Mulai sekarang tak ada yang perlu kita tutupi lagi, cincin pernikahan ini akan selalu melingkar di jari manis kita untuk saling mengingatkan bahwa kamu milik aku dan aku adalah milikmu...," ucap Alex dengan jelasnya.


to be continued...


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiah bagi yang suka novelnya.


terimakasih.